
Selepas pulang dari kantor, Flova membereskan baju-bajunya dan juga baju Alena. Alena hanya bisa diam karena sudah mengerti bahwa Flova sedang marah kepada Kai.
"Bunda, kita mau kemana?" tanya Alena yang sedang di gandeng Flova.
"Kita ke rumah nenek sekarang yah. Ayah tidak suka kita." jawab Flova.
"Bunda, nanti ayah khawatir jika kita pergi begitu saja." ucap Alena khawatir.
"Jangan panggil ayah lagi kepadanya. Dia bukan ayah yang baik untuk Alena."
"Tidak! Tidak mau!"
Alena menangis dan kemudian Flova dengan susah payah menggendongnya sembari menggeret koper mereka berdua. Mereka langsung masuk ke taksi yang Flova pesan dan melesat meninggalkan rumah Kai.
Ibu Flova bingung karena melihat Flova yang datang di siang hari sembari membawa dua buah koper yang di pegangnya. Ibu Flova membantunya membawa Alena yang sedang tertidur.
"Loh.. loh.. Ada apa?" tanya sang ibu dengan bingung.
"Kami berencana untuk menginap Ibu. Aku kangen masakan ibu." ucap Flova.
"Baiklah, duduk saja dulu. Ibu bawa Alena ke dalam."
Flova mengangguk dan mendorong kopernya ke dalam kamar. Selepasnya, ia memilih untuk mengambil air putih untuk ia minum dan langsung duduk di sofa. Ibu Flova dengan tergesa-gesa menghampirinya dan duduk di sampingnya.
"Sebenarnya ada apa? Ceritalah kepada ibu." pinta sang ibu.
Flova menghela nafas panjang dan melihat ke sekitarnya.
"Begini Bu, Alena menjahili Rosan dengan memberikan mainan kecoa di minuman Rosan. Ia kaget dan terjatuh. Alhasil Kai marah dan mengatakan Alena tidak memiliki sopan santun. Dia juga memarahinya begitu saja, aku tidak terima." cerita Flova dengan singkat.
"Ibu mengerti perasaan kamu. Tinggallah saja di sini dan tunggu apakah Kai akan datang menjemputmu malam ini atau tidak. Karena ibu juga tidak tau, dia sedang di landa emosi atau perasaan yang membuat moodnya buruk. Pergi dan istirahatlah."
Flova mengangguk dan memegang tangan sang ibunya. Sang ibu pun bangkit dan meninggalkannya di tempatnya sembari melihat jam yang ada di dinding rumah ibunya.
Hingga hampir menjelang malam, Kai tak kunjung pulang ke rumah. Alena menunggu di ruang makan sembari mengetuk-ngetuk meja sebagai tempat sandaran kepalanya. Flova menghela nafas panjang dan mencoba untuk membujuk Alena agar menghabiskan makanannya.
"Ayo, habiskan makanannya. Kalau habis, baru anak bunda yang pintar." bujuk Flova.
Alena hanya menggelengkan kepalanya dan melihat ke arah Flova yang sedang mengangkat makanannya.
"Bunda, Alena pasti berbuat sangat salah kepada Tante Rosan. Jadi, ayah marah dan tidak pulang ya." ucap Alena dengan tatapan sedih.
"Engga sayang.. Besok pasti ayah pulang. Alena harus habiskan makanannya ya biar ngga sakit."
Flova mengarahkan sendok tersebut ke arah mulut Alena namun ia mendorongnya pelan.
"Alena.."
Sang ibu lantas saja memegang bahu Flova yang akan marah. Ia dengan cepat pun menghela nafas dan menurunkan sendok yang masih terisi sedang di pegangnya.
"Alena mungkin sudah kenyang. Sudahlah, jangan paksa dia."
Flova pun mengangguk dan menaruh piring bekas Alena. Ia juga langsung mencucinya dan menaruhnya di tempatnya.
"Bu, aku harus menyelesaikan skripsi. Aku akan masuk ke kamar terlebih dahulu. Tidurkan Alena jika ia sudah mengantuk ya Bu."
"Baiklah."
__ADS_1
Flova langsung masuk ke kamarnya dan membuka laptopnya yang ia bawa. Ia memijat pelipisnya sebentar, dan mencoba kembali fokus pada laptopnya.
...*****...
Esok harinya ia terbangun di ranjangnya. Ia melihat sekelilingnya dengan bingung. Ia pun duduk dan banyak berfikir sembari mengumpulkan nyawanya. Ia pun keluar dari kamarnya sembari memijat pelipisnya lagi.Ia sedikit terkejut melihat Alena sudah siap memakai baju sekolah dengan lengkap dengan suasana hati yang senang.
"Bunda.. ayo sarapan."
"Eum.." Flova mengangguk dan berjalan lemas ke arah meja makan.
"Hacchhuuu..." Tiba-tiba Flova bersin di saat ia akan terduduk. Ia pun lantas saja duduk si samping Alena dan menyiapkan sarapan untuknya.
"Bunda sakit?" tanya Alena sembari melihatnya cemas.
"Tidak, bunda hanya bersin saja." jawab Flova.
"Kamu terlihat sedikit pucat Flova. Benar, kamu baik-baik saja. Biar ibu saja yang mengantarnya ke sekolah nanti ya." ujar sang Ibu Flova.
"Tidak perlu Bu. Aku benar-benar baik-baik saja. Kalian jangan khawatir ya. Ayo kita sarapan, bunda akan antar kamu ke sekolah hari ini ya."
Alena mengangguk dengan semangat dan melahap sandwich dengan besar-besar. Flova juga memakannya sedikit demi sedikit.
"Nenek, ini sangat segar." puji Alena.
"Hehem.. sayuran yang di dalam sandwich yang Alena makan, nenek petik dari kebun secara langsung. Jadi, rasa sayuran yang ada sangat segar jika dimakan langsung." jawab bijak dari ibu Flova.
"Wah.. nenek hebat. Tolong buatkan untuk bekal aku ya nek."
"Hem.. baiklah."
Flova yang sedari tadi hanya mendengarkan pun, akhirnya turut berbicara.
Ibu Flova tersenyum dan melihat ke arah Alena sembari mengelusnya.
"Alena yang akan menjelaskannya di perjalanan nanti. Kamu bersiaplah mengantarnya ke sekolah. Sudah siang, nanti waktumu akan habis untuk mendengar cerita ibu."
Flova menghela nafas panjang. Terlebih dahulu, ia mengambil tasnya dan menunggu taksi yang ia pesan untuk mengantarkan mereka ke sekolah.
"Sebenarnya, apa yang terjadi Alena?" tanya Flova penasaran.
"Ayah semalam datang. Ia berniat untuk menjemput kita, tapi bunda sudah tidur di kamar, jadi ayah menginap di rumah nenek."
Mata Flova terbelalak mendengar cerita singkat yang Alena yang keluar dari mulut kecilnya.
"Semalam Kai datang?" batin Flova.
"Ayah tidur dimana?" tanya Flova lagi.
"Tentu saja bersama dengan Bunda. Di rumah nenek hanya ada dua kamar bukan?"
Flova ternganga tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Sehingga mereka tak sadar mereka sudah sampai di sekolah Alena.
"Hacchhuuu..." Flova kembali bersin setelah membayar taksi yang ia tumpangi. Alena melihatnya dengan detail ke arah Flova.
"Bunda baik-baik saja bukan? Bunda terlihat pucat walaupun bunda sudah memakai hiasan wajah."
"Ah.. bunda tidak apa-apa sayang. Alena masuk saja dan belajarlah dengan giat ya." jawab Flova berbohong.
__ADS_1
"Baiklah bunda. Dah.."
Flova melambaikan tangannya dan mencoba tetap tersenyum. Hingga, ia merasa Alena sudah masuk ke dalam, ia pun menghela nafas panjang sembari memijat pelipisnya.
"Maafkan bunda Alena. Bunda tidak ingin kamu khawatir. Walaupun sejak kemarin, bunda sedang tidak baik-baik saja." gumam di batinnya.
Tepat tidak lama, Kevin juga datang ke sekolah. Tepat di depannya, Kevin pun menyapa Flova.
"Flova, kamu sendirian?" tanya Kevin sembari melihat sekelilingnya.
"Iya, aku sendirian. Aku harus pamit terlebih dahulu." ucap Flova.
"Tunggu Flova, bisa kita bicara sebentar?" tanya Kevin sembari memegang bahunya.
"Kamu harus mengajar." jawabnya.
"Masih ada waktu hingga jam 8."
Flova tak bisa menolak lagi dan memilih untuk menyetujuinya. Kevin pun memintanya untuk berbicara di taman belakang sekolah.
"Sebenarnya ada yang aneh antara kamu dan Kai. Apa kalian baik-baik saja? Saat aku membahasnya kau terlihat tidak senang.
Flova hanya terdiam sembari menunduk.
"Maaf, bukan maksudku untuk ikut campur urusan rumah tangga kamu Flova."
Flova pun mengangkat wajahnya dan tersenyum paksa kepada Kevin.
"Kevin, jika perlu aku jujur, aku akan berkata bahwa pernikahan ini adalah palsu. Kami tidak benar-benar melakukan pernikahan dan ini semata untuk menutupi hutangku padanya dan juga ia yang ingin mendapatkan keinginannya."
Kevin begitu kaget dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Flova kepadanya.
"Memangnya hutang apa yang perlu kamu bayar untuknya?" tanya Kevin penasaran.
"Untuk kalung ini, rumah dan juga sandiwara di depan Evelin dan Wildan di saat pertunangannya kala itu." jawab Flova sembari menunduk.
Kevin memegang kedua pundaknya dan melihatnya dalam dalam."Seharusnya kau ceritakan ini lebih awal denganku Flova, aku akan dengan senang hati membantu mu."
Flova menepiskan kedua tangan Kevin dari bahunya dan menggelengkan kepalanya. "Apa iya aku harus juga merepotkanmu. Aku yang sedang di bodohi dan aku yang harus menanggungnya. Jadi, aku tidak bisa memikirkan apapun selain melakukannya."
Kevin memegang tangan hangat Flova.
"Flova.. kamu.."
Flova menepiskan tangan Kevin dan berdiri dari tempat duduknya.
"Aku harus pergi Kevin."
Baru beberapa langkah Flova meninggalkan Kevin. Tiba-tiba saja pandangannya kabur. Kevin yang melihat Flova terhuyung-huyung dengan cepat menangkap tubuhnya Flova. Ia memegang pipinya yang panas dan panik.
"Dia demam. Aku akan membawanya ke rumah sakit."
Ia langsung saja menggendongnya dan membawanya lari ke parkiran. Beberapa guru yang bingung pun menghampirinya.
"Siapa dia?" tanya salah satu guru wanita.
"Dia ibu Alena. Dia demam tinggi, aku akan membawanya ke rumah sakit. Aku akan absen hari ini. Jangan katakan apapun kepada Alena untuk ini. Aku yang akan mengurusnya nanti."
__ADS_1
Guru tersebut mengangguk dan membantunya membukakan pintu mobilnya. Ia langsung melesat dengan cepat meninggalkan area taman anak-anak.
//**//