Unlimited Love

Unlimited Love
87. "Kamera dasbor?"


__ADS_3

Steffa bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan Alena. Namun, betapa terkejutnya ketika ia melihat berbagai hidangan sudah tersaji di atas meja makan. Lantas saja ia segera mendekati makanan tersebut dan meraba wadahnya yang masih hangat.


“Kau sudah bangun?”


Steffa terperanjat kaget dan langsung melihat ke belakangnya .


“Oh.. Nehra? Sejak kapan kau ada di sini.” “5 menit yang lalu.” Jawabnya.


Steffa hanya bisa diam keheranan dengan apa yang di lakukan oleh Nehra.


“Ta-tapi, kau datang se pagi ini. Untuk apa?”


Nehra pun mendekat ke arahnya. Sangat-sangat dekat, hingga tak sadar Steffa sudah terhimpit di depan meja makan.


“Apa yang kau lakukan?”


“Kau ingat hal semalam bukan?”


Steffa hanya bisa mendengar detak jantungnya yang tidak karuan. Nehra pun menjauh sedikit dan menarik tangan kiri Steffa.


“Ini, jangan lupa. Oke.”


Nehra mendekatkan wajahnya di depan Steffa.


“Ceklek.”Mendengar pintu kamar Alena di buka, lekas saja Steffa mendorong tubuh Nehra dan membuatnya terduduk di meja makan.


“Oh.. Selamat pagi Alena.” Sapa Steffa yang berusaha seolah tidak terjadi apa-apa.


Nehra yang tengah kebingungan pun melihat ke arah pintu.


“Selamat pagi kakak. Oh.. ada kak Nehra juga. Selamat pagi.” sapa Alena yang masih di depan pintu kamarnya.


“Selamat pagi juga. Alena mandilah, nanti kita sarapan bersama. Kakak sudah membawa sarapan yang enak untuk kamu.”


Alena mengangguk dan masuk ke kamarnya lagi. Steffa pun menghela nafas lega.


“Muncul di waktu yang kurang tepat.” keluh Nehra kecewa.


“Beruntung Alena tidak melihatnya.” Ucap Steffa.


Nehra hanya menekuk wajahnya karena niatnya gagal.


...****...


Kai membawa Flova pergi meninggalkan hotel. Kai sepakat untuk mengajaknya ke pantai di cuaca yang sangat cerah ini. Kai dan Flova duduk di pinggir pantai dan berteduh di bawah payung beralaskan tikar. Memandang garis laut bersandar pundak Kai.


Desir angin laut membuat mereka merasa tenang dan membuat mereka lupa akan masalah yang tengah mereka hadapi sebelumnya.


“Apa tidak apa-apa Nehra dan Steffa menjaga Alena?”


“Tidak apa. Alena adalah keponakannya. Itu tidak masalah. Aku ingin menghabiskan banyak waktu seperti ini bersamamu, karena kemungkinan besok aku akan sibuk di kantor. Aku harap kamu tidak kesepian.”


“Untuk itu, cepatlah selesaikan pekerjaanmu, agar aku tidak kesepian. Karena aku yakin kau tidak akan membiarkanku kesepian.”


Kai tersenyum dan memeluk Flova. Dan menaruh dagunya di atas kepala Flova.

__ADS_1


“Pasti, dan aku tidak akan pernah membiarkanmu sendirian.”


“Apa pekerjaanmu akhir-akhir ini berat?”


Kai menggelengkan kepalanya.


“Aku ingin membantu ayahmu mendapatkan kembali posisinya. Terlebih lagi ayahmu sangat gigih dan semangat pada kala itu.”


Flova menggelengkan kepalanya dan melepaskan pelukannya. “Tidak Kai. Ayah dan ibu sudah lebih bahagia hidup sederhana seperti ini. Setelah di pikir-pikir, hidup sederhana namun berkecukupan sangat lebih membuat kita bahagia. Tidak ada banyak masalah yang turut membebani hidup kita.”


Kai menggenggam tangan Flova dan menatapnya lekat-lekat.


“Memang benar Flova. Kehidupan yang sederhana membuatku menyadari betapa hangatnya kebersamaan. Aku iri kau bisa berbagi makanan dalam satu wadah yang sama dan menggunakan sendok yang sama. Banyak canda dan tawa di antaranya. Tetapi, ini bukan tentang hal itu Flova. Aku akan tetap merasa bersalah jika aku membiarkan apa yang seharusnya kakak kamu dapatkan dan peroleh jatuh ke tangan yang salah dan menjadi sia-sia. Aku yakin kakak kamu pasti tidak akan menerima hal itu Flova.”


Flova kembali menggelengkan kepalanya. Ia mengelus tangan Kai dan kembali melihat garis lurus pantai.


“Kakak pasti bahagia, ketika keluarganya bahagia dan hidup dengan aman dan damai. Aku rasa kakak seperti itu.”


“Flova percayalah, aku akan menjagamu dan keluargamu. Kita tetap bisa hidup aman dan damai. Biarkan aku membantumu dan keluargaku untuk menebus semua kesalahanku, karena yang aku pikirkan adalah kata maaf itu tidak cukup hanya untuk menebus sebuah kesalahan. Setidaknya aku harus berusaha membantu atau mengembalikan hal yang telah aku perbuat. Itu yang aku pikirkan Flova.”


Flova melihatnya dengan iba. Betapa gigihnya ia ingin bertanggung jawab, bahkan atas apa yang tidak ia lakukan. Flova mengelus pipi Kai sembari tersenyum.


“Baiklah Kai. Lakukan apa yang kamu mau. Aku percaya, akan hal itu. Kami sudah baik-baik saja, namun setelah ini aku harap kamu bisa memaafkan diri kamu sendiri. Aku juga tidak ingin melihatmu terus terpuruk akan hal ini. Selesaikanlah dengan hati-hati dan jangan sampai hal itu melukai dirimu sendiri. Mengerti.”


Kai mengangguk dan kembali memeluknya.


“Semangat.” Ucap Flova di tengah pelukan Kai.


Kai pun melepaskan pelukannya. Menggandeng tangan Flova dan berdiri dari tempat duduk mereka. Kai menariknya dan bermain air bersamanya. Menggendong Flova sembari berlari ke sana ke mari menikmati indahnya pantai yang mereka datangi.


...*****...


Steffa sendiri memilih untuk menunggu Kai, namun hingga malam hari Kai tidak kunjung pulang atau bahkan memberinya kabar. Ia pun memutuskan untuk mengunjunginya bersama Alena setelah pulang sekolah sekaligus membawakannya makan siang.


Dengan kedatangan Flova membuat Kai lebih semangat menjalani aktivitasnya. Hingga tak sadar bahwa hari sudah malam. Alena dan Flova tertidur pulas di kamar rahasia kantor Kai. Melihat hal itu pula, membuat Kai turut ingin beristirahat di samping mereka.


Hampir satu minggu berlalu, Kai belum menyelesaikan misinya. Ia pun memutuskan untuk menelepon Nehra agar membantunya. Namun, tepat sebelum Kai menelepon sahabatnya, Nehra lebih dulu datang ke kantornya.


“Oh, Nehra kebetulan sekali kau datang.”


“Sudah jelas aku pasti di butuhkan.”


Nehra langsung duduk di kursi depan meja Kai. Ia juga meletakkan sebuah amplop coklat di atas meja. Lantas, Kai pun memegang amplop itu dengan bingung


“Apa ini?”


“Buka saja. Siapa tau itu bisa membantumu.”


Kai pun tanpa ragu-ragu membuka berkas tersebut. Betapa kagetnya dirinya melihat beberapa foto bukti dan juga plat nomor mobil yang menabrak mobil pasca kecelakaan yang menimpa Flova 14 tahun yang lalu.


“Bagaimana kau mendapatkan semua ini?” Nehra melipat kedua tangannya sembari tersenyum miring.


“Sebenarnya....”


FLASHBACK ON

__ADS_1


Ayah Nehra masuk ke ruangan Nehra di tengah kesibukannya yang membantu Kai tanpa sepengetahuannya. Steffa dan Nehra yang tengah sibuk pun langsung berdiri tegak ketika mendapati ayah Nehra masuk ke ruangannya.


“Kelihatannya kau sibuk sekali? Ada kegiatan apa?”


“Em..tidak ada apa-apa pa. Ada keperluan apa sampai papa datang ke sini?”


“Ei.. tidak bisakah kau membiarkanku duduk terlebih dahulu!”


Steffa yang sedari tadi hanya diam pun gelagapan.


“Silahkan duduk tuan. Saya permisi terlebih dahulu.”


Steffa pun keluar dari ruangan Nehra. Ayah Nehra pun duduk di kursi Nehra dan Nehra hanya berdiri di depannya.


“Sebenarnya ada perlu apa papa ke sini?”


“Papa hanya memastikan saja, apa kau benar-benar bekerja atau hanya berkencan di dalam kantor.”


Nehra hanya menghela nafas panjang dan duduk di sofa ruangannya. Dia terlihat sangat gusar dan hanya menghela nafas berkali-kali.


“Kau kenapa? Apa kau gagal mendapatkan Steffa?”


“Untuk itu jelas aku berhasil.” Jawabnya semangat.


“Lalu? Ada masalah apa?”


Nehra kembali menghela nafas panjang sebelum memulai pembicaraannya.


“Apa papa tau tentang pemimpin perusahaan RNB?”


“Maksudmu tuan Nuan?” “Pemimpin sebelumnya. Apa papa tau?”


“Eum.. memangnya kenapa?”


“Tuan Nelson masih hidup." Ucapannya seketika membuat ayahnya kaget bukan kepalang. Lantas membuatnya bangun dari tempat duduknya.


“Apa maksud dari ucapanmu Nehra?”


“Sudah ku katakan dengan jelas bahwa Tuan Nelson masih hidup. Beliau adalah mertua Kai.”


Ayah Nehra menggelengkan kepalanya sembari menghela nafas panjang.


“Dan sekarang, bagaimana kehidupannya? Sudah baik-baik saja?”


“Mereka baik-baik saja. Dan di sini aku akan turut membantu Kai untuk mengembalikan perusahaan RNB ke tangan mertuanya kembali.”


“Sebelum melakukan itu, sebaiknya kau harus menemukan bukti-bukti yang benar-benar akurat. Tuan Nuan bukan lawan yang akan diam apabila tidak sekaligus kalian tuntaskan. Ia akan melakukan apapun sekalipun nyawanya terancam.”


Nehra mengusap wajahnya kasar mendengar penjelasan sang ayah. Ia mencoba berfikir keras namun yang di pikirannya sekarang hanya sebuah jalan buntu.


“Apa ayah tidak memiliki kaitan dengan masalalu Tuan Nelson sebelum kecelakaan itu terjadi?"


Ayah Nehra menghela nafas sejenak.


“Kamera Dasbor.” Ucapnya kemudian.

__ADS_1


“Kamera Dasbor?” Jawab Nehra dengan bingung.


//**//


__ADS_2