
Tak terasa sudah tiga hari berlalu. Kini sudah waktunya Marvel dan Resa pulang kembali ke rumah, yang mana itu artinya Vioni juga harus segera mengakhiri waktu bersantainya. Ya, setelah perdebatan siang itu, Vanila memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya tanpa menginap di rumah om dan tantenya. Anggap saja hal itu seperti Vioni yang berhasil mengusir Vanila dari sana karena gadis itu enggan menuruti semua keinginan adik kembarnya.
"Nona, bagaimana keadaan Nona pagi ini?" tanya Bibi Mel yang menghampiri Vioni di kamarnya.
Selama tiga hari itu juga Bibi Mel yang merawat Vioni saat sedang sakit. Bibi memang mengetahui kalau Vioni tidak berbohong saat dia tidak sengaja menemukan gadis itu terbaring tidak sadarkan diri di depan pintu kamar Vanila, tepat setelah Vanila pergi dari sana.
"Aku sudah merasa lebih baik, Bi. Terima kasih karena selama tiga hari ini Bibi sudah merawatku dengan baik. Sekarang Bibi tidak perlu khawatir lagi," jawab Vioni sambil tersenyum tipis.
Kekhawatiran di wajah Bibi Mel masih terlihat. Bagaimana tidak, wajah nonanya itu masih tampak pucat pasi, tetapi Vioni menolak untuk diperiksa oleh dokter dan hanya meminum obat yang sudah diresepkan Dokter Bryan untuknya. Vioni juga sengaja membuang label obat itu agar Bibi tidak tidak mengetahui penyakit yang dideritanya.
"Nona, apa Anda yakin sudah merasa lebih baik? Wajah Anda masih terlihat pucat. Bagaimana kalau untuk hari terakhir ini Anda diperiksa oleh dokter keluarga?" saran Bibi Mel yang langsung mendapat gelengan kepala dari Vioni.
"Tidak, Bi. Aku sudah meminum obat yang diberikan oleh dokter padaku," jawab Vioni. Lagi lagi bibir pucatnya itu dipaksakan untuk tersenyum agar wanita paruh baya di hadapannya berhenti mengkhawatirkan dia.
"Tapi–"
"Bibi tenang saja. Wajahku terlihat pucat karena biasanya aku berias, tapi nanti kalau aku sudah memakai make up, akan terlihat biasa lagi," ucap Vioni. Dia harus meyakinkan Bibi Mel agar berhenti mengkhawatirkannya. "Oh, ya ... tolong jangan katakan pada Om Marvel dan Tante Resa kalau aku sempat pingsan," sambung gadis itu lagi.
"Menyembunyikan hal ini dari Tuan dan Nyonya? Tapi, bagaimana bisa Anda meminta saya untuk merahasiakan hal ini?"
"Tolong, Bi. Aku tidak ingin membuat mereka terlalu mengkhawatirkanku," pinta Vioni lagi dengan wajah memohon. Sebenarnya vionim menyembunyikan hal ini bukan karena takut Marvel dan Resa mengkhawatirkannya, tapi dia tidak ingin sepasang suami istri itu marah karena mungkin rencana mereka akan sedikit terganggu. Apalagi hari pernikahan tinggal dua hari lagi. Jadi, mungkin itu akan membuatnya semakin kesal.
__ADS_1
Bibi Mel tampak berpikir sambil terus menatap wajah Vioni yang memohon padanya. Selama ini Bibi Mel tidak terlalu memperhatikan wajah Vioni karena dia merasa tidak pantas, tapi saat melihat gadis itu terbaring tidak sadarkan diri, hatinya merasa sakit dan khawatir.
Meskipun dengan perasaan setengah hati, akhirnya Bibi Mel pun menganggukan kepalanya samar dan berkata, "Baiklah kalau memang itu keinginan Anda, Nona. Saya bersedia merahasiakannya."
"Terima kasih," ucap Vioni seraya bersandar ditumpukan bantal belakang punggungnya.
"Saya akan segera menyiapkan sarapan untuk Anda. Saya pamit." Bibi Mel menundukkan kepalanya sesaat, sebelum dia pergi dari hadapan Vioni untuk mengambilkan sarapan nonanya itu.
"Tidak, Bi. Biar aku saja yang ke ruang makan!" seru Vioni yang enggan semakin merepotkan wanita paruh baya itu.
"Tapi–"
"Tolong jangan perlakukan saya seperti orang sakit. Saya baik-baik saja."
"Baiklah. Saya akan menyiapkan sarapan Anda di ruang makan."
Setelah menganggukkan kepala, Vioni pun turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum dia keluar dari kamar. Vioni menolak sarapan di kamar karena ia khawatir om dan tantenya akan pulang lebih cepat dari perkiraan. Itulah sebabnya pioni memilih untuk sarapan di ruang makan.
Sebelum keluar kamar, Vioni memoles sedikit wajahnya dengan menggunakan make up untuk menutupi wajah pucatnya yang seperti mayat hidup itu.
Ya Tuhan, pantas saja Bibi Mel tampak mengkhawatirkanku. Rupanya penampilanku benar-benar seperti mayat hidup, batin Vioni sambil memoles wajahnya dengan bedak. Tidak lupa dia juga menggunakan blush on untuk memberikan sedikit rona di pipinya agar terlihat lebih segar. Setelah dirasa penampilannya cukup, barulah Vioni keluar dari kamar.
__ADS_1
Dengan ayunan langkah perlahan, gadis itu berjalan anggun menuju ruang makan. Vioni benar-benar bisa menutupi wajah pucatnya dengan sempurna sehingga saat keluar kamar dan berpapasan pelayan lain, mereka tidak mengetahui keadaan Vioni yang sebenarnya. Bahkan saking sempurnanya penampilan Vioni, ada beberapa dari pelayan itu yang berbisik kalau Vioni hanya bersandiwara karena tidak ingin Vanila berada di sana.
"Nona Vioni benar-benar keterlaluan. Padahal dia dalam keadaan sehat, tapi dia berakting sakit sampai-sampai tidak mau adiknya berada di sini," bisik salah satu pelayan yang baru saja berpapasan dengan Vioni.
"Iya, aku juga berpikir seperti itu. Sikap Nona Vioni benar-benar keterlaluan," sahut pelayan yang lainnya.
Tanpa mereka ketahui, sebenarnya Vioni juga bisa mendengar apa yang mereka katakan, tapi dia tidak ingin menghiraukannya karena hanya akan menguras tenaga saja. Lagi pula dia tahu seperti apa dirinya di depan mereka. Jadi, Vioni merasa tidak ada gunanya kalau dia harus meluruskan pemikiran mereka.
Perkiraan Vioni tentang kedatangan Marvel serta Resa tidaklah melenceng. Tepat ketika gadis itu duduk di salah satu kursi meja makan, sepasang suami istri itu datang dan menghampirinya.
"Wah ... wah ... wah .... Aku tidak menyangka kalau kau masih bisa bersikap tenang setelah mengusir adikmu sendiri dari sini," semprot Resa pada keponakannya yang baru saja duduk.
"Om dan Tante sudah pulang?" tanya Vioni berbasa-basi.
"Ck." Resa berdecak kesal. "Vio, apa kau tidak merasa bersalah karena sudah mengusir Vanila dari sini?" geram wanita itu pada keponakannya.
"Aku sama sekali tidak mengusirnya. Dia pulang karena keinginannya sendiri," jawab Vioni apa adanya.
"Hah, apa kau kira aku akan mempercayai ucapanmu?"
Apa pernah sekalipun Tante dan Om mempercayai ucapanku? tanya Vioni dalam hatinya.
__ADS_1
"Sayang, sudahlah. Ini masih pagi dan kau jangan mencari gara-gara dulu. Lagi pula, apa kau tidak merasa lelah setelah perjalanan kita?" tanya Marvel pada istrinya. Sementara sang keponakan ia diamkan karena terlalu merasa kesal dengan sikap angkuh yang Vioni perlihatkan. Apalagi gadis itu terus menetapnya dengan dingin tanpa menurunkan pandangannya sedikitpun.
Sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran Vioni saat ini? Gara-gara dia, hampir saja aku kehilangan perjanjian kerjasama dengan Tuan Goufar.