
Nehra mengantar Steffa serta orang tua Flova usai pernikahan panjang Kai dan Flova. Semua penghuni mobil tersebut hanya diam saling membisu.
"Kalian kapan menyusul Kai dan Flova?" tanya ibu Flova memecah keheningan.
"Bu, maaf. Tetapi kami bukan pasangan." jawab Steffa.
"Ibu tidak bertanya hubungan kalian. Maksud ibu, kapan kalian menyusul Kai dan Flova dengan pasangan kalian." perjelas ibu Flova membuat Steffa tersenyum malu.
"Ibu kan tau, aku belum punya pasangan."
"Kalo, temen kamu. Itu, siapa namanya?" tanya sang ibu kembali.
"Saya Nehra tante." jawab Nehra.
Steffa di sampingnya hanya mengejek Nehra yang berpura-pura sok baik dan ramah di depan orang tua Flova.
"Tuan Nehra, apa anda sudah memiliki keluarga?" tanya ibu Flova.
"Belum tante."
"Wah, kebetulan sekali. Steffa juga belum memiliki pasangan."
Suaminya langsung menyikutnya dan hanya di balas lirikan tajam oleh istrinya. "Jaga omongan mu."
"Bu, masih ada lelaki lain yang lebih baik dari Nehra." jawab Steffa dengan menatap sinis kepada Nehra.
Usai mengantar orang tua Flova dengan perjalanan kurang lebih selama hampir satu jam lamanya, giliran ia mengantar Steffa untuk pulang ke rumahnya.
Nehra mengikuti hingga ke depan pintu rumahnya. Steffa hanya mengerutkan keningnya bingung sembari menghela nafas panjang.
"Aku sudah sampai. Cepat pergi dari sini!"
"Kau tidak berterima kasih kepadaku sama sekali, malah mengusirku seperti ini."
"Mohon maaf ya tuan Nehra, bukan saya yang meminta mu untuk mengantarku, jadi ucapan terimakasih itu bukan dariku."
Steffa membuka pintu rumahnya begitu saja, namun dengan cepat Nehra juga ikut masuk ke dalam.
"Keluar sekarang juga!"
"Tidak mau."
Nehra langsung saja duduk di sofa dan memainkan game. Steffa hanya bisa memendam amarahnya dan memilih untuk membersihkan badannya yang sangat lengket.
__ADS_1
Berharap Nehra pergi selepas Steffa membersihkan dirinya, namun ia merasa gerah kembali melihat Nehra yang masih diam di tempat yang sama dengan posisi yang sama serta melakukan kegiatan yang sama.
Namun, ada satu hal yang kembali membuat Steffa melotot ke arahnya. Nehra memakan camilan kesukaannya yang ia simpan di lemarinya. Ia geram dan berlari ke arahnya untuk mengambil camilan tersebut.
"Balikin! Itu camilan aku! Dasar pencuri!"
"Aku lapar, seharusnya yang kamu lakukan adalah menjamu tamu yang datang ke rumah, tidak membiarkan tamu ini kelaparan. Dasar anak tak tau budi pekerti dan tata Krama."
"Enak saja! Huft! Baiklah, makan sepuasmu, dan aku akan meminta ganti rugi. Belikan 10 kali lipat camilan setiap yang kamu makan!"
"Baiklah, jadi pacarku terlebih dahulu."
"Aku tidak Sudi!"
Steffa masuk ke kamarnya dan langsung membaringkan dirinya di atas kasur. Dirinya tiba-tiba rindu dengan kehadiran Flova di sampingnya.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Steffa tersenyum senang karena orang yang sedang ia rindukan menelepon dirinya. Tanpa perlu berfikir, ia pun mengangkatnya.
"Hallo Steffa.."
"FLOOOVVVAAAAA!!!. Aku merindukanmuuu!!!" Steffa berteriak kegirangan karena sangat merindukannya.
"Bisa, jangan teriak-teriak? Sudah mau tidurkah?"
"Maksudmu?"
Steffa bangkit melihat ke luar kamarnya. "Nehra masih ada di sini. Dia sedang main game."
"Dia di sana? Sedang apa?"
"Entahlah. Tolong usir dia." Mohon Steffa sembari kembali duduk ke ranjangnya.
"Kau yang di sana, aku tidak bisa apa-apa di sini."
"Oh Flova. Sepertinya Kai salah memerintahkan Nehra untuk mengantar ku. Seharusnya biarkan aku naik taksi saja." keluhnya sembari cemberut.
Flova tertawa terbahak-bahak di seberang membuat Steffa bingung sembari melihat handphonenya.
"Kenapa tertawa?" tanya Steffa.
"Ah.. tidak apa-apa."
Tiba-tiba saja, percakapan mereka terhenti. Steffa terus mendengar percakapan samar di handphonenya.
__ADS_1
"Sepertinya Flova terkena amukan dari Kai.. hihi.." pikir Steffa.
Ia pun memilih untuk menunggu untuk Flova kembali berbicara dengannya. Dan benar, beberapa detik menunggu, Flova kembali berbicara dengannya.
"Halloo Steffa , maaf ya, aku harus tidur. Tuan Kai tidak bisa tidur karena ulah kita."
Flova menutup teleponnya begitu saja. Steffa hanya mendengus kasar dan memilih untuk keluar dari kamarnya. Ia duduk di sofa sembari melipat kedua tangannya.
"Sebenarnya kau mau pergi atau tidak?"
"Hujan!"
Dan benar saja, begitu Steffa melihat ke arah jendela yang tertutup korden, terlihat samar geledek yang menyambar.
"Ah iya.. Flova takut dengan hujan dan dingin. Apa di rumah Kai aman?" tanya Steffa yang kini begitu serius.
"Rumah Kai kedap suara. Entah itu dari luar maupun dari dalam."
"Aku lega mendengarnya." Steffa melihat ke jendela dengan sedikit cemas.
"Tunggu, Flova takut dengan hujan dan dingin? mengapa?" tanya Nehra penasaran.
"Lima tahun yang lalu, kecelakaan terjadi kepada Flova dan Alena. Akibatnya, tragedi tak di inginkan terjadi. Orang tua Alena meninggal pada saat itu. Alena dan Flova selamat, namun Flova tidak sadarkan diri di saat itu akibat hujan badai. Itulah mengapa, Flova takut dengan hujan dan dingin."
"Ya kalau lagi hujan, pasti dingin la.."
"Bukan begitu, walaupun tidak sedang hujan pun dan udara di sekitarnya dingin, ia pasti ketakutan dan gemetar. Pernah kejadian waktu di cafe, AC rusak dan udara sangat dingin di dalam. Aku telat datang, mencari Flova dimana-mana, dan aku menemukannya di dapur sendirian berusaha untuk menghangatkan dirinya sendiri. Dan aku memutuskan untuk menjemurnya di bawah terik matahari. Beruntung waktu itu cuaca panas."
Nehra menganggukkan kepalanya paham. "Pasti karena kecelakaan itu, ia sangat trauma."
"Iya, dia sangat trauma, dan ia juga kehilangan sedikit ingatannya akibat kecelakaan itu. Beruntung ia hanya tidak mengingat kejadian penuh kecelakaan tersebut, dan hanya memimpikannya dengan samar, untuk itulah kami meminta agar penyelidikan di hentikan setelah kecelakaan itu terjadi. Orang tua Flova juga memilih untuk menjual perusahaan ayah Alena karena mereka tak sanggup meneruskan perusahaan yang semakin ambruk akibat berita yang beredar mengenai kecelakaan yang menimpanya pada saat itu. Dan mereka memilih untuk membeli tanah yang luas untuk berkebun sekaligus pengganti penghasilan sebelumnya. Mereka juga memilih rumah yang sederhana. Uang lebihannya untuk biaya sekolah Flova yang dibilang mahal saat itu. Dan saat SMA, Flova akhirnya sekolah di SMA yang lebih sederhana. Seperti itu cerita singkatnya. Aku akan tidur, jika mau menetaplah, aku tidak lagi memaksa. Aku lelah dan mau tidur."
Steffa berdiri dan meninggalkannya.
"Apa, karena kau teringat Flova , kau tidak mau aku juga ikut terluka?"
"Dih, jangan harap. Tinggalah jika mau, jika tidak pintu juga terbuka lebar untukmu."
Steffa melenggang masuk ke kamarnya tanpa peduli lagi dengan Nehra yang ada di luar.
"Aku juga harus mandi!"
Teriakannya hanya di balas dengan lemparan handuk, selimut serta baju tidur untuk Nehra. Nehra pun mengambil barang-barang yang berserakan di lantai. Melirik kamar Steffa sembari melempar selimut ke arah sofa sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
//**//