Unlimited Love

Unlimited Love
Bab 19


__ADS_3

Hari menjelang sore, riuh ramai yang tadi siang sempat terjadi di rumah Rosa dan Clifford akhirnya selesai karena acara pernikahan Vioni dan Max sudah usai. Para keluarga dan kerabat yang tadi sempat datang pun, kini sudah mulai membubarkan dirinya masing-masing.


Vioni masih berada di dalam kamar pengantinnya. Dia sedang berusaha untuk membuka gaun yang dikenakannya itu.


"Astaga ... kenapa ini sangat sulit sekali untuk dibuka?" gerutu gadis itu sambil terus mencoba menggapai resleting gaunnya yang macet.


"Aku harus minta tolong siapa kalau seperti ini?" gumamnya lagi sambil terus berusaha menggapai resleting gaun itu.


Saat Vioni sedang kesusahan, tiba-tiba saja pintu kamarnya dibuka oleh seseorang. Pria dengan garis wajah tegas itu menghampiri Vioni yang masih belum menyadari keberadaannya. Siapa lagi kalau bukan Maximilian Green, pria yang kini dudah sah menjadi suami Vioni.


"Apa kau memang tipe wanita yang tidak bisa berkata 'Tolong?" tanya Max secara tiba-tiba hingga membuat istrinya itu terkejut.


"T–tuan, apa yang sedang Anda lakukan di kamarku?" tanya Vioni berbalik arah sambil menyilangkan dadanya. Dia benar-benar terkejut atas kedatangan Max yang secara tiba-tiba masuk ke kamarnya.


"Kamarmu?" tanya Max dengan menaikkan sebelah alis serta memangku kedua tangannya di depan dada.


Vioni menganggukan kepalanya. "Iya, ini kamar–"


"Kamar kita! Ya, itu adalah jawaban yang tepat," putus Max saat Vioni hendak mengklaim bahwa kamar itu adalah miliknya sendiri.


Vioni terdiam sesaat karena dirinya lupa kalau saat ini statusnya sudah berganti sebagai seorang istri. Dia lupa kalau tadi pagi baru saja mengadakan upacara pernikahan.


"A–akh, iya, maaf, Tuan, aku ... a–"


"Jangan bilang kamu lupa kalau kita sudah menikah?" tanya Max saat melihat reaksi Vioni menjawab pertanyaannya dengan terbata-bata tadi.


Vioni meringis kecil karena Max mengetahui pikirannya.


"Sekali lagi aku minta maaf. Kalau Anda mau menggunakan kamar ini, silakan saja. Biar aku yang mencari kamar lain," ucap gadis itu sembari sedikit menundukkan tubuhnya. Dia benar-benar merasa malu karena dirinya sempat melupakan status barunya itu.

__ADS_1


"Tidak perlu. Kita tidak akan tidur di sini. Aku datang kemari hanya karena bosan menunggumu yang terlalu lama bersiap-siap," jawab Max.


"Eh, apa maksud Anda kita akan langsung pindah, Tuan?"


"Apa kamu keberatan karena akan pergi meninggalkan keluarga tercinta ini?"


Keluarga tercinta? tanya Vioni dalam hatinya. Akh, iya ... aku lupa kalau sekarang aku sedang bersandiwara menjadi anak kesayangan keluarga ini, sambung gadis itu sambil tersenyum miris.


"Kenapa kau diam? Apa kau keberatan keluar dari rumah ini?" ulang Max lagi karena pertanyaan pertamanya tidak dijawab oleh Vioni.


Vioni langsung tersadar dari lamunannya dan segera menggelengkan kepala. Dia tidak boleh sampai membuat pria yang baru saja menjadi suaminya itu kesal hanya karena hal sepele.


"Tidak. Aku ... aku akan langsung ikut dengan Anda, Tuan," jawab Vioni dengan yakin.


"Baguslah, memang seperti itu. Sekarang cepatlah bersiap! Aku akan menunggumu di sini!" Max berjalan menuju tempat tidur pengantin berada. Dia duduk di sana sebelum memilih untuk membaringkan setengah badannya dengan kaki yang menjuntai ke bawah.


"Kenapa masih diam di sana? Apa kamu tidak mendengar perkataanku tadi?" tanya Max karena melihat Vioni yang hanya diam saja duduk di atas tempat tidur, dengan wajah gelisah.


"Itu ... Tuan, bisakah Anda memanggilkanku seorang pelayan? Aku–"


"Aku bukan pelayanmu! Untuk apa aku menuruti perintahmu?" Lagi-lagi Max memotong perkataan Vioni, sebelum gadis itu menyelesaikan ucapannya.


"Aku hanya ingin meminta tolong saja, Tuan. Aku tidak mungkin keluar dengan gaun yang sudah sedikit terbuka seperti ini," jawab Vioni sambil menundukkan kepalanya.


Mendengar jawaban Vioni, Max pun bangkit dari tidurnya dan segera menghampiri gadis itu.


"Anda mau apa, Tuan?" tanya Vioni yang terkejut karena Max tiba-tiba menghampirinya dan berdiri tak jauh darinya.


"Aku yang akan membantumu," jawab pria itu yang langsung membuat Vioni menjauhkan tubuhnya.

__ADS_1


"Kenapa? Bukankah kau butuh bantuan?"


"A–aku ... aku tidak bisa membiarkanmu membantuku," jawab Vioni dengan gugup karena Max semakin mendekatinya.


Melihat reaksi Vioni, Max semakin mendekatinya. Entah kenapa hatinya tiba-tiba merasa senang karena bisa menjahili gadis yang ada di hadapannya itu.


"Biarkan aku membantumu!" ucap Max lagi seraya mengulurkan tangannya yang langsung ditepis oleh Vioni.


"Ti–tidak perlu, Tuan! Aku bisa sendiri!" Vioni bangkit dari tidurnya seraya menolak bantuan dari Max. Dia berjalan dengan cepat meskipun kesusahan menuju kamar mandi.


Max mahela napas panjang saat melihat reaksi Vioni layaknya orang yang ketakutan.


"Rupanya rumor hanyalah rumor ...," gumam pria itu sambil terus menatap punggung istrinya yang mulai menghilang di balik pintu kamar mandi.


Ya, kemarin Max sempat meminta Astron untuk mencari tahu seluk beluk jati diri istrinya sebelum hari pernikahan tiba, tetapi asistennya itu sedikit terlambat dan baru saja mendapatkan informasi lengkap tersebut setelah acara akad selesai. Dari sana Max juga mengetahui kalau Vioni adalah gadis yang pernah ditemuinya di rumah sakit, yang itu juga berarti kalau Vioni merupakan salah satu pasien Bryan.


"Bagaimana bisa istriku mempunyai keluarga toxic seperti ini?" gumamnya lagi sembari kembali duduk di atas kasur. Tatapan pria itu mengeliling ke ruangan tersebut. Meskipun kamar yang ditempatinya kini terlihat cantik oleh hiasan pengantin, tetapi hal itu justru tidak membuatnya senang karena dia bisa menebak sesimpel apa kamar itu.


"Sungguh berbeda jauh dengan kamar-kamar yang ada di rumahku," cibir pria itu setelah melihat setiap sisi ruangan kamar Vioni.


...----------------...


Setelah masuk ke kamar mandi, vionik ini menatap pantulan dirinya di cermin. Riasan yang tadi pagi memang masih terlihat sangat bagus dan rapi, tapi tidak sama bagusnya dengan hatinya yang kini gelisah, apalagi saat mengingat kalau di dalam kamarnya ada sesosok pria lain yang merupakan suaminya itu.


Ya Tuhan ... apa yang harus aku lakukan sekarang? Tidak mungkin jika aku terus berdiam diri di sini, sementara ada orang lain yang sedang menungguku di luar sana, batin Vioni sambil terus memikirkan bagaimana caranya dia membuka gaun yang masih melekat di tubuhnya. Gara-gara mengikuti permintaan dari tantenya yang ingin gaun itu tampak cantik di tubuh Vioni, para pekerja butik jadi sedikit memperkecil ukurannya, hingga kini jadi Vioni sendiri yang kesulitan karena gaun itu sulit untuk dibuka.


Berbagai cara dilakukan oleh gadis itu agar gaun yang dikenakannya bisa dibuka, tetapi dia masih saja kesulitan untuk menggapai resletingnya.


Akh, Aku benar-benar tidak mau menikah lagi jika membuka gaun saja sampai sesulit ini, gerutu Vioni sambil duduk di atas kloset menarik nafasnya beberapa kali. Baru saja menyandang status sebagai istri, tapi dia sudah sangat kesulitan. Itulah yang dipikirkan oleh Vioni.

__ADS_1


__ADS_2