
Kai hanya bisa diam tak mengerti, silsilah keluarga Flova sendiri sulit untuk di temukan. Satu pun orang suruhannya tidak menemukan apapun mengenai tentang Flova, terutama juga dengan Nehra, yang ia tugaskan untuk mencari tau tentang Flova.
"Kau pasti tidak percaya bukan?" ucap Joanna.
Kai pun memberikan ponselnya kepada ibunya dan tidak berhenti berfikir.
"Sebenarnya, mama juga menyelidiki tentang keluarga Flova, tetapi informasi mengenai keluarga lengkapnya tidak seorangpun ada yang tau. Apabila ia merupakan anak dari seorang pengusaha, pasti tetap akan ada jejak yang di tinggalkannya." ucap Joanna.
"Mah, sebaiknya mamah tidak perlu ikut campur tentang Flova. Tentang Flova, biar aku yang urus sendiri. Oiya, aku juga minta foto itu ya mah. Dan, apabila urusan mamah di sini sudah selesai, mama bisa keluar dan antarkan makanan untuk Alena."
Joanna hanya mengangguk setuju dengan perintah Kai. Dengan segera ia pun keluar dari ruangannya dan beralih ke ruang bermain anak. Terlihat Alena yang tengah bermain menyusun balok membentuk sebuah istana. Joanna tertegun melihatnya, dan lekas menghampirinya.
"Grandma.." panggil Alena. dengan senang.
Joanna pun menghampirinya dan memeluknya. Begitu pun sebaliknya. Joanna duduk tepat di sampingnya.
"Grandma, untuk apa Grandma ada di sini? Apa untuk menemui ayah?"
Joanna mengangguk dan mengelus rambut Alena. "Benar, dan Grandma datang untuk membawakan makan siang untuk Alena dan ayah Alena. Sekarang, kita makan yuk."
Alena mengangguk dengan senang. Kemudian sang nenek mengeluarkan makanan yang di bawanya.
Sementara itu, di ruangan Kai, ia terus memperhatikan foto yang di kirimkan oleh ibunya. Berfikir dan terus berfikir mengenai anak yang ada di dalam gambar tersebut.
"Apa benar anak yang aku maksud ini adalah Flova? Tetapi, mengapa identitasnya dan keluarganya masih belum bisa di ungkap hingga sekarang? Dan, orang yang paling tau dengan identitas keluarga Flova sebenarnya adalah orang tua Flova itu sendiri. Mereka pasti menyimpan banyak rahasia. Tetapi, bagaimana cara mengetahuinya."
Pikirannya terus menerus berkecamuk tentang Flova. Dan, matanya pun seketika berbinar di saat ia mengingat sesuatu.
"Iya benar, Flova takut dengan dingin. Apa itu ada kaitannya dengan masa lalunya? Dan jika itu benar, itu artinya Flova adalah gadis yang aku selamatkan 14 tahun yang lalu."
Kai pun bangkit dari tempat duduknya. Segeralah dia pergi untuk menemui Flova.
...*****...
Flova tengah latihan pelemasan otot tangan dan kakinya kaget di saat ia melihat Kai tepat di belakangnya melalui pantulan cermin di depannya. Ia pun membalikkan badannya dan benar, tepat di depannya saat ini, Kai berdiri.
"Kai? Ada apa kamu kemari? Semuanya baik-baik saja kan?"
Kai tersenyum dan langsung memeluk Flova. Tentu saja, Flova terperanjat kaget dengan sikap Kai yang berbeda hari ini. Detak jantungnya juga berdebar lebih kencang.
Kai merasakan hal itu pun menambah erat pelukannya kepada Flova. Merasa sesak nafas, Flova berusaha lepas dari pelukannya. Kai paham, dan melonggarkan tangannya kemudian memilih melepasnya.
__ADS_1
"Ada apa Kai? Kenapa tiba-tiba kamu ke sini? Apa ada hal yang penting?" tanya Flova.
"Hei gadis kecil, kau benar-benar tidak mengingatku? Kau mengajakku menikah 14 tahun yang lalu."
Flova melototkan matanya, tersadar masih banyak pelatih di sekitarnya, membuatnya malu. Para pelatih yang mengerti pun lekas meninggalkan mereka berdua di ruang latihan.
"Plak .."
Sontak saja Flova menepuk bahu Kai, karena bingung dengan apa yang di bicarakan barusan.
"Apa yang kau bicarakan? Menikah katamu? Kau yang memaksaku untuk menikah mu."
Kai menggenggam kedua tangan Flova. Flova dibuat kebingungan dengan sikapnya yang berbeda hari ini. Dan, tidak dingin seperti biasanya. Dia banyak berbicara dengan hal yang tidak-tidak menurut Flova.
"14 tahun yang lalu, kau pernah terjebak di dalam sebuah pendinginan, dan aku yang menolong mu pada saat itu. Kau terus memegang tanganku hingga kau sadar. Dan, pada saat kau terbangun, kau langsung mengajakku untuk menikah. Apa kau tidak ingat?"
Flova pun berfikir sejenak, namun tidak ada satu ingatan sekalipun tentang apa yang Kau ceritakan kepadanya, sehingga Flova pun menggelengkan kepalanya. Kai menghela nafas dan memegang kedua pundak Flova.
"Baiklah, tidak apa. Aku tau kamu pasti trauma. Memangnya kau tidak pernah memimpikan hal ini?"
Flova berfikir lagi, dan baru teringat bahwa ia memimpikannya sewaktu ia terbaring di rumah sakit. Mata Flova pun berbinar melihatnya.
"Aku ingat pernah memimpikan hal ini, tetapi bagaimana kau tau, hal itu pernah terjadi kepadaku?" tanya Flova bingung.
"Anak perempuan ini, aku?" Flova menunjuk dirinya sendiri.
Kai mengangguk, kemudian ia menunjuk ke arah anak laki-laki yang ada di sampingnya.
"Ini Kevin, sahabat kamu."
Flova melihat foto itu lagi, namun Flova menggelengkan kepalanya karena pikirannya kosong dan tidak dapat mengingat masa lalu tentang kehidupan masa kecilnya.
"Apa kau tau sesuatu tentang keluargaku? Kelihatannya aku bukan seorang anak biasa. Jelas terlihat di foto ini, pakaian anak ini sangat mewah, dan aku juga tidak yakin jika ini aku, karena aku dari keluarga yang sederhana."
Kai pun memeluknya dan mengelus kepalanya. Flova terkejut namun, ia berusaha tetap tenang di pelukan Kai. Pelukan hangat yang tidak asing terasa di tubuhnya. Perlahan, Flova pun membalas pelukannya.
"Tidak perlu kau ingat tentang masa lalu mu, yang perlu kau ingat adalah masa yang sekarang kau jalani. Mungkin, masa lalu bagimu adalah sebuah hal yang menakutkan, tetapi yang ku rasa saat ini adalah, kau masih Flova yang sama yang ku temui 14 tahun yang lalu." ucap manis dari mulut Kai.
"Jika Flova yang di foto itu bukan aku, bagaimana? Dan, apabila Flova itu muncul di hadapan mu, bagaimana? Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Flova.
"Aku akan tetap percaya kepadamu dan berusaha tetap di sampingmu. Jadi, ayo sekarang kita berkencan."
__ADS_1
Flova membelalakkan matanya mendengar perkataan Kai. Ia pun melepaskan pelukannya dari tubuh Kai.
"Kenapa sekarang kau begitu terus terang?" tanya Flova bingung.
Kai tersenyum miring dan kembali memeluk Flova. Ia sebenarnya juga merasakan hal yang sama saat memeluknya dan itulah yang membuatnya tidak ragu dan tidak salah dengan pemikirannya.
"Kau bertanya kepadaku seakan-akan kau takut kehilangan ku atau pun berpaling darimu. Dari pertanyaan mu saja, sudah sangat jelas kau takut kehilanganku."
Flova tersipu malu karena ia tidak sadar terlalu gamblang menanyakan hal yang jelas sangat di mengerti oleh Kai.
"Jadi bagaimana? Kau setuju."
Flova mengangguk di pelukan Kai. Kai tersenyum senang dan mencium puncak kepala Flova. Begitu tenang pula mereka berdua setelah mengutarakan perasaan hati masing-masing.
"Tunggu, kau pasti menipuku. Kau tiba-tiba mengatakan hal ini, pasti kau memilih alasan lain agar aku menerimamu bukan? Kau sebelumnya juga menyukai bukan?" tanya Flova.
"Juga?" tanya Kai dengan menaikkan sebelah alisnya.
Flova langsung menutup mulutnya, begitu detail Kai mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulutnya.
"Sudah-sudah. Aku akan mulai berdansa lagi. Sebaiknya kau pergi dan kembalilah ke kantor."
"Aku akan menemanimu di sini."
"Kai.."
"Drrtt.. drrtt..."
Baru Kai akan membantahnya, teleponnya berdering. Kai melihat Flova yang di balas senyuman mengejek kepadanya.
"Angkatlah."
Kai lekas mengangkat telepon tersebut dan menjauh dari Flova. Flova menunggu Kai yang sedang menelepon di tempatnya, hingga beberapa menit kemudian, Kai pun menghampirinya.
"Baiklah, kau menang hari ini. Aku akan ke kantor untuk meeting. Selamat berlatih.."
Flova mengangguk. Kai pun membalikkan badannya meninggalkan Flova yang masih diam di tempat. Kai terlupa akan sesuatu dan kembali menghampirinya. Lekaslah Kai meraih tengkuk Flova dan mencium bibir mungil Flova beberapa detik. Flova kaget dan lekas menutup matanya. Begitu kai mengakhirinya, ia pun beralih mencium keningnya.
"Terimakasih." ucap Kai.
Flova hanya mengangguk sembari tersipu malu dengan sikap Kai. Kai pun turut tersenyum mengembang saat akan meninggalkannya.
__ADS_1
//**//