
"Hei, calon pengantin tidak boleh bersedih!" seru seorang pria muda yang sejal tadi berdiri mematung di ambang pintu ruang gaun pengantin wanita. Dia adalah putra pertama Clifford dan Rosa, namanya Erich Saputra. Usianya lima tahun diatas Vioni dan Vanila. Selama hampir tiga tahun ini Erich tinggal di apartemen miliknya yang berada di kota Surabaya. Dia enggan menjadi penerus perusahaan sang ayah, jadi memilih hidup sendiri di kota lain.
"Kakak!" Vioni berbalik dan mendapati sang kakak sudah berdiri di belakangnya. "Sejak kapan Kakak ada di sini? Kupikir kau tidak akan datang ke pernikahanku besok," tanya gadis itu sambil menghambur ke pelukan satu-satunya orang yang tidak pernah membedakan antara dia dan Vanila.
"Kenapa kau berpikir aku tidak akan datang ke pernikahanmu?" Erich menarik bahu Vioni dan menatapnya. Dia masih cukup terkejut atas kabar pernikahan adik keduanya yang terbilang cepat karena setahunya pernikahan Vioni akan digelar sekitar satu bulan lagi.
"Bukankah kau sendiri yang mengatakan 'Kau selalu sibuk dan tidak pernah punya waktu luang?" tanya Vioni sambil menengadah untuk menatap kedua mata kakak laki-lakinya. Erich mempunyai tinggi badan 185 cm, sementara Vioni dan Vanila hanya mempunyai tinggi sekitar 168, jadi membuat tubuh mereka cukup terbilang pendek untuk orang seukuran Erich.
"Hei, aku tidak pernah berkata seperti itu padamu! Justru kau yang kenapa tidak pernah menghubungiku?"
"Aku?" Vioni menunjuk dirinya.
"Iya. Memangnya siapa lagi Adik yang tidak pernah menghubungiku sama sekali? Bahkan Vanila saja sampai menghubungiku setiap saat," ucap Erich dengan wajah yang sedikit memberengut kesal setiap kali mengingat kalau hanya Vanila saja yang menghubunginya.
"Bukankah Kakak selalu mengatakan Kakak sibuk di sana? Aku mana berani mengganggumu," jawab Vioni. Ya, dia selalu ingat kalau Vanila selalu mengatakan Kakak mereka itu orang yang sangat sibuk sehingga tidak mempunyai waktu untuk adik-adiknya. Jawaban seperti itu selalu diterima Vioni setiap kali dia meminta Vanila untuk memberikan nomor ponsel Erich padanya.
"Tidak. Justru kau sendiri yang selalu sibuk dan tidak pernah mau berbicara denganku setiap kali aku menelepon Vanila!" sahut Erich yang langsung membuat Vioni tertegun.
Lagi? Vanila melakukan hal seperti ini lagi? tanyanya dalam hati. Kenapa dia selalu menghalangiku untuk bisa mempunyai seseorang yang bisa kuandalkan? Tidak cukupkah dia dengan memonopoli Ayah, Ibu Om serta Tante? Kenapa dia juga ingin menguasai Kakak sendirian, sambungnya Vioni dengan raut wajah sedih.
Erich masih tidak mengerti dengan perubahan raut wajah adik perempuan.
"Hei, apa ada yang membuatmu sedih?" tanya pria itu sambil membingkai wajah Vioni dengan kedua telapak tangannya yang lebar.
__ADS_1
Vioni tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin membuat Erich memikirkan dirinya yang selama ini berusaha bertahan sendirian. Vioni tidak bisa membuat Erich mengkhawatirkannya karena pria itu cukup sibuk dengan usahanya yang sedang dia rintis.
"Aku baik-baik saja, Kak. Aku sama sekali tidak bersedih. Justru aku terharu dengan Kakak yang memaksakan datang kemari, di saat Kakak sendiri sedang mempunyai kesibukan."
"Aku tidak memaksakan diri, Vio. Bukankah sudah sewajarnya kalau aku datang ke pernikahan adikku sendiri?"
Vioni menganggukkan kepalanya. "Terima kasih banyak, Kak. Aku sangat terharu."
Erich menarik tubuh Vioni untuk masuk ke dalam pelukannya. Dia tahu kalau pernikahan ini tidak diinginkan oleh Vioni, tapi gadis itu terpaksa melakukannya karena dia bukanlah tipe gadis yang selalu menentang kehendak keluarganya.
"Katakan padaku jika suatu saat nanti kau merasa tidak bahagia dengan pernikahanmu. Aku adalah orang yang pertama yang akan menjemputmu nanti," gumam Erich di atas kepala adiknya.
Vioni semakin mengeratkan pelukannya pada Erich. Dia merasa terharu atas apa yang baru saja dikatakan oleh kakak laki-lakinya itu.
"Terima kasih, Kak. Aku akan mengingat perkataan Kakak," jawab Vioni.
"Eh, a–apa maksud Kakak? Aku ... aku baik-baik saja," jawab Vioni sedikit gelagapan. Dia khawatir kalau Erich mencurigainya.
"Sungguh? Apa masih ada kebohongan lain yang sedang kau tutupi dariku?"
"Tidak ada, Kak. Aku sungguh tidak menutupi apapun darimu," jawab Vioni sambil memberanikan diri menatap kedua mata kakak laki-lakinya. Dia harus meyakinkan Erich bahwa dirinya dalam keadaan baik.
"Oh, ya, Kak. Aku harus berganti pakaian dulu karena setelah ini aku akan ke suatu tempat." Vioni segera mengalihkan pembicaraan mereka. Dia tidak ingin terus mendapatkan tatapan menyelidik dari Erich. Sungguh, dia sangat tidak bisa menutupi kebohongannya di depan pria itu. Terlebih dia juga harus segera menemui Dokter Bryan. Namun, Vioni terdiam seketika saat dia sadar kalau mungkin Erich akan mengikutinya.
__ADS_1
"Baiklah kalau memang begitu. Aku akan menemanimu seharian ini!"
'Degh'
Apa yang harus aku katakan pada Kakak? Tidak mungkin dia akan membiarkanku pergi sendiri ke rumah sakit. Mungkin itu akan membuatnya khawatir, batin Vioni seraya menatap punggung Erich yang mulai menghilang di balik pintu ruangan yang tertutup.
Helaan napas berat dan kasar terdengar dari bibir mungil gadis itu. Dia tidak mungkin membiarkan Erich mengetahui kondisinya saat ini.
Aku harus segera mencari cara agar bisa terlepas dari Kak Erich. Jangan sampai dia mengikutiku juga ke rumah sakit, batinnya lagi.
***
Kini sepasang adik kakak itu sudah keluar dari bangunan butik yang tadi digunakan untuk fitting baju pengantin Vioni. Erich meminta sopir yang ditinggalkan oleh sang ibu untuk pulang ke kediaman mereka, sementara dia yang akan menjadi sopir sekaligus pengawal Vioni hari ini.
"K–kak ... apa apa kakak yakin untuk menemaniku hari ini?" tanya Vioni saat dia melihat kakaknya kembali dari parkiran sambil mengendarai mobil yang akan dia gunakan.
Erich turun terlebih dulu dan segera membukakan pintu mobil bagian penumpang untuk Vioni.
"Ayo, Vio! Hari ini aku yang akan mengantarkanmu kemanapun tempat yang kau tuju," ucap Erich mempersilakan adik perempuannya masuk ke mobil. Bahkan dia sampai menghiraukan pertanyaan Vioni yang menurutnya tidaklah penting.
Vioni sedikit meringis karena sang kakak bahkan tidak menghiraukan ucapannya.
"Terima kasih, Kak. Tapi–"
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah menerima penolakan apapun darimu. Hari ini dan besok kau lah yang akan menjadi ratunya. Jadi, aku akan mengawalmu ke mana pun kau mau," kukuh Erich tanpa menghiraukan ekspresi Vioni yang tampak bingung.
Maafkan aku, Vio. Aku bersikap keras kepala seperti ini hanya karena aku merasa bersalah sudah membiarkanmu menanggung derita selama ini sendirian. Kupikir mereka memperlakukanmu dengan baik karena kau adalah bagian dari keluarga, tapi setelah aku mendengar apa yang dikatakan Bibi Mel, tentu saja aku tidak bisa membiarkannya.