
Kai kembali usai mengurus sesuatu hal, tepat dimana Flova selesai membersihkan dirinya. Kai berdiri di depan pintu melihat kamarnya sedikit terbuka. Terlihat bi Surti yang tengah mengeringkan rambut Flova sembari duduk di depannya.
“Bi, Mas Kai belum pulang bukan?” tanyanya sembari memejamkan matanya.
Bi Surti melihat ke arah pintu dan nampaklah Kai di sana. Kai mengisyaratkan agar sang bibi tetap diam akan keberadaanya. Bi Surti mengangguk mengerti dan kembali fokus dengan Flova.
“Belum nak. Memangnya kenapa dengan tuan?”
“Aku sungguh tidak mengerti dengan sikapnya yang setiap kali selalu berubah. Terkadang ia membuatku terbang, lalu kemudian membuatku kembali terjatuh dan harus bangkit sendiri. Terus saja seperti itu setiap hari. Menurut bibi, apakah dia normal?”
Kai perlahan masuk ke dalam kamarnya. Memberikan bawaan yang ia bawa kepada bi Surti dan menyuruhnya untuk menyiapkannya dengan isyarat. Sedangkan ia mengambil alih posisi Bi Surti sembari mengeringkan rambutnya.
“Seperti halnya hari ini. Dia bilang akan mengurusku dan Alena. Tetapi dia pergi tak lama setelah papa dan mama pergi hingga sekaranng ia tidak kunjung pulang.Bahkan dia tidak memberitahuku kemana dia akan pergi? Apa dia memberitahu bibi?” Ucapnya dengan mata masih terpejam dan tidak menyadari bahwa Kai sedang ada di belakangnya.
“Nah sudah ku duga pasti tidak. Dia sangat-sangat tidak mudah di tebak. Benar kan bi?”
Dia menghentikan ocehannya, namun tak ada respon apapun.
“Bi?”
Flova kembali bertanya dan memutuskan untuk membuka matanya.
Betapa terkejutnya saat ia melihat cermin bahwa yang ada di sana adalah Kai dan bukan bi Surti. Dia pun melihat ke belakang dengan bingung. Kai yang belum selesai kembali menghadapkan tubuhnya ke depan. Flova refleks mengikutinya dengan kaku.
“Se-sejak kapan kau di sini?” tanyanya dengan gugup.
“Tepat sejak kau mengoceh tentang diriku? Bagaimana? Apa ada lagi yang perlu kau katakan tentangku? Katakan saja sekarang bila ada.”
Flova tetap diam. Tak ada yang ingin di katakan lagi dari mulutnya. Kai yang melihat Flova terdiam tersenyum miring. Hal itu pun di sadari oleh Flova dan lekas saja melihat ke belakang.
“Kenapa kau tersenyum seperti itu?”
Kai memutar kursi yang diduduki oleh Flova. Dan tepat menghadapkannya di depan wajahnya. Flova terdiam sejenak dan mendorong pelan tubuh Kai sembari memalingkan wajahnya.
“Aku putar kursinya agar kau leluasa melihat wajahku.” Ucapnya.
“Sudahlah. Tidak perlu di bicarakan. Oiya, Kira-kira kapan aku akan pulih? Bisakah aku pulih sebelum liburan Alena?”
“Tergantung kau mau menurut kepadaku atau tidak.”
Flova menyergitkan dahinya. “Maksud kamu?”
“Tok...tok..tok..”
Bi Surti mengetuk pintu kamar Flova dan Kai. Bi Surti di persilahkan masuk oleh Kai setelah Kai mengangguk. Bi Surti pun mendorong meja berisi makanan yang Kai bawa sebelumnya. Flova menelan salivanya begitu berbagai makanan menumpuk di meja tesebut. Flova melihat ke arah Kai dengan ragu. Kai yang paham Flova menginginkannya pun mengangguk.
“Makanlah.”
Bi Surti tersenyum dan pamit untuk meninggalkan kamar mereka berdua. Flova bingung ingin memilih apa yang harus ia makan. Mulai dari pizza, martabak, kentaki, dan berbagai jajanan lain tersaji tepat di depannya. Namun, keinginan itu sirna ketika ia teringat Alena yang pasti sangat suka dengan makanan tersebut.
“Alena sudah aku antarkan sebelumnya. Tidak perlu khawatir. Sekarang makanlah.”
Flova mengangguk dan terlebih dahulu mengambil kentaki ayam. Kai pun menarik kursi lain dan duduk di depannya.
__ADS_1
“Kau tidak makan?” tanya Flova.
Kai menggelengkan kepalanya. “Kau saja yang makan. Aku cukup melihatmu saja.”
Flova menggelengkan kepalannya dan meminta Kai untuk menuangkan saus di kentaki yang ia makan. Ia pun menyodorkan makanan tersebut ke mulutnya, Kai terdiam sejenak sembari melihat Flova. Flova menggerakkan tangannya sembari mengangguk.
“Ayo cepatlah, tanganku sakit.”
Kai pun membuka mulutnya dan melahap kentaki yang di pegang oleh Flova dengan tangan kirinya. Dan melihat Flova yang kesusahan menuangkan saos pun membantunya sembari makan bersama.
...*****...
Alena di jemput Kai tepat sebelum malam hari sesuai kemauan Flova. Alena masuk ke kamar Flova yang sedang beristirahat dengan senang dan langsung bergabung duduk di ranjangnya.
“Sudah pulang sayang.”
“Sudah bunda. “
“Ya sudah, Alena sekarang cuci muka yah, ganti baju dan bersiap untuk makan malam.”
“Siap bunda.”
Alena lantas keluar dari kamar Flova, dan tanpa sengaja berpapasan dengan Kai dari luar yang tengah membawa makanan. Beruntung Alena tidak menabrak tubuh Kai.
“Hati-hati Alena.”
“Iya Ayah.”
“Turuti kata bunda, nanti kamu turun dan makan bersama bibi yah.”
Kai pun meninggalkan Alena dan masuk ke kamar Flova. Flova terkejut Kai membawa nampan di tangannya.
“Makanlah” Ucapnya saat nampan itu tergeletak di atas meja nakas samping ranjangnya.
“Dan kau?”
Kai duduk di sampingnya dan menghela nafas panjang.
“Kamu makan dulu saja. Aku bisa nanti.”
“Makanlah bersamaku.”
“Kau yakin?”
Flova mengangguk, Kai pun mengambil satu sendok makanan serta lauk yang ada di piring Flova. Ia menyuapakannya kepada Flova.
“Makan lah terlebih dahulu.”
Flova pun lekas menyetujuinya dan melahapnya. Kai kembali mengambil satu sendok nasi dan lauk lalu kemudian ia lahap sendiri.
“Jadi ini maksudmu?”
“Kamu yang memintaku untuk makan bukan?”
__ADS_1
“Aiishh.. terserahlah.”
“Nih.. akk..”
Diam-diam Alena mengintip dari luar melihat orang tuanya yang sedang bersenda gurau sembari makan. Dan setelah memastikan semua baik-baik saja, Alena pun turun untuk makan bersama dengan Bi Surti.
...*****...
Tepat pagi harinya, Flova membuka matanya dan di sampingnya sudah tak ada lagi Kai. Ia pun berusaha untuk turun dari kursi rodanya untuk menyiapkan baju Alena setelah mencuci wajahnya. Namun, betapa terkejutnya ketika ia melihat Alena yang tengah di dandani dengan cantik oleh Kai.
Kai mengepang rambut Alena dengan begitu rapi. Lalu menggulungnya menjadi dua seperti tanduk. Di hiasi pula dengan sebuah pita olehnya.
“Dah siap.” Ucap Kai.
Alena yang tengah duduk di kursinya pun lekas berdiri dan memutar-mutar tubuhnya dengan senang.
“Alena cantik ga yah?”
“Putri ayah sangat cantik.”
“Hehe.. makasih ayah.”
Alena memeluk Kai, Flova pun tersenyum melihat pemandangan tersebut. Hanya tersenyum kecil.
“Apakah aku akan terus melihat momen ini. Atau ini adalah momen pertama dan terakhir aku melihat Alena sebahagia ini. Andaikan waktu bisa berhenti, aku ingin terus melihat momen ini.”
Dengan tak sengaja Kai melihat Flova tengah melihat dari ambang pintu sembari tersenyum kecil. Kai pun melepaskan pelukannya.
“Bunda sudah datang.”
Alena pun melihat ke arah pintu dan berlari untuk menghampirinya.
“Bunda, Alena cantik tidak?” sembari memutar badannya.
Flova tersenyum dan mengelus pipi Alena dengan lembut.
“Putri bunda tentu saja sangat cantik.”
“Ini ayah yang mengikat rambut Flova bunda. Ayah memang hebat.”
“Ya sudah, sekarang Alena turun yah, sarapan. Setelah itu Alena berangkat sama ayah. OK.”
“OK Bunda.”
Alena berlalu pergi meninggalkan Flova dan Kai. Flova tersenyum kecil ke arah Kai sembari menghela nafas.
“Terimakasih banyak ya, sudah mengurus Alena untukku.”
“Untuk apa berterima kasih, Alena juga anakku.” Kai mengacak rambut Flova dan membuatnya terpaku.
“Kau tunggu di dalam kamar, aku akan bawakan sarapan.”
Kai langsung meninggalkan Flova yang tengah bingung. Sedangkan ia sendiri tersenyum manis mellihat Flova yang tengah bingung.
__ADS_1
//**//