
Sore hari pun tiba, Flova menunggu Kai di tempat istirahat sembari memijat pundaknya yang terasa pegal-pegal. Tiba-tiba, seseorang membantunya. Flova sontak kaget dan melihat ke arah belakangnya. Benar, itu adalah Kai. Alena juga menghampirinya untuk memberikan minum kepadanya. Flova lekas meminum air yang di bawakan oleh putrinya itu hingga setengah botol. Usai minum, merekapun memutuskan untuk pulang.
"Bagaimana latihanmu?" tanya Kai.
"Lumayan.. hehe.." ucapnya terkekeh.
Kai mengangguk paham, lalu kemudian mempercepat laju kendaraannya agar cepat-cepat sampai ke rumah, karena ia tau pasti Flova sangatlah lelah.
...******...
Esoknya, Kai menjalani hari seperti kemarin. Mengantar Alena, Flova, dan pergi ke kampus. Setelahnya, baru ia bisa pergi ke kantornya sekaligus menjemput Alena.
Kai yang sampai di kantornya pun kembali merancang sebuah produk setelah produk kalungnya berhasil di promosikan hingga ke luar negeri dengan sukses. Namun, ia tetap tidak luput untuk terus mengembangkan produk sebelumnya.
Saat makan siang, sang ibu datang ke kantor Kai. Kai sontak kaget dan menyambut kedatangan sang Ibunya.
"Mama, untuk apa mama datang kemari?" tanya Kai dengan bingung.
"Hanya, mengantarkan makan siang untuk mu dan Alena." ucap Joanna.
"Kalau begitu, aku akan memanggil Alena untuk makan di sini bersamaku."
Sang ibu Kai menghentikan Kai dengan memegang lengan tangannya sembari tersenyum.
"Duduklah, Alena akan mama suapi nanti. Mama mau bertanya kepadamu."
Kai sedikit meringankan kepalanya dengan bingung, dan ia pun kembali duduk di tempatnya.
"Ada apa ma?" tanyanya penasaran.
Joanna pun tak ragu lagi untuk mengeluarkan ponselnya. Kai menaikkan alisnya bingung. Joanna menunjukkan foto yang di berikan semalam oleh Rosan dan memperlihatkan kepadanya. Kai memperbesar gambar tersebut dan matanya langsung tertuju kepada anak perempuan yang sedang di tuntun oleh anak laki-laki di sebuah taman bermain.
"Apa kau kenal gadis ini?" tanya Joanna.
Kai mengangkat kedua alisnya dan melamun, mencoba mengingat sosok gadis kecil yang ada di gambar tersebut.
FLASHBACK ON
Kai berjalan bersama dengan 4 orang dewasa, 1 anak kecil serta 1 orang remaja seusianya. Mereka berkeliling di sebuah pabrik pembekuan kalung emas atas kerja sama antara perusahaan X dan perusahaan BNF.
BNF sendiri merupakan penghasil emas dan berlian terbesar di negara K. BNF juga membuat kalung dari emas, perak, berlian, diamond dan mutiara. Produk-produknya pun sudah di sebarkan di seluruh penjuru negeri.
BNF sendiri di bangun oleh sang pengusaha 24 tahun kala itu. Namun, kerjasama antara keduanya mulai di bangun sekitar 13 tahun lamanya, yang pada kala itu perusahaan X masih dalam tahap perkembangan. Dan satu tahun setelah perusahaan X sukses, barulah mereka berani untuk bekerja sama dengan perusahaan BNF. Dan kini, usia pemimpin perusahaan BNF berusia 38 tahun.
BNF sendiri di pimpin oleh Nelson. Pada saat pertemuan itu, Nelson sudah di karuniai 2 orang putri yang cantik. Nelson datang bersama sekretarisnya, Nuan. Nelson juga membawa putri kecilnya, yakni Flova.
"Tuan, ini merupakan proyek dimana semua kalung itu diproduksi sesuai dengan kebutuhan serta desain-desain yang sudah di rancang." ucap Nuan, sang sekretaris Nelson.
Sekretaris Nelson menggambarkan dan menceritakan dengan baik, setiap proses pembentukan mentah hingga hasil jadi di setiap mesin yang mereka jelajahi. Kai dan Danur, dua remaja berusia 18 tahun, hanya membuntuti dari belakang.
Danur merupakan anak dari pemimpin perusahaan HILS. Perusahaan HILS sendiri di pimpin oleh Amar. Perusahaan HILS juga memiliki standar yang sama seperti perusahaan BNF. Tetapi perusahaan HILS itu sendiri mendapatkan tambang emas terbesar dari negara I, dan di produksi kan di negara K.
Merasa bosan, akhirnya Kai dan Danur pun memutuskan untuk berhenti sejenak dan mengobrol bersama. Namun, posisi mereka tetap di belakang para orang dewasa tersebut.
"Sangat bosan membahas tentang perusahaan. Aku lebih tertarik di bidang kedokteran." ucap Kai.
__ADS_1
"Mengapa? ini sangat menyenangkan bagiku." jawab Danur.
"Huh.. rasanya aku ingin pulang ke laboratorium." keluh Kai.
Ayah Kai diam-diam memperhatikan gerak gerik Kai dan Danur yang berbicara sendiri. Ia pun merasa kesal dengan putranya.
"Kai, perhatikan setiap sudut proyek ini. Kamu harus belajar, karena suatu saat kamu pasti akan memegang perusahaan papa." ucap Carron dengan tegas.
"Memangnya apa yang membuat kalian berbicara sendiri?" tanya Amar, sang ayah Danur penasaran.
"Kami hanya berdiskusi satu sama lain pah." jawab Danur berbohong.
"Baguslah, berdiskusi lah dan akrab lah mulai dari sekarang. Karena di masa depan nanti, kamu juga yang akan memimpin perusahaan papa." ucap Amar dengan tegas.
"Beruntung kalian memiliki seorang putra yang gagah nan tampan, serta bisa di andalkan." ucap Nelson sembari melihat putrinya.
"Menantumu yang nantinya akan memegang peranan mu nanti. Anak-anak mu sangatlah cantik, pasti banyak lelaki yang mendekati mereka berdua." timpal Carron.
"Benar, bisa jadi juga kedua anakmu nanti, akan menjadi salah satu menantu kami nanti.. hahaha.." ucap tuan Amar sembari terkekeh.
"Hahaha.. putri-putriku masih sangat kecil. Sebaiknya, kita lanjutkan berkeliling." ajak Nelson.
Akibat keasikan mengobrol satu sama lain, mereka tidak menyadari, bahwa anak kecil berusia 8 tahun itu tidak ada di sekitar mereka.
"Anak tuan Nelson. Dimana dia?" tanya Nuan, sang sekretarisnya.
Mereka berenam menengok ke kanan dan kiri mereka. Mereka juga mencari di sekeliling ruangan yang mereka tempati, namun tidak satupun terlihat dimana bocah kecil itu berada.
Hanya Kai yang melihat ke atas untuk mencari apakah ada CCTV atau tidak di sekitar mereka. Kai pun menepuk pundak Danur dan menunjuk ke arah CCTV.
"CCTV." Danur berfikir sejenak. Alhasil mereka berfikir hal yang sama.
"Siapa kalian!?" tanya sang penjaga sekaligus kaget.
"Aku anak tuan Carron, dan dia adalah anak tuan Amar. Kami ke sini untuk mencari anak kecil berusia 8 tahun melalui CCTV."
Mengerti bahwa keadaan saat ini genting, sang penjaga pun mempersilahkan kedua remaja itu untuk masuk. Karena terlalu banyak ruang dan CCTV yang terpasang membuat sang penjaga kewalahan. Akhirnya, Kai dan Danur pun turut andil dalam pencarian Flova.
Di lihatnya dengan detail setiap ruangan yang mereka lewati bersama. Hingga beberapa menit kemudian, Danur menemukan petunjuk mengenai keberadaan Flova.
"Hei, gadis kecil itu terpisah di dua ruangan sebelum kita sampai di tempat pembekuan Kalung." ucap Danur.
"Jam berapa itu?" tanya Kai.
Danur melihat waktu yang ada di CCTV tersebut dengan teliti. "Pukul 13.11."
Kai melihat ke arlojinya yang menunjukkan pukul 13.32. Ia kaget dan melihat ke arah Danur dengan panik.
"Sudah sekitar 21 menit dia menghilang. Terus mencari." ucap Kai.
Sekitar satu menit kemudian, Kai pun menemukan dimana Flova menghilang. Ia pun memperhatikan jam yang ada di CCTV tersebut.
"Haissh.. dia ada di ruang penyimpanan Es batu. Sudah sekitar 15 menit yang lalu. Sebaiknya kau yang panggil orang tuanya untuk keluar dari sana dan aku akan menyelamatkannya. Cepat! dan penjaga, panggil ambulan sekarang juga, agar anak itu bisa langsung di bawa ke rumah sakit." perintah Kai yang di turuti oleh keduanya.
Kai dengan cepat berlari ke tempat dimana Flova berada. Beruntung ia memiliki badan yang tinggi dan kaki yang panjang sehingga hanya butuh waktu beberapa menit, ia sampai di ruangan tersebut. Kai membuka kuncinya dengan tepat, dan langsung mendapati Flova tergeletak di atas lantai.
__ADS_1
Kai pun segera menutupi tubuh Flova dengan jas yang di kenakannya. Dengan cepat pula, ia menggendong Flova dengan erat di pelukannya. Segeralah tubuh Flova di bawanya keluar dari proyek tersebut.
"Bagaimana dengan Flova?" tanya Carron panik.
"Flova tidak baik-baik saja. Bagaimana, ambulan sudah datang?" tanya Kai sembari mengatur nafasnya.
"Sepertinya jalan sedang macet." jawab Danur.
"Sepertinya kau lelah, sebaiknya saya yang membawanya." ucap Nelson.
Kai yang berkeringat bercucuran di wajahnya memilih menggelengkan kepalanya.
"Tidak.. sebaiknya tuan Nelson, kita harus cepat membawanya ke rumah sakit."
"Baiklah, bawa putriku ke dalam mobil. Dan, aku akan pergi terlebih dahulu. Aku akan bawa Kai sebentar."
Semua rekannya mengangguk. Nuan sekretarisnya juga turut ke mobil sang bos-nya.
"Tolong, tetaplah bertahan..hosh..hosh.." Kai berlari kencang sembari mengatur nafasnya.
Begitu di dalam mobil Kai tetap mendekap Flova agar memastikan tubuhnya tetap hangat.
Begitu ia sampai di rumah sakit, Kai langsung membawanya ke ruang IGD. Posisi Flova yang terus mencari kehangatan Kai harus membuat Kai ikut dalam proses pemeriksaan tubuh Flova. Beruntung ia sedang kuliah di fakultas kedokteran sehingga ia di perbolehkan masuk, terlebih lagi itu merupakan rumah sakit milik sang ayah.
Terus di genggam tangan Kai oleh Flova selama ia terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang. Selang beberapa waktu menunggu, Flova pun tersadar.
"Kakak.." ucapnya lirih.
"Tidak perlu berbicara, kakak ada di sini. Kakak akan panggil orang tua kamu dulu." ucap Kai sembari tersenyum.
Kai memutuskan bangkit dari duduknya berniat untuk memanggil orang tuanya. Namun, Flova terus menggenggam tangannya. Flova termenung sejenak dan seketika dia merasa ketakutan.
Mengetahui Flova trauma, Kai lantas saja memeluknya dan mengelus-elus punggung kecilnya.
"Jangan takut. Kakak akan tetap di sini. Kakak hanya perlu menelepon sebentar."
Remaja tersebut pun menelepon sang ayahnya karena ia tidak memiliki nomor ponsel Nelson. Selagi menelepon Flova terus menggenggam erat tangannya sembari menatapnya.
Selesai menelepon orang yang di panggil kakak tersebut tersenyum manis ke arahnya dan mengelus puncak kepalanya. Flova pun turut membalas senyumannya dengan imut.
"Kak, besar nanti kita menikah ya." ucap Flova secara tiba-tiba dan membuat Kai kaget.
"Hmm... kamu masih kecil, kenapa kamu berfikir seperti itu? Memang apa alasannya?" tanya Kai terkekeh.
"Karena kakak tampan dan baik hati." jawab Flova dengan pujiannya.
"Kamu hanya anak kecil yang belum tau apa-apa?"
Kai membuat Flova yang terbaring itu tertawa lepas di saat Kai mencubit pelan hidung Flova.
FLASHBACK OFF
"Aku menemukan anak itu. Iya, dia adalah gadis kecil yang aku selamatkan 14 tahun yang lalu. Siapa dia?" tanya Kai dengan semangat kepada sang ibunya.
"Dia adalah Flova." jawab sang ibu.
__ADS_1
Kai kaget dengan perkataan sang ibunya. Ia tidak percaya dengan apa yang di katakan nya. Karena gadis yang ia tolong pada saat itu adalah anak orang kaya raya, sedangkan Flova yang ia kenal adalah gadis dari keluarga sederhana.
//**//