
Rosan datang berkunjung ke perusahaan Kai. Sebelum sampai di ruangan Kai, pandangannya teralihkan dengan papan ruangan yang bertuliskan "Children Room". Ia pun membuka kaca mata yang di pakainya dan melihatnya dengan langsung menggunakan matanya.
"Sejak kapan di kantor Kai terdapat ruangan khusus anak-anak?" tanya Rosan kepada manager yang mengikutinya.
"Sudah sekitar 2 Minggu yang lalu nona." jawabnya.
Rosan yang penasaran pun akhirnya mengintip ke dalam ruangan tersebut. Desta sudah datang di perusahaan Kai. Mereka berdua sedang mengerjakan latihan mereka di ruang khusus anak-anak tersebut.
Sebelumnya, Ibu Desta memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua dan mempercayakan kepada Kai dan Flova.
Rosan tersenyum dan mendekati mereka berdua yang akan mulai menggambar. Alena dan Desta melihatnya dengan bingung.
"Hallo Alena, dan kamu?" tanya Rosan berpura-pura ramah.
"Desta." jawab Desta singkat.
Rosan mengangguk dan mengambil gambar yang sedang ia warnai. Ia pun tersenyum dengan senang.
"Wah, sangat indah. Coba lihat punyamu Alena."
"Tidak boleh!" jawab Alena.
"Mengapa tidak boleh? Biarkan aku melihatnya sebentar."
Rosan memaksa untuk melihatnya, dan akhirnya mereka berebut hingga kertas gambar Alena sobek. Alena langsung menangis di tempat.
Desta pun berlari ke luar dan masuk begitu saja ke ruangan Kai dan Flova yang sedang bekerja di meja masing-masing.
"Desta, ada apa?"
"Alena, menangis."
Flova melihat Kai dengan bingung dan mereka langsung bangun dari tempat duduk mereka dan melihat ke ruangan sebelah. Flova langsung menghampiri Alena dan memeluknya.
"Sstt ... cup..cup.. kenapa sayang?" tanya Flova dengan tenang.
"Bunda, gambar Alena rusak gara-gara Tante jahat itu?"
Flova melihat gambar tersebut dan benar, robek sebagian.
"Rosan! Seharusnya kamu biarkan saja mereka. Untuk apa kamu ada di sini?" tanya Kai dengan emosi.
"Kai... a-aku hanya berniat untuk melihatnya saja, tidak melakukan apa-apa."
"Bunda.." ucap Alena di dalam pelukannya.
"Jika anak itu bilang tidak mau, seharusnya kamu tidak perlu memaksanya. Dan lihat, apa yang terjadi sekarang." bentak Kai.
Flova berdiri dan menepuk pundak Kai. "Jangan marah-marah di depan anak-anak."
Kai mengangguk dan menarik tangan Rosan dengan kasar. "Kamu di sini saja bersama anak-anak. Aku yang akan mengurusnya." ucapnya kepada Flova.
Flova mengerti dan hanya mengurus Alena yang menangis di pangkuannya. Desta juga menepuk pundak Alena.
"Sudah yah menangisnya. Lihat, ayah sudah memarahi tante Rosan. Yuk, Alena buat lagi."
"Alena tidak mau." tolak Alena.
"Anggap saja tadi itu kegagalan Alena. Kalau Alena mau menjadi seorang dokter, Alena harus bangkit kembali dari kegagalan. Dan cobalah, pasti nanti gambarnya akan lebih bagus."
Alena mengangguk dan mencoba menggambar kembali. Flova juga tersenyum dan mengelus kepala Desta. Dan merekapun kembali melanjutkan gambar yang mereka buat.
Di sisi ruangan yang lain, Rosan di tarik dengan kasar oleh Kai. Berusaha melepaskan tetapi, tenaganya tidak cukup kuat.
"Lepasin aku Kai!"
Kai pun melepaskan tangannya dan mengelap tangannya sendiri menggunakan sapu tangan yang ada di sakunya.
__ADS_1
"Kai, aku hanya ingin melihatnya."
"Kau masih mau mengelak? Sama saja kamu seperti anak kecil yang berebut mainan." sindir Kai.
"Yah.. Oke.. aku salah. Aku minta maaf."
Rosan memegang lengan Kai yang tangannya ia letakkan di dalam sakunya.
"Jangan minta maaf padaku, minta maaflah kepada Alena. Kau sudah membuatnya menangis."
Kai melepaskan tangan Rosan yang memegang lengannya dan kembali keluar dari ruangannya.
"Ayo, kau harus minta maaf dengannya."
Rosan menggenggam tangannya erat dan berjalan di belakang Kai sembari menunduk untuk menyembunyikan wajah kebenciannya.
"Anak sialan, sudah membuat Kai berpaling dariku. Apa si istimewanya mereka. Huh.." batin Rosan.
Alena, Desta dan Flova melihat kedatangan Kai kembali bersama dengan Rosan yang tersenyum miring.
"Cepat!"
Rosan mengangguk dan berjalan pelan ke arah Alena. Alena hanya melihatnya dengan tatapan mata polosnya.
"Ta-tante minta maaf ya Alena. Tante tidak sengaja merusak gambar Alena."
"Hm.. lain kali tante tidak boleh memaksa aku."
"I-iya." jawab Rosan gugup.
Kai dan Flova melihatnya dengan lega. Flova pun berdiri dari tempatnya.
"Flova, sekarang ikut aku ke ruangan ku. Biarkan Rosan di sini untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya."
Flova mengangguk dan berjalan keluar dari ruangan tersebut. Alena hanya tersenyum miring sembari melihat Desta dan kembali mengerjakan gambarnya.
"Tante, ini untuk tante." ucap Desta sembari memberikan cupcake yang penuh dengan cream.
"Wah.. terimakasih." jawab Rosan.
Alena tersenyum melihatnya. Rosan juga tersenyum, dan ia pun mencobanya. Dengan sengaja, Alena mendorong sikunya ke tangan Rosan yang sedang melahap makanan sehingga makanan tersebut membuat sekitar mulut dan pipinya kotor.
"Ppfftt.." Alena dan Desta hanya tertawa kecil.
"Maaf tante, Alena tidak sengaja." ucapnya.
Rosan hendak memarahi mereka lagi, namun teringat ia telah dimarahi habis-habisan oleh Kai, ia pun mencoba menahan amarahnya.
"Hm.. tidak apa. Tante ke kamar mandi terlebih dahulu ya.."
Mereka berdua mengangguk, dan Alena sengaja melempar bola ke arah kaki Rosan sehingga membuatnya terjatuh dan menghempaskan roti yang di pegangnya ke atas rambutnya.
"Hih.. dasar anak-anak nakaaaallll!!! Awas ya kaliaaann!!!" teriak Rosan.
Alena dan Desta hanya tertawa melihat wajah Rosan yang penuh dengan cream dan roti.
Mendengar suara keributan dari dalam ruangan Kai, Flova dan Kai kembali ke ruangan anak-anak.
"Ada apa lagi ini?" tanya Kai setelah membuka pintu ruangan tersebut.
Alena dan Desta langsung menunduk dan bersalah melihat Kai yang berdiri di pintu dengan tatapan tajam.
"Mereka mengerjai ku." keluh Rosan.
"Ayah, aku tidak sengaja." jawab Alena takut.
Flova langsung berlari ke arahnya untuk memeluk Alena. Namun, sialnya bola yang sebelumnya terinjak Rosan, terinjak oleh Flova sehingga ia terkilir.
__ADS_1
"Aduh...."
"Bunda.." teriak Alena khawatir.
Tak sempat Kai menolong, ia pun lekas menggendong Flova. Alena dan Desta juga menghampirinya.
"Kau bersihkan dirimu dan aku akan mengurusmu nanti." ucap Kai.
Rosan hanya berdecak sebal sembari melihat tajam Alena dan Desta yang akan melewatinya.
"Awas kalian!" ancam Rosan.
Alena dan Desta saling menatap bingung dan memilih untuk mengikuti Kai ke ruangannya.
"Aduh.. pelan-pelan.."
Kai menurunkan Flova perlahan di atas sofa. Alena dan Desta melihat Flova dengan khawatir.
"Bunda.. Alena minta maaf."
"Desta juga."
Flova melihat kedua anak-anak tersebut dengan bingung.
"Mengapa? Apa kalian sengaja mengerjai tante Rosan tadi?" tanya Flova.
"Kami tidak suka dengannya Bunda. Dia mengganggu kami dan kami takut dengan tante Rosan yang berdandan seperti Mak lampir. Jadi, kami berniat agar dia tidak muncul lagi di hadapan kami." Ucap Alena sembari menunduk.
"Lain kali, jangan seperti itu. Itu tidak baik ya, lihat, bunda juga terkena imbasnya karena perbuatan kalian." ucap Kai tetap lembut.
"Kalian bisa bicarakan baik-baik bersama-sama. Tidak boleh seperti itu ya, lagian tante Rosan juga sudah meminta maaf." ucap Flova sembari mengelus kepala Alena dan Desta secara bergantian.
"Jaga bunda di sini sebentar, ayah akan mengambilkan es batu."
Alena dan Desta mengangguk dan duduk di sampingnya.
"Kalian tidak perlu sedih lagi. Sini peluk bunda."
Alena memeluk Flova. Flova hanya bingung melihat Desta yang diam.
"Desta, sini peluk bunda juga. Desta jangan sungkan ya, teman Alena anak bunda juga."
Desta tersenyum dan memeluknya. Flova tersenyum dan mengelus kepala mereka berdua. Kai yang baru saja masuk sembari membawa baskom berisi es batu, kaget dengan pemandangan indah tersebut.
"Hm.. andai saja ini bertahan lama." batin Kai.
Flova sadar Kai sudah datang pun lantas memanggilnya.
"Mas Kai.."
Kai pun tersadar dari lamunannya dan mendekati Flova. Menaruh kaki Flova perlahan di atas pangkuannya. Meng-kompres kan es batu yang sudah di balut dengan kain di pergelangan kaki Flova yang terkilir.
Rosan yang sudah selesai membersihkan dirinya, kembali ke ruangan Kai. Dia melirikkan matanya kepada Flova dan langsung menarik tangan Kai.
"Aku datang sebagai orang yang ikut mempromosikan produk heartbeat, kenapa jadi seperti ini." keluh Rosan.
Tangannya langsung ia hempaskan dan kembali memegang kaki Flova.
"Kita bisa bicarakan ini lain kali. Aku akan membawa Flova pulang setelah ini. Alena, Desta, kemasi barang-barang kalian. Ayo kita pulang."
Alena dan Desta mengangguk dan mengikuti kemauan Kai. Rosan hanya diam di tempat. Kai pun akhirnya menggendong Flova keluar dari ruangan tersebut setelah meletakkan es batu tersebut ke dalam baskom yang sebelumnya ia bawa.
Ia menggendong Flova hingga sampai di mobil. Sedangkan dua anak kecil tersebut mengekor di belakang mereka. Rosan hanya menyilangkan tangannya di dadanya sembari melihat mereka dengan tatapan tak sukanya.
"Awas saja kalian!"
//**//
__ADS_1