Unlimited Love

Unlimited Love
41. "Kalian harus naik wahana itu."


__ADS_3

Sampailah mereka di Dufan. Alena dan Desta terus bergandengan tangan hingga masuk ke dalam lokasi. Sang orang tua hanya mengikuti gerak langkah anak-anak mereka. Luiz dan Giana bergandengan tangan mesra, namun berbeda dengan Kai dan Flova yang hanya berjalan beriringan.


"Anak-anak, ayo kita duduk dulu. Baru kita bermain." Panggil ibu Desta.


"Hhmm.." jawab Alena dan Desta berbarengan.


Mereka menggelar karpet di saung terbuka sembari mengeluarkan makanan yang mereka bawa. Tak lupa, Nehra juga mencuri momen kebersamaan mereka dengan kamera yang dibawanya. Nehra mengerutkan keningnya melihat Kai dan Flova duduk berjauhan sehingga ia pun segera menghampirinya.


"Geser brother, kami juga harus duduk."


Kai dengan refleks pun menggeser posisi duduknya dan lebih dekat dengan Flova. Flova menggeser posisinya lagi sehingga berdekatan dengan Giana, untuk memberi jeda kepada Steffa agar duduk di sampingnya.


"Steffa, sini."


Steffa menghampirinya saja, namun Nehra buru-buru menarik tangannya dan mendudukkan dirinya di samping kanannya dan kembali menggeser posisi Kai agar dekat dengan Flova.


"Ish.. aku mau duduk dengan Flova."


"Pekalah, mereka sedang tidak berduaan. Jika pernikahan palsu mereka diketahui oleh semua orang dan Alena, apa yang akan terjadi nanti."


Steffa pun mengangguk setuju dan terpaksa duduk di samping Nehra. Alena dan Desta duduk di depan orang tuanya namun tetap berdekatan.


"Saya bawa pie dan biskuit. Saya juga menyiapkan beberapa minuman khusus untuk anak-anak. Nih, kalian minum susunya yah, biar tambah sehat."


Giana memberikan susu untuk Alena dan Desta. Mereka meminum beberapa teguk dan meletakkannya di depan mereka. Alena mengambil pie buatan Giana dan tersenyum ketika satu buah pie itu masuk ke mulutnya.


"Eum.. sangat enak. Terimakasih Tante."


Giana hanya tersenyum dan mengusap wajah Alena. Desta hanya cuek sembari menikmati Pie buatan sang ibunya.


"Maaf, saya hanya bawa cake saja." Ucap Flova dan meletakkan cake ber cream putih di tengah-tengah mereka.


"Tidak apa ibu Flova. Pasti sangat enak. Bolehkah aku mencobanya?"


Flova mengangguk dengan semangat dan memberikan seiris kue untuk Giana. Giana langsung mencobanya begitu cake tersebut mendarat di tangannya.


"Wah.. sangat enak."


"Benarkah? Berikan aku juga Flova." Ucap Steffa tercengang.


Flova juga memberikan seiris untuk Steffa. Begitu ia menggigit , ia membelalakkan matanya takjub dengan rasa yang mendarat di dalam mulutnya.


"Sejak kapan kamu bisa membuat kue seperti ini? Ini sangat-sangat enak."


Nehra hanya memicingkan matanya mendengar Steffa yang terlihat begitu takjub dengan cake buatan Flova, sehingga ia pun merebut sisa potongan yang belum sempat Steffa makan.


"Hei, itu milikku." Protes Steffa tak terima.


"Hehem.. kau bisa ambil lagi." Ucap Flova sambil terkekeh.


Nehra juga takjub ketika potongan tersebut masuk ke mulutnya hingga membuatnya tidak bisa berkata-kata.


"Ibu Flova, Desta juga mau."


"Alena juga bunda."


Flova tersenyum dan memberikan potongan besar untuk anak-anak. Alena dan Desta juga kagum begitu potongan kecil yang mereka ambil dengan sendok masuk ke dalam mulut mereka.


Alena melihat ke arah Kai yang hanya diam sedari tadi sembari menikmati biskuit buatan Giana. Alena pun bangkit dan berdiri di depannya.


"Ayah juga harus coba. Aa.."

__ADS_1


Kai melihat sekelilingnya sekejap dan mencoba dengan ragu suapan kecil dari Alena. Ia pun juga kaget dengan rasa yang timbul dari mulutnya.


"Haha.. aku tau, kamu pasti juga tidak bisa berkata-kata selain berkata sangat enak." Ledek Nehra.


Luiz hanya tersenyum dan meminta istrinya untuk mengambilkan cake tersebut kepadanya juga.


"Wah, pantas saja tuan Kai tidak bisa berkata-kata, kue ini bahkan lebih enak dari yang di jual di toko-toko."


Mereka mengangguk membenarkan, hingga mereka di buat tertawa saat Alena melahap dengan besar kue yang ada di piringnya.


"Bunda, Alena mau lagi." ucapnya dengan mulut yang penuh dengan kue.


Flova tersenyum dan kembali mengambilkan kue untuk Alena. Di susul dengan Desta yang meminta pie buatan ibunya.


"Maaf ya, saya tidak membawa apapun, Nehra mengajak saya secara mendadak jadi saya tidak sempat membawa bekal camilan." ucap Steffa.


"Tidak apa Steffa, ini semua cukup untuk kita semua. Makanlah saja apa yang ada." ucap Giana.


"Baiklah.. Lain kali saya yang akan mentraktir kalian makan sebagai ganti hari ini."


"Terserah kamu saja." jawab Flova.


Usai memakan camilan, mereka langsung pergi untuk menaiki wahana yang cocok dinaiki oleh Alena dan Desta. Perlu waktu kurang lebih 3 jam mereka menaiki seluruh wahana untuk anak-anak, setiap momen pun selalu Nehra abadikan.


Mereka berhenti sejenak untuk makan siang. Mereka makan siang di restoran bintang lima di lokasi tersebut.


"Ayah, papa Desta dan Kak Nehra, Alena dan Desta punya permintaan." ucap Alena.


"Aku?" timpal Desta bingung karena sedari tadi hanya saling diam.


Orang yang Alena panggil langsung melihatnya dengan serius.


"Kalian harus naik wahana itu, nanti yang menang kami akan memberikan sesuatu yang istimewa untuk kalian."


Mereka bertiga melihat wahana yang di tunjuk Alena dan tak lain adalah roller coaster. Seketika mereka meneguk salivanya kasar dan melihat Alena dengan tersenyum kaku.


"Tidak Alena, maaf ya ayah tidak bisa naik wahana itu."


"Ehm.. apakah kau takut Kai Balang Pradipta." jawab Nehra sembari menyilangkan tangannya di dadanya dengan tatapan sombong dan menantang.


"Tentu saja tidak." jawab Kai dengan lantang.


"Baiklah, sekitar jam 1 nanti kita naik wahana itu." ajak Luiz dan diangguki oleh Kai dan Nehra.


"Yeay....."


Alena bersorak dengan senang sedangkan di dalam jantung Kai dan Nehra berdetak dengan kencang.


Sesuai dengan perjanjian mereka, di pukul 1 siang mereka menaiki wahana tersebut. Kai dan Nehra menghela nafas panjang sembari memegang erat penahan tubuh mereka.


"Semangat ayah.." teriak Alena.


"Semangat ayaahh!!" teriak Desta menyusul.


"Apakah aku tidak ada yang memberikan semangat?"


Tidak ada jawaban, tetapi semua pandangan mata tertuju kepada Steffa yang sedang melihat foto-foto di kamera yang ia pegang. Steffa bingung karena mereka melihat dengan intens.


"Kenapa?"


"Kak, ayo semangati Kak Nehra." ucap Desta.

__ADS_1


"Kalian saja."


"Semangat Kak Nehra..." teriak Alena dan Desta secara bersamaan.


"Ayo sekarang kakak." pinta Alena dan langsung di setujui oleh Steffa.


"Semangat" ucapnya dengan malas.


"Kamu benar-benar..." protes Nehra.


"Okee .. siap siap ya ..."


Ucapan Nehra terhenti ketika sang pemandu akan memulai menjalankan roller coaster tersebut. Nehra dan Kai langsung fokus sembari mengatur nafas mereka.


"Dalam hitungan tiga.. dua.. satu...."


Roller coaster pun berjalan dengan perlahan pada awalnya. Mereka sempat melambaikan tangannya. Semakin menjauh, semakin cepat lajunya. Nehra dan Kai tak henti-hentinya berteriak, sedangkan Luiz menikmati roller coaster tersebut dengan sorak kegirangan di sepanjang jalur roller coaster tersebut.


Dan di saat mereka turun, Kai dan Nehra di antarkan oleh Flova dan Steffa ke kamar mandi karena tidak tahan dengan guncangan selama roller coaster itu berjalan.


Di dalam kamar mandi sendiri, Steffa menepuk-nepuk punggung Nehra sembari menutup hidungnya dan membuang wajahnya.


"Ini nih, akibat nantangin orang." ucap Steffa dengan malas.


Nehra hanya meliriknya sekejap sembari mengeluarkan semua isi di dalam perutnya.


Di bagian kamar mandi lain, Steffa menepuk nepuk punggung dan memijat tengkuk Kai dengan wajah khawatir.


"Maafin Alena, seharusnya kamu tolak saja tantangan Nehra. Untuk apa bertaruh jika akhirnya kamu sendiri begini."


Flova memberikan tisu kepada Kai sesudah Kai lega setelah mengeluarkan isi di dalam perutnya. Kai berkumur dan menerima tisu dari Flova.


"Untuk Alena, akan aku lakukan apapun itu." jawab Kai dengan wajah yang sedikit pucat.


"Sudah?"


Kai mengangguk dan kemudian langsung keluar dari kamar mandi. Mereka berempat keluar secara bersamaan. Kedua lelaki yang di tuntun Steffa dan Flova terlihat sangat pucat.


"Jadi, yang menang Om Luiz. Ayah dan kak Nehra kalah." ucap Alena.


"Jadi, Hadiah untuk om apa?" tanya Luiz penasaran.


"Ini papa, buket bunga yang sempat kami beli." Desta memberikan buket bunga besar untuk sang ayah. Dan Luiz langsung memberikannya kepada sang istrinya.


Nehra dan Kai hanya menggelengkan kepalanya kecewa.


"Tau gini, aku tidak menantang Kai." ucap Nehra yang merasa menyesal.


Usai mereka menaiki wahana ekstrim tersebut, mereka memutuskan untuk mengakhirinya dan pulang ke rumah mereka masing-masing.


Kini bergantian, Kai dan Flova duduk di belakang bersama dengan Nehra dan Steffa yang menyetir mobilnya. Sedangkan Luiz dan sang istri bersama dengan anak-anak.


"Kalian malu-maluin. Tantangan dari anak kecil saja kalian menjadi lemah seperti ini." Protes Steffa.


Flova hanya melihat orang yang di sampingnya yang terlihat lemas dan merasa kasihan. Ia pun memutuskan untuk memberikan bahunya untuk sandaran kepala Kai.


"Sudahlah Steffa, biarkan mereka untuk diam dan beristirahat."


Steffa melirik ke belakang dan hendak kembali mengoceh, tetapi Nehra menutup mulutnya dan membuat Steffa kembali fokus menyetir setelah mendapat isyarat untuk tetap diam dari Nehra.


//**//

__ADS_1


__ADS_2