Unlimited Love

Unlimited Love
85. "Jangan pergi, aku membutuhkanmu."


__ADS_3

Sesuai dengan permintaan Alena, Nehra dan Steffa pun lekas saja memenuhinya. Nehra dan Steffa yang sudah lama tidak bertegur sapa hanya saling diam di dalam mobil yang mereka tumpangi. Alena yang duduk di belakang hanya kebingungan karna tidak ada yang memulai percakapan sepatah katapun.


“Kak?”


“Iya Alena, ada apa? Apa dudukmu tidak nyaman?” tanya Nehra.


“Bukan itu? Apa kalian tidak bosan? Kenapa tidak ada yang bertanya apapun?”


“Eumm.. bukan maksud kami tidak berbicara denganmu Alena. Apa ada yang ingin kamu katakan?” tanya Steffa yang mencoba menghangatkan suasana.


“Apa kakak tau mengenai perusahaan RNB?”


Nehra dan Steffa saling membelalakan matanya dan menatap satu sama lain. Lantas Steffa melihat ke arah Alena dengan kaget.


“Ma-maksud kamu Alena?”


“Aku dengar, kakek adalah pemilik dari perusahaan RNB, tetapi kenapa kakek tidak pernah pergi ke sana?”


“Kapan kamu mendengarnya?” tanya Steffa kembali.


“Sekitar tiga minggu yang lalu, tepat setelah bunda kembali ke rumah.”


Steffa menelan salivanya perlahan, tidak tau lagi dengan apa yang akan di katakannya.


“Ayolah kak, kakak jujur saja, aku sudah tau semuanya. Kenapa kakak merahasiakan hal ini dari aku dan bunda?”


Nehra yang fokus menyetir pun melihat ke arah Steffa. Steffa hanya diam dan ragu serta tidak yakin tentang hal itu.


“Tidak apa, katakan saja. Alena pasti akan paham dan mengerti.”


“Aku harus mulai dari mana?”


“Kakak hanya perlu menjawab, kenapa merahasiakan hal ini dari aku dan bunda, bahkan ayah pun juga terlibat.”


“Ayah kamu terlibat, Alena?” timpal Nehra.


Alena mengangguk dengan yakin. Dengan semangat Nehra pun melihat ke arah Steffa.


“Kalau begitu ceritakanlah Steffa, sudah jelas kau pasti tau sesuatu.”


“Aku bahkan baru dengar hal ini, bagaimana aku tau?”


“Jadi kak Steffa tidak tau?”

__ADS_1


“Kakak tidak tau sepenuhnya, yang kakak tau hanya kecelakaan yang menimpa bunda kamu, dan untuk tidak menceritakan bahwa bunda kamu pernah mengalaminya. Memangnya apa saja yang kamu dengar soal itu?”


Alena pun menceritakan semua yang ia dengar hari itu di saat mereka tengah makan malam.


“Kakek Carron mengatakan kepada kakek Nelson dan meminta maaf atas perbuatan ayah karena tidak bisa menyelamatkan papa dahulu. Aku sempet kaget mendengarnya, tetapi aku percaya ayah tidak melakukannya, ayah dan papa mereka dulunya adalah teman yang baik. Jadi, aku minta bantuan kakak Steffa dan kak Nehra agar supaya ayah tidak menyalahkan dirinya lagi, dan agar tetap bersama bunda selamanya.”


“Wah, Alena memang benar-benar sudah dewasa.” Puji Nehra.


“Aku mohon kak Steffa.”


“Maaf Alena, kakak tidak ingin ikut campur dalam hal ini.”


“Kak Nehra?”


“Kenapa kita tidak berusaha terlebih dahulu Steffa. Tidak masalah kita sedikit mencoba menenangkan masalah ini, yang terpenting kita berusaha.”


“Hm.. baiklah. Aku akan ikut mencoba.”


...*****...


Flova dan Kai pun langsung datang ke sebuah restoran dan meminta tempat VIP di atap restoran yang mereka datangi.


“Mengapa harus di sini, kita bisa saja makan di bawah.”


Flova yang tengah mengiris daging pun menghentikan aktivitasnya dan langsung menghela nafas.


“Kau sangat tidak sabaran sekali. Memangnya kenapa kau ingin mengakhirinya secepat itu?”


Kai pun melirik ke arah Flova dan tersenyum miring.


“Kau tidak mau menjauh dari diriku kan?”


“Maaf tuan Kai. Sepertinya dirimu yang tidak bisa menjauh dariku.” Flova membungkuk dan mendekatkan wajahnya di depan Kai.


Kai pun membalas tatapanya dan mendekat kepadanya.


“Ya, memang aku tidak bisa.”


Flova hanya diam dan mendorong tubuh Kai, ia pun kembali duduk ke tempatnya. Flova lekas saja mengambil sebuah amplop coklat dan memberikannya kepada Kai. Kai yang sudah menghabiskan makanannya pun lekas menerima amplop itu dengan bingung.


Dan dengan kaget ia melihat surat yang ia berikan sudah di tanda tangani oleh Flova.


“Aku sudah menandatanganinya. Bagaimana?”

__ADS_1


Kai melihat Flova dengan tatapan bingung dan tak percaya.


“Mengapa? Mengapa kau menyetujuinya.”


Flova mengambil satu amplop lagi di tasnya dan kembali ia berikan kepada Kai. Karena penasaran, Kai membuka amplop tersebut. Ia pun mengambil isi di dalamnya yang terdapat beberapa foto lawas yang sudah sedikit usang.


Kai pun buru-buru melihatnya. Foto pertama yang ia lihat adalah foto kebersamaan dirinya dengan beberapa orang di depan pabrik buatan ayahnya dan mertuanya.


“Bagaimana kau bisa memilikinya?”


“Dari mama. Ia memberikannya padaku tadi siang.”


“Mama?”


“Iya, mama menceritakannya kepadaku sebagian. Dan setelah melihat foto itu, aku pun langsung mengingat semuanya.”


Kai melihat Flova dengan seksama dan kembali melihat foto-foto yanng ia pegang.


“Jadi, kau tau tentang kakakmu?”


Flova mengangguk sembari tersenyum kecil.


“Hm.. aku tau. Aku juga tau pada saat itu kau tidak bersalah Kai. Kau sama sekali tidak bersalah atas kejadian itu.”


“Flova, aku, minta maaf.” Ucap Kai sembari menunduk.


Flova bangkit dari tempat duduknya dan beralih duduk di samping Kai.


“Tidak perlu Kai. Karena aku tau kamu tidak bersalah. Jadi, berhentilah meminta maaf. Mulai sekarang tidak perlu menyalahkan diri kamu lagi. Dan, mulai sekarang aku juga akan melepaskan kamu dari rasa bersalah itu. Karena aku tau, kamu akan selalu terbayang-bayang dengan rasa bersalahmu karena ada aku dan Alena yang seharusnya tidak hadir di dalam hidupmu lagi. Terimakasih atas perbuatanmu dahulu yang telah menolongku, sehingga aku masih bisa bertahan sampai detik ini. Dan mungkin kita di pertemukan untuk membantu satu sama lain agar saling melupakan dan memaafkan masa lalu. Tugasku sudah selesai sampai di sini, aku pamit ya Kai. Aku akan memberitahu Alena tentang ini, nanti. Karena aku sudah mempersiapkan segalanya.”


Kai tidak menjawab apapun dan hanya duduk diam di tempatnya. Flova menghela nafas dan berdiri untuk meninggalkan Kai, namun saat Flova membalikkan badannya, Kai menggenggam tangan Flova. Langkah Flova terhenti. Kai menarik kuat tangan Flova dan membuat tubuh Flova berbalik, Kai lekas berdiri untuk menopang tubuh Flova


Kai menatap mata Flova dengan sangat lekat, hingga tak terasa satu air mata jatuh dari pelupuk matanya. Flova merasa tak sanggup untuk melihatnya, ia pun mengalihkan padangannya namun dengan tangkasnya Kai meraih tengkuk Flova. Dengan cepat ia pun mencium bibir Flova. Flova tersentak kaget dan lekas menutup matanya, serta mengikuti gerakan bibir Kai bagaikan mengikuti aliran lagu romansa.


Beberapa detik mereka pun melepaskan hasrat mereka. Kai yang hanya menunduk pun lekas saja memeluk Flova bagaikan tidak memiliki tenaga sedikitpun. Hal yang tidak pernah Flova duga pun terjadi. Setiap hari yang ia lihat adalah Kai yang kuat nan bijaksana, namun kini di depannya ada lagi sosok yang membutuhkan sebuah pelukan kehangatan.


Kai menangis sesegukan di pundaknya, mendengar hal itu ia pun berusaha untuk tetap tegar dan membalas pelukannya.


“Jangan pergi, aku membutuhkanmu.” Ucap singkatnya.


Flova pun mengangguk dan memeluk erat tubuh Kai yang sedang tidak berdaya itu.


//**//

__ADS_1


__ADS_2