
Dan akhirnya, mereka berduapun sampai di rumah orang tua Flova. Kebetulan pula, sang ayah Flova hari ini juga pulang ke rumah. Sang ayah langsung memeluk putrinya begitu Flova masuk ke rumah.
"Maaf, ayah tidak bisa turut menjenguk kamu di rumah sakit , nak." ucap di pelukan Flova.
"Tidak apa-apa ayah. Lagipula Flova sudah sehat sekarang."
Sang ayah mengangguk dan melepaskan pelukannya. Menuntun Flova dengan perlahan hingga sampai di sofa.
"Ayah, Flova sudah tidak apa-apa." keluh Flova.
"Tetap saja kamu baru sembuh, jadi mulai sekarang jaga diri kamu baik-baik."
Flova hanya bisa diam, dan sang ibu hanya membantu membawakan pakaian kotor yang Kai bawa dari rumah sakit. Begitu baju di ambil alih, Kai menggulung lengan bajunya dan mengambil alih dapur. Sang ayah Flova bingung melihat Kai yang mengambil sayuran dari kulkas.
"Kai, untuk apa kamu di sana?" ucap sang ayah Flova.
"Aku akan membuat sarapan tambahan untuk kalian." jawab Kai.
Sang ibu Flova yang baru saja masuk setelah menaruh baju kotornya ke belakang langsung kaget mendengarnya. Sontak ia langsung menuju ke dapur dan mengambil sayur serta pisau yang sedang di pegang Kai.
"Ibu yang akan membuatnya."
"Tidak perlu Bu, tenang saja. Aku juga bisa memasak. Kali ini aku akan memasak untuk kalian." ucap Kai sembari tersenyum.
Kedua orang tua Flova melihat Flova dengan bingung dan penuh dengan pertanyaan. Sedangkan Flova sendiri merasa terintimidasi oleh tatapan dari kedua orang tuanya yang menjurus ke arahnya.
"Biarkan saja ayah, ibu. Masakan Kai bahkan lebih enak dari masakan ayah." ucap Flova.
"Aku akan memasak makanan yang terbaik untuk kalian. Ibu, duduklah saja terlebih dahulu."
"Ibu akan menjemput Alena." ucap sang ibu Flova di saat ia sedang mencuci tangannya.
"Biar aku saja Bu."
Flova langsung saja bangkit dari tempat duduknya, namun ayahnya kembali menarik tangan Flova dan mencegahnya untuk berdiri.
"Kamu tetaplah diam. Kamu tetap duduk di sana."
Kai hanya bingung dan langsung menghalangi gerak langkah mertuanya dengan menghadang di depannya.
"Maaf Bu. Bukan maksudku menghalangi ibu, Alena akan di jemput oleh Nehra nanti. Jadi, ibu tidak perlu menjemputnya dan duduk saja bersama Flova."
Ibu Flova yang sebelumnya cemberut pun tersenyum lega.
"Oo.. baiklah. Ibu akan duduk saja sesuai dengan permintaanmu. Hem.. Menantu yang baik."
Sang ibu Flova mengelus kepala menantunya. Kai pun terpaku sembari mengedip-ngedipkan matanya berulang kali. Dan dengan cepat ia menyadarkan dirinya untuk kembali melanjutkan tugasnya.
__ADS_1
Sang ibu Flova tersenyum senyum menggoda sembari melihat putrinya yang sedang menonton salah satu acara di televisi. Sang ibu lantas saja duduk di sampingnya sehingga membuat Flova kaget.
"Lihat, suamimu. Benar-benar suami idaman. Tidak salah ibu membiarkanmu untuk menikah dengannya." ujar sang ibu.
Flova hanya bisa tersenyum tipis sembari melihat ke arah Kai. Ayah Flova juga mengikuti arah pandangan Flova sembari terkekeh.
"Benar sekali. Tampan, gagah, bijaksana, pintar, dermawan, perhatian, penyayang, setia, kaya, dan bisa memasak adalah laki-laki yang sempura untuk di katakan sebagai pria idaman." pungkas sang ayah Flova.
"Aku akan ke kamar sebentar, aku ingin beristirahat."
Flova sengaja menghindari percakapan orang tuanya yang terus membahas tentang Kai. Dan, tidak salah juga apa yang dikatakan kedua orang tuanya tersebut bahwa Kai memang lelaki idaman. Mulai dari fisik dan perilaku memang sangat-sangatlah sempurna untuk di jadikan suami masa depan.
Namun, yang di pikirannya saat ini hanyalah, ini hanya sementara dan tidak mungkin Kai akan bertahan selamanya bersamanya.
Ia duduk sembari melihat semua momen momen yang tersimpan bersama Alena dan juga Kai yang sudah terlewati sekitar 26 hari lamanya. Hingga ia berhenti menggeser fotonya di saat Kai dan Flova sedang berfoto bersama di sebuah gedung khusus tempat dimana terdapat seluncuran bak di atas es, namun tempat tersebut tidak terasa dingin sama sekali.
FLASHBACK ON
"Ayah, bunda. Ayo kita foto bersama." ajak Flova dengan senang.
Flova yang kesulitan berjalan menggunakan sepatu Ski, mencoba mengejar Alena yang begitu lincah berlarian ke sana kemari menggunakan sepatu skinya. Hingga akhirnya sang fotografer pun mengalah untuk mendekati mereka bertiga.
Flova mencoba untuk terus berdiri sembari berpegang kepada kedua tangan Kai yang ia genggam dengan erat. Flova juga mengatur senyumannya agar terlihat indah di foto yang akan di ambilnya.
"Satu, dua.. tiga.. cekrek.. cekrek.." beberapa foto berhasil di ambil. Alena pun mencoba melihat Foto tersebut di layar kamera sang fotografer tersebut.
"Bagaimana kau ini. Anakmu begitu lincah, dan kamu sendiri penakut." sindir Kai.
"Apa kau bilang! Aku bisa."
Flova nekat melepaskan tangannya Kai, namun yang terjadi adalah Flova hampir terjatuh. Beruntung Kai menangkap tubuhnya. Alena yang melihat dari kejauhan, langsung saja menarik baju sang fotografer.
"Paman, tangkap gambar mereka sekarang."
Sang fotografer pun menuruti perintah Alena dan dengan cepat menangkap beberapa momen antara Kai dan Flova yang masih membeku.
"Ayah, bunda. Sudah berpelukannya, ayo kita makan sekarang. Aku lapar."
Seketika Kai dan Flova pun tersadar. Kai membantu Flova untuk berdiri tegak serta menuntunnya hingga ke tepi tempat ski.
FLASHBACK OFF
Tanpa ia sadari, Flova tersenyum senyum sembari melihat foto tersebut. Hal itu di ketahui oleh Steffa yang baru saja masuk ke ruangannya. Lantas saja ia mendekat dan melihat handphone menunjukkan antara foto Kai dan Flova.
"Hayo Flova."
Flova kaget dan langsung menyembunyikan handphonenya. Steffa mendekatinya dan mencoba merebut ponsel Flova, namun Flova dengan cekatan menghindarinya.
__ADS_1
"Kau ketahuan tersenyum melihat foto mu dan Kai kan?" ejek Steffa.
"Tidak Steffa, kamu salah. Aku tidak pernah tersenyum."
Flova meninggalkan Steffa begitu saja. Karena Flova teledor, handphonenya berhasil Steffa rebut. Alhasil mereka berebut ponsel Flova.
"Kembalikan!" protes Flova yang tidak di gubris oleh Steffa.
Kedua orang tua Flova yang mendengar keributan langsung saja masuk ke dalam kamar Flova. Lantas , mereka berdua langsung terpaku di tempat. Flova berhasil mengambil handphonenya kembali dan langsung menyandi ponselnya.
"Kalian ini seperti anak kecil. Cepat keluar dan makanlah makanan kalian."
Flova dan Steffa menurutinya. Alena sendiri sedang asik bermain di pangkuan Nehra sembari memainkan permainan di ponsel milik Alena bersama.
Alena dan Nehra juga di panggil untuk makan siang bersama usai Kai memasak begitu banyak hidangan yang tersaji di meja tersebut. Orang tua Flova di buat kagum dengan hidangan bak di dalam restoran mewah tersebut tersaji di depannya.
"Silahkan di makan. Selamat menikmati." ucap Kai.
Semua orang pun lantas mengambil lauk pauk masing-masing sesuai dengan seleranya. Orang tua Flova yang pertama kali mencicipinya langsung berdecak kagum tak percaya.
"Sungguh, benar-benar enak. Sering-seringlah memasak untuk kami." puji ayah Flova.
"Tentu ayah mertua. Silahkan, nikmatilah makanannya."
Flova yang melihat tidak ada piring tersaji di depan Kai pun lantas bangkit dan mengambilkan piring untuknya. Ia juga menaruh beberapa lauk pauk yang ada di atas meja tersebut.
"Kamu juga harus makan." ucap Flova.
Semua orang yang ada di ruang makan tersebut tersenyum satu sama lain. Kai sadar ia sedang di ledek sehingga ia pun ber-dehem agar orang orang tersebut kembali fokus.
"Baguslah jika sudah baik-baik saja. Kamu bisa pulang ke rumah kamu lagi Flova." ujar sang ibu.
"Aku akan tetap di sini." jawab Flova segera.
"Kalau begitu, aku juga akan di sini. Aku akan mengikuti kemanapun istriku pergi."
Flova dan Nehra tersedak secara bersamaan dan membuat seluruh orang di sekitarnya bingung. Steffa paham kepada Nehra, kenapa ia bisa tersedak, sehingga Steffa segera mengambilkan minum untuknya.
"Kamu kenapa Nehra?" tanya ibu Flova bingung.
"Se-se-sepertinya ada yang mengganjal di tenggorokan saya Tante." jawab Nehra gugup.
"Kamu Flova?" tanya Ibunya ke arahnya.
"Ti-tidak Bu. Aku akan pulang bersama dengan Kai. hehe.." jawab Flova sembari terkekeh walaupun sebenarnya ia malas untuk kembali pulang ke rumah besar Kai.
//**//
__ADS_1