Unlimited Love

Unlimited Love
Bab 25


__ADS_3

Keesokan paginya, Vioni terbangun tanpa ada Max disampingnya. Tatapan gadis itu tampak mengeliling mencari keberadaan sang suami, tetapi dia sama sekali tidak menemukannya.


"Ke mana Max? Bukankah kalau semalam dia mengatakan akan mengajakku pergi pagi ini? Tapi kenapa dia meninggalkanku sendirian di kamar," gumam gadis itu sambil turun dari tempat tidurnya.


Baru saja Vioni menampakkan kedua kakinya di lantai, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Dia melihat Max yang membawa nampan berisi sarapan di atasnya.


"Kau sudah bangun?" tanya pria itu sambil melangkah mendekati istrinya. "Maaf karena aku meninggalkanmu sendirian di sini, aku hanya ingin mengambilkanmu sarapan tadi," ucapnya seraya meletakkan nampan itu di atas nakas yang tak jauh dari kasur mereka berada.


"Itu ... tidak apa-apa. Padahal kau tidak perlu melakukan hal ini karena aku bisa sarapan di ruang makan," jawab Vioni yang merasa tersanjung atas perlakuan manis Max terhadapnya.


"Ini bukan suatu hal yang besar. Aku hanya sedang berusaha untuk menjadi suami yang baik saja," sahut pria itu disertai kekehan ringan.


Vioni menanggapi jawaban pria itu dengan senyuman tipis. Sebagai seorang wanita, tentu saja dia merasa terharu dengan jawaban pria itu. Namun, sebagai anak gadis yang selalu mendapatkan perlakuan dingin dari keluarga, tentu saja hal ini masih terasa asing untuknya.


"Terima kasih."


"Sudahlah. Kau tidak perlu mengucapkan terima kasih akan hal ini. Sekarang cepatlah bersihkan tubuhmu lalu kita sarapan bersama," perintah Max sambil memindahkan nampan berisi menu sarapan mereka itu ke atas meja.


"Eh, apa kau juga belum sarapan?" tanya Vioni.


"Belum. Tidak mungkin aku sarapan lebih dulu dari istriku. Kita akan makan bersama-sama di sini," jawab Max.


Lagi-lagi jawaban yang dikatakan oleh Max membuat Vioni tidak bisa berkata-kata. Hatinya tidak bisa lagi menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini, yang pasti dia benar-benar merasa terharu sekaligus tersanjung oleh sikap suaminya.


Tanpa menyahuti jawaban Max, Vioni pun berlalu dari hadapan suaminya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya lebih dulu sebelum menikmati sarapan. Sementara itu, Max langsung segera merapikan tempat tidur mereka setelah Vioni masuk ke dalam kamar mandi.


Tak perlu menghabiskan waktu lama untuk Vioni membersihkan dirinya. Kini nggak di situ sudah selesai mandi dan hanya menggunakan bathrobe saja. Dia lupa kalau dirinya belum mempunyai baju. Vioni terlihat mematung di depan pintu kamar mandi yang sudah terbuka. Dia merasa ragu untuk melangkahkan kakinya mendekati Max yang sedang duduk menunggunya.


Ya Tuhan ... aku harus bagaimana? Kupikir dia sedang keluar kamar, tapi rupanya dia menungguku di sini, batin Vioni sambil menatap punggung Max yang terlihat dari posisinya saat ini.

__ADS_1


Tanpa menimbulkan suara, Vioni kembali masuk ke kamar mandi. Dia akan menunggu di sana beberapa saat hingga Max keluar dari kamar.


Sementara itu, Max sendiri tidak mengetahui kalau Vioni sudah selesai mandi. Hanya saja dia merasa heran karena istrinya itu sedikit lebih lama berada di kamar mandi.


"Apa dia masih belum selesai mandi? Padahal susunya sudah hampir dingin," gumam Max sambil menyentuh gelas susu hangat milik Vioni yang dia bawa tadi.


"Akh, seharusnya aku mengikuti saran koki tadi untuk menempatkan susu ini dalam teko penghangat," sesalnya lagi karena dia mengabaikan perkataan koki Villa itu. Max beranjak keluar kamar untuk mengganti susu yang akan diminum oleh Vioni nanti. Dia akan menggantinya dengan yang lebih hangat.


Vioni membuka pintu kamar mandi saat dia mendengar seseorang membuka pintu kamarnya. Kepalanya celingukan memperhatikan keadaan sekitar, dia harus memastikan di kamar itu benar-benar tidak ada orang sebelum dirinya keluar dari sana.


Akh, sepertinya Max sudah pergi dari kamar ini, batin Vioni seraya melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi. Gadis itu berjalan menuju lemari tempat penyimpanan baju suaminya dan mengambil salah satu kaos besar yang ada di sana. Untuk sementara ini, hanya pakaian itulah yang bisa dia gunakan.


"Akh, gara-gara pergi mendadak, tasku jadi ketinggalan. Untung saja obat-obatan dan vitamin milikku disimpan di tas kecil," gumamnya lagi.


Setelah mendapatkan baju yang akan dia gunakan, Vioni pun kembali masuk ke kamar mandi dan akan mengenakannya di sana. Tentu saja dia tidak ingin mencari penyakit dengan berganti pakaian di kamar secara langsung.


Sementara itu, Max kembali masuk ke dalam kamar saat melihat pintu kamar mandi tertutup rapat. Dia menatap pintu kamar mandi itu dengan kening yang berkerut dalam.


Pria itu pun melangkah mendekati pintu kamar mandi tersebut dan mengetuknya.


"Vio, apa kau masih belum selesai mandi?"


"Sudah. Tunggulah sebentar aku sedang mengenakan pakaian dulu!" sahut Vioni dari dalam kamar mandi.


"Oh. Baiklah." Max kembali berjalan menuju meja dan akan menunggu istrinya di sana. Namun, baru saja pria itu hendak melabuhkan tubuhnya di sofa, tiba-tiba pintu kamar diketuk seseorang dari luar.


"Tuan, ini saya, Astron. Saya datang membawakan pakaian milik Nona Vioni," ucap pria itu yang ternyata adalah asisten Max sendiri.


Setelah mengetahui siapa yang baru saja mengetuk pintu kamarnya, Max pun segera membuka pintu kamar itu dan menerima tas berisikan pakaian milik istrinya.

__ADS_1


"Tuan, Anda jangan lupa untuk mengingatkan Nona supaya tidak telat mengkonsumsi obatnya!" pesan Astron.


"Iya. Tentu saja aku tidak lupa," jawab Max sebelum ia menutup pintu kamarnya.


***


Vioni keluar dari dengan menggunakan baju kaos Max. Dia belum mengetahui tas yang berisi pakaian serta perlengkapannya sudah dibawakan oleh Astron. Dengan handuk yang masih menggulung di kepalanya, gadis itu menghampiri Max.


"Maaf karena sudah membuatmu menunggu lama, Max. Dan ... maaf aku juga meminjam pakaianmu lagi," ucap Vioni sambil duduk di kursi seberang Max yang terhalang oleh meja.


"Tidak apa-apa. Lagi pula aku juga sudah mengganti minumanmu dengan yang lebih hangat. Kita sudah bisa menikmati sarapannya sekarang," jawab pria itu setelah terdiam sesaat karena melihat penampilan Vioni yang begitu cantik di matanya.


"Oh, ya ... maaf, untuk sekarang aku tidak mengkonsumsi susu dulu," jawab Vioni saat melihat suaminya memberikan segelas susu hangat padanya. Dia tidak mungkin meminum obat setelah sebelumnya meminum susu


Max segera menyimpan kembali gelas susu itu di atas meja setelah mendengar ucapan Vioni. Raut wajah pria itu pun turut berubah yang mana hal itu membuat Vioni merasa bersalah.


"Ma–maaf, Max. Aku tidak bermaksud menolak kebaikanmu, tapi—"


"Kau tidak perlu meminta maaf. Justru aku yang seharusnya meminta maaf karena tidak mengetahui apa yang kau butuhkan," potong Max dengan segera.


"Tapi—"


"Kau tidak perlu merasa bersalah karena ini bukan masalah besar. Sekarang katakan saja apa yang ingin kau minum, biar aku ambilkan."


"Tidak. Biar aku sendiri saja yang ambil. Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu."


"Tunggu di sini. Biar aku panggilkan pelayan saja. Dia yang akan membawakan jus buah untukmu," tolak Max karena Vioni menolak bantuannya, sementara dia sendiri tidak mungkin membiarkan istrinya itu untuk keluar dari kamar dan turun ke bawah.


"Baiklah. Terima kasih sebelumnya," jawab Vioni.

__ADS_1


"Jangan selalu mengucap terima kasih padaku! Aku suamimu dan sudah sewajarnya aku memperlakukanmu dengan baik," ucap Max sambil menyentuh tangan istrinya dan tersenyum lembut. "Katakan saja jika kau memerlukan sesuatu. Jangan susah payah sendiri karena sekarang kau sudah memiliki seorang suami!" sambungnya lagi.


__ADS_2