
Steffa yang kebetulan berada di rumah, kaget saat melihat Flova di gendong oleh Kevin ke rumahnya dalam keadaan mabuk. Dengan segera ia membantu membukakan pintu untuk Kevin.
"Bagaimana dia bisa begini? Apa ada masalah?" tanya Steffa bingung.
"Aku juga tidak tau apa yang terjadi." jawab Kevin sembari menurunkan Flova ke sofa.
Steffa menggelengkan kepalanya bingung dan duduk di samping Flova. Ia mengelus rambutnya, namun Flova dengan cepat memegang lengan tangannya.
"Pergi kau Kai! Aku tidak suka di perlakukan seperti ini!" ucapnya dengan lantang.
Steffa langsung saja menghempaskan tangan Flova dan memegang kedua pipi Flova.
"Ini aku.. Steffa.. Steffa. Sadarlah."
Steffa menekan namanya. Flova pun mencoba melihatnya sembari mengerjapkan matanya.
"Steffa? Huh..Steffa ... huhuhu....."
Flova langsung memeluk Steffa dan menangis di pundaknya.
"Steffa.. hiks.. Kai jahat... dia membuatku jatuh cinta dan memutuskannya begitu saja.. Hiks.. Seharusnya aku tidak jatuh cinta kepadanya.. huhuhu.."
Steffa hanya mendengarkannya begitu pun dengan Kevin yang masih ada di sana.
"Hatiku sakit.. hiks.. sangat sakit Steffa .."
Flova mengetuk-ngetuk dadanya dan kembali memeluk Steffa.
"Alena? Dimana dia sekarang?" tanya Steffa kemudian.
"Hiks.. Alena? Huwaa.. Alena ada di kantor orang jahat itu.. A-aku akan menjemputnya."
Flova mencoba berdiri, namun karena ia mabuk, langkahnya tidak bisa seimbang.
"Biar aku yang jemput. Steffa, jaga Flova. Biarkan dia untuk istirahat."
Steffa mengangguk dan mencoba mengurus Flova yang dalam keadaan mabuk. Kevin pun dengan langkah yang terburu-buru, pergi ke kantor Kai.
...*****...
Di sisi lain, kantor Kai kedatangan sebuah tamu yang mengundang banyak perhatian dari para pegawainya. Seorang wanita menggunakan baju seksi berjalan di sepanjang koridor kantor X.
"Permisi, tolong tunjukkan aku ruangan Kai Balang Pradipta." ucapnya.
"Apa, nona sudah ada janji?" tanya sang resepsionis.
"Aku ini anak dari perusahaan BNF. Tak perlu janji pun, dia pasti sudah mengenalku."
Resepsionis itu pun mengangguk, di saat ia mengetahui bahwa wanita tersebut merupakan pemilik perusahaan BNF yang merupakan salah satu investor terbesar perusahaan X. Sang resepsionis pun mengantarnya menuju ke ruangan Kai.
__ADS_1
Tepat saat ia keluar dari lift. Manda pun berpapasan dengan ibu Kai. Tentu saja Joanna kenal baik dengan Manda.
"Manda, kenapa kamu di sini?" tanya Joanna.
"Hallo Tante, iya nih. Aku di suruh papa untuk mengirimkan laporan mengenai pabrik dan juga data penghasilan yang di peroleh dari pabrik kita." jawab Manda.
Joanna mengangguk mengerti. Ia pun memberikan isyarat kepada sang resepsionis untuk kembali ke tempatnya.
"Baiklah, biar Tante yang mengantar kamu ke sana."
Manda mengangguk dan mengikuti langkah Joanna menunju ke ruangan Kai. Kai yang sedang membuat rancangan projek barunya pun langsung saja mengganti tampilan komputernya.
"Mama? Kenapa mama ke sini lagi?" tanya Kai.
Joanna hanya tersenyum dan tepat di belakangnya Manda berada. Kai mengangkat alis kanannya bingung dan langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Manda, anak tuan Nuan datang untuk berkunjung, jadi mama mengantarkannya."
Kai menganggukkan kepalanya dan mempersilahkannya untuk duduk. Joanna pun tersenyum senang dengan pertemuan antara Kai dan Manda.
"Kalian bicaralah, mama akan pulang."
"Hati-hati Tante."
Joanna hanya mengangguk dan lekas meninggalkan ruangan Kai. Manda pun tersenyum senang dan langsung menatap Kai yang duduk di tempatnya.
"Saya datang ke sini atas perintah ayah Nuan untuk memberikan data mengenai proyek pabrik yang anda keluarkan. Berkat anda, tempat pembuatan kalung tersebut meningkat dengan pesat." ucap Manda sembari menyodorkan sebuah berkas yang sedari tadi ia pegang.
Kai hanya mengangguk dan membuka berkas yang di bawanya. Manda terhipnotis dengan kalung yang ada di meja kerja Kai. Ia tertarik dengan kalung motif bunga bermata merah delima yang sangat mencolok, ia hendak memegangnya, namun Kai langsung mencegahnya.
"Jangan sentuh apapun di ruangan ku."
Manda mengangguk paham dan menurunkan tangannya perlahan.
"Eum.. aku suka semua hasil karyamu. Sungguh sangat mengesankan. Bagaimana, kalau beri aku satu. Lagipula, kita sudah bekerjasama sangat lama." ucap Manda sembari melirik kalung yang terpajang di sampingnya.
"Setiap barang yang di beli dan di pakai itu menghasilkan uang, barang bekas pun bisa menjadi sebuah barang berharga walaupun itu sudah lama dan usang. Kerjasama tetaplah kerjasama, dan kalung ini, kau harus membelinya seharga 6,5 miliar jika kamu mampu."
Manda hanya tersenyum miring dan kembali melihat kalung tersebut. Kini ia berani menyentuhnya dan melihat kalung itu secara dekat.
"Hm.. pantas saja mahal, sensor ini terbuat dari berlian merah delima yang langka. Ckckck... Sungguh sangat di sayangkan."
Manda meletakkan kalung tersebut di depannya dan membiarkannya begitu saja tanpa mengembalikan lagi ke tempatnya. Kai pun langsung meliriknya tajam, sedangkan Manda Fokus dengan apa yang ia lihat.
"Jika barang yang kau ambil tidak benar-benar kau ambil, letakkanlah kembali ke tempatnya. Apa orang tuamu tidak mengajarkan hal itu?" tanya Kai tegas.
"Tenanglah, aku akan mengambilnya."
Manda mengambil sebuah cek yang kemudian ia tulis dengan harga yang Kai tawarkan untuknya. Dengan segera, ia pun menyelesaikan pembayarannya dan memberikannya kepada Kai.
__ADS_1
Kai mengambil cek tersebut dan menaruhnya di dalam laci. Ia pun mengambil sebuah kotak berwarna hitam untuk menyimpan kalung yang di beli oleh Manda.
"Cara penggunaan dan pengaktifannya sudah ada di dalam kotak tersebut. Jika tidak ada keperluan lain, tolong segera pergi dari sini."
Manda menghela nafas panjang. Ia mengeluarkan kembali kalung yang Kai simpan dan memberikannya kepada Kai.
"Tidakkah kau membantuku untuk memakainya?"
"Kau punya tangan, di setiap kamar mandi perusahaan ini juga ada cermin, dan kau punya kaki untuk berjalan ke sana, apa itu tidak cukup?" ucap Ku dengan malas.
"Aku tamu dan kau tidak boleh seenaknya kepadaku. Aku hanya meminta bantuanmu sebentar dan aku akan pergi dari sini setelahnya."
Kai menghela nafas panjang dan terpaksa memakaikan kalung di leher Manda. Manda pun membelakanginya dan menyingkirkan rambut yang menutupi tengkuknya.
Tepat di saat itu juga Kevin datang bersama dengan Alena yang sudah bersiap untuk pamit. Seketika pandangan mereka berdua berubah begitu pun dengan Alena.
"Lepaskan Ayah!" teriak Alena dari pintu.
Kai langsung melepaskan kalung yang akan di pakaikan kepada Manda sehingga membuat kalung itu terjatuh. Manda berdecak sebal dan mengambil kalung yang terjatuh.
"Ayah! Ayah jahat sama bunda!" teriak Alena dan menghampirinya dengan rasa marah.
"Bu-bukan begitu."
Kai mencoba menjelaskan tetapi Alena terburu marah dengan kedatangan wanita tersebut. Alena mengambil kopi ayahnya dan menyiramkannya di baju Manda beserta dengan gelas yang sengaja ia lemparkan ke bajunya.
"Byuurr..."
X
"ALENA!" teriak Kai.
Kevin pun langsung saja masuk dan menarik tubuh Alena yang sudah pasti kena omong besar oleh Kai.
"Jaga sikapmu! Apa bunda kamu tidak pernah mengajari mu sopan santun?" ucap Kai.
"Ayah! Seharusnya ayah lihat! Siapa di sini yang tidak punya sopan santun. Menggunakan pakaian kekecilan berjalan ke sana ke mari, apa ayah tidak lihat!" ucap Alena yang tak kalah marah.
"Bunda sakit, apa ayah tau? Bunda pulang sendirian! Apa ayah tau? Ayah tidak lagi sayang kepada Alena dan bunda! Alena kecewa dengan ayah.!"
"Bu-bukan seperti itu.."
Alena langsung meninggalkan ruangan Kai, Manda pun langsung berlari dan meninggalkan ruangan Kai juga.
"AARRGGHH.."
Kai kini frustasi dengan apa yang di alaminya dan dia sudah melewati batas emosinya kepada Alena yang jelas pasti ia tidak akan senang.
//**//
__ADS_1