Unlimited Love

Unlimited Love
50. "Aku minta maaf."


__ADS_3

Mereka berbincang di sebuah taman rumah sakit yang tidak jauh dari ruangan Flova di rawat. Dengan tatapan tajam ia melihat Kevin yang menatapnya dengan tatapan yang sama.


"Siapa yang memberitahu mu?" tanya Kevin.


"Aku suaminya dan berhak tau apa yang ia alami." jawab Kai.


"Iya, memang kamu saat ini adalah suaminya saat ini. Tetapi, akan ada saatnya kamu akan pergi dari hidup Flova."


Kai sedikit terkejut dan mendekat ke arahnya dengan mata melotot.


"Apa maksud kamu?"


"Aku sudah tau semuanya bahwa pernikahan kalian hanya sebatas di atas kertas saja bukan?" Kevin mendekatkan dirinya lebih kepada Kai sembari tersenyum miring.


Kai menjauhkan dirinya dan melihatnya dengan bingung.


"Bagaimana..."


"Aku sahabat masa kecilnya. Dia sudah terbiasa untuk berterus terang kepada ku. Jadi, tak heran lagi jika ia memberitahukannya langsung kepadaku."


Ingin rasanya Kai memukulnya, namun seseorang datang dan menarik lengannya.


"Ayah, bunda sudah bangun. Ayo kita lihat dia."


Kai meliriknya dan langsung saja meninggalkan di tempat. Dengan segera Kai dan Alena masuk ke ruangan Flova.


"Kai?" tanya Flova bingung dengan nada suara yang lemah.


"Kenapa tidak bilang kepadaku bahwa kamu sakit?"


"Untuk apa! lagipula itu tidak penting bukan?" ucap Flova dengan cuek.


"Iya aku salah.. a.. aku.."


Flova terus melihat ke arahnya dengan tatapan bingung dan heran.


"Tuan Kai, aku tau kau.."


"Aku minta maaf."


Kai menyelanya sebelum Flova mengakhiri perkataannya sehingga membuatnya bingung dan tidak karuan.


"Terlambat tuan Kai. Aku sedang tidak ingin melihatmu di sini, lebih baik pergi saja."


Alena yang sedari tadi menunggu di pintu bersama dengan Kevin pun lekas menghampiri Flova yang terbaring di ranjang rumah sakit.


"Bunda, ayah sudah minta maaf. Bunda, maafkan ayah." pinta Alena.


"Tidak Alena. Ingat ya, ayah sudah memarahi Alena dan Kai juga bukan ayah Alena."


Alena cemberut sembari menggelengkan kepalanya. Ia pun memeluk Kai yang ada di sampingnya.


"Engga, ayah Kai adalah ayah Alena. Bunda harus tau itu."


"Hei Alena. Kamu ini anak bunda, sini sama bunda."


Flova melebarkan tangannya dengan lebar, namun Alena tetap menggelengkan kepalanya dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Tidak bisa terus seperti ini." batin Flova.


"Aduh.." Tiba-tiba Flova kesakitan dan memegang kepalanya. Alena dan Kai pun panik. Seketika Kevin juga turut masuk ke dalam ruangannya.


"Flova, kamu tidak apa-apa?"


Kai dan Kevin berbicara secara bersamaan. Merekapun saling menatap satu sama lain dengan tatapan tajam menusuk mereka.

__ADS_1


"Bunda apa yang sakit?" tanya Alena takut dan khawatir.


"Eh.. bunda hanya pusing. Tolong ambilkan bunda air ya Alena."


"Biar aku saja." Kai dan Kevin lagi-lagi berbicara secara bersamaan. Keduanya langsung berdiri tegak menatap satu sama lain. Kai dengan gayanya melinting kemeja putihnya dan Kevin hanya melipat kedua tangannya.


"Biar aku yang ambil." Kai angkat bicara.


"Aku saja." Kevin juga tidak mau mengalah.


Flova dan Alena sama-sama menghela nafas panjang melihat dua orang yang ada di depan mereka.


"Keluar lah! Melihat kalian ribut, hanya semakin membuatku merasa pusing." keluh Flova yang tidak dapat ia bendung lagi.


"Baiklah, aku akan keluar Flova. Jaga diri kamu baik-baik." ucap Kevin mengalah.


"Baguslah jika kau sadar diri."


Kevin menghela nafas panjang. Kai pun dengan semangat menuju ke arah dispenser yang ada. Sedangkan Kevin memilih untuk keluar.


"Bukan kau Kevin." Kai dan Kevin sama sama menghentikan langkahnya dan melihat Flova dengan bingung.


"Maksudku adalah Kai yang harus keluar dari ruanganku. Bukan, Kevin." lanjut kata Flova yang sengaja ia jeda.


"Kenapa harus ayah, bunda?" tanya Alena dengan kaget.


"Alena, bunda sedang sakit sekarang. Bisakah Alena menuruti bunda hari ini saja?" tanya Flova penuh dengan harapan.


Alena menatap Kai dengan bingung dan juga tatapan sedih. Ia pun kembali menatap Flova dan memeluknya.


"Maaf Alena, bukan maksud bunda menjauhkan mu dari Kai, tetapi memang karena semua yang terjadi adalah sebuah kepalsuan."


"Iya bunda. Maaf ya, Alena selalu tidak menuruti Bunda."


Kai yang mendengar pernyataan tersebut pun melangkah dengan lebar keluar dari ruangan Flova. Dan akhirnya Flova pun bisa bernafas dengan lega. Kini, Kevin mengambil air dan memberikannya kepada Flova.


Flova mengangguk dan berusaha untuk bangun. Ia di bantu oleh Kevin dan kembali memberikan gelas berisi air putih. Alena yang melihat Flova sedang di rawat oleh Kevin memilih untuk duduk di sofa sembari melihat buah dan juga bunga yang di bawa oleh Kai sebelumnya. Alena juga sesekali memperhatikan Flova yang hanya tersenyum sekilas-sekilas saja di saat ia bersama dengan Kevin.


"Aku tau bunda juga menyukai ayah, tetapi bunda terlanjur di landa cemburu dan juga sakit hati. Aku akan mencoba membujuk agar mereka baikan nanti."


Sementara itu, Kai memilih untuk duduk di depan ruangan Flova sembari menenangkan diri. Terlihat, ibu Flova, Nehra dan Steffa berlari kecil ke arahnya.


"Kai, kamu sudah kembali nak?" tanya ibu Flova dengan khawatir.


"Iya Bu, setelah mendengar kabar dari guru Alena, saya langsung kembali ke sini." jawab Kai.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Steffa.


"Dia sudah baik-baik saja. Kalian sudah bisa menjenguknya di dalam."


Ibu Flova dan Steffa pun memutuskan untuk masuk menjenguknya. Sedangkan di ini, Nehra memilih untuk duduk bersamanya.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Nehra penasaran.


"Tidak apa. Sedang ada tamu di dalam, jadi aku memilih untuk keluar." jawab Kai berbohong karena gengsi.


Nehra memilih mengangguk percaya dengan perkataan Kai. Kemudian Nehra pun izin untuk menjenguk Flova di dalam ruangannya. Ia kaget melihat seorang laki-laki asing sedang ada di ruangan tersebut sedang asik mengobrol dengan ibu Flova.


"Flova, bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya Nehra kepada Flova.


"Aku baik-baik saja sekarang." jawab Flova.


"Beruntung ada Kevin. Ia yang membawanya pagi tadi." ucap ibu Flova.


"Siapa dia?" ucap Nehra sembari berbisik di telinga Steffa.

__ADS_1


"Ish.. jaga bicaramu. Ini adalah guru Alena sekaligus sahabat masa kecil Flova." jawab Steffa balas berbisik.


Nehra mengangguk paham dan membiarkan mereka di dalam. Ia kembali ke luar dan menemui Kai yang duduk bersandar sembari memejamkan matanya.


"Hei bro. Kau pasti cemburu." ucap Nehra sembari menyikutnya.


Kai mengusap lengannya dan tetap dengan posisi yang sama.


"Aku tidak cemburu. Hanya saja.." Kai menghentikan perkataannya.


"Hanya saja apa? Tidak ada kata lain selain cemburu. Apalagi, Kevin dan Flova adalah sahabat dari kecil. Mereka memiliki hubungan lebih erat dan tidak mungkin salah satu dari mereka yang tidak memiliki perasaan."


Kai dengan cepat menggelengkan kepalanya dan menatap Nehra dengan tatapan yang serius.


"Ayolah brother. Tidak perlu kamu tutupi lagi. Kau mencintainya. Sangat jelas di matamu." ucap Nehra sembari merangkulnya.


"Bukan begitu. Ah.. sudahlah. Kamu tidak akan pernah bisa mengerti." ucap Kai yang tidak mengatakan berterus terang.


Tak lama kemudian, Kai di panggil masuk oleh sang ibu Flova.


"Kai, jaga Flova di sini ya. Kami akan pamit. Dan, beritahu kami jika ada hal yang di perlukan. Dan, beritahu kami pula jika Flova sudah di ijinkan untuk pulang. Alena juga harus pulang. Ia bahkan belum ganti baju dan makan siang." ucap sang ibu Flova.


"Iya ibu. Maaf merepotkan ibu." ujar Flova.


"Tidak merepotkan. Alena adalah cucu ibu. Kamu jaga diri baik-baik."


Sang ibunya mencium kening putrinya dengan lembut sekejap dan memberikan senyuman manis kepadanya.


"Flova, aku juga sepertinya harus pergi." ucap Kevin yang berpamitan pamit setelah sang ibunya pergi.


"Hm.. tak apa. Terimakasih bantuannya hari ini. Lain kali, aku akan membalasnya."


"Aku sukarela membantumu cepatlah sembuh."


Usai semua berpamitan pulang, kini hanya ada Kai dan Flova di dalam ruangannya. Hanya sebuah keheningan semata. Tanpa saling menatap satu sama lain dan sibuk dengan ponselnya masing-masing.


"Tok.. tok.. tok..."


Suara ketukan pintu memecah keheningan mereka. Kai pun dengan cepat bangkit dari duduknya. Terlihat sang dokter berdiri di depan pintu dan langsung Kai persilahkan masuk.


"Saya akan mengecek kondisi nona Flova dan mengambil Sempel darah untuk memastikan nona Flova baik-baik saja. Untuk itu, nona Flova di perbolehkan pulang usai Sempel darah tersebut keluar dan juga agar memastikan demam ini tidak hadir secara tiba-tiba."


Kai menyetujui perintah sang dokter tersebut. Flova yang sedikit takut jarum hanya bisa menutup matanya. Kai pun dengan sigap menutupi mata Flova. Usai mengambil darah, sang dokter pun pamit pergi.


"Apa tadi menyakitkan?" tanya Kai memecah suasana hening di antara mereka.


"Tidak. Tidak sakit sama sekali." elak Flova.


Tiba-tiba, seseorang mengetuk pintu kembali dan Kai kembali membukakan pintu untuk orang tersebut. Melihatnya orang tersebut masuk, Flova hanya memutar bola matanya malas karena orang itu tak lain adalah Rosan.


"Pelakor datang lagi." batin Flova.


"Rosan? Bagaimana kamu tau aku ada di sini?" ucap Kai bingung.


"Kebetulan aku melihat asistenmu di mall saat aku berbelanja. Dan ia memintaku memilihkan pakaian ganti untukmu. Ku pikir kamu di kota B, tapi ternyata kamu kembali karena dia yang terbaring jatuh sakit di sini. Wah, sangat beruntung aku tidak apa-apa. Dan, ibaratkan sekarang dia yang mengganti posisiku untuk berbaring di ranjang rumah sakit."


"Jaga ucapanmu Rosan. Terimakasih sudah repot-repot mengantarnya langsung kepadaku sebaiknya kau pergi." ucap Kai.


"Setidaknya ia harus minta maaf terlebih dahulu dan baru aku akan pergi."


"Jangan buat keributan di sini Rosan. Pergilah dari sini."


Tidak ada yang bisa Rosan lakukan lagi selain pergi. Ia pun melirik tajam ke arah pintu sembari tersenyum miring.


"Liat saja Flova. Ku pastikan kau dan anak itu meminta maaf kepadaku sembari berlutut suatu hari ini."

__ADS_1


Ia pun pergi dengan gayanya meninggalkan rumah sakit begitu saja.


//**//


__ADS_2