
Seperti yang Max rencanakan sebelumnya, selesai sarapan keduanya keluar dari kamar untuk pergi mengelilingi sekitaran Villa milik keluarga Max itu. Sebelumnya Vioni juga sudah mengganti pakaiannya lebih dulu dengan baju miliknya yang rupanya sudah dibawakan oleh Astron ke sana.
"Max, sepertinya aku melupakan sesuatu. Bisakah kau menungguku sebentar?" tanya Vioni saat mereka baru saja menutup pintu kamarnya.
"Ada apa?"
"Ummm, itu ...." Vioni belum meminum obat yang seharusnya dia konsumsi setelah sarapan, sementara dirinya tidak bisa mengatakan hal itu pada Max karena dia belum berbicara jujur tentang penyakitnya.
"Ya sudah. Aku akan menunggumu di ruang keluarga. Cepatlah selesaikan urusanmu," ucap Max saat melihat Vioni yang berbicara dengan ragu-ragu. Dia tahu kalau Vioni belum mengkonsumsi obatnya, jadi dia memperbolehkan Vioni untuk kembali lagi masuk kamar.
"Terima kasih." Vioni pun masuk kembali ke kamarnya, sementara Max berlalu dari sana dan akan menunggu sang istri di ruang keluarga, sebelum akhirnya mereka pergi berkeliling Villa.
Max duduk dengan tenang di sofa ruang keluarga, pria itu sedang menunggu istrinya dalam diam.
Kira-kira, kapan Vioni akan mengatakan kondisi dirinya yang sebenarnya padaku? Sampai kapan dia akan bermain petak umpet seperti ini, batinnya.
Setelah menunggu hampir sepuluh menit lamanya, akhirnya Vioni pun keluar dari kamar. Dia segera menghampiri Max yang sedang menunggunya.
"Maaf karena aku sudah membuatmu menunggu lama," ucap gadis itu.
"Tidak apa-apa. Apa urusan sudah selesai?"
"Iya. Sudah."
"Kalau begitu, kita bisa pergi sekarang!"
"Iya."
Max pun bangkit dari tempat duduknya dan segera menghampiri Vioni yang berdiri tak jauh darinya. Sepasang suami istri itupun mulai melangkahkan kaki mereka keluar dari Villa itu dan berjalan menuju bagian samping bangunan. Hal pertama yang dilihat Vioni adalah sepasang kursi taman dengan meja kecil bundar yang ada di sana. Tak hanya itu saja, berbagai macam bunga juga terlihat tumbuh subur hingga mempercantik pemandangannya.
"Apa kau menyukai tempat ini?" tanya Max saat mendapati istrinya yang tengah menatap takjub pada bunga-bunga yang bermekaran di sana.
"Iya. Aku suka. Rasanya suasana di sini sangat damai dan tenang. Bunga-bunga yang ditanam di sini pun sangat cantik," jawab Vioni tanpa mengalihkan perhatiannya dari taman bunga itu.
Max tersenyum mendengar jawaban istrinya. Dia setuju dengan pendapat Vioni. "Iya. Aku juga menyukai tempat ini karena dulu mendiang Ibuku sangat suka bersantai di sini saat datang ke Villa," ucapnya.
"Sungguh?" tanya Vioni sambil melirik sang suami yang berdiri di sampingnya.
"Iya. Ibuku pecinta bunga. Bahkan, ada beberapa tanaman di Villa ini yang sengaja ditanam sendiri olehnya."
"Wah, sungguh menakjubkan. Bolehkah aku melihat bunga yang ditanam oleh mendiang Ibumu itu?" tanya gadis itu lagi dengan antusias.
"Ayo. Biar aku tunjukkan!" sahut Max sambil mempersilakan Vioni untuk mengikuti langkahnya menuju belakang bangunan Villa itu. Di sana ada sebuah Dome kaca yang dibangun khusus untuk tanaman kesukaan mendiang ibunya Max. Bangunan itu selalu dijaga dan dirawat oleh pengurus Villa karena permintaan Max sendiri yang tidak ingin kehilangan kenangan bersama sang ibu.
__ADS_1
Sesampainya di depan Dome kaca, Vioni terdiam menatap takjub. Bahkan saking takjubnya, dia sampai tidak bisa berkata-kata.
"A–aku ... aku sungguh tidak menyangka bisa melihat pemandangan sebagus ini di sini," gumamnya.
Max kembali tersenyum saat mendengar gumaman sang istri. "Kau belum melihat isinya, bagaimana bisa kau langsung berkata bagus hanya melihat luarnya saja?" tanya pria itu.
"Jika luarnya saja sebagus ini, aku yakin dalamnya pun akan lebih bagus–"
"Jangan dulu berkata seperti itu karena mungkin saja apa yang kamu lihat dari sini, tidak sesuai dengan apa yang akan kau temukan di dalam sana," ucap Max yang langsung membuat Vioni mengernyitkan keningnya
“Apa maksudmu berkata seperti itu?” tanya gadis itu.
“Tidak ada maksud apa-apa. Hanya saja ... kau jangan menaruh ekpektasi lebih pada sesuatu yang belum kau ketahui,” jawab pria itu seraya membuka pintu Dome kaca tersebut.
“Ayo, masuklah!” ucap Max lagi karena melihat Vioni yang masih menatapnya dalam bingung.
Tanpa berkata apapun, Vioni langsung mengikuti langkah suaminya dari belakang. Namun, baru beberapa langkah kaki gadis itu menapaki lantai Dome, tiba-tiba Max menarik pinggangnya untuk sejajar dengan tubuh pria itu.
“Jangan biasakan berjalan di belakangku! Kau adalah istriku, bukan pelayan atau pengikutku. Jadi, berjalanlah di sampingku selayaknya pendampingku, kau mengerti?” tanyanya dengan tegas
hingga membuat Vioni menganggukkan kepalanya.
“B—baik. Maaf,” ucap gadis itu sedikit gugup karena Max menatapnya dengan intens.
Lagi-lagi perlakuan pria itu membuat jantung Vioni berdebar kencang, hingga dia hanya bisa mematung tanpa memberikan
reaksi apapun karena terkejutnya itu.
“Hey, kenapa hanya diam? Ayo! Bukankah kau ingin melihat koleksi bunga mendiang Ibuku?” tanya Max yang segera membuat
Vioni tersadar dari keterkejutannya.
“O—h, i—iya,” sahut Vioni sembari membuang pandangannya ke arah lain. Dia terlalu malu untuk menatap wajah suaminya
langsung.
“Ada apa denganmu?” tanya Max karena bingung melihat ekspresi sang istri.
“Ti—tidak ada apa-apa.”
“Kau yakin?”
“Iya. Aku yakin.” Vioni memberanikan diri menatap wajah Max dan tersenyum simpul agar suaminya itu tidak tersinggung
__ADS_1
karena dia baru saja menghindari tatapannya.
“Baiklah. Ayo!” Max kembali merangkul pinggang Vioni dan melanjutkan langkah mereka memasuki area Dome lebih dalam.
Seperti yang dikatakan Max tadi, saat masuk area itu memang tidak ada hal yang menarik, hanya ada tumbuhan rambat saja yang menghiasi dinding Dome. Namun, seiring memasuki bangunan itu lebih dalam, penciuman Vioni mulai merasakan harum serbuk sari yang semakin kuat. Untung saja dia bukan tipe gadis yang alergi terhadap serbuk sari, jika tidak, maka tour-nya akan berhenti saat ini juga.
“Kau baik-baik saja?” tanya Max yang khawatir istrinya alergi bunga.
“Ya, aku baik-baik saja,” jawab gadis itu.
“Syukurlah. Aku khawatir kau alergi serbuk bunga.”
“Tidak. Aku tidak punya penyakit itu. Tapi … tanaman apa yang tumbuh di sini? Aroma harumnya sangat kuat. Sepertinya ada beberapa macam tanaman,” tebak Vioni.
“Ada beberapa tanaman kesukaan Ibuku yang memang dijaga dengan baik. Jadi, bisa menghasilkan bunga yang bagus dan wangi,” sahut Max.
“Hmmm … benarkah?”
“Iya.”
Setelah berjalan sekitar lima menit dari pintu masuk Dome, akhirnya sepasang suami istri itu sampai di tempat yang membuat Vioni hanya bisa berdecak penuh kekaguman menatap hamparan bunga Mawar merah, Lily, Gardenia dan beberapa tanaman lain dengan warnanya begitu memanjakan mata.
“Ya Tuhan … aku sungguh tidak mengira akan melihat tanaman-tanaman cantik ini di sini,” gumam Vioni sembari berjalan menuju hamparan bunga Lily kesukaannya.
Tanaman itu benar-benar dirawat dengan baik karena bisa menghasilkan aroma yang kuat serta membuatnya betah untuk
dipandang lama. Vioni merasa seperti dirinya sedang berada di taman bunga impiannya saat kecil.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Max karena melihat istrinya yang hanya terdiam sambil berjalan menuju kelompok bunga Lily putih, warna yang sangat kontras dengan bunga mawar yang ada di sebelahnya.
“A—aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ini benar-benar menakjubkan. Aku bahkan merasa seperti sedang bermimpi
karena berada di sini,” jawab Vioni.
“Syukurlah jika kau menyukainya. Kau bisa datang kemari kapanpun kau mau.”
“Benarkah?”
“Tentu.”
Max dan Vioni menghabiskan waktu mereka dalam Dome itu sekitar hampir dua jam lamanya sembari menikmati teh dan membicarakan tentang diri mereka sendiri, sebelum akhirnya pengurus Villa datang. Pria paruh baya itu tampak tergesa-gesa saat mendatangi Max.
“Tuan, ada seseorang yang ingin bertemu Anda!”
__ADS_1