
Di perusahaan X, Flova dengan cepat sudah mulai menguasai ilmu yang Kai tugaskan padanya. Ia sudah mengatur jadwal Kai, dan juga pertemuan-pertemuan dengan klien yang akan bekerjasama untuk mempromosikan kalung pendeteksi detak jantung tersebut.
"Bunda..." Sapa Alena yang baru saja pulang dari sekolahnya.
Alena menghampiri Flova yang sedang mengotak atik sebuah komputer di depannya. Kai di belakangnya sembari membawakan tas berwarna pink nya.
"Bunda, aku mau ganti baju." pinta Alena.
"Ayo, kita ke kamar mandi, dan ganti baju yah.." ajak Flova.
"Tidak perlu jauh-jauh. Ayo, ikut aku."
Flova dan Alena saling menatap bingung. Mereka berdua akhirnya mengekor di belakang Kai menuju ke sebuah sudut ruangan. Kai, menggeser vas yang ada di lemari dan tiba-tiba, sebuah pintu rahasia terbuka.
Kai masuk dan diikuti oleh Flova juga Alena. Dia melihat setiap sudut ruangan tersebut, menatap kagum bahwa ada ruang kamar rahasia di kantornya.
"Sejak kapan ruangan ini ada?" tanya Flova penasaran.
"Dari umurku menginjak 28 tahun. Ini tempat persembunyianku ketika aku lelah dan memilih untuk tidur disini ketika enggan pulang ke rumah." jawab Kai.
Flova mengangguk paham. Alena tersenyum dan langsung meraih tangan Kai dan Flova secara bersamaan. Mereka di tarik hingga berbaring bersama di kasur yang besar tersebut.
"Ayah, bunda. Alena ingin tidur bersama kalian."
"Kamu harus ganti baju dulu sayang, baru nanti tidur. Yuk."
Flova mengetuk pelan hidung Alena dengan jari telunjuknya. Alena hanya tertawa dan menarik tangan kanan Kai dan Flova untuk memeluknya.
Tindakan yang Alena lakukan secara tiba-tiba membuat Kai dan Flova terkejut. Jantung mereka pun berpacu dengan begitu cepat. Namun, dengan tenang Kai berusaha agar tidak canggung.
"Ganti baju dulu. Setelah itu baru boleh tidur. Besok seragamnya akan di pakai lagi. Mengerti?" ucap Flova lagi yang di angguki oleh Alena.
Mereka bertiga dengan cepat pun bangun. Flova mengajak Alena untuk mengganti bajunya, dan Kai memilih untuk keluar dari tempat rahasianya dan duduk kembali ke kursinya.
Selagi Alena beristirahat di kamar rahasia, Flova memilih untuk keluar dan kembali melanjutkan tugasnya sebagai seorang sekertaris.
Ia melihat komputernya dan menyalin jadwal Kai selama satu Minggu ke depannya di tablet yang lumayan lebar dan khusus kantor siapkan berisi jadwal-jadwal Kai.
"Tuan Kai, ini jadwal anda selama sepekan kedepannya. Mohon untuk di teliti. Tadi, saya sudah..."
Omongan Flova terhenti ketika seseorang datang begitu saja ke ruangan Kai yang tak lain adalah ayah Kai sendiri.
"Ayah." ucap Kai terkejut.
Dengan langkah lebar, ayah Kai berjalan ke arahnya untuk memberikan berkas perjanjian yang mereka bandingkan sebelumnya.
__ADS_1
"Ini berkas yang kamu minta. Ayah akan ke kota B untuk mengurus perusahaan Y. Kalian datanglah untuk makan malam di rumah kami sebelum kami pergi." ucap sang ayah.
"Baiklah, kami akan datang." jawab Kai.
Flova hanya mengangguk pasrah mengikuti kemauan suaminya tersebut, walaupun banyak keraguan tergenang di dalam hatinya.
...*****...
Di dalam perjalanan, Kai paham bahwa saat ini Flova tengah cemas dan selalu meremas jarinya. Kai pun meraih tangan Flova yang dingin dan memberikan senyuman kekuatan untuknya. Alena hanya fokus ke depan sembari sesekali melihat orang tuanya yang saling diam.
Hingga sampai di kediaman orang tua Kai, Flova masih terus cemas. Kai pun memutuskan untuk menggendong Alena dan menggenggam tangan Flova yang sangat dingin hingga ke dalam rumah.
Pandangan mereka bingung ketika melihat seorang perempuan yang nampak asing di mata mereka. Seketika pula mereka terkejut, melihat bahwa orang itu tidak lain adalah Rosan.
"Kalian sudah datang. Mari, silahkan duduk. Alena duduk dekat Grandpa, sini.." ajak sang Ayah yang sedang menunggu kedatangan keluarga kecil Kai.
Mereka langsung menempatkan diri. Alena pun meminta turun dan duduk di dekat ayah Kai. Ayah Kai dengan gemas mencubit pelan pipi Alena. Flova duduk di antara Alena dan Kai. Tepat di depannya, Rosan berada yang duduk di sebelah kanan ibu mertuanya.
Makanan pun lekas di sajikan. Bak ala-ala seperti jamuan di restoran, setiap orang yang ada di sajikan dengan piring yang berbeda dan berisi makanan dengan porsi yang sama. Ada juga lauk makanan tambahan yang tersaji di atas meja makan berukuran besar tersebut.
Makanan yang tersaji di atas piring mereka adalah capcay kuah telur dan juga cumi saus Padang beserta setumpuk nasi bulat. Serta makanan tambahan berupa sop tom yum dan ayam asam manis tersaji dengan rapi di depan mereka.
Merekapun dengan tenang melahap makanan yang ada di depannya. Alena dengan senang melahap dengan rakus makanan enak yang ada di depannya. Ayah Kai tertawa melihat mulut Alena yang belepotan dan mengambilkan tisu untuk mengelap bibirnya.
"Grandpa sepertinya akan kangen sama Alena di kota B." ucap sang ayah.
Kai dan Flova hanya tersenyum dan mengangguk menimpali perkataan Alena. Alena tersenyum senang dan kembali melahap makanannya.
"Setelah ini, Joana. Kamu harus mengemas barang-barang kamu." ucap ayah Kai sembari melahap suapan terakhirnya.
Ibu Kai hanya meletakkan sendok dan garpu di atas piring yang masih ada makanan yang belum ia habiskan. Ia pun dengan cepat meminum air yang ada di sampingnya.
"Aku akan tetap di sini. Aku akan tinggal bersama dengan Rosan selama Rosan berada di sini." Ibu Kai menggenggam tangan Rosan sembari tersenyum. "Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku." lanjutnya.
"Terserah kamu saja. Percuma bila aku memaksa kamu, karena itu tidak berguna lagi bagi kamu."
Ayah Kai meninggalkan meja makan, begitu pula dengan Joana dan Rosan yang terus bergandengan. Sedangkan Flova melihat perilaku mereka dengan bingung. Kai hanya tetap terlihat tenang sembari menikmati makanan yang masih tersisa dan mengambil ayam asam manis yang masih utuh di atas meja.
"Kai.." panggil Flova.
"Tidak apa, habiskan saja makanan kamu. Alena mau tambah lagi?" tanya Kai kepada Alena yang mengangguk.
"Mau apa lagi?" tanya Kai.
"Mau ayam asam manis dan sup Tom yum."
__ADS_1
Kai menepuk bahu Flova dan mengisyaratkan agar mengambilkan makanan yang di minta olehnya. Dengan terpaksa pula, ia juga menghabiskan makanan yang sedikit tersisa di piringnya.
Usai, mereka bertiga menyelesaikan makan malam, mereka terlebih dahulu berkumpul di ruang keluarga. Alena berada di pangkuan Kakeknya. Rosan masih duduk berdampingan dengan ibu Kai, sedangkan Kai dan Flova duduk di seberangnya.
"Flova, bisa ikut papa sebentar?"
Flova melihat Kai dengan ragu dan mendapat anggukan dari Kai. Ia pun melihat kembali ayah Kai sembari tersenyum.
"Iya pa.."
Ayah Kai langsung berdiri dan memberikan Alena kepada Kai. Flova pun hanya mengikuti di belakangnya hingga mereka sampai di taman belakang.
"Flova, jaga Kai dengan baik ya. Kamu harus bisa mempertahankan rumah tangga yang baru kalian jalani selama satu hari. Sepertinya Rosan dan mama berusaha untuk memisahkan kalian berdua. Papa percaya kamu adalah orang yang lebih baik daripada Rosan. Papa percayakan Kai kepadamu. Kamu juga harus memperhatikan mama walaupun dia tidak baik denganmu, suatu saat ia pasti akan membuka hatinya. Ingat ini, dia gampang mengalami darah tinggi. Jaga mereka untuk papa ya." ucap ayah Kai yang tentu saja itu merupakan pesan yang berat bagi dirinya.
Bagaimana tidak, pernikahan yang ia lakukan hanya sekedar pernikahan kontrak belaka yang akan berakhir sekitar 99 hari lagi. Dan kemungkinan besar untuk mengambil hati Kai sangat tidak mungkin bagi dirinya, dan ia juga bertekad untuk tidak jatuh cinta kepada Kai. Flova hanya terpaksa mengangguk dan kembali ke ruangan dimana anggota keluarganya sedang menunggunya.
"Papa, mama. Kami sebaiknya harus pulang. Besok Alena harus pergi ke sekolah." ucap Kai yang memahami raut wajah Flova yang sedang gelisah.
"Iya nak. Pulang saja. Sini peluk Grandpa dulu Alena." jawab ayah Kai.
Alena berlari kecil dan memeluk ayah Kai. Ayah Kai mencium pipi putihnya dengan gemas.
"Grandpa jaga diri baik-baik ya di sana."
"Iya, kamu yang pintar ya sekolahnya, buat bangga ayah, bunda, grandpa, dan grandma. Oke?"
"Oke grandpa. Kami pulang dulu ya grandpa. Dah grandpa, dah Grandma."
Alena melambaikan tangannya kepada kedua orang yang di panggilnya, namun ibu Kai cuek dan yang membalas lambaian tangannya hanya ayahnya saja.
Begitu mobil mereka keluar dari rumah besar tersebut. Kai melihat Flova penuhi dengan berbagai pertanyaan.
"Apa yang papa bicarakan dengan mu?"
"Eumm.. dia bertanya apa tugasku di kantor. Itu saja." jawab Flova ragu.
"Aku tau kau berbohong. Jujur saja, atau kau ingin aku menebaknya?" tanya Kai
Flova hanya diam melihat Alena di pangkuannya yang sedang fokus dengan handphonenya.
"Ayah pasti berpesan untuk menjagaku dan juga mama. Itu kan intinya?"
Flova membelalakkan matanya terkejut mendengar perkataan Kai yang dengan benar menebaknya.
"Ti-tidak kok. Kau salah, lebih baik kamu diam."
__ADS_1
Kai tersenyum kecil dan melihat ke luar jendela untuk mengakhiri pembicaraan yang membuat Flova canggung.
//**//