
Erich tidak menggubris perintah Vioni menyuruhnya untuk pulang. Justru, pria itu malah mengikuti Vioni ke rumah sakit.
"Kak, sudah kukatakan Kakak tidak perlu mengikutiku!" kesal Vioni saat dia baru turun dari mobil taksi dan mendapati sang kakak yang turut memasukkan mobilnya ke area rumah sakit.
"Kenapa? Bukankah aku juga sudah mengatakan padamu, kalau hari ini aku ingin menghabiskan waktu denganmu?" tanya Erich sambil menggandeng adiknya memasuki lobby rumah sakit. "Jadi, kali ini kau ingin bertemu denganmu siapa di sini?" tanyanya lagi.
"Ck. Aku ingin bertemu dengan seseorang. Sebaiknya Kakak tidak mau ikut denganku dan tunggu di sini!" pinta Vioni sambil menggandeng tangan kakaknya menuju ruang tunggu yang ada di lobby.
"Lho, kenapa kamu memintaku untuk menunggu di sini? Bukankah kau hanya akan melakukan check up saja?" tanya Erich mulai kembali merasa curiga dengan sikap adiknya.
"Check-up?" gumam Vioni sesaat. "Akh, i–iya ... Kak. Hari ini aku akan melakukan check up. Jadi, Kakak bisa menungguku di sini," ucap Vioni setelah terdiam sejenak tadi.
Erich sedikit memicingkan matanya saat melihat bagaimana mimik wajah adik perempuannya yang tampak berubah-ubah. Dia memang bukan sarjana psikologi, tapi dengan bagaimana cara menilai lawan bicaranya dan saat ini Erich merasa kalau Vioni sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Aku percaya kalau kau hanya akan melakukan check up saja. Katakan padaku, apa yang sedang kau coba sembunyikan dariku?" tanya Erich sambil menatap tajam kedua mata adiknya.
"Eh, aku ... aku sedang tidak menyembunyikan apa-apa darimu, Kak. Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Gerak-gerikmu bisa aku baca, Vio. Kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku 'kan?" desak Erich lagi.
__ADS_1
Vioni sedikit merasa tersudutkan dengan sikap kakaknya. Namun, dia masih enggan untuk berkata jujur.
"Kak, Aku–" Ucapan Vioni tiba-tiba berhenti saat gadis itu melihat Dokter Bryan yang baru saja masuk ke ruangannya.
Sepertinya Dokter Bryan sudah menungguku dari tadi, batinnya.
"Kak, maaf ... aku nggak bisa pergi sekarang. Aku akan menjelaskannya nanti padamu!" seru Vioni sambil berlalu menuju ruangan Dokter Bryan. Dia harus segera menemuinya dan minta maaf karena sudah mengulur-ulur waktu.
"Vio, kau mau ke mana?" tanya Erich yang sama sekali tidak digubris oleh saudara perempuannya itu.
Ck, kenapa Vio sampai berlalu begitu cepat? Ke mana dia sebenarnya? batin Erich seraya memperhatikan salah satu lorong yang tadi dilalui Vioni.
Erich melangkahkan kakinya menuju lorong tersebut. Namun, dia tidak menemukan keberadaan Vioni di ruang tunggu itu. Padahal, ruangan dokter yang ada di sana rata-rata penuh dengan pasien yang mungkin hendak berkonsultasi. Hanya ruangan dokter spesialis onkologi saja yang sepi.
***
Sementara itu, di ruangan Dokter Bryan, Vioni sudah duduk berhadapan dengan pria itu. Dia mulai diperiksa dan ditanyai beberapa keluhan yang akhir-akhir ini dirasakan.
"Jadi, bagaimana dengan kondisimu hari ini?" tanya Dokter Bryan pada Vioni yang baru saja selesai di tensi.
__ADS_1
"Aku hanya sering merasa lelah saja. Untuk keluhan pusing serta mual, itu sudah tidak aku rasakan," jawab Vioni sambil mengingat beberapa keluhan yang dirasakannya.
"Oh. Syukurlah. Kalau rasa pusing dan mual itu sudah berkurang, kita bisa mulai kemoterapi karena jika dibiarkan terus-menerus itu bukan pilihan yang benar," terang Dokter Bryan.
"Kemoterapi? Tapi ... apa benar tidak ada cara lain, Dok?" tanya Vioni merasa tidak yakin kalau dirinya bisa menjalani kemoterapi yang menyakitkan itu.
"Tidak ada. Itu merupakan salah satu cara untuk menjinakkan kanker darah yang kau derita. Kanker darah yang kau derita tidak cukup hanya dengan mengkonsumsi obat harian saja," jelas Dokter Bryan.
Vioni terdiam sesaat. Dia merasa bingung karena tidak mungkin dirinya akan dibiarkan bepergian sendiri oleh suaminya nanti. Apalagi dalam jangka waktu yang cukup lama.
"Dok, apakah tidak ada metode pengobatan lain yang tidak harus kulakukan setiap hari?" tanya Vioni dengan harap-harap cemas.
Kini giliran Dokter Bryan yang terdiam. Dia merasa sedikit bingung, kesal, serta jengkel menghadapi salah satu pasiennya yang saat ini sedang duduk di hadapannya.
"Nona, aku memang tidak mengerti apa masalahmu dengan keluargamu, tapi jika Anda terus menerus menyembunyikannya seperti ini, itu bukan hal baik dan hanya akan merugikanmu sendiri. Jadi, cobalah untuk berkata jujur pada keluargamu agar mereka juga bisa mendukung pengobatanmu," saran Dokter Bryan.
Vioni membisu. Dia tidak bisa lagi menjawab ucapan Dokter Bryan karena apa yang dikatakan pria itu ada benarnya. Tidak mungkin selamanya aku bisa menyembunyikan penyakitku ini. Tapi, apa yang harus aku katakan pada keluargaku. Aku juga tidak ingin membuat Ayah dan Ibu semakin marah saat mengetahui penyakitku ini. Apalagi mereka teramat mengandalkanku untuk bisa menjalin kerjasama dengan rekan sesama bisnisnya, batin gadis itu.
"Nona, aku harap Anda tidak lagi menunda-nunda berita ini pada keluarga. Segera jelaskan pada mereka tentang kondisi Anda saat ini. Semua itu demi keselamatan Anda sendiri," ucap Dokter Bryan yang mencoba untuk meyakinkan pasien yang ada di hadapannya agar lebih terbuka dengan keluarganya.
__ADS_1
Kepala Vioni semakin menunduk dalam, kini dia tidak mempunyai pilihan lain selain berkata jujur pada keluarganya.
"Baiklah, Dok. Saya mengerti."