Unlimited Love

Unlimited Love
Bab 27


__ADS_3

Vioni kembali sibuk dengan bunga-bunga di hadapannya dan tidak menyadari kalau ada seseorang yang tengah memperhatikan dirinya.


Apa gadis itu merupakan pilihan dar Ayah? batinnya. Penampilannya cukup menarik, tapi ... kenapa aku merasa seperti seolah dia sedang menyembunyikan sesuatu? sambungnya lagi.


Sebelum kehadirannya disadari oleh Vioni, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu segera pergi dari sana dan kembali meninggalkan Vioni di dalam Dome kakaknya sendirian.


***


"Apa kau yakin dengan pilihanmu itu, Max?" tanya Qian Wey yang merupakan adik dari mendiang ibunya Maximilian. Ya, wanita itu baru saja melihat istri keponakannya.


"Kenapa Tante bertanya seperti itu? Bukankah sudah jelas, aku menikahinya karena aku memilihnya," jawab Max.


"Tapi–"


"Tante tidak perlu khawatir karena istriku itu wanita baik-baik. Dia tidak seperti wanita yang dirumorkan orang-orang," potong Max.


"Bukan itu saja, Max. Maksudku, tapi dia mempunyai reputasi buruk. Bagaimana bisa dia diterima sebagai menantu keluarga ini?"


"Apa Tante lupa? Bukankah rumor tentangku juga buruk di mata orang-orang? Apa bedanya aku dengan dia?"


"Tentu saja berbeda, Max! Dia–"


"Tidak ada bedanya, Tante. Kami hanya orang biasa yang mendapatkan perlakuan buruk dari orang-orang yang tidak menyukai kami. Jadi, Tante juga jangan menilai dia dengan buruk! Sungguh, aku sudah menyelidikinya dan dia tidak seburuk yang dirumorkan."


"Sungguh? Aku hanya tidak ingin orang-orang menilai jelek tentang keluarga kita!"


"Aku bersungguh-sungguh, Tante," sahut Max dengan yakin.


Qian Wey tampak sedikit kesal saat mendengar jawaban dari keponakannya. Dia berpikir 'Bagaiman bisa keponakannya menerima gadis yang dipilihkan sang Ayah begitu saja?'

__ADS_1


"Terserah kau saja jika memang itu pilihanmu. Tapi, aku harap kau mau memikirkannya lagi karena aku sungguh tidak terlalu menyukainya," terang Qian Wey yang langsung membuat Max sebelah alisnya dengan heran.


"Kenapa Tante berpikir seperti itu? Tante belum benar-benar mengenalinya, menurutmu dia sangat baik dan tipe ideal untuk dijadikan seorang istri."


Qian Wey menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyetujui ucapan dari sang keponakan. "Mungkin itu hanya menurutmu saja, Max. Tapi tidak menurutku."


"Iya. Dan aku sadar, standar kita berbeda." Max bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar ruang keluarga.


"Kau mau ke mana, Max? Aku belum selesai berbicara denganmu!" tanya Qian Wey ketika melihat keponakannya berdiri pergi meninggalkan dia.


"Tentu saja aku akan menemui istriku, Tante. Aku sudah terlalu lama meninggalkannya," jawab Max tanpa menghentikan langkahnya yang kini sudah menghilang di balik pintu yang sudah tertutup rapat.


Sementara itu, kedua tangan Qian Wey tampak mengepal erat di samping tubuhnya. Dia merasa kesal karena tidak bisa membuat Max merubah pikirannya dan memilih wanita yang sudah disediakan untuknya. Ya, kedatangan Qian Wey ke Villa kakaknya adalah untuk menemui sang keponakan dan membicarakan perjodohan. Namun, saat mendengar berita kalau Max sudah menikah, Qian Wey sempat tidak percaya dan meminta pengurus Villa supaya membiarkannya bertemu dengan keponakannya itu.


"Aku sungguh-sungguh tidak mengerti, kenapa dia lebih memilih wanita kurus itu daripada menerima wanita yang aku pilihkan untuknya," gerutu Qian Wey sembari mengempaskan tubuhnya di sofa dengan kasar.


***


"Aku harap dia tidak marah dan kesal padaku karena tadi sudah mengabaikannya," gumam pria itu sambil terus berjalan dengan tergesa-gesa.


"Yang aku dengar, wanita kalau marah itu akan lebih menakutkan dari singa yang kelaparan," sambungnya lagi disertai gidikan ngeri karena membayangkannya.


Sesampainya di Dome, Max segera menuju tempat yang tadi dia singgahi bersama Vioni, dia yakin kalau istrinya itu masih berada di sana. Namun, sesampainya di depan meja tempat duduk tadi, Max tidak melihat keberadaan istrinya itu. Yang ada di sana tinggallah cangkir teh yang mereka pakai tadi.


"Di mana Vioni? Kenapa dia tidak ada di sini?" tanya Max pada dirinya sendiri. Dia menatap hamparan bunga di depannya, berharap bisa menemukan istrinya yang mungkin sedang memperhatikan tanaman.


"Vio, apa kau ada di sana?" Max mencoba untuk memanggil istrinya.


"Vio, kau di mana? Maaf karena aku sudah mengabaikanmu tadi!"

__ADS_1


"Vio!"


"Vioni?"


Beberapa kali Max memanggil nama istrinya, tapi gadis yang baru dinikahinya kemarin itu masih tidak menyahutinya.


"Kemana gadis itu? Kenapa dia tidak menjawab panggilanku?" gumam Max lagi dengan mata yang terus memperhatikan sekelilingnya.


"Astaga ... kemana dia sebenarnya? Kenapa aku tidak menemukan dia di sini? Apa dia sudah kembali lagi ke kamar?" Max berbalik dengan cepat. Dia akan memeriksa kamarnya karena tidak bisa menemukan keberadaan istrinya di Dome.


***


Sementara itu, tanpa diketahui oleh Max, rupanya Vioni sudah masuk kamar lebih dulu karena dia tiba-tiba merasa pusing. Beruntung saat itu ada pelayan yang bisa dia mintai tolong untuk mengantarkannya ke kamar tanpa harus melewati ruang keluarga, dengan kata lain, Vioni menyelinap lewat pitu belakang.


"Terima kasih karena sudah membantuku kembali ke kamar," ucap Vioni pada pelayan yang ia ketahui namanya sebagai Nida itu.


"Sama-sama, Nyonya Muda. Saya hanya menjalankan tugas saja," jawab gadis itu dengan sopan tanpa berani menengadahkan kepalanya. Bahkan, sepanjang perjalan tadi, Nida terus menundukkan kepalanya.


"Nyonya Muda?" tanya Vioni dengan heran.


"Iya. Anda adalah istri dari majikan saya, Tuan Muda Max. Jadi, Anda juga majikan saya," sahut gadis itu dengan cepat.


Vioni menggangguk-anggukan kepalanya, untuk sesaat tadi dia lupa dengan status barunya yang merupakan istri dari seorang pria yang bernama Max.


Akh, ya Tuhan ... kenapa aku bisa sampai lupa kalau sekarang aku sudah memiliki suami? tanyanya dalam hati. Untung saja saat itu tidak ada Max di sana, jadi pria itu tidak akan tersinggung karena Vioni melupakan status barunya.


"Mmmmh. Ba–baiklah. Aku mengerti. Terima kasih sebelumnya karena sudah menerima kehadiranku." Vioni tersenyum kecil. "Sekarang kau boleh pergi. Aku akan istirahat di dalam. Jika Max kembali dan menanyakan keberadaanku, katakan saja kalau aku sedang beristirahat di kamar!" pesan Vioni pada Nida sebelum masuk ke kamarnya.


"Baik, Nyonya Muda. Saya akan sampaikan pesan Anda pada Tuan Max jika bertemu dengannya nanti," jawab Nida yang langsung diangguki oleh Max.

__ADS_1


Setelah mendengar ucapan Nida, Vioni pun masuk ke kamarnya dan meninggalkan pelayan itu sendirian di depan pintu kamarnya yang mulai tertutup rapat. Sungguh, saat ini kepalanya benar-benar terasa pening berat. Vioni sendiri tidak mengetahui penyebabnya karena dia merasa sudah menjaga kesehatannya dengan benar, sesuai anjuran dokter yang menangani penyakitnya. Namun, pada kenyataannya efek penyakit itu terus-menerus menyerangnya.


"Ya Tuhan ... kenapa jadi seperti ini? Padahal aku sudah berusaha menjaga kesehatanku dengan benar karena tidak ingin dicurigai oleh suamiku, tapi belum 24 jam aku mejadi istrinya, penyakit ini kembali kambuh. Bagaimana caraku menjelaskannya nanti pada Max?"


__ADS_2