
"Ini adalah hari penting, kenapa ayah dan bunda belum datang." gumam di dalam hati Alena dengan kesal.
Alena terus menunggu orang tuanya dengan wajah di tekuk, ia berdiri depan sekolahnya bersama dengan guru pembimbing, juga ada Desta dan ibunya. Sudah pukul 07.49. Dan sebentar lagi merupakan jadwalnya untuk berangkat.
"Hu..uh.. Ayah dan bunda kapan datang." keluhannya yang tidak bisa ia bendung lagi.
"Sabar Alena, ayah dan bunda kamu pasti sebentar lagi akan datang." ucap Kevin yang baru saja datang sembari mengelus kepalanya.
"Iya Alena, mereka sangat sayang kepadamu, tunggu sebentar lagi." ucap ibu Desta.
Benar saja, mobil Kai pun menghampiri gerbang yang sudah di nanti oleh sang anak perempuannya dan juga Desta beserta ibunya. Beberapa guru termasuk Kevin pun turut menunggunya.
"Maaf atas keterlambatan kami." ucap Kai.
"Tidak apa tuan Kai, sebaiknya kita langsung berangkat." ucap sang guru pembimbing Alena dan Desta.
"Anak-anak dan ibu Desta ikut mobil kami saja, kalian di depan untuk mengarahkan kami." ucap Kai dan diangguki setuju oleh guru pembimbing lomba dan juga Kevin.
Selama di perjalanan, Alena dan Desta selalu bermain bersama dan bernyanyi lagu anak kecil hingga sampai di gedung perlombaan diadakan.
Merekapun langsung turun dan memarkirkan kendaraan di tempat yang sudah di sediakan. Usai mengisi formulir kehadiran, mereka diarahkan untuk langsung masuk ke dalam ruangan.
"Bunda. kami masuk ke dalam ya."ucap polos Alena.
"Iya sayang, semangat ya. Muach.."
Flova mencium gemas pipi kenyal Alena dan juga Desta secara bergantian. Merekapun beralih ke arah ibu Desta.
"Tante, doakan kami ya." ucap Alena kepada ibu Desta.
"Tentu saja, kalian pasti bisa."
Ibu Desta memeluk anaknya dan Alena. Kini mereka beralih kepada Kai. Alena dan Desta hanya diam, Kai pun berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan kedua bocah yang ada di depannya.
"Kalian tidak perlu ragu. Menang atau kalah, itu adalah pilihan akhir. Kalian hanya perlu menikmati prosesnya. Dan ini merupakan pengalaman pertama kalian di ajang lomba. Kalian harus semangat. Mengerti?"
Alena dan Desta mengangguk dan langsung berpelukan. Tak lupa meninggalkan kecupan di pipi Kai. Alena di sebelah kanannya dan Desta di sebelah kirinya. Alena dan Desta tertawa dan langsung meninggalkannya mengikuti pembimbing lombanya. Kai sempat terpaku, namun tetap terlihat cool di depan orang-orang.
Tanpa berbicara lagi, mereka pun di arahkan di ruang khusus untuk orang tua. Mereka di tempatkan di ruang makan, dan terdapat televisi besar yang menampilkan kegiatan anak-anak di dalam ruangan lomba. Mereka duduk dan menikmati hidangan yang di sajikan sesekali melihat layar lebar tersebut.
"Saya permisi dulu ke kamar mandi." ijin Flova.
__ADS_1
"Ibu Flova, perkenankan saya untuk ikut. Saya juga ingin ke kamar mandi."
Flova mengangguk dan meninggalkan meja makan. Tersisa hanya ada Kai dan Kevin di meja makan tersebut.
"Sepertinya, kamu sangat disukai oleh anak-anak. Terutama dengan Alena. Dia sangat suka kepadamu." ucap Kevin sembari menikmati cupcake yang di sajikan khusus untuk mereka.
"Karena aku istimewa baginya. Dia seperti melihat sosok ayah di dalam diriku. Atau mungkin memang mirip seperti ayahnya, aku kurang tau. Yang terpenting dia bahagia."
"Tetapi, kamu juga bahagia bukan? Kamu menikah dengan Flova atas dasar cinta atau hanya atas dasar Alena saja? Atau mungkin untuk hal lain?" pikir Kevin yang hampir benar.
"Hm.. aku bahagia, jadi jangan khawatir."
Kai meneguk sirup berwarna merah yang tersaji di mejanya. Tak lama, Flova dan ibu Desta kembali ke meja tersebut.
Ibu Desta sedari tadi hanya melihat kanan-kirinya seperti orang yang bingung mencari sesuatu.
"Ibu Desta, ada apa?" tanya Flova.
"Kenapa hidangan kita lain? Saya tau, kita adalah orang yang terpandang, namun tetap saja, untuk sajian makanan seperti ini rasanya tidak begitu benar."
"Kalian tidak perlu khawatir. Aku sudah tau ini akan menjadi suatu gunjingan. Aku sudah menyiapkan semuanya." ucap Kai santai sembari melihat layar yang sedang mengarahkan ke seorang anak.
Tampak dengan samar, Alena terlihat di belakangnya sedang serius mewarnai dengan tangan mungilnya yang sudah mulai belepotan.
Kevin menghitung mundur setelah Kai berhenti berbicara, dan benar cupcake yang sama dan minuman yang sama langsung tersaji di seluruh meja.
"Kau berbuat seperti ini?" tanya Flova kaget di saat para pelayan di gedung tersebut berbondong-bondong menyajikan cupcake untuk setiap meja yang ada.
"Hallo kakak ipar, ini semua berkat aku.."
Nehra tiba-tiba muncul begitu saja dari tengah-tengah keramaian. Namun, orang-orang yang dia sapa hanya menatapnya dengan datar. Karena tak ada jawaban, Nehra pun duduk begitu saja di antara Kai dan Kevin.
"Kalian orang kaya, selalu memainkan peran dalam setiap drama dengan bagus." sindir Kevin.
"Maaf tuan Kevin Aprilio Stone , bukannya anda juga dari kalangan yang sama seperti kami?" tanya Kai dengan senyum miringnya.
"Ck.. kau pasti menyelidiki ku sampai kau tau nama belakangku." Kevin turut meminum sirup yang dihidangkan karena gugup.
"Benar seperti dugaan mu. Aku tau semuanya. Perusahaan D mengelola bisnis hospitality di bidang penginapan. Dan.."
"Cukup.. tidak perlu membicarakan semuanya."
__ADS_1
"Seperti yang kau mau."
Flova menganga mendengar semua perkataan Kai yang sangat detail mengenai Kevin.
"Kau mengenali identitasnya dengan baik, bahkan aku sebagai teman masa kecilnya, tidak tau dia memiliki marga Stone di belakang namanya." ucap Flova kagum.
"Lihat, anak kita ada di layar." Kai menepuk bahu Flova.
Seketika Flova melihat ke layar dengan kagum, melihat gambar putrinya yang sangat cantik. Alena menggambar seperti di sebuah hutan, terdapat bunga bangkai, burung cendrawasih, komodo, bendera Indonesia yang di tancapkan di atas batu dan ikatan kain batik di sebuah pohon begitu terlihat nyata dan di garapnya dengan teliti.
"Tunggu, Kai bilang anak kita?" batinnya bimbang dengan perkataan Kai , namun segera ia tepis dan kembali melihat ke arah layar.
"Wah, gambar Alena sungguh mengagumkan." puji ibu Desta.
Flova hanya tersenyum dan mengangguk. Kini layar tersebut memperlihatkan gambar Desta. Ibu Desta tersenyum senang melihat sang putranya menggambarkan sebuah pulau yang menonjolkan candi Borobudur, dan gunung Krakatau di sebelah kanannya.
Di bawah kedua gambar tersebut terdapat garis pembatas yang menunjukkan banyak biota laut seperti penyu belimbing dan terumbu karang serta beberapa ikan kecil ikut ia gambarkan di dalamnya.
"Sepertinya, tema lomba kali ini adalah tentang Indonesia." ucap Flova.
"Wah, gambar kedua anak itu sangat mengagumkan. Pasti mereka akan menjadi juaranya. Aku tidak tau Alena bisa sehebat itu." ucap Nehra.
"Hm.. itu keturunan dari ibunya. Dan, kecerdasannya diwariskan dari sang ayahnya. Aku sudah sering melihatnya, tetapi selalu kagum dengan apa yang ia buat." ucap Flova sembari melihat anaknya di layar besar tersebut.
"Kakak ipar, sepertinya kamu bukan dari orang biasa. Kenapa kamu tidak menggunakan marga keturunan?"
Flova termenung sejenak. "Hm.. maksud kamu? Aku tidak memiliki marga apapun karena aku memang dari keluarga yang sederhana."
"Bukankah orang tua kamu dahulu memiliki perusahaan? Apa kau tidak ingat?" tanya Nehra lagi.
Flova menyergitkan dahinya bingung dan menggelengkan kepalanya. Dan, tiba-tiba, Flova meringis di saat kepalanya merasa sakit.
"Flova." ucap Kai dan Kevin berbarengan.
"Sebaiknya, jangan berbicara lagi. Kamu tidak apa Flova ?" tanya Kai khawatir.
"Aku tidak apa." jawab Flova.
"Rasanya sakit setiap akan mengingat masa lalu. Aku hanya ingat Kevin adalah sahabatku, tetapi aku tidak tau dia memiliki marga. Sebagian kenangan ku juga hilang."
Flova termenung sembari mengingat mimpi tentang kecelakaan yang menimpa kakaknya dan dirinya.
__ADS_1
"Ah iya, pasti itu bukan mimpi. Aku terlibat di dalamnya. Jika tidak, mengapa aku bisa ada di rumah sakit 5 tahun yang lalu? Kenapa tak terpikirkan olehku sebelumnya? Aku akan mulai mencari tau tentang masa laluku." tekad Flova dari dalam hatinya.
//**//