
Siang hari usai Alena dan Desta menyelesaikan lomba mereka, mereka memilih untuk kembali bersama ke perusahaan Kai. Seperti biasa, anak-anak di tempatkan di ruang bermain.
"Sebentar lagi, tuan Luiz datang untuk menandatangani kontrak dengan perusahaan ini." ucap Flova sembari melihat tablet yang di pegangnya.
"Ayah Desta bukan?"
Flova hanya mengangguki perkataan Kai. Ia pun menyuruh Flova untuk menelpon resepsionis, agar menyuruh mereka mengantarkan langsung ayah Desta datang ke ruangannya.
Selang beberapa lama, ayah Desta pun datang dengan sekretarisnya. Kai mempersilahkan dia untuk duduk di kursi yang sudah ia siapkan.
"Selamat datang tuan Luiz. Sepertinya anda sibuk akhir-akhir ini, dan terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk datang ke perusahaan X." Ucap Kai.
"Iya, saya datang karena bujukan anak bungsu saya, Desta. Saya tidak mengira anak anda juga sekolah di TK yang sama."
"Benar. Kita langsung pada intinya saja. Bagaimana? Apa anda bersedia bekerjasama dengan perusahaan ini?" tanya Kai sembari menyodorkan tangannya.
"Baik, saya terima."
Tuan Luiz menerima uluran tangan Kai dan setelahnya mereka sepakat untuk bekerjasama. Usai penandatanganan kontrak, Alena dan Desta datang ke ruangan Kai. Ayah Desta sontak kaget dengan keberadaannya.
"Ayah..."
Desta langsung memeluk sang ayah. Ayahnya hendak menciumnya namun Desta memilih untuk menghindar. Sedangkan Alena pun juga langsung menghampiri Kai.
"Desta, kamu ada di sini? Kalian ngapain?"
"Om, di sini ada ruang bermainnya. Kami bisa bermain di sini dengan puas." jawab Alena
"Oo.. begitukah, boleh om lihat."
Alena mengangguk. Alena dan Desta menarik tangan ayah Desta dan membawanya ke ruang bermain. Kai dan Flova beserta sekretaris Luiz mengekor di belakangnya.
"Wah.. sangat cantik. Ya sudah, kalian lanjutkan bermainnya."
Alena dan Desta kembali duduk, namun mereka menarik tangan ayah mereka masing-masing untuk turut ikut bergabung bersama mereka.
Setelah di bujuk karena para Ayahnya sibuk bekerja, akhirnya mereka pun lepas dan kembali ke ruangan Kai.
__ADS_1
"Wah.. Tuan Kai, saya sangat kagum melihat kedekatan anda dengan Alena. Yang saya tau dia adalah anak angkat anda dan nyonya Flova. Bagaimana anak itu bisa sedekat itu dengan anda?"
"Entahlah, mungkin di mata Alena, saya mirip seperti ayahnya."
"Hm.. dan mengapa anda membuat ruang bermain di kantor anda? Apa anda sudah menyiapkannya sebelum menikah dengan Nyonya Flova?"
Flova yang baru saja mengambil minuman untuk tuan Luiz, tak sengaja mendengar hal tersebut, memilih untuk berdiam diri di luar dan mengupingnya.
"Saya menyiapkannya satu minggu sebelum menikah dengan Flova. Saya membuat ruang bermain di sini agar Alena tidak jauh dari saya, begitu pula dengan Flova agar senantiasa mereka ada di sisi saya." ucap Kai.
Flova yang mendengarkan dari luar tak percaya dengan perkataan Kai bersama dengan Luiz di dalam.
"Wah.. saya sangat kagum dengan anda. Sosok ayah dan suami yang sangat-sangat baik dan pergi. Anda pasti sangat-sangat menyayangi mereka. Terlihat jelas dari mata anda." ucap ayah Desta sembari terkekeh.
Flova terperangah tak percaya. Tak mau berfikir lebih lagi, ia pun memutuskan untuk masuk sebelum kopi yang ia bawa menjadi dingin.
"Permisi."
Kai dan ayah Desta pun mengangguk. Flova menyajikan minuman itu dan kembali berdiri di samping Kai.
"Nyonya Flova, tidak usah sungkan, duduklah." ucap ayah Desta.
"Tuan Kai juga sangat beruntung memiliki istri yang cantik dan juga tangguh. Memilih untuk mengasuh anak berusia 5 tahun di usia yang masih sangat muda. Pasti itu juga tidak mudah baginya. Harus membagi waktu untuk sekolah dan juga mengurus seorang anak."
"Sesekali saya juga di bantu oleh ibu saya. Jadi, saya tidak terlalu sibuk pada saat itu." jawab Flova.
"Hm.. kalau begitu baiklah. Saya jadi banyak belajar dari kalian bahwa keluarga sangatlah penting. Saya takjub dengan anda tuan Kai, membuat ruang bermain untuk anak-anak agar selalu terpantau dan dekat dengan orang tua, walaupun sibuk bekerja."
Kai dan Flova mengangguk mengiyakan. Ayah Desta pun pamit sekaligus mengajak Desta untuk pulang.
Flova memutuskan untuk menemani Alena tidur di kamar rahasia ruangan Kai. Ia hanya duduk di depan komputernya yang menyala sembari melihat foto bersama mereka saat di kebun raya kemarin sore.
"Apa benar yang dikatakan tuan Luiz tadi, aku mencintai mereka? Apa secepat itu? Tetapi ini tidak mungkin." ucapnya di dalam hatinya sendiri dengan bingung.
Seseorang datang ke ruangannya, dan tak lain itu adalah Rosan. Kai langsung berdiri saat ia datang dan melihatnya dengan tatapan tidak senang.
"Ini berkas-berkasmu, jika sudah selesai, cepat pergi dari sini."
__ADS_1
"Memangnya kenapa Kai? Apa aku ada membuat masalah?"
"Pergi dari sini, atau aku yang pergi!"
Rosan menghela nafas panjang setelah di bentak oleh Kai. Ia pun langsung pergi dari ruangan Kai dengan kesal.
"Lihat saja. Aku akan mendapatkan hati mu kembali Kai." gumam Rosan.
Kai kembali duduk dan memutuskan untuk beristirahat di dalam kamar pribadinya. Flova masih di posisi memeluk tubuh kecil Alena. Ia sendiri pun memilih untuk tidur di atas sofa.
Satu jam berlalu. Flova terlebih dahulu bangun dan melihat Kai sedang tidur di atas sofa berbantalkan jasnya sendiri. Flova pun mengambil bantal yang ada di kasurnya dan menaruhnya dengan pelan di bawah kepala Kai.
Ia juga mengambil selimut untuk menutupi tubuh Kai dari terpaan AC. Merasa ada yang menutupi tubuhnya, Kai terbangun dan melihat Flova yang tepat di atasnya sedang menutupi tubuhnya. Flova pun dengan cepat bangun dan meninggalkannya di tempat.
Kai tersenyum sejenak kemudian memutuskan untuk bangun dari tidurnya. Ia melihat Alena yang masih tertidur pulas di ranjang besar tersebut dan menghampirinya.
Ia menggenggam tangan Alena dan mengelus rambutnya. Dan sejenak mencium dahi Alena. Sedikit terlihat kenangan demi kenangan yang terlewati bersama dengan Alena. Walaupun bisa terhitung, rasanya enggan untuk meninggalkan kenangan tersebut.
"Waktu ayah menemanimu hanya 92 hari lagi. Maafin ayah ya, tidak bisa selamanya di sisi Alena. Setelah 92 hari selesai, Alena harus jaga bunda ya. Kemungkinan, ayah juga tidak bisa bertemu dengan Alena lagi nanti."
ucap Kai dengan jelas dan membuat Alena terbangun. Alena pun tersenyum kepada Kai dan mencium pipinya.
"Selamat sore ayah. Ayah, kapan kita pulang?" tanya Alena.
"Ayo, kita bisa pulang sekarang. Mari."
Kai membantu Alena duduk. Alena tersenyum dan meregangkan badannya.
"Syukurlah, dia tidak mendengar." batin Kai.
Kai pun berdiri dan meninggalkannya terlebih dahulu.
"Oiya, maksud ayah tadi apa? Ayah bilang tidak bisa menemui Alena lagi, ayah kenapa?"
Langkah Kai terhenti mendengar perkataan Alena. Kai pun segera membalikkan badannya dan tersenyum tipis.
"Tidak apa, ayo kita keluar."
__ADS_1
Alena mengangguk dan menggandeng tangan Kai.
//**//