
Vioni kembali masuk ke kamarnya setelah ditahan oleh sang tante selama hampir satu jam lamanya. Di sana dia banyak ditanya-tanyai alasan kenapa pulang terlambat dan menolak pertemuannya dengan Vanila. Meskipun Vioni sudah menjelaskannya dari awal, tapi tetap saja Resa menolak alasan tersebut hingga akhirnya Vioni meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan seperti hari ini lagi.
Hah, kenapa hanya aku saja yang diperlakukan seperti ini oleh mereka? Apa bedanya aku dan Vanila? Kenapa mereka tidak bisa bersikap adil padaku dengan alasan aku lebih sehat daripada dia? gumam gadis itu seraya menatap seluruh isi kamarnya.
Vioni segera menutup pintu kamar dan meluruhkan tubuhnya. Dia menangis tersedu-sedu seorang diri sore itu. Terkadang gadis itu merasa lelah dengan apa yang dijalaninya, tapi tak berdaya untuk keluar dari lingkaran belenggu itu. Tak ada bedanya dia dengan kambing hitam yang selalu menjadi tempat pelampiasan amarah orang-orang terdekatnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah cukup meluapkan perasaannya dengan menangis, Vioni pun bangkit dan segera membersihkan diri. Dia ingat pesan Dokter Bryan agar tidak terlalu stres karena hal itu akan memicu otaknya bekerja dengan keras. Selain itu, Vioni juga tidak ingin orang-orang yang tinggal bersamanya mengetahui apa yang sedang terjadi padanya.
Suara ketukan pintu terdengar begitu Vioni selesai membersihkan dirinya. Gadis itu segera beranjak dan menghampiri pintu tersebut untuk membukanya.
"Nona, Tuan dan Nyonya menunggu Anda di ruang keluarga," ucap salah satu pelayan yang baru saja mengetuk pintu kamar Vioni.
"Om dan Tante?"
"Iya, Nona. Sekarang beliau sudah menunggu Anda di sana," jawab pelayan itu tanpa mengangkat kepalanya.
"O–oh. Baiklah. Setelah selesai merapikan diri, aku akan segera menghampiri mereka," jawab Vioni yang langsung diangguki oleh pelayan itu.
Setelah menyampaikan pesan dari kedua majikannya, pelayan itu pun pamit undur diri dari hadapan nona mudanya. Vioni sendiri segera merapikan penampilan dan menutupi wajah pucatnya dengan make up. Biar saja tantenya berpikir aneh tentang dia yang terakhir-akhir ini menggunakan riasan, Vioni tidak akan menanggapinya. Setelah penampilannya rapi seperti yang dia inginkan, Vioni pun segera keluar dari kamar untuk menemui om dan tantenya yang sudah menunggu.
Perkiraan Vioni tak meleset, om dan tantenya menatap dia dengan pandangan berbeda seolah mengatakan untuk apa di rumah dia harus memakai riasan make up.
__ADS_1
"Om, Tante, ada apa memanggilku?" tanya gadis itu begitu ia menghadap ke dua orang yang sudah membesarkannya.
"Duduklah!" perintah Marvel pada keponakannya.
"Vioni, sudah beberapa hari ini aku lihat kau selalu memakai riasan, meskipun di rumah sekalipun. Apa kau memiliki seseorang yang disukai, sehingga membuatmu terus-menerus menjaga penampilan?" tanya Resa begitu keponakannya duduk di hadapan dia dan suaminya.
Vioni menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Aku tidak sedang menyukai siapapun, Tante."
"Lalu, kenapa kau selalu berias? Tidak seperti biasanya."
Vioni duduk dengan gugup karena dia takut Resa akan mencurigainya sedang menyembunyikan sesuatu. Meskipun kenyataannya itu benar, tetapi Vioni tidak bisa membayangkannya. Mungkin hal terburuknya adalah mereka akan semakin mencemoohnya.
"T–tidak. Aku ... aku hanya sedang menyukainya saja," jawab gadis itu dengan terbata-bata. Dia sama sekali tidak berani menatap mata kedua orang dewasa di depannya. Jadi, yang dia lakukan hanyalah menundukkan kepala.
"Sudah, sayang! Kau tidak perlu membesar-besarkan hal ini. Sudah sepatunya gadis seumuran Vioni memang menjaga penampilannya agar tetap menarik. Kau tidak perlu mempermasalahkan hal itu," ucap Marvel pada istrinya.
"T–tapi!"
"Sayang, aku mempunyai berita yang lebih penting daripada ini," putus Marvel sebelum Resa kembali berbicara.
"Hal penting apa, sayang?" tanya Resa dengan penasaran.
"Kakeknya Tuan Max meminta agar pertunangan cucunya dengan Vioni dipercepat dan kalau bisa, mereka segera dinikahkan. Aku juga sudah membicarakan hal ini dengan Kak Clifford dan dia langsung menyetujuinya," ucap Marvel yang langsung membuat Vioni menengadah dan menatapnya dengan terkejut.
__ADS_1
"A–apa maksudnya, Om?" tanya gadis itu.
"Ya, seperti yang baru saja kau dengar. Kau dan Tuan Max tidak akan bertunangan, melainkan kalian akan langsung menikah," jawab Marvel dengan tenang.
Vioni tidak bisa lagi menyembunyikan keterkejutannya, gadis itu terdiam mematung dengan mata membulat sempurna.
Lelucon apa ini? Tidak cukupkah mereka mempermainkan perasaanku dan sekarang mereka sendiri memutuskan apa yang akan terjadi padaku? batin Vioni sambil menertawakan nasibnya di dalam hati.
"Sayang, apakah kabar bahagia ini sungguhan?" tanya Resa dengan bahagia. Bagaimana tidak, jika pernikahan di antara Vioni dan Max terwujud, maka bukan hanya keluarga Clifford saja yang diangkat derajatnya, melainkan dia dan suaminya juga akan turut mendapat kehormatan itu.
"Iya. Tuan Goufar sendiri yang mengatakan hal ini padaku tadi siang. Bahkan, dia langsung mendatangiku ke kantor secara khusus," jawab Marvel dengan senyuman bangga di bibirnya.
"Om, Tante ... bolehkah pernikahan ini diundur? Aku belum siap. Dan ... aku juga tidak mengenal siapa itu Tuhan Max dan bagaimana orangnya. Aku tidak mau menyesal di kemudian hari," pinta Vioni setelah dia berpikir sesaat. Tidak mungkin dirinya bisa membatalkan pernikahan politik itu, tapi setidaknya dia ingin mengenal pria yang akan menikahinya terlebih dulu.
"Vio, kau tidak mempunyai hak apa-apa di sini. Kami sudah membesarkanmu dengan baik dan sekarang tugasmu membalas budi atas apa sudah kami lakukan padamu!" tegas Resa dengan nada tinggi. Dia tidak ingin rencana yang sudah dirancang olehnya dan sang suami hancur berantakan akibat keinginan keponakannya itu.
"Tapi, Tan–"
"Vio, dengarkan Om baik-baik! Kau pasti tidak akan pernah menyesal sudah menikah dengan Tuan Muda Max. Dia pria yang baik dan juga selalu menyayangi orang-orang sekitarnya. Jika dia bukan orang baik, tidak mungkin dia akan menyetujui pernikahan ini dengan percuma," ucap Marvel mencoba untuk meyakinkan keponakannya.
"Tapi, Om ... aku belum siap menikah!" Vioni berusaha untuk tetap mundur pernikahannya dengan pria yang bernama Max itu. Dia tidak peduli kalau pria itu merupakan konglomerat atau apapun, Vioni hanya ingin bersama dengan pria yang benar-benar akan menjaga dan menyayanginya setulus hati.
Padahal permintaanku itu sederhana, tapi kenapa tak ada satupun dari mereka yang mau mendengarkanku dan menuruti keinginanku itu?
__ADS_1