Unlimited Love

Unlimited Love
Bab 17


__ADS_3

Vioni keluar dari ruangan Dokter Bryan dengan pandangan kosong. Gadis itu seakan tidak bersemangat setelah mendengar penjelasan sang dokter dan saran yang diberikannya untuk segera melakukan pengobatan penyakitnya. Vioni memang ingin sembuh dan terbebas dari penyakit itu, tapi dia tidak ingin keluarganya mengolok-olok serta memarahinya karena sudah menderita penyakit tersebut.


"Vio, ada apa? Kenapa kau tampak murung seperti itu?" tanya Erich saat mendapati adiknya sedang berjalan sambil menundukkan kepalanya.


Vioni menggelengkan kepala. Dia menatap dalam-dalam kedua manik mata milik kakak laki-lakinya itu.


Seandainya aku mengatakan yang sebenarnya pada Kak Erich, apa dia masih akan menyayangiku seperti ini? Sepertinya iya, hanya saja mungkin dia akan lebih mengkhawatirkanku. Sementara aku tidak ingin hal itu terjadi dan melihatnya dengan wajah murung karena memikirkanku, batin Vioni menebak-nebak reaksi sang kakak jika dia mengatakan hal ini pada Erich.


"Vio, katakan padaku, apa yang sudah kau sembunyikan dariku? Kenapa kau terlihat tidak baik-baik saja?" tanya Erich sambil memegang kedua bahu adiknya.


"Kak, ada yang ingin aku sampaikan. Tapi, bisakah kita pergi dari sini dulu?"


"Baiklah. Ayo kita pergi ke taman. Kau harus menceritakan semua rahasiamu padaku, mengerti?"


"Hmmm, iya, Kak," sahut Vioni dengan suara lirih. Dia akan mencoba untuk menyampaikan keadaan ini pada Erich. Seperti apapun nantinya reaksi pria itu, dia akan menanggungnya.


Keduanya berjalan keluar dari lobby rumah sakit. Erich segera membukakan pintu mobil agar Vioni masuk ke dalam sana. Setelahnya, barulah dia berjalan mengitari mobil itu untuk sampai ke kursi pengemudi.


Tanpa mengatakan sepatah kata pun, keduanya tampak hening dengan pemikiran mereka masing-masing. Vioni saat ini sedang menenangkan hatinya dan meyakinkan perasaannya agar bisa lebih terbuka pada Erich. Ini adalah kesempatan terakhirnya sebelum besok dia akan berpisah dengan sang kakak setelah resmi menikah dengan pria yang bernama Maximilian Green itu.


Setelah mengendarai mobil hampir 15 menit lamanya, akhirnya Erich menepikan mobil tersebut di pinggir sebuah taman kota. Vioni juga turut ikut turun tanpa menunggu sampai kakaknya membukakan pintu mobil. Keduanya duduk di bangku yang tak jauh dari mobil.


"Bisakah sekarang kau mengatakannya?" tanya Erich pada sang adik.

__ADS_1


Vioni menoleh pada kakaknya sesaat. Gadis itu masih tampak ragu untuk mengatakan yang sebenarnya pada Erich.


"Vio?" Erich mencoba untuk memanggil Vioni.


Adik perempuannya masih setia menundukkan kepala seakan dia berat untuk mengatakan kejujurannya.


"Kak, seandainya aku menderita suatu penyakit yang cukup parah, apa yang akan kau lakukan padaku?" tanya Vioni dengan suara pelan, tak jauh berbeda seperti orang yang sedang berbisik.


"Apa maksudmu? Apakah saat ini kau sedang sakit? Penyakit apa yang kau derita? Sejak kapan kamu mengidapnya? Siapa saja orang yang mengetahui tentang penyakitmu itu?" tanya Erich bertubi-tubi. Vioni pun dapat mendengar getaran suara kekhawatiran dari sang kakak.


Vioni tidak langsung menjawabnya. Dia masih terdiam dan hal itu lagi-lagi membuat Erich harus ekstra bersabar agar mendapatkan jawaban yang pasti dari adiknya.


"Vio, kumohon jawablah pertanyaanku itu. Jangan membuat kakakmu ini khawatir!" pinta Erich sambil menatap sang adik yang masih setia dengan kepalanya yang menunduk.


"Kak, sebenarnya aku menderita penyakit kanker, dan dokter menyarankanku untuk menjalankan kemoterapi–"


Bagai tersambar petir di siang bolong, Erich seketika terdiam mendengar jawaban adik perempuannya. Pria itu menggelengkan kepala tanda kalau dia tidak mempercayai ucapan Vioni.


"T–tidak, Vio. Tolong jangan bergurau seperti ini! Itu penyakit yang cukup berbahaya. Kau tidak mungkin mengidapnya," ucap pria itu masih dengan keterkejutannya.


Vioni tersenyum tipis saat melihat reaksi sang kakak. Pada kenyataannya memang benar kalau akhirnya Erich terlampau mengkhawatirkannya. Dari cara pria itu berbicara, Erich sangat tidak terima dengan penyakit yang saat ini menggerogoti tubuh Vioni, adik perempuannya. Namun, mungkin hal itu akan berbeda jika seandainya Vanila yang mengidapnya, dia akan langsung mempercayainya.


"Kenapa Kakak berpikir kalau aku tidak akan menderita penyakit itu? Bukankah itu penyakit wajar yang bisa diderita oleh siapapun?" tanya Vioni dengan suara yang lirih karena Erich tidak langsung mempercayainya dan justru meragukan kejujurannya itu.

__ADS_1


"Ma–maksudku bukan seperti itu, Vio. Hanya saja–"


"Apa karena aku dinyatakan sehat sedari kecil, kau begitu meragukan penyakit itu menyerangku?" tanya Vioni memotong perkataan Erich.


Pria itu menundukkan kepalanya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau ternyata bukan hanya Vanila yang mengidap penyakit, tetapi penyakit Vioni juga tidak kalah parahnya dari Vanila.


"Maafkan aku, Vio. Kabar ini benar-benar membuatku sulit berpikir jernih dan mengira kalau kau akan selalu sehat," sesal Erich karena sudah mengira adiknya itu tengah membohonginya.


"Lalu, selanjutnya apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan mengatakan hal ini pada Ayah dan Ibu?" tanya Erich pada sang adik.


Vioni menggelengkan kepalanya perlahan. Dia juga tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Tidak mudah baginya untuk membuat keluarga besar percaya atas penyakit yang dideritanya, Vioni hanya tidak ingin mereka mengira kalau semua itu hanyalah settingan demi menarik perhatian dan kasih sayang. Bukan tanpa alasan Vioni berpikir seperti itu karena kejadian ini bukanlah pertama kalinya. Dulu Vioni sempat sakit DBD, tapi mereka tidak mempercayainya dan hanya mengatakan kalau itu demam biasa dan hanya menitipkan Vioni pada pengasuhnya saja. Ditambah lagi saat itu Vanila juga sedang dirawat di rumah sakit yang sama karena penyakitnya yang tiba-tiba kambuh dan hal itu membuat keluarga besarnya lebih mengkhawatirkan Vanila.


"Akan lebih baik hal ini tidak diketahui oleh Ayah dan Ibu, Kak. Aku tidak mau mereka kecewa karena mempunyai anak yang berpenyakitan sepertiku," lirihnya.


"Tapi, Vio–"


"Kumohon ... aku janji, aku akan mengatakan hal ini saat sudah siap nanti," ucap Vioni sambil mengiba.


Erich menghembuskan napas berat setelah mendengar permintaan adik perempuannya itu. Sifat Vioni yang seperti ini tidak bisa diartikan keras kepala atau khawatir pada orang tuanya. Jadi, jalan satu-satunya saat ini hanyalah mengiyakan permintaan gadis itu, sementara untuk ke depannya dia akan memikirkan cara lain karena penyakit Vioni ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.


"Baiklah. Aku akan menuruti permintaanmu," jawab Erik yang langsung membuat Vioni mengembangkan senyumnya.


"Terima kasih, Kak. Kau memang satu-satunya orang yang paling mengerti aku," ucap gadis itu.

__ADS_1


Erich hanya terdiam menanggapi ucapan sang adik karena apa yang keluar dari bibirnya saat ini tidak sesuai dengan hatinya. Jadi, untuk saat ini dia hanya perlu membuat Vioni percaya dengan perkataannya.


Setelah menjelaskan penyakit yang diderita Vioni, sepasang kakak beradik itu pun kembali memasuki mobil karena hari sudah mulai gelap. Erich harus membawa Vioni pulang karena besok pagi adik perempuannya itu akan mengadakan pernikahan. Sebagai seorang kakak, Erich hanya bisa berharap adiknya akan segera mendapatkan kebahagiaan dari pria yang nanti akan menjadi suami Vioni. Baginya, sudah cukup saat ini Vioni terus-menerus mengalah dan membohongi diri serta keluarganya. Jadi, dia ingin adiknya itu juga bisa mengutarakan perasaannya seperti Vanila.


__ADS_2