Unlimited Love

Unlimited Love
Bab 8


__ADS_3

Maximilian Green, pria berdarah campuran Eropa-Asia itu kini sedang termenung di balkon kamarnya dengan ditemani segelas wine serta sebatang rokok yang terselip di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Dia memikirkan nasibnya yang seperti sudah ditentukan oleh sang kakek sejak lahir. Bagaimana dia tidak berpikir seperti itu, bahkan saat kedua orang tuanya masih ada, Max sudah diatur oleh sang kakek, Goufar.


Tuan Goufar sendiri yang menentukan di mana Max harus sekolah, tinggal, bergaul, dan sekarang jodohnya pun sudah ditentukan. Max merasa kalau hidupnya benar-benar berada di dalam genggaman tangan sang kakek. Padahal, kini usianya sudah 28 tahun, tapi sampai saat ini dia masih belum bisa memberontak pada pria paruh baya itu.


Kenapa aku harus menjalani kehidupan yang seperti ini? Tidak cukupkah bagi Kakek selama ini aku melakukan semua yang dia mau? Apakah kakek tidak merasa kalau dirinya benar-benar sudah merampas kehidupanku? Bahkan sekarang Kakek juga sudah memutuskan kapan aku harus menikah dan siapa yang akan menjadi istriku, batin Max sambil menatap kepulan asap yang baru saja ia keluarkan melalui hidungnya.


Setelah pulang dari rumah sakit tadi, Max memutuskan mengikuti saran Bryan untuk mengutarakan pendapatnya pada sang kakek. Dia mempunyai keberanian itu karena teringat wanita yang ditolongnya saat di rumah sakit. Sore itu dia berharap sang kakek mau membatalkan pertunangannya hingga Max bisa mencari dan mendekati wanita yang sudah mencuri hatinya. Namun, setelah semua yang dia katakan pada sang kakek, justru dia harus kembali mengalah karena pada kenyataannya Tuan Goufar menyuruh dia untuk menikah akhir pekan ini.


Max memang tahu kalau dirinya sudah akan ditunangkan akhir pekan ini, tapi dia tidak menyangka kalau ucapannya sore tadi membuat sang kakek memutuskan pernikahannya dipercepat.


"Sh**!" umpat pria itu kesal pada dirinya sendiri. Ya, Max kesal karena sebanyak apapun dia berusaha untuk lepas dari kekangan sang kakek, dia tidak akan pernah bisa.


Setelah menghabiskan waktu hampir satu setengah jam lamanya Max di balkon, akhirnya pria itu pun memutuskan untuk masuk ke kamar. Dia memilih berendam air dingin untuk kembali menjernihkan pikirannya. Max tidak akan bisa istirahat dengan benar kalau tubuhnya tidak merasa rileks. Meskipun selama ini dia memang memiliki permasalahan pada tidurnya, tapi setidaknya dia ingin memejamkan matanya dengan nyaman. Ya, semenjak kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan pesawat, Max sudah tidak bisa menikmati tidur nyenyak dan mimpi yang indah lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sinar mentari yang hangat mulai menyapa pagi ini. Vioni sudah terbangun sejak dini hari tadi karena sakit di kepalanya tak kunjung reda meskipun dia sudah meminum obat yang diresepkan oleh Dokter Bryan. Vioni tidak mengerti dengan tubuhnya yang akhir-akhir ini terasa sangat lelah. Padahal dia sedang sakit dan harus banyak beristirahat, tapi pikirannya tidak bisa tenang karena tekanan yang diberikan oleh keluarganya terus-menerus.


Seperti pagi ini, gara-gara kemarin Vioni tidak menemui Vanila, kini adik kembarnya itu ingin berkunjung ke sana dan dia yang harus menjadi penanggung jawab selama vanila berada di sana. Sementara om dan tantenya harus pergi ke luar negeri, mengurus bisnis yang akan mereka jalani bersama Tuan Goufar nanti.


Vioni segera menghampiri om dan tantenya yang sedang duduk di ruang makan. Sebenarnya dia tidak selera untuk makan pagi ini, tetapi karena ini adalah kesempatan terakhir bertemu dengan mereka sebelum Vanila datang, Vioni pun akan mencoba menghentikan adiknya sebelum berkunjung. Dia tidak mau harus menjaga Vanila sementara dirinya sendiri sedang tidak sehat.

__ADS_1


"Om, Tante ...," sapa Vioni pada sepasang suami istri yang sedang duduk di kursi meja makan.


"Hmmm, cepat kemari dan sarapan! Adikmu sebentar lagi akan datang, jaga dia baik-baik selamat tinggal di sini bersamamu!" pesan Marvel pada keponakannya.


"A–apa? Kenapa harus pagi-pagi seperti ini?" tanya Vioni yang terkejut atas ucapan pamannya.


"Apa maksudmu dengan kenapa, Vio?" tanya Resa pada keponakannya yang seakan keberatan kalau Vanila datang ke sana.


Marvel segara menghentikan istrinya yang hendak mencecar keponakan mereka. "Sayang!"


"Tapi–"


"Aku tidak suka dibantah!" ucap Marvel memberi peringatan pada Resa untuk menghentikan perkataannya.


"Iya. Memang bagus, tapi saat ini aku sedang merasa tidak enak badan, Om. Aku ... aku takut tidak bisa memperhatikan Vanila nantinya," sahut Vioni yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Resa.


"Apa segitu bencinya kau pada Adikmu sendiri, Vio?" tanya wanita itu.


"Itu tidak benar, Tante. Aku tidak benci padanya. Aku hanya ingin beristirahat dengan tenang," jelas Vioni yang menyanggah tuduhan tantenya. Meskipun Vioni tidak menyukai Vanila, tapi dia tidak membenci adik kembarnya itu.


"Apa maksudmu Vanila tidak akan membuatmu tenang?"

__ADS_1


"Aku–"


"Vio, dengar!" Marvel angkat bicara. "Vanila sangat jarang kemari dan menginap di sini. Apa kau tidak mau menjamu Adikmu dengan benar? Kalau kau memang merasa tidak enak badan, minum obat saja, apa susahnya? Nanti kau bisa kembali menemani Vanila!"


Vioni benar-benar tersudutkan sekarang. Kenyataannya tidak ada yang berubah meskipun dia sudah mencoba mengutarakan keinginannya, Vanila tetap selalu menjadi prioritas utama keluarga besarnya.


Terus saja Vanila yang kalian pikirkan. Lalu, aku ini apa di mata kalian? tanya Vioni dalam hatinya. Lagi-lagi dia hanya bisa mengoceh dalam hati tanpa berani mengatakannya secara langsung. Akh, sebenarnya bukan tidak berani, tapi lebih tepatnya itu hanya akan buang-buang tenaga karena tidak akan ada orang yang mendengarkannya.


"Terserah kalian saja jika memang seperti itu. Memang apa yang bisa aku lakukan selain mengangguk dan mengiyakan semua perkataan kalian?" tanya Vioni yang sudah teramat geram. Tanpa menyentuh sarapannya, gadis itu lekas bangkit dan segera masuk kembali ke kamarnya.


Marvel dan Resa cukup terkejut dengan keponakannya pagi ini, tidak biasanya Vioni menunjukkan sikap seperti itu.


"Sayang, apa kau merasa ada yang aneh pada anak itu?" tanya Marvel pada sang istri.


"Iya, sikapnya mulai menjengkelkan," sahut Resa yang kesal dengan Vioni.


"Bukan itu."


"Lalu apa? Tidak ada yang aneh selain sikap kurang ajarnya itu," ucap Resa seraya memundurkan piringnya karena sudah selesai sarapan.


Marvel masih diam. Tatapan pria itu terarah pada sepiring salad sayur yang menjadi menu sarapan pagi keponakannya. Seingat Marvel, Vioni yang dulu masih kecil tidak terlalu menyukai sayuran, tapi sekarang menu sarapan gadis itu hanya sayuran dengan sedikit mayonaise.

__ADS_1


Apa yang sebenarnya terjadi pada Vioni? Dan ... tadi pun wajahnya sangat pucat. Apa benar Vioni sedang tidak enak badan?


__ADS_2