Unlimited Love

Unlimited Love
Bab 13


__ADS_3

Pagi itu merupakan hari terakhir Vioni di ceramahi oleh Marvel dan Resa, serta pagi itu juga yang menjadi hari terakhir bisa bersantai. Keesokan harinya, Vioni dijemput oleh orang-orang yang ditugaskan kedua orang tuanya, Clifford dan Rosa. Awalnya Vioni merasa heran karena tiba-tiba orang-orang utusan keluarga itu menjemputnya, tapi kini dia mengerti. Bukankah hal aneh jika putri sendiri menikah di tempat orang lain? Maka dari itu kedua orang tuanya menjemput Vioni dan memintanya untuk menginap di sana.


"Vio, apa tubuhmu memang sekurus ini?" tanya Rosa saat dia pergi menemani putrinya untuk fitting baju pengantin. Ya, wanita itu membawa putrinya di saat sehari sebelum hari pernikahan untuk mencari baju pengantin.


"Saya tidak tahu, Bu. Saya tidak menyadarinya," bohong Vioni yang enggan untuk ditanya-tanya oleh sang ibu.


Rosa sedikit mengernyitkan keningnya. "Bagaimana kau bisa tidak mengetahui perubahan tubuhmu sendiri? Apakah kau tidak berusaha hidup dengan baik? Bukankah kami sudah memberikan fasilitas yang baik untukmu?" cecarnya.


Vioni hanya memasang wajah dingin serta tatapan yang sulit diartikan oleh Rosa. Namun satu hal yang pasti, dia menjawab semua pertanyaan yang ibunya layangkan di dalam hati.


Tentu saja aku mengetahui perubahan tubuhku sendiri. Aku sudah berusaha untuk melakukannya, tapi tentu saja berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Vanila. Fasilitas seperti apa contohnya? batin Vioni menanyakan pertanyaan sang ibu yang terakhir. Tentu saja dia berpikir seperti itu karena memang Vioni tidak merasa mendapatkan fasilitas yang lebih.


"Hei, kenapa kau hanya diam saja saat aku bertanya?" tanya Rosa pada putrinya. Dia Jadi sedikit merasa kesal karena Vioni mengabaikan pertanyaan-pertanyaannya.


"Saya tidak tahu harus menjawab seperti apa, Bu," jawab Vioni setelah ia sadar dari lamunannya.


"Ck, ternyata aku memang sulit memahamimu. Kau begitu berbeda dengan Vanila. Dia sangat mengerti kami dan juga sangat bisa memahami dirinya sendiri. Kalian itu adalah putri yang sama-sama lahir dari rahimku, tapi kenapa kalian begitu berbeda?" tanya Rosa lagi.


Mendengar pertanyaan sang ibu, mau tidak mau Vioni pun akhirnya menatap mata wanita paruh baya itu. Entah kenapa, dia merasa seperti sedang menatap orang lain.

__ADS_1


"Bu, saya tidak tahu harus menjawab seperti apa. Saya pun memang tidak mengetahui bagaimana cara memahami Anda. Mungkin jawaban pastinya adalah karena kita tidak hidup dalam satu atap. Memang benar Anda yang sudah melahirkan saya, tapi bukankah Anda sendiri yang menyerahkan saya kepada orang lain? Akh, lebih tepatnya pada adik Anda sendiri?" Kembali Vioni melayangkan pertanyaan sebagai jawaban dari pertanyaan sang ibu.


Untuk sesaat, Rosa terdiam setelah mendengar jawaban putrinya. Dia tidak menyangka kalau Vioni bisa menjawab pertanyaannya dengan seperti itu. Rosa juga bisa melihat bagaimana dalamnya luka batin yang dirasakan oleh putri keduanya itu. Namun, sama seperti sebelum-sebelumnya, dia memilih berpaling dan tidak mengatakan apapun lagi.


Dalam hati, Vioni tersenyum miris saat melihat ibunya yang seakan tidak mempedulikannya. Tentu hal itu membuat dia pun memilih untuk berpaling dan kembali diam.


"Lupakan apa yang saya katakan barusan. Silakan kita selesaikan urusan ini karena saya masih mempunyai jadwal lain," ucap Vioni pada sang ibu. Ya, lagi-lagi dia pun memilih untuk berlari dan melupakan perasaan sakitnya sendiri.


"Urusan apa yang kau maksud? Apa kau akan keluar dari mansion lagi hari ini?" tanya Rosa saat putrinya meminta untuk segera menyelesaikan fitting baju itu.


"Ya. Saya memiliki urusan lain di luar," jawab Vioni tanpa mengalihkan perhatiannya dari cermin yang sedang memantulkan dirinya. Vioni cukup bangga dengan penampilannya saat ini karena terlihat memukau, hanya saja tumbuhnya memang terlihat lebih ramping, cenderung kurus tidak berisi.


Kemarin Vioni sudah bertemu dengan Dokter Bryan untuk berkonsultasi mengenai penyakitnya, tapi dia lupa kalau obat yang dikonsumsinya tinggal sedikit lagi dan hari ini dia berencana untuk kembali menemui dokter itu sekaligus meminta obat tambahan. Selama sehari kemarin kedatangannya ke mansion milik kedua orang tuanya, tak ada satupun dari mereka yang mengetahui kalau Vioni sedang mengkonsumsi obat. Bahkan, meskipun ada pelayan yang keluar masuk ke kamar untuk membantunya, pelayan itu hanya mengetahui kalau obat yang dikonsumsi Vioni merupakan vitamin saja.


"Memangnya kau mau ke mana? Mungkin kita searah, jadi aku bisa mengantarkanmu," tanya Rosa lagi. Hari ini, dalam lubuk hatinya dia sangat ingin menghabiskan waktu hanya berdua dengan putri keduanya. Entah karena alasan apa, tetapi yang pasti dia sangat ingin melakukan hal itu.


Vioni terlihat sedikit gelagapan saat Rosa menanyai tujuannya hari ini. Dia takut kalau ibunya berniat untuk mengetahui kegiatan sehari-harinya. Tentu saja hal itu sedikit membuatnya takut karena khawatir pernikahan yang sudah dirancang oleh mereka akan gagal sehingga mereka akan semakin membencinya. Itulah yang dipikirkan oleh Vioni. Dia tidak berpikir jika mungkin saja suatu saat nanti semua itu akan terbongkar dan dirinya akan semakin dibenci oleh keluarga besar. Namun, jika sampai hal itu terjadi, tidak menutup kemungkinan juga kalau semua terbongkar di saat harinya dan tentu bukan hanya dirinya saja yang menyesal, melainkan anggota keluarganya juga akan menyesal.


"Vio, kenapa kau selalu mengabaikan pertanyaanku? Apakah kau sungguh-sungguh tidak ingin aku mengetahui segala aktivitasmu selama ini?" geram Rosa yang lagi-lagi mendapati putrinya kembali diam.

__ADS_1


"Maaf, Bu. Saya tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja ...."


"Baiklah kalau kau merasa keberatan aku mengetahui aktivitasmu. Aku tidak akan menanyakannya lagi. Lakukan semua yang ingin kau lakukan," ucap Rosa dengan kesal yang sudah tidak mood untuk meneruskan keinginannya.


Vioni menundukkan kepala. Dia merasa bimbang karena di satu sisi Vioni lega sang ibu tidak lagi ingin mengetahui tentangnya, tapi di sisi lain dia juga merasa sedih karena ibunya tidak berusaha untuk mendekatinya.


Sudahlah, memangnya apa yang bisa kuharapkan darinya? batin Vioni.


Sebelum fitting baju Viani selesai, Rosa memilih keluar dari ruangan itu dan bergegas pulang meninggalkan putrinya sendirian di dalam butik. Dia akan pulang ke mansion sementara membiarkan Vioni diantarkan oleh sang sopir ke tempat yang gadis inginkan.


Kenapa dia menjadi gadis yang menyebalkan seperti ini? Dia benar-benar berbeda dengan Vanila yang selalu membuatku tersenyum. Tapi, kenapa tatapannya terlihat dingin dan sedih seperti itu? Apa selama ini dia menderita tinggal bersama Marvel dan Resa? Atau ... dia sengaja membuatku bimbang karena merasa iri dengan Vanila? Benar-benar kekanak-kanakan sekali, gerutu Rosa sambil terus berjalan menuju lobi butik.


***


Sementara itu, Vioni berdiri terdiam masih di depan cermin. Hatinya begitu sakit dan perih saat menerima perlakuan berbeda dari wanita yang sudah melahirkannya.


Apa aku memang tidak pantas untuk mendapatkan perhatian kalian? Kenapa kalian memperlakukan kami dengan berbeda? batinnya bertanya-tanya.


Vioni yang masih terdiam tidak menyadari ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari pintu masuk. Hingga orang itu tiba-tiba datang dan menepuk pundaknya.

__ADS_1


"Hei, calon pengantin tidak boleh bersedih!"


__ADS_2