
Lama tidak terlihat, Rosan kembali datang ke kantor Kai setelah sekian lama tidak muncul di perusahaan Kai. Iya datang tak sendiri, melainkan bersama dengan Joanna, sang Ibu Kai sendiri. Mereka langsung saja datang ke ruangan Kai dan membuat terkejut penghuninya. Tidak dengan mengetuk pintu maupun memanggil, mereka berdua tetap masuk begitu saja.
Pandangan Joanna melihat sekelilingnya dan teralihkan kepada Flova yang sedang mengetikkan sesuatu di komputer yang ada di depannya.
"Mama? Rosan?"
Lantas saja ucapan Kai membuat Flova mengubah pandangannya dan berdiri lalu menghampirinya.
"Mama.." panggil Flova dengan sopan.
"Mama, ada perlu apa mama datang ke sini?" tanya Kai.
"Mama hanya melihat saja. Sudah lama mama tidak datang ke perusahaan ini."
Rosan hanya tersenyum sembari menggandeng lengan Joanna.
"Mama ingin datang bersamaku ke sini, jadi aku datang bersamanya." ucap Rosan tiba-tiba seolah ada ga bertanya kepadanya.
Kai dan Flova hanya diam. Sedangkan Joanna langsung merangkul pinggangnya.
"Kai tidak menyapa Rosan sedikitpun Kai. Begitu juga dengan kau Flova."
Flova hanya menunduk setelah di marahi oleh Joanna. Kai pun melihatnya iba dan merangkulnya. Flova melihat Kai dengan bingung.
"Semau mama saja."
Flova menjauhkan dirinya dari Kai dan membuat Kai mengerutkan keningnya.
"A-aku akan menyiapkan minum untuk Mama dan Rosan." Ucap Flova.
Lantas saja ia pergi dari ruangan tersebut dan meninggalkan mereka bertiga di tempat. Kai memasukan tangannya ke dalam sakunya dan menatap orang yang ada di depannya.
"Aku sedikit sibuk, lakukan saja apa yang kalian ingin lakukan di sini."
Kai meninggalkan mereka berdua di tempat, dan memilih duduk kembali di kursinya. Joanna mendorong tubuh Rosan untuk mendekatinya, sedangkan ia memilih untuk keluar.
Flova yang membawa minuman ke ruangan Kai, langsung di cegat oleh sang mertuanya tersebut. Flova melihatnya dengan penuh keheranan.
"Aku membawakan minuman untuk kalian ma, kenapa mama keluar?" tanya Flova.
"Sudah aku bilang jangan panggil aku mama. Sebaiknya kau pergi dan bawa minuman ini. Lagipula kami tidak butuh minuman buatan kamu."
__ADS_1
Joanna langsung saja berjalan dan sengaja menabraknya hingga nampan yang di pegangnya terjatuh.
"Prang..."
Flova langsung menghindar dan menjauhi area sekitar dimana semua gelas tersebut pecah. Suara tersebut juga membuat Kai beserta anaknya keluar dari ruangannya masing-masing.
"Ada apa bunda?" tanya Alena.
"Jangan keluar. Masuk saja. Ini berbahaya." ucap Flova yang masih diam di tempat.
"Flova... kamu tidak apa?" tanya Kai dengan panik dan hendak ke arahnya, namun Flova menyuruhnya untuk tetap diam.
"Diam di sana Kai. Aku tidak apa. Aku akan membersihkan ini."
"Jangan bergerak! Aku akan panggil OB untuk membersihkan ini."
Flova yang hendak berjongkok pun memilih untuk tetap diam. Rosan melihat sembari tersenyum miring. Flova hanya menghela nafasnya di tempat. Tak lama, seorang OB pun datang untuk membersihkan pecahan kaca di sekitar Flova.
Usai, selesai di bersihkan, Flova langsung saja masuk ke ruangannya dan mematikan komputernya yang menyala dan mengambil tas laptopnya.
"Kai, aku akan pulang." ucap Flova.
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Kai bingung.
"Perlu aku antar?" tawar Kai.
Flova segera menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, aku akan naik taksi saja. Kau masih ada meeting, jadi selesaikan saja dulu pekerjaanmu. Aku pergi."
Flova berhenti sejenak di depan Rosan dan kembali melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut. Ia juga memanggil Alena terlebih dahulu di ruang bermain.
"Ayo Alena, kita pulang. Bunda sangat lelah."
Alena mengangguk dan terlebih dahulu membereskan mainan yang berantakan dan kemudian menghampiri Flova.
"Kenapa pulang bunda?" tanya Alena yang di tuntun oleh Flova.
"Bunda sedikit lelah, jadi kita pulang saja dan tunggu ayah di rumah ya."
Alena hanya mengangguki perkataan Flova. Flova pun berjalan sembari memesan taksi online. Alena perlahan melihat ke belakang dan tatapannya melihat tajam ke arah Joanna dan juga Rosan.
"Pasti mereka menyakiti Bunda." batin Alena.
__ADS_1
Di dalam taksi sendiri, Flova terus melihat ke arah luar jendela dengan tatapan kosong, namun tidak dengan pikirannya.
"Melihat orang lain yang akan masuk ke keluarga kami, membuat ku sadar bahwa pernikahan ku hanya semata karena kontrak. Lagipula, hanya tinggal 75 hari lagi pernikahan ku berakhir. Aku akan lebih meluangkan waktu untuknya agar lebih dekat dengan Rosan." pikir Flova.
...*****...
Di kantor Kai sendiri, ia sedang merancang kembali sebuah produk yang akan ia buat selanjutnya setelah produksi Kalung pendeteksi detak jantung tersebut sukses ia luncurkan hingga ke berbagai negara. Rosan di sana juga memberikan skala dan juga detail dari projek yang berhasil Kai luncurkan di kota AS.
"Kai, aku juga sedikit merancang beberapa bentuk kalung yang mungkin kamu bisa pertimbangkan dan luncurkan."
Rosan memberikan beberapa desainnya kepada Kai. Kai pun mengangguk melihat desain kalung dari Rosan.
"Hm.. aku akan menyerahkan ke manager desain nanti."
Kai meletakkan desain tersebut di samping komputernya. Melihat Kai yang kembali fokus, Rosan pun memberikan satu berkas lagi kepadanya.
"Kai, aku di perintahkan mama untuk memberikan berkas ini. Tapi, sepertinya ini sudah tidak berlaku lagi karena kamu sudah menikah."
Kai menyergitkan dahinya. Ia menerima berkas dari tangan Rosan. Ia membukanya dan membacanya isinya.
"Apa hubungannya ini? Ini surat perjanjian kontrak antara perusahaan X dan B. Ada apa?" tanya Kai.
"Kamu ingat bukan, orang tua kita pernah menjodohkan kita sewaktu kita masih kecil dan kau menyetujuinya. Apa kau tidak ingat Kai?"
Kai pun menyandarkan dirinya dan melipat kedua tangannya. Ia melihat Rosan dengan tersenyum miring.
"Itu perjanjian anak kecil yang belum tau apa-apa Rosan. Jadi, jangan ikut terpengaruh oleh omong kosong masa lalu itu."
Kai pun berdiri dari tempatnya dan mengambil jasnya di tempat khusus ia menggantungkan jasnya. Ia memakainya dan membelakanginya.
"Aku akan meeting, sebaiknya kau pulang saja, karena aku akan langsung pulang." ucapnya saat berhenti sejenak sebelum meninggalkan ruangannya.
Roshan hanya mendengus kasar dan memilih keluar dari ruangan Kai. Ia pun berpapasan dengan ibu Kai di saat ia akan keluar.
"Kenapa kamu keluar?" tanya Rosan dengan bingung.
"Kai tante, dia sekarang sulit aku bujuk." keluh Rosan.
"Sepertinya Kai sudah mulai memiliki rasa kepada gadis miskin itu, begitu pula dengan anaknya. Kau harus membuat Kai membenci mereka terlebih dahulu agar kamu mudah mendekati Kai lagi."
"Caranya?" tanya Rosan dengan bingung.
__ADS_1
Joanna pun menyuruhnya untuk mendekatkan telinganya di hadapannya. Rosan menyingkirkan rambut yang di urainya ke belakang telinga sehingga Joanna dapat dengan mudah membisikkan kata-kata ke dalam telinganya. Mendengar Joanna berbicara lirih, ia pun manggut-manggut menyetujui rencana yang akan mereka lakukan.
//**//