Unlimited Love

Unlimited Love
82. "Kamarmu adalah kamarku juga."


__ADS_3

Flova sudah pulang kembali ke rumah Kai. Situasi kembali berjalan seperti biasanya. Berita tentang Flova yang jatuh dari sebuah tangga tersebar luas di berbagai media.


Amarah Flova juga sudah mulai meredam. Ayah Kai yang sudah lama mendengar kabar tersebut pun lantas mengunjungi ke kediaman rumah putranya bersama sang istri.


”Bagaimana keadaanmu sekarang, nak?” tanya ayah Kai.


“Sudah lebih baik pah.”


“Papa lega mendengarnya. Sebenarnya papa ingin berkunjung semenjak berita itu keluar, tetapi meeting harus tetap di lakukan selama beberapa hari ini. Maaf ya nak.”


“Tidak apa-apa pah. Flova sudah baik-baik saja.” Jawab Flova sembari tersenyum kecut.


Alena hanya diam tak mendengarkan. Alena lebih fokus menatap Grandma dengan tatapan tajam. Carron yang menyadari hal tersebut pun langsung saja mengelus kepalanya.


“Kenapa kamu terus menatap Grandma seperti itu?”


Semua orang pun langsung fokus kepada Alena. Joanna lantas saja merasa gugup, dan ia pun memilih untuk meneguk teh yang sudah di sediakan sembari melihat ke arah lain.


“Kenapa sayang?” Kini Kai yang bertanya kepadanya.


“Grandma kemana saja? Bukankah hari itu Grandma bersama dengan bunda, tetapi kenapa Grandma tidak menolong bunda?”


Joanna perlahan meletakkan gelas teh yang telah ia minum di tempatnya kembali. Dan tersenyum kepada Alena.


“Grandma kalah cepat dengan ayahmu, jadi Grandma di sana memarahi tante Manda.”


“Benarkah?” jawab Alena yang percaya begitu saja.


“Te-tentu saja. Dia sudah melukai menantu kesayangan Grandma, jadi Grandma memarahinya.” Jawabnya gugup.


“Benarkah seperti itu ayah?” tanyanya karena ragu.


Kai hanya mengangguk untuk meyakinkannya sembari melihat Flova yang duduk di sampingnya.


“Kai, sebaiknya antar saja Flova ke kamar. Biarkan dia untuk istirahat.”


Kai mengangguk dan hendak menarik kursi roda Flova, dengan cepat Flova menggelengkan kepalanya.


“Kenapa?” tanya Kai?


“Aku ingin ibu dan ayah juga tinggal di sini?”


Kai sedikit tersentak, namun dengan tenang ia mengangguki perkataan Flova.


“Ayah dan ibu boleh saja tinggal di sini.” Jawabnya kemudian


“Loh, mengapa tiba-tiba? Apa Kai tidak bisa mengurusmu?” tanya sang ibu Flova.


“Mas Kai pasti sibuk di kantor.” Jawab Flova.

__ADS_1


“Aku akan meluangkan waktuku untuk tetap di rumah, demi kamu aku tidak masalah. Asal aku tetap bersamamu ”


Flova terpaku di tempat. Sementara itu, orang tua Kai dan Flova saling menatap satu sama lain mengdengar sebuah gombalan keluar dari mulut Kai.


“Kai?”


Kai menoleh ke arah ayahnya yang sedang menatapnya dengan heran. “Sejak kapan kau menjadi bucin seperti ini?”


“Bucin itu apa Grandpa?” tanya Alena.


“Bucin itu sama saja seperti menggombal atau memberikan kata-kata buaian. Sama seperti apa yang ayah kamu katakan kepada bunda kamu.”


“Oh.. seperti itu. Ayah selalu begitu kepada Bunda kok Grandpa. Memangnya kenapa?”


“Sangat bagus kalau seperti itu. Itu tandanya kakek dan nenek juga tidak perlu tinggal di sini.” Timpal Nelson, sang ayah Flova.


“Bagusnya mungkin seperti itu. Sebaiknya kita pulang saja.”


Lekas saja orang tua Kai dan Flova berdiri dan mengemasi barang-barang yang tergeletak di sofa.


“Apa Alena mau ikut kakek dan nenek?” ajak Kakeknya.


“Tidak perlu!!” Tolak Flova dengan lantang.


“Tapi nenek ingin tidur bersama Alena.” Kini giliran neneknya yang membujuknya. Alena hanya bisa diam sembari menatap seluruh orang dewasa yang ada di hadapannya.


“Bunda, bagaimana?”


“Baik bunda.” Jawab Alena semangat.


“Biarkan ibu yang mengurusnya untukmu.” Ucap Kartika namun Flova menjawabnya dengan gelengan.


Orang tua Flova pun pasrah. Flova menghela nafas panjang sembari menatap Kai dengan tajam.


“Tenang saja ibu, Kai pasti bisa mengurusnya dengan baik. Benar kan?” ucap Flova sembari tersenyum meledek kepada Kai.


“Tenang bu. Aku bisa. Kalian, berhati-hatilah di jalan.” Jawab Kai dengan yakin.


Orang tua Kai dan Flova saling memandang dan mengangguk secara bersamaan. Dan mereka sepakat untuk meninggalkan kedua sejoli itu di rumah pribadi Kai.


Kai mendorong kursi roda Flova untuk kembali ke dalam setelah mengantarkan kedua orang tua mereka hingga di ambang pintu. Namun, langkahnya terhenti tepat di depan tangga. Kai dan Flova secara bersamaan melihat dari ujung hingga ujung tangga tersebut. Flova hanya bisa diam terpaku di tempatnya dengan ragu.


“Apa yang akan kau lakukan Kai?” tanya Flova dengan setengah ke raguannya.


Kai tak bergeming dan kemudian melihat ke arah Flova. Flova yang tidak mendengar jawaban apapun dari mulut Kai pun mendongak dan tepat di saat Kai menatapnya.


“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Flova.


Kai lantas saja membungkuk dan mengangkat tubuh Flova dari kursi roda yang di dudukinya. Flova terkejut dengan apa yang Kai lalukan sehingga ia memukul-mukul pundak Kai.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan?!. Hei, turunkan aku!”


Kai tak menjawab apapun dan hanya melihat sekelilingnya. Flova yang tengah di gendongnya ikut melihat arah pandangnya.


“Bibi! Bibi!” teriak khas suara besar Kai memenuhi seluruh ruangan tersebut. Dan tak lama kemuadian orang yang ia panggil pun datang.


“Ya Tuan!” jawabnya sembari setengah berlari.


“Bawa kursi roda ini ke kamar kami.” Perintah Kai.


“Baik Tuan.” Sang bibi langsung melipat kursi roda tersebut.


Sementara itu Kai langsung berjalan menaiki tangga. Sedangkan Flova melihatnya dengan tatapan ragu dan bingung.


“Sebaiknya kamarku pindah saja di lantai bawah. Biar kamu tidak perlu repot menggendongku seperti ini. Kasihan bibi juga yang harus membawakan kursi roda ke atas sini." ucap Flova


“Tidak ada tentang kamar kamu saja sekarang. Kamarmu adalah kamarku juga.”


Tak bisa berkata-kata lagi, Flova pun kini diam hingga mereka sampai tepat di kamar mereka yang sudah berubah nuansa. Kini perpaduan warna pink, putih dan abu-abu menghiasi kamar mereka. Flova tercengang dengan ruangan yang memiliki perpaduan yang dingin sekaligus terlihat sedikit hangat dengan adanya warna pink di antaranya.


“Ini kursi rodanya Tuan.” Ucap Surti.


Kai pun mengangguk dan lekas saja bi Surti meninggalkan kamar Kai dan menutup rapat pintunya. Kai pun menurunkan Flova di tempat tidur secara perlahan.


“Aku ingin istirahat di kamarku.” Pinta Flova.


“Ini kamarmu, juga kamarku.” Jawab Kai.


“Maksudku di dalam sana!” Ucapnya dengan lantang sembari menunjuk korden.


Kai pun perlahan berjalan ke sisi yang di tunjuk oleh Flova dan lansung saja membuka korden tersebut. Lantas Flova langsung tercengang tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Tempat tersebut penuh dengan aksesoris dan berisi pakaian Flova dan Kai di dalamnya. Flova mengerjapkan matanya berkali-kali saat melihatnya.


“Dimana kamarku?”


“Sudah aku bilang, ini kamarmu juga kamarmu.” Jawabnya lagi.


“Oohh.. Kamar kesayanganku.” Keluhnya.


Kai pun langsung saja mendekati Flova dan menatapnya dengan penuh pertanyaan. Lantas Flova terperanjat kaget melihat wajah Kai yang tepat berada di depan wajahnya yang hanya berjarak 2 cm saja.


“Lantas, kau tidak suka jika ini juga kamarmu.” Ucapnya sembari menatap matanya.


Flova menelan salivanya kasar. Dan langsung mendorong tubuh Kai dengan tangan kirinya, namun tangannya yang lemah membuatnya yang terhuyung sendiri dan hendak saja kepalanya terbentur di kepala ranjang, beruntung Kai langnsung memegangi kepalanya.


“Kau tidak memiliki tenaga untuk melawanku sekarang. Istirahatlah. Aku akan pergi sebentar.” Ucapnya sembari menegakkan kepala Flova dan mengelus kepalanya.


Flova hanya bisa diam terpaku dengan perlakuan Kai. Kai tersenyum tipis dan meninggalkannya begitu saja.


“Wah.. perlakuannya memang benar-benar tidak bisa di prediksi seperti cuaca. Kemarin dia memintaku untuk putus, sekarang apa! Move on aja belum. Di ajak balikan pun tidak!. Apa apaan dia.” Gerutunya.

__ADS_1


Flova melipat kedua tangannya dengan pandangan kesal melihat Kai yang keluar dari kamarnya tersebut.


//**//


__ADS_2