Unlimited Love

Unlimited Love
57. Liburan bersama Nehra dan Steffa


__ADS_3

Flova bangun tepat di saat matahari masuk ke dalam kamarnya menerpa wajah manisnya. Ia langsung saja duduk dan melihat ke sampingnya. Tidak ada siapapun hanya ia sendiri, namun ia merasakan bahwa Kai semalam tidur di sampingnya.


Usai membersihkan dirinya, ia langsung saja turun untuk mencari putrinya. Tetapi jejak dan suaranya tidak terdengar di area manapun di dalam rumah besar tersebut.


"Mencari Alena?"


Seseorang datang tepat di depan Flova dan orang itu tak lain adalah mertuanya, Joanna.


"Iya Bu, dimana dia?" tanya Flova.


"Sudah berapa kali saya bilang, Jangan panggil aku Ibu!"


"Ba-baiklah , Tante. Apakah Tante tahu dimana Alena?"


Joanna melirikkan matanya sembari menyilangkan tangannya di dadanya.


"Dia sedang jogging bersama Kai dan Grandpa nya. Sebentar lagi mereka akan pulang."


Benar saja, pintu utama terbuka serta seorang gadis mungil terlihat dari kejauhan sambil berlari menghampiri Flova.


"Selamat pagi bunda..." teriaknya sembari memeluknya.


"Selamat pagi juga sayang. Gimana, seneng joggingnya? Cape engga?" tanya Flova balik.


"Engga dong, Ayah dan Grandpa masih di belakang, kata mereka mau balapan, eh tapi Alena yang nyampe duluan. Jadi, Alena menang..."


"Hahaha.. tentu saja Alena menang sayang. Alena masih kecil, sedangkan ayah kamu dan Grandpa kamu sudah berumur, jadi tidak mudah mengejar kamu." timpal Joanna.


Tak lama kemudian, orang yang mereka bicarakan datang dengan terburu-buru. Begitu masuk ke dalam rumah, Kai dan juga ayahnya mengatur nafas mereka masing-masing yang tersengal-sengal akibat tantangan untuk berlomba dengan Alena.


"Hah.. hah .. hah.. Ambilkan aku air..." pinta sang ayah Kai yang langsung duduk di sofa ruang tamu sembari meluruskan kakinya.


"Aku juga..." pinta Kai lagi.


Flova segera membalikkan badannya, namun sang mertuanya mencegahnya berjalan.


"Biar aku saja." katanya.


Flova memilih mengangguk dan menuruti perintah sang ibu mertuanya tersebut, serta memilih untuk mengelap keringat di wajah Alena.


"Alena sayang juga haus kan. Ini, Grandma bawakan air untuk kamu. Kita sama Grandpa yuk di sana."


Alena mengangguk dan mengikuti Joanna ke ruang tamu. Flova hendak pergi ke kamarnya, namun Kai memanggilnya.


"Flova, mau kemana kamu?" teriaknya.


"A-aku mau ke kamar." jawab Flova.


"Duduklah bersama kami Flova , sebentar lagi sarapan akan siap." ajak sang ayah mertuanya.


Flova mengangguk, namun beruntunglah pembantu di rumah tersebut memanggil mereka.


"Tuan, Nyonya, sarapan sudah siap."


Dengan segera pun mereka bangkit. Flova akhirnya bisa bernafas lega dan menuju ke ruang makan bersama mereka. Tepat mereka akan memulai sarapan mereka, Rosan turut di antara mereka.


"Morning semua.." sapa Rosan.


"Morning Rosan." jawab Joanna.

__ADS_1


"Morning Kai." sapa Rosan lagi kepada Kai yang ada di samping Flova.


"Hm.." jawabnya dingin seperti biasanya.


Flova hanya diam dan dengan cepat memakan sarapannya. Di saat mereka tengah fokus, Alena meraih tangan Flova.


"Bunda, hari ini Alena mau main sama kak Nehra dan kak Steffa , boleh bukan?" tanya Alena.


"Tentu saja boleh sayang. Nanti, ayah akan menelepon kak Nehra untuk menjemputmu." jawab Kai.


"Baik ayah, oiya ayah dan bunda nanti jemput Alena, bisa kan?" tanya Alena.


"Tentu saja, kami akan menjemput Alena. Telfon saja ayah atau bunda jika Alena sudah mau pulang, mengerti?"


Kai menyentuh hidung Alena dan tersenyum. Alena di buat tertawa sembari mengangguk kepadanya.


"Kalau begitu Kai, bukankah kau ada waktu hari ini?" tanya Rosan.


"Tidak ada." jawab Kai.


"Ayolah Kai, aku ingin ke mall bersamamu." ajak Rosan.


"Rosan! Jaga sikapmu, Kai sudah menikah."


"Om harus tau bahwa..."


"Rosan, cukup. Pergilah ke kamarmu jika kamu sudah menyelesaikan makan mu."


Belum juga Rosan menyelesaikan makanannya, ia lebih dulu membanting sendok dan garpu sehingga menimbulkan bunyi yang nyaring. Lantas saja ia pun meninggalkan ruang makan tersebut.


Semua orang hanya menggelengkan kepala mereka melihat tingkah laku Rosan yang keterlaluan di hadapan mereka.


Flova hanya mengangguk dan langsung saja membawa Alena ke kamarnya untuk mengganti bajunya. Usai Alena siap, mereka memilih menunggu Nehra dan Steffa di ruang tamu.


Tepat beberapa menit kemudian, bel pintu berbunyi. Lantas saja dengan semangat Alena membuka pintu besar itu sendiri. Karena sedikit kesulitan, Flova pun membantu membukakan pintu tersebut.


"Kak Nehra, kak Steffa." Alena bergantian memeluk Nehra dan Steffa.


"Maaf lama menunggu ya sayang. Kak Steffa terlalu lama berdandan." ucap Nehra.


"Tidak apa kak Nehra, kak Steffa memang begitu. Ayo kak kita jalan."


Nehra mengangguk dan menggandeng tangan Alena.


"Steffa, titip Alena ya. Aku percayakan padamu." ucap Flova.


"Iya Flova, aku dan Nehra akan menjaganya. Kami pergi dulu."


Flova mengangguk usai Steffa berpamitan. Dari kejauhan Rosan memperhatikan Flova yang sedang menutup pintu.


"Aku akan segera membuatmu keluar dari sisi Kai, dan juga membuat anak kecil itu di benci oleh keluarga ini. Bagaimanapun caranya." batin Rosan.


...*****...


Saat di perjalanan, Nehra dan Steffa hanya saling melirik satu sama lain dengan lirikan sinis. Alena yang duduk di belakang hanya memperhatikan dari kaca spion depan.


FLASH BACK ON


"Hei, Steffa!!!" panggil Nehra sembari menggedor-gedor pintu rumah Steffa.

__ADS_1


"Steffa... buka pintunya!!!!" teriaknya lagi.


Namun, dengan santainya Steffa berjalan dari kamarnya sembari meregangkan tubuhnya.


"Siapa si yang ganggu pagi-pagi." keluhannya.


Ia terkejut melihat Nehra sudah memakai baju dengan rapi, tepat di depan pintunya. Steffa lekas menutup pintunya, dan dengan cepat Nehra mendorongnya sekuat tenaga.


Tepat saat itu juga, Steffa terdorong ke belakang dan terjatuh. Kaki Nehra pun turut tersandung kaki Steffa, sehingga membuatnya jatuh tepat di atasnya.


Bibir mereka saling berbenturan lembut satu sama lain. Dengan kondisi sadar, Steffa pun mendorong tubuh Nehra dan segera membangkitkan dirinya. Nehra pun segera bangkit pula begitu ia di dorong oleh Steffa.


"Aarrgghh.... Kenapa si kamu datang pagi-pagi begini! Mengganggu tidur ku..! Menyebalkan!" keluh Steffa.


"Aku ke sini atas perintah Kai. Ia meminta kita datang, karena permintaan Alena. Alena ingin jalan-jalan bersama kita hari ini."


Steffa membelalakkan matanya mendengar perkataan dari mulut Nehra.


"Seharusnya kau mengatakan itu dari awal!"


Steffa pun kembali mendorong tubuh Nehra dan lekas masuk ke kamar mandi. Beruntung Nehra bisa menjaga dirinya untuk tetap seimbang.


"Cepat, Kai hanya memberi waktu setengah jam untuk bersiap." teriak Nehra.


"Iyaaa!!!"


Tidak hanya untuk bersiap, ia pergi juga untuk mengendalikan detak jantungnya yang berdegup kencang di dalam dadanya.


"Hei.. hei.. hei.. jantung ini normal bukan? Aarrgghh.. kenapa cepat sekali!!!"


Tepat di saat itu, Nehra menerima notifikasi dari aplikasi pendeteksi detak jantung. Nehra menyergitkan dahinya di saat notifikasi tersebut menunjukkan emoticon hati yang meledak dan menunjukkan kata,


"Fall in love? apakah ada pengaturan seperti itu?" ucap Nehra keheranan.


Ia terus menatapnya sembari menunggu Steffa bersiap. Di balik kamar sendiri, Steffa meneguk salivanya kasar dan berjalan perlahan.


"Ehm.."


Nehra pun bangkit dari tempat duduknya dan melihat ke arahnya. Nehra ternganga dengan dandanan Steffa yang menggunakan celana jeans pendek dan juga kemeja biru serta memakai tas senada di pakainya kelihatan anggun. Rambutnya yang di gerai juga membuatnya terlihat sangat cantik.


"Aku cantik? Tentu saja. Jangan sampai kau jatuh cinta padaku! Cepat ayo pergi."


Baru satu langkah Steffa berjalan, ia tersandung kakinya sendiri. Nehra dengan cepat memegang tangan dan kepalanya, alhasil mereka pun jatuh untuk kedua kalinya.


Mereka saling bertatap lagi, juga untuk kedua kalinya. Namun, kali ini tatapan mereka berdua sedikit berbeda dan sedikit lebih lama. Nehra yang terlebih dahulu sadar, langsung saja bangun dan membantunya.


"Kamu, baik-baik saja?" tanya Nehra memastikan.


"Ehm.." jawab Steffa sembari mengangguk.


"Baiklah, ayo cepat pergi."


Steffa hanya bisa mengangguk dan membenarkan tas yang di bawanya.


FLASHBACK OFF


Dan karena itulah mereka saling diam satu sama lain karena kejadian canggung yang mereka alami.


//**//

__ADS_1


__ADS_2