
“Tidakkah kau berusaha untuk menerima pernikahan ini?” Pertanyaan yang dilontarkan Max pada Vioni beberapa saat lalu terus terngiang di telinga wanita itu. Tidak bisa Vioni pungkiri pertanyaan itu tentu saja menggugah perasaannya. Dia yang terbiasa mengatasi masalahnya sendiri kini ditawari untuk menerima pernikahan yang normal oleh pria yang pernah ditemuinya di rumah sakit, pria yang pernah mengusik pikirannya, meskipun hanya bertemu sesaat.
“Hei, kenapa kau diam saja?” tanya Max pada wanita di sampingnya. Kini pasangan pengantin baru itu sedang berada di dalam mobil menuju mansion milik Max. Ya, mereka benar-benar langsung pergi setelah makan malam di keluarga Cifford usai.
“Hah? Eh, maaf. Saya tidak bermaksud untuk mendiamkan Anda,” jawab Vioni masih merasa gugup atas sikap suaminya yang menurut dia cukup berani, padahal mereka baru saja kenal beberapa jam yang lalu. Meskipun status mereka suami istri, tapi tetap saja mereka hanya dua orang yang masih asing untuk satu sama lainnya.
“Bisakah kita berbicara lebih santai? Pendengaranku merasa sedikit tidak nyaman. Apalagi kita ini suami istri dan jangan panggil aku ‘Tuan,” ucap Max lagi. Dia mengira Vioni akan bersikap lebih santai setelah pertanyaannya tadi saat mereka sedang di kamar. Bahkan, Max juga yang membantu Vioni saat wanita itu kesulitan, tapi rupanya Vioni masih saja kaku terhadapnya.
Sabarlah dulu, Max. Mungkin dia memang masih merasa asing terhadapmu. Makanya dia masih menjaga jarak denganmu, batinnya.
Vioni terdiam sambil sedikit menundukkan kepalanya. Dia merasa gugup karena selama ini dia selalu bersikap formal pada orang asing. Jadi, itu sudah menjadi kebiasaannya dan sekarang dia tiba-tiba menikah hingga harus belajar membiasakan diri bersikap santai pada orang asing itu.
“Sa, maksudku, aku ... aku akan mencobanya,” sahut Vioni dengan gugup. Jantungnya saat sedang benar-benar berdegup kencang. Bahkan, ingin rasanya Vioni kabur dari mobil Max saat ini juga karena dia sudah tidak sanggup menahan debaran itu.
Max menoleh pada Vioni. Melihat gadis itu menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan, membuat Max sedikit khawatir.
“Vio, apa kau baik-baik saja? Apa kita perlu ke rumah sakit?” tanya Max yang takut terjadi sesuatu pada istrinya.
“Ya? Akh … itu tidak perlu. Sa, aku baik-baik saja,” jawab Vioni yang masih terus berusaha untuk membiasakan dirinya akrab dengan Max.
“Sungguh?”
“Iya.” Vioni mengangguk dengan pasti karena memang saat ini sakitnya sedang tidak kambuh dan dia juga khawatir Max mengetahui penyakitnya sekarang. Akan jadi masalah jika Max mengetahui penyakit Vioni saat ini. Meskipun pada kenyataannya Max memang sudah tahu akan hal itu, tapi Vioni masih mengira dia bisa menyembunyikan hal tersebut dari suaminya.
__ADS_1
“Baiklah, jika memang kau tidak merasakan apa-apa. Tapi, jika nanti kau merasakan sesuatu, kau harus langsung mengatakannya padaku!” perintah Max dengan mendekatkan dirinya ke arah Vioni hingga membuat gadis itu memundurkan tubuhnya.
“I—iya, M—max. Aku … aku akan mengatakannya nanti padamu,” jawab Vioni dengan terbata-bata.
Max memperhatikan bibir Vioni yang sedikit gemetar, bibir tipis berwarna peach yang sedikit pucat itu entah kenapa membuatnya tergoda. Max semakin mendekatkan tubuhnya tanpa melepaskan pandangannya dari bibir Vioni, hingga membuat Vioni semakin memundurkan tubuhnya dan punggung gadis itu mentok ke pintu mobil. Namun, belum sempat Max mencicipi bibir ranum Vioni, Astron tiba-tiba berdehem, membuat Max sadar dengan apa yang dilakukannya. Pria itu lekas kembali duduk tenang.
“Sial!” umpat Max pada asistennya sambil melayangkan tatapan tajam.
Sementara itu, wajah Vioni sudah terasa panas hingga mungkin kini berwarna merah. Dia benar-benar merasa malu dengan tindakan Max tadi.
Astaga … hampir saja dia melakukan tindakan yang melecehkan ku, batinnya. Eh, tapi itu tidak termasuk melecehkan juga … bukankah dia suamiku? Tapi … ini terlalu cepat untuk melakukan hal itu, sambungnya lagi.
“Maaf, Tuan. Saya hanya ingin memberitahukan kalau sebentar lagi kita akan segera sampai,” sahut Astron yang tidak peduli dengan tatapan tajam Max. Ya, dia sudah terbiasa menerima tatapan intimidasi itu dari atasannya. Jadi, hatinya sudah kebal untuk merasa takut. Ditambah lagi, dia tidak akan membiarkan atasannya berbuat tidak senonoh di hadapannya.
Astron menarik napas panjang, sebelum menjawab, “Baik, Tuan.”
Setelah kejadian itu, tak ada lagi perbincangan apapun di antara ketiga orang tersebut. Mereka saling diam dengan Max yang masih curi-curi pandang ke arah istrinya. Sesampainya di depan mansion, mobil yang di kendarai Astron langsung masuk ke gerbang yang sudah dibuka oleh para penjaga di sana. Vioni sibuk memperhatikan perjalanan dari gerbang menuju pintu utama yang rupanya cukup jauh. Akan tapi sepanjang mata memandang, tak sedikit pun wanita itu merasa bosan karena banyak tumbuhan serta berbagai macam bunga yang tampak menghiasi sisi jalan yang mereka lalui.
Wah … rasanya aku seperti sedang berada di jalanan menuju istana. Vioni tak henti-hentinya berdecak kagum melihat pemandangan itu.
“Apa kau menyukainya?” tanya Max tiba-tiba saat melirik sang istri yang sedang mengagumi mansion miliknya.
“Ya?”
__ADS_1
“Apa kau menyukai tempat ini?” ulang Max.
“Hmmm … iya. Aku, aku menyukainya,” jawab Vioni terbata-bata.
“Syukurlah kalau kau menyukainya.” Max tersenyum simpul mendengar jawaban sang istri.
Setelah melewati taman kecil yang mereka lalui dari gerbang, akhirnya mobil itu benar-benar sampai di depan pintu masuk utama mansion. Lagi-lagi Vioni dibuat takjub oleh bangunan megah di hadapannya yang terlihat berdiri kokoh. Meskipun mansion kedua orang tuanya besar, tapi tidak semewah bangunan yang dimiliki Max tentunya.
“Ayo!” ajak Max saat pria itu sudah membukakan pintu untuknya.
Vioni cukup terkejut dengan apa yang dilakukan suaminya. Dia yang tadi terdiam menatap bangunan, langsung menerima uluran tangan Max dan turun dari mobil bersama-sama. Di sana sudah ada para pelayan mansion yang berjajar menyambutnya, serta ada dua pria paruh baya yang bisa Vioni tebak adalah kakek dari suaminya.
“Selamat datang di rumah, cucu dan cucu menantuku,” sambut Tuan Goufar pada sepasang pengantin yang baru tadi pagi mengucap janji suci itu.
“Kakek? Kupikir Kakek tidak akan datang kemari?” tanya Max pada sang kakek.
“Ck. Kau ini … memang apa salahnya kalau aku datang ke rumahmu, hah? Bersikaplah baik padaku saat di depan istrimu!” sahut Tuan Goufar pada cucunya.
Vioni tersenyum melihat keakraban kakek serta cucu itu. Hatinya menghangat karena rupanya dia diterima dengan tangan terbuka di sana.
“Terima kasih atas sambutannya , Tu—”
“Kakek! Jangan panggil aku ‘Tuan’. Kau itu sekarang adalah cucu
__ADS_1
menantuku. Jadi, jangan kaku terhadapku!”