Unlimited Love

Unlimited Love
67. "Beginikah kau di belakangku?"


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir Flova latihan dansa. Hanya butuh waktu empat hari saja Flova dengan mudah dapat menari dengan lincah seperti sudah terbiasa. Setiap langkah yang ia buat selalu baik dan berirama.


"Huh, sangat lelah." ucap Flova usai menyelesaikan dansanya.


Kevin diam-diam sudah menontonnya, dan bertepuk tangan. Flova melihat ke arahnya dan tersenyum.


"Kevin, kau di sini lagi?" tanya Flova.


Kevin mengangguk dan memberikannya air minum. Kevin juga memberinya handuk.


"Dansa mu sangat indah Flova."


"Hm.. benarkah? Tidak sia-sia aku belajar selama 4 hari penuh." jawabnya.


Flova tersenyum sumringah begitu pula dengan Kevin.


"Nona Flova, kita akan latihan terakhir untuk penilaian. Kali ini aku akan memanggil seorang pelatih pria untuk berdansa denganmu. Dan apabila berhasil, nona tidak perlu berdansa lagi, nona hanya perlu melanjutkan di rumah. Apa tidak apa?" tanya salah satu pelatih Flova.


"Benarkah? Kalau begitu baiklah." jawabnya semangat karena memang hal itu yang ia tunggu.


"Sebentar, bisakah aku saja yang menjadi pasangan prianya?"


Sang pelatih melihat ke arah Flova dengan bingung, takut ia akan menjawab hal yang tidak di inginkannya.


"Tidak apa Kevin. Tetapi, apakah kau bisa berdansa?" tanya Flova.


"Mari kita coba."


Flova mengangguk. Kevin lekas berdiri tepat di depannya. Ia membuka telapak tangan kanannya di depan Flova sembari berlutut. Ia juga tersenyum manis ke padanya.


"Flova, ijinkan aku untuk berdansa denganmu."


Flova tersenyum dan perlahan menerima uluran tangan Kevin. Namun, seseorang langsung menarik tangan Flova. Dia adalah orang yang tidak asing lagi baginya.


"Kai? Sejak kapan kau ada di sini?" tanya Flova bingung.


"Begini Kah kau di belakangku? Menerima tawaran dansa orang lain." tanya Kai dengan menatapnya tajam.


Langsung di tariknya Flova hingga tepat ia mendekap di dada Kai. Kai membantunya berdiri. Lantas saja ia berjongkok dan mengulurkan tangan kekarnya yang lembut di depannya.


"Kau harus berdansa dengan ku, istriku."


Lantas saja hal itu membuat Flova tersipu malu, lantas saja tangannya menerima uluran tangan Kai. Kai pun berdiri dan membawanya ke tengah ruangan.


Flova menempatkan tangan kanannya di bahu Kai dan tangan kirinya untuk bergandengan dengan tangan kanan kanan Kai sesuai dengan apa yang ia pelajari selama empat hari ini.


Mereka mulai menari sesuai dengan irama yang di mainkan. Dengan lihainya kaki Flova menyamakan alunan musik, begitu pula dengan Kai.


Alena yang berdiri di samping Kevin langsung saja menggandengkan tangannya kepadanya. Kevin melihat ke arahnya sembari tersenyum kecil. Hatinya yang memanas langsung dingin melihat Alena tengah tersenyum kepadanya.

__ADS_1


"Kakak, bunda sangat bahagia bersama ayah. Kakak baik-baik saja bukan?"


Kevin hanya mengangguk dan tidak bisa berkata-kata. Bohong jika ia mengatakan bahwa ia baik-baik saja walaupun sebenarnya hatinya sangat remuk melihat Kai dan Flova yang tengah berdansa.


"Kakak harus pulang. Kamu nikmatilah waktu di sini bersama ayah dan bunda kamu."


Alena mengangguk sembari di usap kepalanya oleh Kevin. Kevin melihat sekejap Flova berdansa dan lekas keluar dari ruangan tersebut.


Tak lama mereka selesai berdansa, mereka langsung duduk di atas lantai bersandar dinding. Alena duduk di sampingnya di susul oleh Kai yang duduk di samping kiri Flova.


"Tidak ku sangka kau cepat pandai dalam berdansa." puji Kai.


"Ini hal yang mudah walaupun aku tersiksa. Dan, kau harus ingat. Kau harus memberiku banyak daging usai pesta dansa itu selesai. Mengerti..."


Kai mengangguk setuju. Sang pelatih menghampiri mereka yang sedang mengobrol bersama sembari membawa sebuah berkas.


"Ini hasil latihan nona Flova. Nona berlatih sangat baik selama empat hari ini, dan sesuai dengan permintaan tuan, nona bisa istirahat setelah ini. Tuan bisa langsung mengeceknya."


Kai hanya membuka buka beberapa lembar kertas di dalam berkas tersebut dengan cepat dan mengembalikannya lagi kepada sang pelatih Flova.


"Aku percaya. Kau kembalilah, kami akan berkemas. Terimakasih atas bantuannya."


Sang pelatih tersebut mengangguk dan meninggalkan mereka berdua di tempat. Langsung saja mereka berdiri dan keluar dari tempat latihan Flova.


...*****...


Kevin memutuskan ke cafe biasa untuk bertemu dengan Rosan. Rosan datang tepat waktu begitu Kevin sampai. Dengan cepat ia memesan makanan untuk mereka berdua.


"Maksudmu?" tanya Kevin bingung sembari melihat ke menu makanan yang ada di tangannya.


"Kau tidak mengejarnya lagi?"


Kevin tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya. Ia memilih untuk memanggil pelayan dan memesan makanan yang ia mau di susul dengan Rosan. Rosan melihat Kevin dengan jengkel begitu pelayan tersebut pergi.


"Katakan padaku!" ucapnya tegas.


"Untuk apa aku mengejarnya lagi, aku sudah tidak pantas lagi untuknya. Dia hanya milik Kai sekarang. Terpancar jelas di wajahnya bahwa mereka bahagia sekarang."


Rosan mengepalkan tangannya mendengar pernyataan dari Kevin. Ia terus teringat ucapan sang ibunya sang sangat mengancamnya dan membuatnya kembali bergetar.


"Sebaiknya Rosan, berhentilah untuk mengganggu mereka. Sebenarnya apa alasanmu ingin memisahkan mereka? Apa karena kau mencintai Kai atau sekedar hanya untuk memenuhi permintaan seseorang."


"*Bbrraakkk...!!"


"CUKUP*!!"


Rosan memukul meja yang ada di depannya dan membuat semua orang melihat ke arah mereka berdua.


"Jangan katakan lagi... jangan.. katakan.. la-gi.."

__ADS_1


Rosan tersengal-sengal akibat ia kembali mengalami gangguan panik. Kevin pun berdiri dari tempatnya dan menghampirinya.


"Rosan, kau tidak apa?" tanya Kevin yang berusaha tetap tenang.


"Ba-wa... a-aku.. ke mobil.. ce-pat.."


Kevin menggendong tubuh Rosan dan membawanya ke dalam mobil. Rosan berusaha mencari kotak obatnya di dalam tas di seluruh isi mobilnya.


"Apa yang kau cari?" tanya Kevin kepadanya.


"Carikan.. aku kotak.. obat..."


Kevin pun mencoba mencari di bagian depan. Ia cari di laci mobil dan juga jok mobil, namun tidak ada satupun obat yang dia dapatkan. Beruntung, matanya yang tajam melihat wadah obat tersebut di kantung pintu mobil. Dengan cepat ia mengambilnya dan menyerahkannya kepada Rosan.


Di tuangnya sekitar 4 obat dan langsung ia lahap secara bersamaan. Ia pun lekas minum air sembari menetralkan nafasnya yang tidak beraturan.


"Sebenarnya, apa yang terjadi dengan dirimu?" tanya Kevin setelah melihat kondisi Rosan yang sudah sedikit tenang.


"Sepertinya, gangguan kecemasanku kambuh lagi. Dan sekarang, aku sangat membutuhkan obat itu. Mau kah kau menemaniku pergi ke psikiater?"


Dengan senang hati Kevin mengangguk dan lekas mengantarkannya ke tempat yang ia tuju. Usai Rosan mendapatkan obatnya dan berfikir lebih tenang, Rosan pun tertidur pulas di dalam mobilnya.


Tak tau harus membawanya kemana, akhirnya ia pun kembali membawa Rosan ke rumahnya. Ia menatap kasihan ke arah Rosan, sembari menghela nafas panjang.


FLASHBACK ON


Kevin menunggu Rosan yang tengah mengambil obat tebusannya. Tidak lama kemudian, sang dokter keluar dari ruangannya yang untuk memeriksa keadaan di luar. Di tepuknya pelan bahu Kevin dan membuatnya terperanjat kaget.


"Kevin, untuk apa kamu di sini."


Orang yang berpenampilan lebih tua darinya dan yang Kevin kenal sebagai Pamannya tersenyum ke arahnya.


"Paman, aku di sini untuk mengantar temanku yang tadi masuk ke dalam. Oiya paman, bisakah paman membagikan sedikit tentang apa yang di alaminya?"


Sang pamannya mengangguk dan mengajaknya masuk ke dalam. Di berikannya semua tes psikologis Rosan yang menyatakan Rosan mengalami gangguan kecemasan.


"Teman kamu mengalami gangguan kecemasan. Dia akan merasa cemas apabila ada hal yang membuatnya tertekan, takut, dan trauma. Sangat penting peran orang yang selalu mendukungnya seiring waktu dan menghiburnya. Dan, dia butuh bantuan kamu."


Kevin hanya melihatnya dan memperhatikan setiap yang di ucapkan oleh pamannya tersebut.


"Aku sudah menyelipkan obat khusus untuknya, dan apabila obat itu sudah habis, kau harus bisa membantunya mengalihkan ke kegiatan yang membuatnya terhibur agar ia tidak terus menerus bergantung pada obat. Saat ini, dia butuh seseorang untuk membantunya dari kesulitannya sendiri, untuk itulah hadirnya seseorang yang membantunya keluar dari masalah psikologisnya sangat penting di sini. Kau mengerti bukan?"


Kevin mengangguk paham sembari bahunya di tepuk tepuk oleh sang pamannya. Kevin hanya bisa menghela nafas panjang mendengar semua kenyataan yang ia dengar.


FLASHBACK OFF


"Tidak ku sangka, orang ini memiliki kenangan yang pahit sehingga lupa untuk berbuat baik. Aku akan berusaha untuk membantumu keluar dari kegelapan itu."


Kevin pun melajukan mobilnya sedikit lebih cepat usai bergumam kepada dirinya sendiri.

__ADS_1


//**//


__ADS_2