
Alena langsung masuk ke kamar Kai usai mengganti bajunya. Kai pun terperanjat kaget, melihat ia langsung berlari dan menghempaskan tubuhnya ke arahnya.
"Ayaahhh..."
"Hati-hati sayang." ucap Kai dan langsung mengelus rambutnya.
"Aku tidur di sini ya ayah.. bersama ayah dan bunda. Bolehkan?" tanya Alena sembari memegang Boneka Pororo kecil di tangannya.
"Iya boleh."
Alena pun menidurkan dirinya di samping Kai. Pandangan teralihkan kepada boneka yang di pegang oleh Alena. Dia pun memperhatikannya secara detail.
"Alena, dari mana kamu mendapatkan boneka ini?" tanya Kai penasaran.
"Ini.."
Ucapan Alena terpotong di saat Flova keluar dari kamar mandi. Ia langsung saja menarik tangan Flova.
"Bunda, Alena akan tidur di sini. Ngga papa kan bunda?"
Flova memandang Flova ragu, dan Kai pun mengangguk. Flova lega dan tersenyum sembari mencium kepala Alena.
"Boleh sayang."
Alena pun tersenyum dan menarik selimut untuk menutupi dirinya dan juga orang tuanya. Tak lupa, mencium pipi Kai dan Flova sebelum ia tidur. Begitu pun mereka yang secara bersamaan mencium pipi Alena, namun dengan jahilnya, ia memerosotkan dirinya ke bawah, alhasil Kai dan Flova hampir saja berciuman di depannya. Beruntung pergerakan mereka terhenti di waktu yang tepat.
"Hihihi ...."
Tawa kecil Alena membuat Kai dan Flova mengalihkan perhatiannya. Flova pun menggelitik badan Alena yang bersembunyi di balik selimut.
"Kamu yah.. sudah berani jahilin ayah dan bunda.."
"Maaf bunda.." Alena pun muncul dengan perasaan bersalah.
"Tidak apa." jawab Kai sembari mengelus pipinya.
Alena tersenyum, seketika pandangannya penasaran dengan sebuah pajangan baju di dinding kamar Kai.
"Ayah, itu baju apa? Apa ayah pernah menjadi seorang dokter?" tanya Alena.
Kai dan Flova melihat pajangan yang di tunjuk oleh Alena.
"Darimana kamu tau itu baju dokter, Alena?" tanya Flova dengan bingung.
"Di lehernya ada garis berwarna hijau tosca. Jelas itu pasti baju dokter." jelas Alena.
"Iya benar. Itu baju dokter. Ayah dulu pernah menjadi dokter, namun kecelakaan kecil terjadi kepada tangan ayah, sehingga ayah tidak bisa lagi menjadi seorang dokter." jawab Kai.
"Ayah pasti sangat sedih.." ucap Alena terharu.
__ADS_1
"Tidak, ayah tidak sedih. Ayah senang karena dapat menolong orang sebelumnya, dan walaupun sekarang ayah bukan seorang dokter, tetapi ayah bisa membuat barang-barang yang canggih." ucap Kai dengan bangga.
Flova sebenarnya kaget dengan pernyataan Kai, namun memilih untuk mendengarkan percakapan Kai dan Alena.
"Oiya, Alena besar nanti mau jadi apa?" tanya Kai.
"Mau jadi dokter, biar kalau ayah atau bunda sakit, Alena tau apa yang harus Alena lakukan dan memberikan obat untuk ayah dan bunda agar cepat sembuh." jawab Alena.
"Pintar." Kai mencolek pipi Alena dengan gemas mendengarkan jawabannya.
"Sudah, sudah. Sekarang waktunya untuk tidur. Besok, Alena harus ke sekolah. Katanya mau jadi dokter. Alena harus berangkat ke sekolah dengan rajin ya." ucap Flova.
Alena mengangguk dan Kai pun mematikan lampu utamanya. Begitu Kai kembali berbaring, Alena menarik tangan kanan Kai dan Flova untuk memeluknya. Flova dan Kai terpaksa untuk diam dan mengikuti kemauan Alena, kemudian terlelap di posisi yang terasa nyaman.
...*****...
Selama di kantornya, Kai selalu terpikirkan dengan boneka yang di pegang oleh Alena. Boneka yang sangat mirip dengan boneka yang pernah ia berikan kepada bocah berumur 1 tahun di masa lalu.
Dengan posisi menaruh kedua tangannya di depan dahinya dan terus memikirkan boneka Alena yang selalu terngiang-ngiang di kepalanya.
Flova masuk ke dalam ruangan Kai usai ia membuat minuman untuk dirinya sendiri. Kemudian berjalan ke arahnya sembari memeriksa jadwal Kai.
"Tuan Kai, waktunya untuk menjemput Alena."
Kai tak bergeming dan masih tetap dengan posisi yang sama. Dengan pelan, Flova pun mengguncangkan badan Kai pelan.
"Tuan Kai?"
"Mari, kita menjemputnya bersama."
Kai meraih tangan Flova dan menggandengnya keluar dari ruangannya. Mereka juga bergandengan hingga keluar dari kantornya sehingga menjadi pusat perhatian setiap orang yang melihatnya.
"Kita di tatap semua orang."
"Status kita suami istri, apa itu masalah?" Flova menggelengkan kepalanya. "Lebih masalah bila kita tidak bermesraan di depan umum seperti ini." lanjutnya tanpa melepaskan tangan Flova hingga sampai di mobilnya.
Dalam perjalanan, Kai merasa canggung untuk menanyakan perihal boneka yang semalam di bawa Alena tidur bersamanya.
"Ehm.. Flova?"
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Flova dengan bahasa formal yang membuat Kai menghela nafas berat.
"Bisa untuk tidak menggunakan bahasa formal? Kita di luar jam kerja sekarang."
"Baiklah, ada apa?" jawabnya malas.
"Boneka yang di pegang semalam itu, Alena dapatkan dari mana?"
Flova menyergitkan dahinya bingung mendengar pembicaraan Kai yang begitu tiba-tiba.
__ADS_1
"Eum.. aku juga kurang paham. Dia pernah bilang itu adalah hadiah dari dokternya lima tahun yang lalu." jawab Flova.
"Dokter pribadinya?" tanya Kai semakin penasaran.
"Bukan, aku tidak begitu ingat. Saat itu, aku juga baru bangun dari sakitku. Aku tidak tau persis kapan sang dokter itu memberikannya kepadanya dan namanya pun aku juga tidak tau." jawab Flova.
"Kau pernah sakit?" tanya Kai lagi.
"5 tahun yang lalu aku pernah mengalami kecelakaan bersama Alena sepertinya, tetapi aku tidak begitu ingat bagaimana kejadian persisnya." jawab Flova sembari berfikir.
"Flova pasti mengalami hilang ingatan pada saat itu, sehingga ia melupakan sedikit kejadian kecelakaan. Kasian juga dia." batin Kai.
"Sudah, jangan terlalu di pikirkan. Pasti semua itu berat."
Nampak Flova sedang memikirkan betul-betul kejadian di masa lalu, membuat Kai iba. Hingga tak sadar ia mengelus kepala Flova dan membuatnya kebingungan.
Kai tanpa sadar tersenyum dan sembari kembali memegang setir dengan kedua tangannya. Jantung Flova berdegup kencang dan membuat ponsel Kai bergetar di dalam sakunya.
Ia pun mengambil handphonenya dan melihat notifikasi yang berartikan gugup. Ia melirik Flova di sampingnya sekejap dan kembali memasukkan ponsel ke dalam sakunya.
"Kenapa tiba-tiba dia seperti ini?" batin Flova.
Dan tanpa mereka sadari, mereka sudah sampai di sekolah Alena. Terlihat, Alena sudah ada di depan pintu gerbang bersama dengan Desta dan ibunya. Dengan segera, Kai memberhentikan mobilnya di depan mereka bertiga.
Flova lekas turun di susul oleh Kai. Alena dengan senang tersenyum manis kepada kedua orang tuanya.
"Alena." panggil Flova.
"Bunda.." jawab Alena.
"Ada ibu Desta juga. Terimakasih sudah menjaga Alena." ucap Flova.
"Hm.. tidak apa-apa Bu. Desta dan Alena akan berlomba Minggu depan. Mereka ada tugas untuk mereka latihan. Saya sebenarnya akan mengajak Alena untuk belajar bersama di rumah, tetapi dia menolak dan ingin agar Desta yang ikut bersama Alena ke kantor ayah Alena bekerja. Tetapi, saya khawatir mereka akan menganggu kerja ayah Alena di kantor." ucap ibu Desta sedikit ragu.
"Tidak apa Bu, kantor saya ada ruangan khusus untuk anak-anak. Dan ada yang mengawasi ruangan tersebut. Jadi, ibu tidak perlu khawatir. Anda juga bisa datang langsung jika ingin mengawasi mereka." timpal Kai.
"Baiklah, saya akan ke sana usai makan siang. Saya harus mengganti baju Desta terlebih dahulu."
"Kami bisa mampir ke rumah anda terlebih dahulu, sehingga Anda tidak perlu bolak-balik ke sana kemari? atau bawakan baju saja ke kantor kami untuk Desta." pikir Kai.
"Tidak.. tidak perlu. Desta akan datang bersama saya nanti."
"Baiklah, kami tidak akan memaksa Bu. Kami akan menunggu." jawab Flova yang untuk menyudahi percakapan.
"Baiklah. Terimakasih Bu Flova."
"Sama-sama Bu. Dah Desta.." ucap Flova sembari melambaikan tangannya kepada Desta.
Desta melambaikan tangan balik kepada Alena dan Flova. Tanpa berfikir panjang dan perdebatan lagi, merekapun masuk ke dalam mobil dan kembali ke perusahaan Kai.
__ADS_1
//**//