
Di apartemen Steffa sendiri, Ia tidur dengan pulas nya namun, di ganggu oleh Nehra dari luar. Steffa membuka pintu dengan cepat sehingga Nehra terhuyung ke dalam dan menimpa Steffa.
Steffa terkejut dan berkali-kali mengedipkan matanya, tetapi Nehra menatapnya dengan dalam. Sebuah notifikasi juga muncul di dalam handphonenya. Sadar Steffa tengah di tatapnya, ia mendorong tubuh berat Nehra.
"Ada apa si!"
"Kamu tidak punya baju lagi untuk aku pakai hari ini?"
"Tidak ada!"
Steffa kembali masuk untuk mengambil handuk dan bajunya, kemudian kembali keluar menunju ke kamar mandi.
"Buatkan sarapan untukku! Aku akan mengambilkan baju nanti." ucapnya sebelum melenggang masuk ke kamar mandi.
Dengan pasrah ia pun menurutinya dan memilih untuk membuat pancake. Pancake selesai di buat sebelum Steffa menyelesaikan mandinya.
"Cepat!! Sarapan sudah siap."
Dengan cepat Steffa pun keluar dari kamar mandi dan sudah menggunakan baju santai dengan rapi juga menutup rambutnya menggunakan handuk.
"Ya sudah, silahkan anda mandi."
Nehra langsung menurutinya dan mengambil handuk yang Steffa berikan tadi malam. Usai Nehra mandi, ia terkejut karena semua makanan yang ia buat sudah di lahap habis oleh Steffa.
"Bajuku mana? Dan kau menghabiskan semua makanannya."
Steffa hanya tersenyum miring sembari memakan potongan terakhirnya. Ia bangkit dari tempat duduknya usai minum air dengan santai. Nehra marah dan menariknya hingga ke jatuh ke pelukannya.
"Apakah aku harus memakanmu?" goda Nehra sembari membuka handuk di kepala Steffa.
Steffa tersenyum miring dan membelai rambut Nehra yang basah. Ia mengusap dari pangkal hidung hingga ke dadanya yang terbuka menggunakan jari telunjuknya membuat Nehra bergidik ngeri.
"Cobalah jika kamu berani."
Nehra pun mendorong tubuhku Steffa seakan ketakutan dengan balasan godaan Steffa. Ia pun menutupi dadanya dengan bingung.
"Ce-cepat ambilkan baju untukku."
Steffa tersenyum kecil menandakan kemenangan dan ia melenggang masuk ke kamarnya mengambil baju dan celana oversize yang ia punya. Ia melemparkannya kepada Nehra, dan membuat Nehra lekas kembali masuk ke kamar mandi.
"Apa itu tadi? Wah.. benar-benar wanita tak terduga."
Nehra pun lekas memakai bajunya dan keluar dari kamar mandi. Ia bersikap seperti biasanya sembari duduk di sofa ruang tamu dimana Steffa berada.
"Ayo kita ke cafe." ajak Nehra.
__ADS_1
"Kau tidak ke kantor Kai?"
"Flova sudah menggantikan aku. Akhirnya aku bebas dari Kai. Dan, mungkin aku akan mengurus perusahaanku sendiri. " Nehra menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
Steffa hanya memutar bola matanya malas dan kembali masuk ke kamarnya untuk mengambil tas. Ia langsung keluar dari rumahnya begitu saja, yang kemudian di susul oleh Nehra.
...*****...
Mereka berdua sampai di cafe. Terlihat dengan jelas Evelin dan Wildan tengah bercumbu mesra di dalam sebuah cafe yang baru saja ia buka. Nehra tau Steffa tidak suka pemandangan tersebut, kemudian merangkul pinggangnya dan masuk ke dalam cafe.
"Selamat pagi."
Wildan dan Evelin lantas menjauhkan diri, namun pandangan Evelin menatap mereka tidak suka karena tangan Nehra merangkul pinggang Evelin dengan mesra.
"Lanjutkan saja bila kalian merasa malu. Kami akan langsung ke dapur."
Nehra dan Steffa melalui mereka begitu saja. Evelin hanya melihat mereka dengan ekspresi wajah yang menunjukkan ketidak sukaan. Steffa melepaskan tangan Nehra dari pinggangnya yang ramping terlepas jauh dari pandangan Evelin dan Wildan.
"Apaan si! Curi kesempatan dalam kesempitan." Steffa mengusap usap pinggangnya yang di rangkul oleh Nehra.
Nehra hanya terdiam dan tersenyum miring. Steffa menyadari hal tersebut dan langsung menangkap tengkuknya.
"Masih mau menantangku?"
"Waktunya bekerja."
Nehra berusaha tetap tenang dan memilih mengambil celemek yang tergantung di dinding dapur dan memakaikannya asal kepada Steffa.
"Buatkan aku pancake sebagai ganti tadi pagi. Aku belum sarapan karena kamu."
Nehra melenggang keluar begitu saja dari dapur dan melihat cafenya sudah mulai ramai. Ia duduk di meja yang kosong sembari memanggil Wildan untuk menghampirinya.
"Tolong buatkan aku kopi hitam."
Wildan mengangguk dan membuatkan kopi hitam spesial untuk sang bos-nya. Setelah kopi di sandingkan, Steffa datang membawakan pancake untuk Nehra.
"Nih!"
Steffa meletakkan piring tersebut dengan sedikit kasar dan memilih untuk kembali ke dalam dapur.
Keadaan cafe semakin ramai, Nehra pun memilih untuk pergi. Steffa yang akan mengantarkan makanan ke meja, pandangannya teralihkan kepada Nehra yang sudah meninggalkan cafe.
"Wait, untuk apa aku mencarinya?"
Ia cepat-cepat menggelengkan kepalanya dan mengantarkan pesanan ke meja yang memesan sandwich yang tengah di pegangnya.
__ADS_1
Maudi yang sebelumnya melihat Steffa kelimpungan mencari keberadaan Nehra, langsung mengagetkannya.
"Uhuuu... ada yang mencari tuan Nehra."
"Tidak, aku bersyukur dia pergi. Dan aku berharap dia tidak akan kembali lagi."
Steffa meninggalkannya dan melenggang masuk kembali ke dalam dapur. Evelin yang juga ada di dapur langsung menghadangnya.
"Wah.. kakak beradik mendapatkan lelaki kaya raya."
"Hm.. bilang saja kamu iri. Kamu selalu iri dengan pencapaian Flova dari dulu. Kau juga sebenarnya iri Flova mendapatkan pria yang jauh lebih kaya raya daripada Wildan yang hanya seorang manager cafe biasa."
"Yang terpenting kan, aku tidak miskin seperti kalian."
"Iya, kami memang miskin. Untuk itu kami tau namanya kerja keras, bukan sekedar memeras orang tua."
Steffa sengaja mendorong tubuh Evelin. Ia kembali ke depan kompor untuk membuat pesanan selanjutnya. Begitu Wildan masuk, Evelin langsung menjatuhkan dirinya.
"Kamu kenapa?" tanya Wildan panik.
"Steffa sayang. Ia selalu mendorong aku. Aku ingin kamu memecatnya." pinta Evelin manja.
"Maaf aku tidak bisa jika bukan perintah langsung dari Nehra. Bisa-bisa aku yang akan di pecat. Sekarang bangun dan ayo kita keluar saja."
Evelin berdecak sebal sembari di papah oleh Wildan. Maudi hanya bingung melihat Evelin keluar sembari di rangkul Wildan.
"Kak Evelin kenapa?"
"Seperti biasa, mereka hanya drama. Sangat bersyukur apabila aku di pecat dari sini."
"Jangan kak. Jangan berusaha membuat kesalahan ataupun sengaja resign dari sini. Aku butuh kakak untuk menjadi teman. Dan bila nanti tidak ada kakak, yang ada aku dan Joe terintimidasi olehnya." mohon Maudi sembari memegang tangannya.
"Iya, aku juga akan berusaha. Kalau pun kalian mau pindah, pindah saja tak apa."
"Iya, lagipula cepat atau lambat kami pasti akan keluar. Kami mahasiswa sehabis magang, pasti akan lebih sibuk." jawab Maudi.
"Hm.. semangat ya. Sudah, ayo kembali bekerja. Apa yang harus aku buat sekarang?"
"Kita butuh 5 pancake kak."
"Baiklah, ayo bantu kakak."
Maudi mengangguk dan memakai celemek yang tergantung di dinding. Membantu Steffa membuat 5 porsi pancake sesuai total pesanan yang di minta.
//**//
__ADS_1