Unlimited Love

Unlimited Love
Bab 23


__ADS_3

Vioni dan Max akhirnya turun dari mobil setelah istrinya itu benar-benar bangun. Vioni menolak saat Max menawarkan diri akan membantunya dengan alasan kalau dia masih gugup dan belum berani terlalu banyak bersentuhan.


“Aku akan segera meminta pengurus Villa ini untuk menyiapkan tempat beristirahat untuk kita. Kau sebaiknya tunggu diruang keluarga sebentar agar tubuhmu tidak kelelahan. Aku tahu saat ini kau pasti sudah sangat lelah, tapi sabarlah dulu!” ucap Max saat keduanya memasuki Villa itu.


Jantung Vioni seakan tak bisa bisa dikondisikan lagi seiring langkah keduanya memasuki bangunan Villa itu. Bahkan jika boleh berharap, Vioni ingin Max dan dirinya tidur di kamar yang terpisah agar dia bisa beristirahat dengan nyaman, Vioni yakin jika dia tidak akan tidur nyenyak malam ini kalau berada satu kamar dengan suaminya itu.


“Hey, apa kau mendengar perkataanku?” tanya Max saat Vioni tak menyahuti perkataannya tadi.


“E—eh, i—iya. Aku mendengarnya,” jawab gadis itu dengan gugup. Vioni mengambil langkah cepat dari Max. Dia mendahului


pria itu tanpa tahu kemana kakinya melangkah.


Sementara itu, Max hanya diam saja sambil memperhatikan istrinya yang pergi mendahuluinya. Dia tahu jika Vioni tidak akan pergi lama karena gadis itu tidak mengetahui seluk beluk Villa ini.


Padahal banyak yang mengatakan kalau putri kedua keluarga Clifford itu pandai dan berwibawa, tapi kenapa gadis yang


ada denganku saat ini jauh dari kata wibawa dan cenderung ceroboh? batin Max sambil terus menatap punggung Vioni yang mulai menghilang di belokan menuju pintu ruangan lainnya.


Setelah Vioni tidak lagi terlihat, Max pun segera memanggil kepala pengurus Villa yang bertugas di sana untuk menyiapkan semua keperluan dirinya dan Vioni. Max masih setia di ruangan itu karena yakin Vioni akan kembali menyusulnya dan akhirnya setelah menunggu tujuh menit lamanya, Max pun bisa melihat istriya Kembali ke ruangan tu.


“Apa kau sudah selesai berkeliling?” tanya Max sambil menatap istrinya yang masih berdiri di hadapannya.


“Ma—maaf. Aku lupa kalau ini adalah Villa-mu,” ucap Vioni pelan.


“Duduklah!” perintah Max sambil menepuk sebelah tempat duduknya. Dia tidak tahu Vioni dari mana, tapi Max tahu jika saat ini gadis itu sedang kelelahan.


Vioni sedikit ragu saat suaminya meminta dia untuk duduk, tapi kalaupun dia tidak duduk, Vioni sendiri yang merasa kesemutan pada kakinya.


“Kau tidak perlu takut padaku. Aku hanya ingin memintamu untuk beristirahat sejenak, sebelum kita memasuki kamar,” ucap Max lagi karena melihat raut wajah istrinya yang tampak ragu.


Mendengar ucapan suaminya, Vioni pun dengan perlahan mulai mendekati Max dan duduk sedikit berjarak. “Te—terima kasih,” ucap gadis itu.

__ADS_1


Max membenarkan posisi duduknya dan menatap Vioni sambil berpangku tangan.


“Ada apa?” tanya Vioni saat melihat suaminya yang menatap lekat. Entah kenapa, jantung gadis itu selalu berdegup kencang saat suaminya menatap dia dengan lekat.


“Tidak ada. Aku hanya sedang menikmati wajah cantikmu itu,” jawab Max yang langsung membuat Vioni memaligkan wajahnya


kearah lain. Dia tidak sanggup untuk menatap mata pria yang kini sudah jadi suaminya. Padahal, saat awal pertemuan mereka di rumah sakit, Vioni selalu terbayang akan wajah pria yang kini tengah menatapnya itu.


“Berhentilah untuk menggodaku, Tuan! Aku tidak suka digoda seperti ini!” sergah Vioni yang mulai benar-benar merasa


situasi ini semakin tidak baik untuk jantungnya.


“Kenapa?”


“Apa maksudmu dengan ‘kenapa?”


“Ya … maksudku kenapa kamu selalu menghindariku?” tanya Max dengan santai. “Aku rasa—”


“Aku tidak sedang menghindarimu,” sela Vioni dengan tegas. Dia tidak ingin Max berpikir jika dirinya benar-benar sedang menghindari pria itu.


Vioni menganggukan kepalanya dengan cepat. “Iya. Aku sungguh tidak bermaksud menghindarimu. Aku hanya masih merasa gugup saja,” jawabnya dengan kepala yang sedikit menunduk.


“Hmmm. Baiklah jika memang seperti itu adanya. Aku mengerti. Tapi … kau tidak bermaksud untuk menjauhiku ‘kan? Maksudku, kau mau memulai pernikahan ini dengan damai? Aku tidak suka dan tidak berniat mempermainkan sebuah pernikahan, jadi … apa kau bersedia menghabiskan waktu kita hingga tua nanti dan tetap bersama denganku?” tanya Max dengan tatapan tulus tertuju pada istrinya.


Vioni tampak terdiam mendengar pertanyaan Max. Hari ini dia dibuat takjub dua kali oleh pria itu. Dia yang tadinya memang


berniat untuk menjaga jarak, justru kini mulai merasa nyaman hanya dengan kata-kata yang keluar dari bibir pria itu.


“Aku juga tidak berniat untuk mempermainkan pernikahan. Jika memang kau ingin tetap menghabiskan waktumu denganku, maka aku bersedia,” jawab gadis itu pelan tanpa berani menatap mata


Max secara langsung.

__ADS_1


Max mengangukan kepalanya dengan cepat. “Baguslah kalau memang kau juga berpikir seperti itu,” ucapnya. “Sekarang, biar aku antar kau ke kamar, sepertinya pengurus Villa sudah


membereskannya. Kita datang mendadak kemari, jadi mereka sama sekali tidak menyiapkan apapun, aku harap kau memakluminya. Oh, ya ... kau belum tahu tataletak Villa ini. Besok pagi aku akan mengajakmu berkeliling. Sekarang,


istirahatlah dulu,” katanya lagi sambil membukakan pintu kamar yang akan dia tempati bersama Vioni selama di Villa itu.


Saat memasuki kamar berdua dengan Max, Vioni sedikit ragu. Dia benar-benar belum siap untuk melewati malam-malam bersama suaminya itu. Namun, Vioni tidak berani bersuara karena dia takut hal itu justru akan membuat max kesal dan berpikir jika dia memang menghindarinya, sedangkan tadi Vioni sudah berkata akan menerima pernikahan ini.


Huft … aku harap Max tidak memaksaku untuk memberikan haknya malam ini, batin Vioni sambil melangkah masuk ke kamar


diikuti Max dibelakangnya.


“Vio, aku akan gunakan kamar mandi lain untuk mandi, kau gunakan saja kamar mandi di sini.” Max berkata seraya melangkah menuju lemari tempat penyimpanan baju miliknya. Ya, meskipun Max jarang datang ke Villa itu, tapi dia selalu menyediakan semua keperluannya di sana selengkap mungkin.


Berbeda dengan Max, Vioni justru kebingungan karena tidak membawa baju ganti, semua keperluannya pun sudah ditinggalkan di mansion suaminya tadi.


“Vio, kenapa kau diam saja? Apa ada sesuatu yang kamu butuhkan?” tanya Max sebelum keluar kamar karena dia tidak mendengar sahutan istrinya itu.


“Hah? Akh, iya … aku mendengar perkataanmu tadi,” sahut Vioni dengan cepat.


Max pun akhirnya menganggukan kepala dan meninggalkan Vioni sendirian di kamarnya, sementara dia akan menggunakan kamar mandi lain untuk membersihkan tubuhnya.


Sepeninggalan Max, Vioni terduduk di pinggiran kasur. Wanita itu kebingungan karena tidak ada baju yang bisa ia gunakan untuk tidur. Gaun yang saat ini digunakan pun tidak akan nyaman jika ia gunakan untuk tidur.


“Astaga … apa yang harus aku lakukan sekarang? Jika aku pesan baju sekarang pun rasanya tidak akan mungkin segera sampai dalam waktu satu jam,” gumam gadis itu.


Entah berapa lama Vioni berpikir, hingga akhirnya ia dikejutkan oleh suara pintu yang terbuka dan membuatnya berpaling untuk menatap orang yang sudah membuatnya terkejut itu. Namun, rupanya keterkejutan itu tidak bisa ia ungkapkan karena melihat sosok pria tampan di hadapannya hanya dengan menggunakan kaos putih serta celana pendek selutut serta rambut pria itu masih tampak basah, itu terlihat karena masih ada tetes-tetes air di anak rambutnya.


“Max?” gumam Vioni ketika melihat sosok pria tampan yang merupakan suaminya itu.


“Kau masih belum mandi?” tanya Max mendekati Vioni dengan tangan yang sibuk mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.

__ADS_1


Vioni memalingkan wajahnya ke arah lain saat Max menatapnya, entah kenapa dirinya mendadak sangat gugup.


“I—itu … aku, aku tidak ada baju ganti,” jawab Vioni dengan lirih.


__ADS_2