Unlimited Love

Unlimited Love
61. "Jogging."


__ADS_3

Kai membangunkan Flova pagi ini. Flova yang tidurnya terganggu pun langsung terbangun. Di depannya, Kai sudah dengan rapi menggunakan baju olahraga, bersiap untuk joging.


"Ayo cepat bangun, kita jogging pagi ini." ajak Kai.


"Aku malas, pergi sendiri saja."


Flova kembali menutupi tubuhnya dengan selimut , namun Kai menarik selimut tersebut dan menarik tangan Flova agar ia bangun. Dia memang bangun, namun masih dengan mata yang terpejam.


"Cepat bangun dan bersiap."


Kai langsung saja mengangkat tubuh Flova dan membawanya ke kamar mandi. Flova menolak dan begitu Flova di turunkan, Kai langsung keluar dan menunggu Flova.


"Cepat! atau aku batalkan perceraian kita.", ucapnya sembari menutup pintu.


Flova hanya berdecak sebal dan menuruti kemauan Kai. Tak lama kemudian, Flova pun keluar dan sudah lengkap menggunakan baju olahraganya. Segera, mereka keluar dan jogging di area taman hutan tersebut.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Kai dan Flova pun memutuskan untuk menyudahi jogging mereka. Mereka pun langsung kembali ke penginapan. Mereka beristirahat sejenak dan bersih-bersih, lalu kemudian mereka menuju ke atap untuk sarapan.


"Satu Minggu lagi, tepat ulang tahun Alena, aku harap di saat itu juga semua berkas dan persiapan perceraian harus sudah siap."


"Baiklah, aku akan mengusahakannya."


Siang itu Kai dan Flova memutuskan untuk pulang. Kai menelepon Nehra agar menjemput mereka berdua di taman hutan. Kai dan Flova memutuskan untuk menunggu di halaman pintu masuk taman hutan. Dan, tak perlu lama menunggu, Nehra datang bersama Steffa dan Alena.


Begitu mereka datang, Kai melipat kedua tangannya di depan dadanya. Flova melebarkan kedua tangannya dan menerima Alena yang lari ke arahnya bermaksud untuk memeluknya.


Nehra dan Steffa berjalan dengan pelan, tak berani menatap mata Kai yang sedang melihat tajam ke arah mereka berdua. Steffa yang turut ketakutan memilih berjalan sembari bersembunyi di belakang tubuh Nehra.


"Hehe.. Bro.. Aku akan bawakan kopermu." ucap Nehra terkekeh takut sembari mengambil koper Kai.


"Flova.. hehe.. biar aku saja yang membawa kopermu." ucap Steffa yang juga takut kepada Flova.


Flova langsung memegang pergelangan tangan Steffa dan tersenyum miring.


"Bagus ya rencana kalian.. hm.." ucap Flova.


"Ayah, bunda. Jangan marah kepada Kai Nehra dan kak Steffa , ini rencanaku karena kalian berdua seperti sedang bertengkar. Maafkan Alena ya."


Alena memegang telinganya sendiri, namun tatapan Kai dan Flova menjadi iba. Karena memang hubungan mereka kini sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Sudah, lebih baik kita pulang." ucap Kai yang langsung pergi dari tempat mereka berada.


Mereka menatap Kai pergi menuju ke parkiran mobil. Mereka berempat pun serempak mengikutinya dari belakang.


Terlebih dahulu Nehra dan Steffa mampir ke rumah keluarga Pradipta. Kebetulan begitu mereka sampai, tepat keluarga tersebut akan mulai makan siang.


"Wah, kebetulan sekali kalian sudah pulang. Mari, ikut kami sekalian makan siang bersama." ajak tuan Carron sembari merangkul bahu Nehra.


Flova pun tersenyum dan menggandeng tangan Steffa untuk ia ajak ke ruang makan. Flova duduk diantara Kai dan Steffa. Alena memilih untuk duduk di antara sang nenek dan juga Rosan, sedangkan Nehra duduk di samping Steffa.


"Itu yang namanya Rosan?" tanya Steffa sembari berbisik kepada Flova di saat mereka tengah makan.


Flova hanya mengangguk sembari menikmati makanan yang ia makan dengan anggun.


"Lalu, bagaimana ceritanya Alena dan ibu Kai bisa akur seperti itu?"


Flova dan Steffa sama-sama melirik Alena yang tengah di suapi oleh sang nenek. Kai yang menyadari dua orang wanita di sebelah kanannya langsung berdehem.


"Hm.. Makanlah terlebih dahulu, dan bicaralah nanti." ucap Kai.


Steffa dan Flova yang sadar tengah di bicarakan oleh Kai pun kembali diam dan fokus dengan makanan masing-masing.


"Hei Flova, aku bingung. Bagaimana bisa ibu Kai luluh kepada Alena?" tanya Steffa penasaran.


Flova menghela nafas panjang sebelum memulai pembicaraan. Hingga pada akhirnya ia pun menceritakan semua kejadian yang dialami oleh Alena dan neneknya yang membuat mereka akhirnya dekat.


"Sungguh, hanya karena menghindarkannya dari ular?" tanya Steffa tak percaya.


"Iya.."


"Ku pikir Alena berbohong. Dan Rosan, apa dia masih belum menyerah?" tanya Steffa.


Flova menggelengkan kepalanya pasrah.


"Tidak apa Flova, jangan menyerah ya. Aku tau kamu menyukai Kai."


Steffa memegang kedua pundak Flova bermaksud untuk menguatkannya.


"Tidak, aku pikir semua akan sirna setelah ulang tahun Alena berakhir. Aku tidak memiliki harapan, lagipula aku tidak pantas untuk Kai."

__ADS_1


"Sstt..." Steffa menutup mulut Flova dengan jari telunjuknya. "Kamu ini sempurna.. hm.. Tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja."


Flova mengangguk pasrah, dan memeluk Steffa untuk berterima kasih karena selalu berada di sisinya.


...*****...


Keluarga kecil Flova memutuskan pulang setelah makan malam. Karena tepat esok harinya merupakan hari dimana Alena harus bersekolah.


Seperti biasa Flova menemani Alena sebelum tidur. Kali ini, Alena sulit tertidur walaupun Flova dengan telaten meninabobokan dan juga mengusap-usap dahinya.


"Bunda, aku belum mengantuk."


"Hm.. kalau begitu.. bisakah bunda berbicara dengan Alena?" tanya Flova sedikit ragu yang di jawab anggukan oleh Alena.


"Setelah ulang tahun Alena, kita kembali ke rumah yang sebelumnya ya. Kita kembali tinggal bersama kak Steffa, tidak apa ya."


"Memangnya kenapa bunda? Bukankah ayah dan bunda sudah berbaikan?" tanya Alena polos.


Flova hanya bisa tersenyum sembari mengelus-elus kepala Alena.


"Sudah kok, tetapi memang banyak hal yang bunda tidak bisa lakukan untuk ayah. Tetapi... Bunda akan selalu memperbolehkan apabila Alena mau bertemu dengan ayah, kapanpun itu."


Alena tidak bisa menjawab lagi dan hanya bisa mengangguki perkataan Flova. Dan barulah Alena bisa tertidur pulas setelah ia bercerita.


Flova kembali ke kamarnya dan melihat Kai masih duduk di atas kasur sembari memegang ponselnya.


"Kenapa baru ke sini?" tanya Kai.


Flova pun menutup pintu kamar Kai dan menghela nafas.


"Alena baru bisa tertidur. Jadi, aku datang sedikit larut. Aku akan langsung beristirahat, selamat malam."


Flova langsung masuk ke kamarnya dan menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Dan tak terasa air matanya jatuh di antara kedua pelupuk matanya.


Bayang-bayang kebersamaan dengan Kai yang sebentar lagi akan sirna membuatnya berlinang air mata. Hari demi hari yang ia lalui selama di kantor, kampus, di rumah yang ia tinggali serta tempat liburan yang ia datangi akan menjadi kenangan semata yang tidak akan terulang lagi.


Hingga akhirnya ia larut dengan kenangan yang ia ingat sehingga membuatnya langsung tertidur pulas.


//**//

__ADS_1


__ADS_2