
Rosan pulang dengan keadaan kesal. Joana, sang ibu Kai memandangnya dengan bingung di ruang keluarga di kediaman rumahnya.
"Kenapa murung?"
"Anak-anak sialan itu sudah mengerjai aku di kantor Kai." jawab Rosan sembari menyilangkan tangannya di depan dadanya.
"Anak-anak?"
"Anak Flova, si.. Alena itu dengan temannya. Mereka sengaja membuat di permalukan di sana. Mereka juga membuatku di campakkan oleh Kai. Aku bersumpah akan memberikan pembalasan kepada mereka berdua."
Joanna hanya tersenyum miring dan menepuk pundak Rosan.
"Tenang saja, Tante ada di pihakmu."
Rosan juga membalas senyum miring ibu Kai. "Tentu saja Tante." jawabnya.
"Iya, kau harus membantuku hingga aku masuk dalam keluarga Pradipta." batin.
...*****...
Flova dan Kai sudah sampai di rumah. Kai terus menggendong Flova dan tidak membiarkan dia berjalan. Sedangkan kedua anak itu membawakan tas Flova dan tas Kai yang berisikan laptop.
"Kenapa aku harus ada di situasi seperti ini?" batin Desta.
Kai menurunkan Flova di sofa ruang tamu. Melihat kedatangan tuannya yang menggendong Flova, bi Surti melihatnya dengan cemas.
"Nona Flova kenapa tuan?"
"Dia keseleo. Bi Surti, tolong bawakan aku balsem."
Bi Surti mengangguk dan segera membawa obat yang Kai minta.
"Kau pasti lelah, kau juga harus beristirahat."
Kai tidak mempedulikan perkataan Flova dan memilih duduk di sampingnya. Kakinya kembali di taruh dalam pangkuannya. Dua anak kecil, hanya memandangi mereka.
"Kalian lanjutkan tugas kalian di atas ya. Alena, bawa Desta ke ruangan bermain."
"Baik ayah."
Alena memberikan tanda hormat dengan tangannya lalu kemudian menyeret tangan Desta yang sama-sama kecil ke ruangan bermain di lantai dua.
Tak lama, bi Surti kembali membawakan balsem untuknya. Kai pun menerimanya dan mengoleskan balsem tersebut secara perlahan.
"Oiya, aku belum beritahu ibu Desta bahwa Desta ada di rumah bukan di kantor." ucap Flova.
"Telfon lah.."
Kai memberikan handphone Flova yang sedikit jauh darinya. Begitu benda pipih itu ada di tangannya, ia langsung menelpon ibu Desta.
"Hallo Bu, Desta ada di rumah saya. Terpaksa kami pulang karena saya mengalami sedikit kecelakaan."
Di seberang terdengar ibu Desta sedikit panik.
"Tidak parah kok Bu, hanya sedikit kesleo saja." jawab Flova.
__ADS_1
"Iya Bu, nanti aku kirim alamat rumah kami."
Telepon pun berakhir. Kai terus memandangi Flova sedari tadi tanpa Flova sadari. Begitu mata Flova menangkapnya, ia langsung memalingkan wajahnya.
"Kau menatapku?"
"Kau tidak boleh bekerja selama satu Minggu. Kamu harus terus berada di rumah hingga kaki kamu sembuh total. Masalah pekerjaan, kamu bisa bekerja dari rumah."
Kai pun menurunkan kaki Flova secara perlahan dan hendak meninggalkannya sendirian.
"Aku akan ganti baju dan membuat makan siang. Kau tetaplah duduk dan jangan bergerak kemana-mana atau aku akan mengurangi uang belanja kamu."
Flova menganga tak percaya dengan perkataan Kai barusan. Namun, perasaan aneh juga baru-baru ini seketika hadir dalam dirinya.
"Tidak, tidak boleh. Aku tidak boleh jatuh cinta dengan Kai. Ini tinggal 98 hari lagi. Sulit, jika nantinya aku jatuh cinta padanya." gumam Flova sembari melihat punggung pria yang kini sudah ada di dapur untuk membuat makanan.
Satu jam lamanya, makan siang pun siap di sajikan. Bi Surti menata makanan tersebut di meja makan, sedangkan Kai membopong kembali tubuh Flova dan membawanya duduk di meja makan.
"Aku bisa jalan."
"Jika kau memaksa, kamu akan lebih memperburuk keadaan."
Flova hanya diam tak menjawab ucapan Kai, dan berpikir bahwa tidak akan merepotkan Kai lagi. Kai memerintahkan bi Surti untuk memanggil anak-anak makan siang.
Tak lama, dua anak kecil tersebut turun dan langsung duduk di kursi ruang makan. Mereka tertegun melihat begitu banyak makanan mewah tersaji di atas meja tersebut.
Tepat ada empat piring, sudah ada steak daging berprotein tinggi yang di sajikan khusus di setiap piring.
"Wahh.. ini siapa yang memasak? Ini bagaikan berada di restoran." ucap Desta.
Desta yang tadinya tersenyum langsung menekuk bibirnya ke bawah sembari menunduk membuat Flova bingung dibuatnya.
"Desta kenapa?"
"Ayah Desta jarang ada buat waktu untuk Desta. Alena beruntung mendapatkan ayah yang sibuk tetapi tetap bisa meluangkan waktu untuk Alena."
"Jangan sedih, ayah Alena, ayah Desta juga. Kapan-kapan ayah akan undang ayah kamu dan kita pergi liburan sama-sama bagaimana?" tanya Kai sembari mengelus kepala Desta.
"Benarkah?" jawab Desta semangat.
Kai mengangguk dan mendorong pelan piring Desta. "Sekarang makanlah, sebelum dingin."
Desta mengangguk dan mengambil potongan besar dan langsung melahapnya. Kai dan Flova langsung tersenyum melihat Desta. Alena yang melihatnya juga tersenyum dan mengambilkan tisu untuk mengelap mulut Desta yang belepotan.
"Alena, siapa yang mengajari hal seperti itu?" tanya Kai penasaran.
"Hanya menonton film saja." jawab Alena enteng dan membuat Kai menatap ke arah Flova dengan tajam.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Flova tanpa rasa bersalah.
Alena dan Desta di buat tertawa oleh tingkah laku Flova yang mengacuhkan Kai. Kai melirik kearah Flova dan melihat mulutnya juga belepotan. Diapun melakukan hal yang sama seperti yang Alena lakukan kepada Desta.
Hal tersebut membuat Flova gugup dan membuat jantungnya berdegup kencang. Ia pun mengambil tisu tersebut dari tangan Kai dan mengelap mulutnya sendiri.
" Nah, ayah juga hayooo.."
__ADS_1
Alena langsung menunjuk Kai sehingga membuat Kai dan Flova salah tingkah di tempat.
Usai makan siang, Alena dan Desta kembali ke ruang bermain. Tugas yang mereka kerjakan pun sudah selesai serta langsung diberikan kepada Kai dan Flova.
"Mereka anak-anak yang pintar. Mereka membuat gambar yang sangat-sangat bagus." ucap Flova sembari melihat dua kertas yang ia letakkan di atas meja.
"Kita pajang gambar ini di ruang bermain anak-anak, begitu juga dengan karya-karya yang mereka buat nantinya."
Flova hanya mengangguk setuju dengan keputusan Kai sembari mengelus kedua gambar tersebut.
"Ting..tong.." Bel pintu rumah berbunyi dan mengalihkan pandangan mereka berdua.
"Aku yang akan membuka pintu."
Begitu ia membuka pintu, ia terkejut melihat ibu Desta sudah ada di depan pintu rumahnya.
"Ibu Desta, silahkan masuk."
Ibu Desta langsung masuk ke dalam rumah dan di arahkan langsung menuju ke ruang keluarga dimana Flova berada. Ibu Desta tersenyum dan memberikan keranjang buah kepada Flova.
"Ibu Desta." panggil Flova.
"Semoga cepat sembuh ya."
"Terimakasih. Anda tidak perlu repot-repot begini, ini hanya luka ringan saja." ucap Flova yang merasa tidak enak.
"Tetap saja, bila di biarkan. Ini akan fatal. Beristirahatlah."
Flova hanya tersenyum dan mengangguk. Pandangan ibu Desta teralihkan dengan gambar yang tergeletak di atas meja.
"Ini, karya mereka?" tanya ibu Desta sembari mengambil karya anaknya.
"Iya, itu milik Desta, dan ini punya Alena. Mereka sangat pintar."
Ibu Desta mengiyakan perkataan Flova. Tak lama, Alena dan Desta turun dari ruang bermain menghampiri mereka.
"Mama.." teriak Desta dan langsung berlari ke arahnya.
"Seru ngga di sini?" tanya ibu Desta.
"Seru mah, rumah Alena juga ada ruang bermain seperti di perusahaan ayah Kai."
"Oo.. seperti itu.. kapan kapan minta papa buatkan juga yah. Eum.. kalau begitu kami langsung pamit pulang." ucap ibu Desta.
"Kenapa buru-buru sekali?"
"Kami akan menjenguk nenek Desta di rumahnya. Katanya dia kangen dengan Desta." jawab ibu Desta.
"Baiklah, hati-hati di jalan." ucap Flova.
"Cepatlah sembuh. Jaga diri baik-baik dan terimakasih sudah menjaga Desta. Saya permisi."
Flova dan Kai hanya mengangguk dan membalas lambaian tangan Desta kepada mereka bertiga.
//**//
__ADS_1