Unlimited Love

Unlimited Love
49. "Apa! Flova sakit?"


__ADS_3

Kai pulang dari kantornya lebih malam dari biasanya. Ia langsung saja ke kamarnya dan langsung membilas tubuhnya. Begitu ia selesai, ia pun membuka kamar Flova. Ia begitu terkejut karena tidak melihat Flova di kamarnya.


"Apa dia di kamar Alena?" gumamnya sendiri.


Ia pun melihat ke dalam kamar Alena, namun di sana juga tidak berpenghuni. Kai pun memilih untuk turun dan bertanya kepada sang pembantunya yang sedang mencuci piring bekas makan malam para supir dan satpam.


"Bi, apa bibi melihat Flova dan Alena?" tanya Kai.


"Tidak tuan. Saya pikir Nyonya ikut pulang larut bersama Tuan." jawab Bi Surti.


Kai pun mengangguk-anggukkan kepalanya sembari memejamkan matanya. Dia juga menghela nafas panjang.


"Baik Bi. Lanjutkan saja pekerjaan bibi."


Bi Surti mengangguk dan menuruti perintah Kai. Kai kembali ke kamarnya dan membuka lemari pakaian kamar Flova. Matanya terbelalak karena tidak ada satupun baju di dalam lemari tersebut.


"Sudah ku kira Flova pasti marah." gumamnya lagi.


Ia melihat ke arah jam dinding dan menghela nafas panjang lagi. Ia pun menutup pintu kamar Flova dan mengambil jaket serta kunci mobilnya.


"Sudah jam 9 malam, kira-kira dia tidur dimana?"


Ia pun lekas melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan rumah besarnya. Tujuan pertamanya adalah rumah Flova yang di tinggali bersama dengan Steffa.


"Ting..tong..."


Kai memencet tombol pintu rumah Steffa berkali-kali. Steffa yang sedang menonton televisi sembari memakan camilan pun terburu-buru untuk membuka pintu rumahnya.


"Siapa si, ganggu orang lagi santai saja."


Ia begitu terkejut, begitu melihat seseorang dengan tatapan dingin berdiri di depan pintu rumahnya.


"Tuan Kai? Ada gerangan apa anda kemari?" tanya Steffa melihat sampingnya berharap Flova datang bersamanya.


"Apa Flova ada di sini?"


Steffa menyergitkan dahinya dengan bingung sembari menyilangkan tangannya di dadanya dan menggelengkan kepalanya.


"Maaf, dia tidak di sini, bukankah dia sudah tinggal bersamamu?"


Kai langsung saja pergi dari hadapannya begitu saja dan membuat Steffa menganga tidak percaya. Langsung saja, ia pun menutup pintu rumahnya dengan kesal.


"Huh.. dasar. Aku akan memberi perhitungan dengan Flova agar Kai tidak mengganggu waktu istirahatku lain kali. Hm.. tetapi, mengapa ia mencari Flova? Apakah Flova pergi dari rumah?" pikir Steffa sembari menyangga dagunya.


Di sisi lain, Kai kembali melajukan mobilnya. Kini, dia mengarahkannya ke kediaman orang tua Flova. Begitu mobil terparkir, ia keluar sembari menghela nafas panjang.


"Ku harap, kalian di sini." batin Kai.


Kai berkali-kali menghela nafas sebelum mengetuk pintu rumah tersebut. Dengan perlahan dan ragu, ia pun mengetuk pintu yang ada di depannya.


"Tok.. tok..tok.."


Alena yang masih belum tidur dan masih berharap Kai datang, langsung saja membuka pintu rumahnya dan diikuti sang neneknya.


"Hah.. Ayah.."


Kai tersenyum dan berjongkok sembari memeluk Alena. Ia juga langsung membopongnya begitu sang ibu Flova terlihat di depannya.


"Ibu.." panggil Kai.


"Masuklah, ibu tau kamu pasti datang. Alena sudah menunggu lama."


Kai mengangguk dan tetap membopong Alena. Selesai melepas sandalnya, ia pun menurunkan Alena dari gendongannya. Terlebih dahulu ia pun duduk di sofa dimana ibu Flova sedang menyiapkan minuman untuknya.


"Ayah, Alena minta maaf atas kejadian tadi siang. Alena sangat salah."

__ADS_1


"Ayah juga salah sudah memarahi Alena. Ayah minta maaf ya." Kai meraih kedua pipi Alena dan menciumnya.


"Iya ayah, terimakasih banyak." jawab Alena.


"Tapi, besok Alena minta maaf ya kepada Tante Rosan."


Alena terpaksa mengangguk. Sang ibu Flova yang mendengarnya pun tersenyum saat ia terduduk di seberang sofa Kai.


"Baguslah, jika saling memaafkan. Tetapi, Flova mungkin saja tidak akan bisa memaafkan begitu saja. Kamu harus bisa meluluhkan nya lagi."


"Iya Bu. Ngomong-ngomong dimana Flova?" tanya Kai lagi.


"Ia ada di dalam kamar. Kamu masuk dan bicarakan baik-baik."


Kai mengangguk dan masuk ke dalam kamar Flova. Ia begitu terkejut melihat Flova sedang tidur di atas laptop yang masih terbuka dan menyala sebagai bantalnya. Kai pun melepaskan jaket yang di pakainya dan membopong tubuh Flova ke atas kasur.


Ia kembali ke luar kamar usai menyelimuti tubuh Flova. Ibu Flova bingung melihatnya nampak ragu-ragu dan juga sedih.


"Ada apa nak?"


"Flova sudah tertidur Bu." jawabnya.


"Ya sudah, lebih baik kamu juga beristirahat. Ibu juga akan beristirahat bersama Alena."


Kai mengangguk dan masuk kembali ke kamar Flova. Ia pun duduk di sofa sembari melihatnya.


"Hufftt.. sofa ini terlalu kecil sebagai tempat tidurku. Terpaksa, aku harus tidur di sampingnya. Jika aku tidur di ruang tamu, yang ada aku akan di ceramahi oleh ibu. Baiklah, tidur di samping Flova saja. Lagipula, aku akan bangun lebih pagi karena ada meeting di luar kota besok."


Usai bergumam dengan hatinya, ia pun tidur di samping Flova dan menyeret sedikit selimutnya. Lebih dulu ia juga melihat Flova yang tidur dengan cantik di depannya.


"Aku minta maaf sudah memarahi kamu dan Alena tadi siang."


Kai membelai pipi Flova dan mencium keningnya entah dengan sadar. Ia pun tersenyum dan membaringkan tubuhnya. Suasana di rumah ibu Flova dingin dan membuat Flova juga kedinginan. Kai dengan cepat pun memiringkan tubuhnya dan memeluk tubuh Flova. Flova yang tadinya sedikit bergerak, sekarang kembali diam di pelukannya.


Usai berbicara sendiri, ia ikut terlelap dengan posisinya sangat sangat nyaman sembari memeluk Flova.


...*****...


Tepat pukul 5 pagi hari. Kai pun keluar dari kamar Flova. Sudah mendapati ibu Flova yang sedang melepas peralatan berkebunnya.


"Ibu, ibu habis darimana pagi-pagi sekali seperti ini?" tanya Kai bingung.


"Ibu habis dari kebun memetik beberapa sayuran untuk sarapan. Kenapa kamu bangun sangat pagi?"


"Aku harus ke luar kota karena ada meeting. Jadi, aku bangun pagi." jawab Kai.


"Sebaiknya, kamu mandi terlebih dahulu. Ibu akan membuatkan sandwich nanti. Tapi, tunggu sebentar."


Kai pun diam di tempatnya dan menunggu ibu Flova yang masuk ke dalam kamarnya. Tak lama kemudian, ia kembali keluar dengan membawa beberapa baju.


"Ini, pakailah pakaian ayah. Mungkin muat untukmu. Maaf, ibu tidak bisa memberimu pakaian baru."


Kai tercengang dan langsung tersenyum sembari menerima baju yang di bawakan ibu Flova.


"Terimakasih banyak bu. Tidak apa."


Ibu Flova mengangguk dan Kai langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Begitu Kai menyelesaikan mandinya, Alena juga bangun dari tidurnya. Ia menghampiri sang ayah dengan senang.


"Selamat pagi ayah.." Sapa Alena sembari mencium pipi Kai.


"Selamat pagi juga, Alena tidur dengan nyenyak kan?"


Alena mengangguk dan tertawa. Melihat keakraban Kai dan Alena membuat ibu Flova tersenyum dengan senang. Setelah sandwich siap, ibu Flova menyajikannya untuk kedua orang tersebut.

__ADS_1


"Kalian, sarapan lah terlebih dahulu."


"Maaf Bu, aku terburu-buru. Aku akan sarapan di luar saja nanti."


"Kamu sudah berbicara dengan Flova?"


Pertanyaan sang mertuanya membuat Kai terdiam dan menggelengkan kepalanya pasrah.


"Aku akan berbicara lagi nanti Bu. Aku harus pergi."


"Kalau begitu, bawa ini. Ini untuk kamu sarapan dan juga camilan di saat perjalanan nanti. Kamu akan menempuh perjalanan yang jauh pastinya."


"Terimakasih banyak sekali lagi Bu."


"Tidak perlu sungkan. Aku juga ibumu. Kembalilah dengan selamat."


Usai berpamitan dengan Ibu dan Alena, lekas saja ia pergi dari rumah sang mertuanya dan menelepon asistennya.


"Aku akan ke kota B. Siapkan pesawat pribadi di bandara SJ. Kau dan aku akan pergi ke sana satu jam lagi."


Hanya beberapa kalimat saja dan tanpa menunggu jawaban dari sang lawan bicara. Kai langsung saja menutup teleponnya tersebut.


...*****...


Kai sampai di kota B tepat pukul 8 pagi. Ia pun lekas saja menuju ke restoran yang sudah ia janjikan bersama dengan tuan David. Ia mengadakan pertemuan dengan Kai untuk membicarakan investasi yang akan di lakukannya di kota B tersebut.


"Bagaimana tuan Kai, apakah anda setuju untuk membangun resort di area pantai C?" tanya David.


"Tentu saja. Saya akan menyetujuinya."


Usai berbincang mengenai resort yang akan mereka bangun. Telepon Kai berbunyi sehingga ia harus menunda pembicaraannya.


"Apa! Flova sakit? Siapkan pesawatnya sekarang. Aku akan langsung pulang."


Panggilan yang tak lain dari guru Alena,. membuatnya langsung membuat sebuah keputusan secara sepihak begitu saja.


"Maaf tuan David. Sepertinya saya tidak bisa berlama-lama di sini. Saya harus kembali karena istri saya sedang sakit." ucap Kai.


"Baiklah tuan Kai. Saya mengerti posisi anda. Berhati-hatilah dalam perjalanan. Sampaikan salam ku kepada nyonya Flova agar dia cepat sembuh."


"Terimakasih atas pengertiannya tuan David, saya langsung pamit."


Dengan terburu-buru Kai segera menyuruh asistennya untuk segera mengantarkannya ke bandara. Resah dan cemas juga ia rasakan saat ini. Selama di pesawat ia juga terlihat tidak tenang sembari menopang dagunya.


"Tuan harus tenang. Nyonya Flova pasti baik-baik saja."


"Apa yang harus aku bawakan untuknya agar ia senang? Ia sakit pasti karena terlalu memikirkan perkataanku kemarin." jawab Kai.


"Bawakan keranjang buah dan buket bunga tuan. Pastikan Nyonya tidak alergi bunga." jawab sang asistennya.


"Sepertinya ide bagus dan setahuku Flova tidak alergi terhadap bunga. Baiklah, telfon rekanmu untuk menyiapkan semua yang kamu tadi katakan. Aku akan mengirim bayarannya ke rekeningmu, dan jika berhasil aku akan menambah bonusmu dua kali lipat nanti."


Dengan semangatnya sang asisten tersebut sigap melaksanakan perintahnya. Selama dua jam perjalanan, akhirnya mereka pun sampai ke kota K. Ia langsung menuju ke rumah sakit "Kejora" dimana Flova berada.


Ia terkejut karena di sana sudah ada Kevin dan juga Alena yang sedang menjaganya di ruangan Flova di rawat. Kai pun meletakkan buah dan juga buket bunga di atas nakas yang ada.


"Suami macam apa kau ini, istri sendiri sedang sakit saja sampai kamu tidak mengetahuinya."


Kevin mengucapkan kata yang menurutnya benar begitu saja. Lantas ia pun melihat ke arahnya tajam.


"Ikut aku keluar."


Kevin mengikutinya keluar dari ruangan Flova di rawat karena ia tau pasti ini akan menjadi sebuah keributan.


//**//

__ADS_1


__ADS_2