
Flova dan Kai sudah berada di tempat penginapan. Usai membereskan barang bawaannya, Flova langsung saja naik ke lantai dua yang tidak ada atap sama sekali, namun menyajikan pemandangan indah di sekitar area taman hutan tersebut.
Tepat di depan penginapannya, ada sebuah danau buatan yang memang di jadikan sebagai fasilitas di area tersebut. Terdapat pula sepeda air dan jet sky yang di sediakan di tempat tersebut.
Flova pun menikmati setiap keindahan alam hutan tersebut dan duduk di atap sambil menikmati kopi yang ia seduh sendiri.
Kai yang sedang mencari keberadaan Flova pun bernafas lega. Dan ia pun duduk di samping Flova yang tengah melihat danau. Dilihatnya dengan lekat, kedua matanya seolah menampakkan sinar di wajah Flova dari samping.
"Cantik ya.."
Flova yang mendengar suara Kai langsung melihat ke arahnya. Dengan tersenyum, Kai menatapnya.
"Ka-Kau tidak sedang memujiku bukan?"
"Tentu saja... tidak." ucap Kai berbohong.
"Aku memuji danau itu." jawabnya.
Flova hanya meliriknya dengan sinis dan kembali menyesap kopinya. Tiba-tiba ponselnya berdering, dan dengan cepat pun ia melihatnya.
"Siapa?" tanya Kai.
"Ini Kevin, aku akan jawab sebentar. Dia pasti ikut khawatir mendengar Alena hilang."
Kai mengangguk dan membiarkan Flova menjauh.
"Hallo Kevin." ucap Flova.
"Bagaimana Flova, apa Alena sudah di temukan?" tanya Kevin di seberang telepon.
"Iya, Alena sudah di temukan. Bagaimana dengan kucing itu, dia sudah selesai di bersihkan bukan?" tanya Flova.
"Baguslah apabila sudah di temukan. Lalu, dimana kamu sekarang?"
Belum sempat Flova menjawabnya, teleponnya langsung di rebut oleh Kai.
"Jangan ganggu waktu kami. Jika ingin membicarakan hal lain, katakanlah kepada ku."
"Tidak ada."
"Baiklah, akan ku tutup teleponnya."
Kai langsung saja memutuskan panggilan suara tersebut dan memberikan ponselnya kepada Flova.
"Kau ini.."
"Kita perlu bicara."
Kai menggandeng tangan Flova dan membawanya keluar dari penginapan mereka. Mereka berdua berjalan di sepanjang jalan alam hutan yang ada di tempat tersebut. Berjalan beriringan namun tidak saling bergandengan. Hanya diam membisu satu sama lain dan tidak ada satu maupun dua kata yang keluar dari mulut mereka masing-masing.
Dari arah depan mereka, seseorang yang membawa sepeda dengan kencang melaju ke arah Flova. Hal itu di perhatikan oleh Kai dan dengan cepat Kai pun menarik Flova ke sisi jalan beralaskan rumput dan membuat mereka jatuh.
Flova kaget dan beruntung kepalanya di peluk oleh tubuh Kai. Flova melihat sekelilingnya dan langsung melihat ke arah Kai yang terkapar di atas tanah. Flova pun langsung duduk dengan panik sembari menepuk-nepuk wajahnya.
"Kai, Kai.. bangunlah.. Kai..." ucap Flova dengan panik.
Flova terus menerus menepuk-nepuk pipi Kai. Kai yang tidak pingsan, langsung memegang tangannya. Pesepeda yang melewatinya pun mendekati mereka berdua.
__ADS_1
"Mas, mba, kalian tidak apa?" tanya sang pesepeda tersebut.
Kai pun mendudukkan tubuhnya dan mengusap usap kepala bagian belakangnya.
"Berhati-hatilah membawa sepedanya. Sangat berbahaya berkendara sembari mengebut seperti itu!" ucap Kai dengan amarah yang memuncak.
"Maaf mas, maafkan saya. Saya tidak sengaja dan tidak bermaksud mencelakai istri anda." jawab sang pesepeda tersebut.
"Sudahlah, tidak apa. Lagipula, aku juga baik-baik saja." Flova menenangkan Kai yang sedang dilanda amarah.
"Sebaiknya mas juga pergi, kami tidak apa-apa." Saran Flova yang di angguki Pesepeda tersebut dan langsung pergi.
Kai pun bangkit dan membersihkan kotoran tanah yang menempel di bajunya begitu pula dengan Flova. Perhatiannya teralihkan dengan siku Kai yang sedikit lecet.
"Kamu terluka, ikut aku cepat!"
Kai kebingungan dimana Flova langsung menariknya begitu saja kembali ke penginapan. Ia pun berusaha mencari kotak obat di setiap rak yang ada di dalam penginapan tersebut, begitu ia menemukannya ia terburu-buru langsung menemui Kai.
"Lukamu harus di obati. Sini.."
Flova menarik tangan Kai, Kai pun memperlihatkan sikunya yang terluka. Melihat luka itu sedikit kotor, ia pun mengambil air dan kain lembut, lalu di basahi kain tersebut untuk di oleskan pada luka Kai.
Kai mendesis kecil, Flova melihatnya sebentar dan meniup-niupkan luka tersebut. Di lihat sudah bersih, ia pun mengoleskan obat merah di luka tersebut sembari di tiup-tiup.
"Sudah selesai." ucap Flova sembari membereskan peralatan obat yang sudah ia gunakan.
"Tidak di tutup plester?" tanya Kai sembari melihat lukanya.
"Itu hanya luka gores jadi, tidak akan ada masalah."
Flova meninggalkan Kai begitu saja untuk menyimpan kembali kotak obat di tempatnya. Kai sendiri memilih untuk terus meniup-niupkan lukanya yang sudah semakin mengering.
...*****...
"Mobil Kai, mau di antarkan ke rumahnya atau bagaimana?" tanya Steffa.
"Jangan, di rumah Kai sedang ada Rosan sekarang. Jika dia tau, dia pasti bertekad menggagalkan rencana kita."
"Dan Alena, nanti mau menginap dimana?" tanya Steffa.
"Alena akan di rumah Grandpa saja." jawabnya tanpa ragu.
"Memangnya tidak apa?" ucap Steffa khawatir.
"Tidak, kalian tenang saja. Grandpa dan Grandma sudah menerima Alena dengan baik, jadi kakak jangan khawatir."
Nehra dan Steffa mengangguk dan berusaha tetap tegar walaupun hati mereka sedikit khawatir.
Begitu di rasa waktu bersenang-senang mereka bertiga sudah cukup, merekapun pulang ke kediaman keluarga Pradipta sebelum menjelang sore.
Joanna dan Carron menyambut kedatangan Alena dengan gembira. Alena hanya diantarkan oleh Nehra , dan Steffa lebih memilih untuk membawa mobil Kai ke rumahnya. Sedangkan Rosan memperhatikan dari atas tangga.
"Dimana Flova?" tanya Carron kepada Nehra.
"Flova dan Kai memutuskan untuk menginap di suatu tempat om, jadi kemungkinan mereka berdua tidak akan pulang malam ini." jawab Nehra.
"Memangnya dimana mereka menginap?" tanya Joanna penasaran.
__ADS_1
"Mereka memberitahukan kepadaku agar saya tidak memberitahu siapa-siapa, karena mereka tidak ingin di ganggu untuk saat ini." jawab Nehra.
"Dan meninggalkan anak sekecil Alena ini? Orang tua macam apa Flova ini, tega meninggalkan anaknya sendiri di rumah, sedangkan dia bersenang-senang di luar sana." ucap Joanna.
"Tidak apa Grandma, karena ada aku mereka tidak sempat menghabiskan waktu berdua, jadi Alena ingin melihat Ayah dan bunda bahagia." timpal Alena.
"Baiklah, kalau begitu. Om, Tante, saya pamit pulang." ijin Nehra.
"Baiklah, hati-hati di jalan."
Nehra mengangguk dan langsung pergi dari hadapan mereka bertiga. Joanna membawa Alena ke kamarnya untuk membersihkan dirinya. Rosan pun juga turut kembali ke kamarnya.
"Hisshh.. Sial. Aku tidak bisa mencuri kesempatan untuk dekat dengan Kai, padahal dia jelas sangat dekat apabila ada di rumah ini." gerutunya.
...*****...
Flova kini sedang makan malam bersama dengan Kai di atap penginapan. Mereka menyantap makanan yang di sajikan oleh koki khusus, dan memang karena itu merupakan fasilitas umum yang di sediakan.
Usai makan malam, mereka berdua pun juga duduk sejenak sembari menikmati keindahan pada malam hari. Tepat di atas mereka, tersaji banyak bintang bertaburan yang menghiasi langit malam. Flova pun tertegun dengan pemandangan yang ia lihat saat ini.
"Kakak, apa kalian bahagia di atas sana? Ku harap, kalian bahagia ya.. Aku dan Alena juga bahagia di sini." ucapnya sembari menatap langit.
Kai yang mendengarnya tersenyum dan ikut menatap langit. Ia pun menghampiri Flova dan menutupi tubuh Flova dengan jaket yang di pakainya.
"Udara semakin dingin, lebih baik kita masuk dan beristirahat di dalam."
Flova mengangguki perkataan Kai dan masuk ke penginapan. Mereka berdua pun masuk ke dalam penginapan. Begitu mereka duduk di ruang utama, mereka teringat hanya ada satu kamar di penginapan mereka. Kai dan Flova pun saling melihat satu sama lain.
"Siapa yang di luar?" tanya Flova.
Kai menaikkan alis kanannya dan melihatnya dengan bingung.
"Kita sudah terbiasa tidur bersama bukan? Mengapa bertanya seperti itu? Lagipula tidak ada sofa panjang di sini." ucap Kai.
Flova terpaksa tersenyum dan ia pun memilih untuk masuk ke kamar terlebih dahulu.
"A-aku ingin menonton TV."
Kai mengangguk dan lekas saja Flova meninggalkannya. Ia langsung menyalakan televisi yang terletak berhadapan dengan kasur. Ia juga mengambil camilan untuk ia makan sembari menonton televisi.
Kai yang bosan di luar pun turut masuk ke kamar dan bergabung menonton televisi bersama. Begitu Kai duduk, ia sengaja mengambil camilan yang di pegang oleh Flova. Flova kaget dan Kai langsung saja memakannya.
"Katamu, makanan ini tidak sehat, mengapa kau memakannya."
"Aku hanya mengikuti kebiasaanmu." jawab Kai.
Flova meliriknya tajam dan mengganti channel lain. Kebetulan begitu gelombang saluran televisi di ganti, langsung menayangkan film Drakor kesukaan Flova. Ia pun lantas melihatnya.
"Sudah lama aku tidak menonton Drakor." ucapnya.
Tepat beberapa saat kemudian, film Drakor tersebut memeragakan adegan cium*n. Flova langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain dan tidak berani menatap Kai dan juga televisi yang ada di depannya. Kai melihatnya ke arah Flova yang memalingkan wajahnya dan tersenyum miring.
Dengan tangannya yang panjang, ia berusaha mematikan lampu utama. Langsung saja Flova melihat sekelilingnya dan melihat ke arah Kai. Langsung saja, Kai kembali menyalakan lampu tersebut dan mata mereka saling menangkap satu sama lain.
Flova langsung saja mendorong tubuh Kai. Flova meraih gelas berisi air putih dan langsung meneguknya hingga tandas. Ia pun juga langsung mematikan televisi serta membaringkan tubuhnya bersiap untuk tidur.
Kai tersenyum miring dan meletakkan camilan yang ia pegang. Ia pun juga meminum air serta mematikan lampu utama untuk bersiap untuk beristirahat.
__ADS_1
//**//