Unlimited Love

Unlimited Love
62. "Kai benar-benar seperti sedang melakukan penculikan.. huh.."


__ADS_3

H-7 mendekati ulang tahun Alena, Kai mendapatkan sebuah undangan pesta dansa dari tuan Nuan. Salah satu investor perusahaan X. Dan di undangan tersebut pun di tunjukkan untuk Flova.


Dengan ragu, ia memandangi Flova yang tengah duduk di meja kerja kantornya. Kai terlebih dahulu mengendurkan dasinya dan perlahan mendekatinya.


"Flova." panggil Kai.


Flova yang sedang fokus dengan berkas yang ada di depannya, teralihkan dengan Kai yang sudah di depannya. Kai pun langsung memberikan undangan tersebut kepadanya.


"Tuan Nuan, salah satu investor perusahaan kita, meminta kita untuk datang ke pesta dansa 4 hari lagi. Bisakah, aku mengajakmu?" tanya Kai.


Flova pun tersenyum kecil dan meletakkan amplop merah yang sudah ia baca tersebut di atas mejanya.


"Hm.. baiklah. Ini sebagai balasanku untuk terakhir kalinya sebelum aku dan Alena pergi dari kehidupanmu." jawab Flova.


Kai pun mengangguk mengerti dengan perkataannya. Ia kembali duduk di meja kerjanya sembari menghela nafas panjang.


...*****...


Kai dan Flova memutuskan untuk pulang kerja lebih awal, berniat untuk memesan gaun dansa yang akan mereka kenakan 4 hari yang akan datang.


"Ayah, bunda. Kita akan kemana?" tanya Alena.


"Kita akan membeli gaun pesta dansa. Teman ayah, mengundang kita untuk hadir di sana." jawab Flova.


Begitu mereka sampai di sana, mereka mencoba berbagai pakaian gaun yang cantik untuk Flova. Di rasa cocok, merekapun pulang.


Selama di perjalanan, Flova merasa khawatir sebab dia sama sekali tidak bisa berdansa. Kai yang sadar Flova sedang melamun pun menyentuh pundaknya.


"Ada apa?" tanya Kai.


"Se-sebenarnya aku tidak bisa berdansa." ucap Flova jujur.


Kai tersenyum miring dan mempercepat laju mobilnya. Mereka pergi lagi ke suatu tempat.


Sesampainya di tempat tersebut, Flova melongo tak percaya dengan tempat yang ia datangi kali ini. Dia berada di tempat dansa berada.


"Yakin, kita ada di sini sekarang?" tanya Flova tak percaya.


Kai mengangguk dan Alena hanya diam sembari melihat ke arah kedua orang tuanya.


"Mulai hari ini hingga tiga hari ke depan, kamu akan di liburkan."


"Yess.." Flova menjawab dengan senang, dan Kai kembali tersenyum miring.

__ADS_1


"Aku belum menyelesaikan perkataanku. Memang kamu diliburkan untuk.."


"Untuk?"


"Latihan di sini selama 3 hari ke depan. Dan aku akan mengantarmu dan menjemputmu ke sini."


Flova melongo tak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini. Mendengar hal itu, Alena hanya tertawa geli.


"Kau benar-benar!.."


Kai menaikkan kedua alisnya dan tersenyum miring.


"Mulailah sekarang." ucap Kai dengan enteng.


"Dengan pakaian seperti ini?" protes Flova sembari menunjuk bajunya yang menggunakan pakaian kantor.


Kai melirikkan matanya ke samping dan melambaikan tangannya ke depan. Tak lama, pakaian khusus untuk latihan dansa di bawa para sang pelatih khusus untuk Flova.


"Kau sudah mengatur semuanya?" tanya Flova bingung.


"Tak perlu banyak berdebat. Cepatlah berlatih. Bawa dia ke ruang ganti."


Tubuh Flova di dorong oleh sang pelatih dansa wanita. Berusaha untuk protes, tetapi para pelatih terus berusaha untuk mendorongnya ke ruang ganti.


Usai mengganti baju, Flova langsung di arahkan ke ruang latihan. Terlebih dahulu Flova di arahkan untuk pemanasan agar tubuhnya terasa lebih rileks.


Dengan telaten dan perlahan, para pelatih yang di sediakan khusus untuk Flova. Kai menyiapkan sekitar 8 pelatih untuknya. Mulai pelatih kelenturan badan, dansa, pengatur ekspresi, langkah dan lain sebagainya yang menurut Kai di butuhkan.


Kai dan Alena berada di belakang dan memperhatikan gerak langkah Flova yang sedang latihan sembari sesekali tersenyum dan menghela nafas karena latihan Flova yang masih dibilang cukup kaku, karena masih awal latihan.


...*****...


Pukul 7 malam, Rosan memilih ke cafe untuk menenangkan diri ditemani dengan minuman beralkohol rendah. Tak sengaja, Kevin juga hadir di cafe yang Rosan datangi. Rosan yang sebenarnya tidak mampu meminum minuman beralkohol, langsung saya merasa pusing walaupun minuman tersebut beralkohol rendah.


Kevin pun mengantarnya dalam keadaan pingsan menggunakan mobilnya. Ia tak tau harus membawa Rosan kemana, hingga terpaksa ia membawanya ke rumahnya.


Rosan lekas di baringkan di ranjang kamarnya, karena memang di rumahnya hanya memiliki satu kamar.


"Ini, Rosan bukan? Sejak kapan ia datang ke negara ini?" ucapnya lirih.


Dua jam kemudian, Rosan tersadar dan langsung duduk di kasur orang lain. Ia melihat sekelilingnya dan tersadar ia sedang tidak berada di rumahnya. Seketika ia melihat bajunya dan ia lega karena ia masih menggunakan pakaian lengkap.


"Rumah siapa ini?"

__ADS_1


Karena masih sedikit pusing, Rosan memilih untuk tidak terlalu banyak berfikir. Tak lama kemudian, sang pemilik kamar itu pun masuk dengan sopan.


"Kevin?" ucap Rosan kaget.


"Kau mengenal ku ternya." jawabnya.


"Kita satu angkatan kuliah di Amerika bukan?" tanya Rosan yang di jawab anggukan oleh Kevin.


"Eum.. ini di rumahmu?" tanya Rosan sembari melihat ke sekelilingnya.


"Iya, ini rumahku. Oiya, aku buat sup pereda pengar. Setelah itu, gantilah pakaianmu." ucap Kevin sembari menaruh mangkuk berisi sup di sampingnya.


"Terimakasih. Oiya, bolehkah aku menginap di sini?" tanya Rosan.


"Tentu saja, aku akan menginap di klinik hewan." jawab Kevin.


"Kau punya klinik hewan?" tanya Rosan antusias.


"Hm.. Aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik di sini dan buatlah dirimu senyaman mungkin."


Rosan mengangguk dan Kevin pun lekas pergi dari kamarnya. Rosan melihat sup yang ada di sampingnya dan perlahan mulai memakannya.


Usai Sup itu habis, Rosan pun memutuskan untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang di belikan oleh Kevin. Namun, sebelum ia masuk ke kamar mandi, pandangannya teralihkan foto yang ada di atas nakas kamar Kevin.


Terlihat jelas di foto itu adalah foto anak kecil laki-laki dan perempuan bergandengan di sebuah kebun binatang. Rosan mengambilnya dan mengelus foto tersebut.


"Siapa gadis kecil ini?" gumamnya sendiri.


Tak perlu banyak berfikir lagi, ia meletakkan kembali foto tersebut dan lekas membersihkan diri.


...*****...


Flova dan Kai pulang tepat pukul setengah 9 malam. Alena terlebih dahulu tidur selama Flova latihan. Flova terus menggerakkan pundaknya karena merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


"Kau terlalu menyiksaku malam ini Kai. Apa kau tidak menyiapkan hadiah khusus untuk memulihkan tenagaku?" tanya Flova.


"Nanti kamu akan terbiasa dengan hal seperti ini. Lagipula kamu besok akan berlatih dansa lagi. Dan, usahakan untuk diet agar tubuhmu itu tetap terjaga." ucap Kai.


"Tenang saja, tubuhku tidak akan terpengaruh walaupun aku terlalu banyak makan, jadi jangan sesekali melarang ku untuk tetap makan makanan yang aku suka." jawab Flova.


"Tidak bisa, kau harus tetap menjaga tubuhmu itu. Karena yang kita pesan bukan baju biasa dan di rancang khusus sesuai bentuk tubuhmu saat ini. Dan, apabila makanan yang kamu makan mempengaruhi bentuk badan kamu, sama saja itu hanya membuang waktu."


Flova hanya mendengus kasar mendengar celotehan Kai. Dan memilih untuk diam,agar tidak menggangu tidur Alena.

__ADS_1


//**//


__ADS_2