Unlimited Love

Unlimited Love
Bab 9


__ADS_3

Vioni duduk di kursi meja riasnya. Dia memandangi wajahnya yang sudah sangat terlihat pucat pasti bagaikan mayat hidup. Bahkan lingkar matanya pun tampak berwarna kehitaman, belum lagi tulang pipinya yang terlihat jelas, semakin mempertegas kalau saat ini tubuhnya sedang tidak baik-baik saja.


Ya Tuhan ... aku tidak menyangka penyakit ini akan semakin menggerogotiku secepat ini, batin gadis itu.


Perlahan tangannya mulai mengambil satu persatu alat make up dan mengenakannya di wajah. Vioni memutuskan untuk berdandan sederhana saja hari ini karena dia juga tidak berencana akan keluar rumah. Jadi, dia berdandan hanya untuk menutupi wajah pucatnya saja.


Tepat saat Vioni sedang menggunakan lip gloss, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk seseorang dari luar.


"Vio, ini Om! Tolong buka pintunya!" pinta Marvel dari balik pintu itu.


"Sebentar, Om!" sahut Vioni menyelesaikan riasan itu dan segera merapikan kembali alat-alat make up-nya. Setelah memastikan tak ada lagi yang kurang di wajahnya, barulah gadis itu bangkit dan berjalan menuju pintu.


"Ada apa, Om?" tanya Vioni setelah ia berdiri di hadapan Marvel.


"Tadi kau mengatakan sedang tidak enak badan, apa kau sudah berobat?" tanya Marvel sambil terus memperhatikan wajah keponakannya yang memang tampak lebih tirus dari kemarin-kemarin.


Vioni menyipitkan kedua matanya. Dia merasa heran dengan sikap omnya hari ini. Ada apa dengan Om Marvel? Tidak biasanya dia akan peduli seperti ini padaku? batin gadis itu.


"Vioni, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?" tanya Marvel lagi saat keponakannya malah diam sambil menatapnya.


"Eh, ya .... Emmm, apa yang Om katakan tadi?" tanya Vioni sedikit gelagapan.


Marvel tampak kesal saat mendengar Vioni kembali menanyakan pertanyaan. Dia tidak mengerti dengan keponakannya yang seperti orang yang sedang melamun.


"Jika kau memang sedang sakit, apakah kau sudah berobat?" ulang Marvel untuk yang kedua kalinya.


"Oh, ya ... itu–"

__ADS_1


"Ada apa? Kenapa kau tampak gelagapan seperti itu?" Marvel kembali bertanya dengan tatapan penuh rasa curiga.


"Itu ... kemarin aku hanya masuk angin saja, Om. Jadi, tubuhku terasa pegal-pegal dengan kepala pusing," bohong Vioni sambil mengerahkan pandangannya ke tempat lain karena dia tidak bisa berbohong sambil menatap mata seseorang.


Marvel tampak mengangguk-anggukan kepalanya setelah mendengar jawaban sang keponakan. Dia memilih untuk percaya saja kalau memang Vioni hanya sekedar masuk angin.


"Ya sudah. Kalau memang hanya masuk angin, beristirahatlah dan jangan lupa untuk meminum obat! Kau tidak boleh sakit parah karena pernikahanmu sudah di depan mata!" ucap Marvel yang langsung membuat Vioni mengerti dengan sikapnya hari ini.


"Iya, Om. Aku mengerti," sahut Vioni sambil menatap lantai yang menurutnya lebih menarik daripada harus melihat wajah sang paman.


Setelah mendengar jawaban keponakannya, Marvel berlalu dari sana dan meninggalkan Vioni yang masih berdiri di depan pintu. Kini gadis itu mengerti dengan sikap sang paman yang tiba-tiba mengkhawatirkannya.


Lucu sekali aku mengira kalau Om mengkhawatirkanku karena ketulusannya, ternyata dia khawatir aku sakit dan akan menggagalkan rencana pernikahan ini, batin Vioni sambil tersenyum miris.


***


"Kakak, Kak Vio di mana?"


Vioni mendengar teriakan Vanila dari luar kamar, tapi dia lebih memilih membaringkan tubuhnya di atas kasur. Biar saja Vanila mengurus dirinya sendiri karena dia tidak mau harus bertanggung jawab menjaganya. Vanila sudah besar, jadi sudah sewajarnya gadis itu melakukan hal seperti apa yang dilakukannya selama ini.


Baru saja Vioni hendak menutup kedua kelopak matanya, tiba-tiba suara pintu kamar terbuka dengan keras. Rupanya adik kembarnya sudah berdiri di sana dengan kedua tangan yang bertolak pinggang.


Vioni menatap adiknya tanpa turun dari ranjang. Sementara vanila memperhatikan kamar tempat kakak kembarnya beristirahat.


"Sister, are you really resting here?" tanya Vanila dengan mata yang terus mengejar ke semua penjuru kamar.


"Apa maksud dari pertanyaanmu itu, Vani? Dan ... di mana tatakramamu saat memasuki kamar orang lain?" kesal Vioni tanpa menghiraukan pertanyaan adik kembarnya.

__ADS_1


"Kakak, tidakkah kau berfikir kalau kamar ini mirip seperti kamar pembantu di Ibu? Bahkan menurutku kamar pembantu di sana lebih baik dari ini," ucap Vanila tanpa memikirkan bagaimana perasaan Vioni saat ini.


Gadis itu masih terdiam hingga membuat Vanila kembali bersuara, "Kak, aku tidak mau tidur di sini! Kau harus menyiapkan satu kamar khusus untukku!"


"Vani, aku tidak akan pernah memintamu untuk tidur di sini. Tetapi kau juga jangan berharap aku mau menyiapkan apa yang kau mau! Kau masih mempunyai tangan dan kaki serta mulut yang bisa digunakan, jadi ... katakan itu pada pelayan saja!" sahut Vioni hingga membuat Vanila membelalakkan matanya.


"Kak, bagaimana bisa Kakak menyuruhku seperti itu? Yang sekarang menjadi tuan rumah di sini itu Kakak, aku hanya tamunya. Bukankah sudah sepantasnya seorang tuan rumah memperlakukan tamunya dengan baik?"


Kini giliran Vioni yang tercengang mendengar penuturan sang adik. Dia tidak menyangka kalau adiknya benar-benar manja seperti ini dan sama sekali tidak bisa menghargai orang lain. Bahkan pada saudaranya sendiri.


Wah, wah, wah .... Aku sungguh tidak menyangka kalau Vanila memiliki sikap yang horogan seperti ini. Apa karena dia tinggal bersama kedua orang tua kami dan hidup berkecukupan, makanya dia bisa seenaknya saja padaku? tanya Vioni dalam hatinya.


Gadis itu dengan terpaksa bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan perlahan menuju di mana adik kembarnya berdiri.


"Vani, apa kau sungguh menganggap dirimu itu sebagai tamu?"


Vanila langsung mengganggukan kepalanya. "Tentu saja, Kak. Rumah selain rumah Ayah dan Ibu adalah rumah orang lain. Jadi saat aku berkunjung ke rumah itu, tentu saja aku menjadi tamunya."


Vioni menggangguk-anggukan kepalanya setelah mendengar jawaban sombong sang adik. Dia tidak menyangka kalau Ayah dan Ibunya sudah mendidik anak manja seperti Vanila.


Akh, apa mungkin karena dia terlalu banyak dimanja, makanya mempunyai sifat arogan seperti ini? Lagi-lagi Vioni bertanya dalam hatinya atas sikap yang Vanila memperlihatkan.


Vioni menghela napas panjang sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Dia memperhatikan penampilan adik kembarnya yang tampak jauh berbeda dengannya, mungkin yang sama hanyalah wajah saja karena kalau dari segi penampilan, keduanya tampak seperti langit dan bumi.


"Kenapa Kakak memperhatikan penampilanku?" tanya Vanila yang merasa kalau Vioni terus menatapnya dengan luka.


"Tidak ada. Hanya saja aku jadi berpikir, bagaimana kalau posisiku ada padamu dan kau jadi aku?"

__ADS_1


__ADS_2