Unlimited Love

Unlimited Love
Bab 15


__ADS_3

Seperti yang dikatakan Erich sebelumnya, dia akan mengikuti semua kegiatan yang dilakukan oleh Vioni hari ini. Sejak mereka berdua keluar dari butik, Vioni mengajak Erich makan siang bersama supaya pria itu mau pulang lebih dulu dan membiarkan dia pergi sendirian. Namun, pada kenyataannya setelah makan siang mereka, Erich sama sekali tidak beranjak jauh dari samping Vioni.


"Kak, apa kau akan tetap mengikutiku?" tanya Vioni dengan kesal. Dia sudah menunda pertemuannya dengan Dokter Bryan demi bisa mengalihkan perhatian Erich, tetapi pada akhirnya pria itu tak kunjung beranjak jauh darinya.


"Iya. Bukankah tadi aku sudah mengatakannya? Biar aku ulangi lagi, hari ini aku akan mengikuti semua kegiatanmu sampai malam nanti. Jadi, kamu tidak perlu takut sesuatu hal yang buruk terjadi padamu karena akan selalu ada aku yang melindungimu," ucap pria itu sambil tersenyum hangat pada adik perempuannya.


Vioni merasa terharu dengan ucapan Erich, tapi hari ini dia sedang tidak mempunyai waktu luang untuk bermain-main dengan kakak pertamanya itu. Jadi, yang ada Vioni merasa terganggu karena kehadirannya.


"Tapi, Kak–"


"Aku akan menolak penolakanmu, Vio. Aku sudah berjanji dari Surabaya mula, kalau hari ini aku akan menjadi bodyguard-mu," putus Erich dengan tegas hingga membuat Vioni mendesah kasar.


"Kakak, kau keterlaluan," geramnya.


"Aku tidak merasa aku sudah melakukan hal yang keterlaluan untuk adikku. Lagi pula, bukankah selama ini Vanila juga selalu mendapatkan perlakuan yang sama seperti dari Ayah dan Ibu? Lalu, bagaimana denganmu?"


Vioni menundukkan kepalanya. Ya, memang benar kalau Vanila selalu mendapatkan penjagaan dari ayah dan ibu karena dia adalah putri kesayangan mereka. Selain itu, Clifford dan Rosa melakukannya karena terlalu khawatir Vanila akan pingsan karena tubuhnya yang lemah. Berbeda dengan dia yang selalu dianggap sehat oleh kedua orang tua mereka.


"Aku bukan Vanila yang memiliki tubuh lemah, Kak. Aku gadis yang sehat. Jadi aku tidak perlu dijaga seperti itu," sahut Vioni dengan senyum tipis. Dia sungguh tidak menyukai pertanyaan yang diajukan oleh Erich padanya.


Wajah pria itu tiba-tiba mendatar setelah mendengar jawaban dari adik perempuannya. Bagaimana bisa Vioni berkata seperti itu sedangkan kemarin dia tiba-tiba pingsan dengan wajah yang memucat seperti mayat hidup? tanya Erich dalam hatinya saat dia mengingat bagaimana menceritakan kondisi Vioni beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


"Vio, apa yang membuatmu menolak perhatian dariku? Jika memang perbuatan Ayah dan Ibu tidak bisa kamu terima, setidaknya tolong jangan samakan aku dengan mereka. Aku sangat peduli padamu dan aku sangat ingin melihatmu tersenyum bahagia seperti dulu," ucap Erich dengan suara pelan dan nada yang rendah. Tentu saja hal itu membuat hati Vioni sedikit merasa tidak enak.


"Kak, aku tidak punya alasan untuk menolak perhatian darimu. Hanya saja–" Aku tidak ingin membuatmu khawatir dengan kondisiku saat ini. Tentu saja perkataan terakhir itu tidak dikatakan langsung oleh Vioni pada Erich.


"Kenapa kau tidak meneruskan perkataannmu?" tanya Erich saat melihat adiknya menunduk.


"Tidak ada," sahut Vioni dengan bibir yang mengulas senyum tipis.


Erich mendengus kesal. Lagi-lagi ekspresi wajah seperti itu yang diperlihatkan oleh Vioni padanya.


"Ya sudah kalau memang kamu tidak mempunyai rahasia apapun, biarkan aku menemanimu hari ini," ucap Erich dengan tegas sambil berdiri dari tempat duduknya dan mengulurkan tangan tepat di depan Vioni.


"Ayo!"


Terserah dia saja lah, aku tidak peduli kalau Erich mengetahui penyakitku, batinnya.


"Sekarang, katakan tujuanmu akan ke mana? Aku yang akan mengantarkannya!" seru Erich yang merasa puas karena Vioni tidak lagi menolak keberadaannya.


"Antarkan aku ke rumah sakit!"


"Ya? A–apa? Kenapa kita harus ke rumah sakit?" tanya Erich terkejut dengan permintaan adik perempuannya. Padahal, dia mengira kalau Vioni akan menemui pria lain yang mungkin merupakan kekasihnya, tapi sungguh diluar dugaan saat mendengar permintaan Vioni yang malah memintanya pergi ke rumah sakit.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Vioni saat melihat ekspresi wajah kakaknya yang tampak terkejut.


"Tunggu, apakah kasihmu sekarang bekerja di rumah sakit? Apakah dia dokter spesialis atau dokter umum?"


"Hah? Kekasih?" Vioni justru tidak mengerti dengan arah pembicaraan dari kakak pertamanya.


"Iya, kekasih, ada apa? Kenapa kau seperti orang yang tidak mengerti dengan arah pembicaraanku?"


"Tentu saja aku tidak mengerti dengan semua maksudmu, Kak. Aku ke rumah sakit bukan untuk bertemu dengan kekasihku. Selama ini juga aku tidak pernah mempunyai kekasih. Lalu, kenapa kau bertanya tentang kekasih padaku?"


Erich menggaruk belakang kepalanya. "Kupikir kau menolak diantar olehku karena kau akan menemui seorang pria sebelum hari pernikahanmu besok, tetapi ternyata dugaanku salah," ucapnya dengan sesal.


Kedua alis Vioni tampak berkerut setelah mendengar ucapan kakaknya.


"Memangnya apa yang kau pikirkan tentangku, Kak? Bagaimana bisa kau mengira aku akan menemui pria lain sebelum hari pernikahanku besok?" tanya Vioni heran.


"Ummm ... mungkin ini salahku karena aku mempercayai ucapan Vanila dan Ibu yang mengatakan kalau kau selalu menjadikan pria sebagai objek pelarianmu atas sakit hati yang kau rasakan selama ini."


Kali ini kedua mata Vioni membulat sempurna setelah mendengar ucapan dari Erich. Apalagi pria itu juga mengatakan kalau dia mendengar berita kabar tersebut dari Vanila dan ibunya, Rosa.


Bagaimana bisa Ibu mengatakan hal buruk seperti itu tentangku pada Kakak? Mungkin kalau kabar seperti itu hanya diucapkan oleh Vanila, aku bisa memakluminya. Tapi ... ini Ibu. Dia mengatakan hal buruk seperti itu tentang putrinya sendiri, batin gadis itu dengan tangan yang terkepal erat. Lagi-lagi sakit hati yang dia terima dari orang tuanya.

__ADS_1


"Kak, sepertinya lebih baik hari ini Kakak pulang ke mansion Ayah dan Ibu. Aku juga akan pulang ke rumah Om dan Tante." Vioni melangkah lebih dulu dan meninggalkan Erich yang masih berdiri di tempatnya.


Keterlaluan sekali mereka. Sebenarnya apa yang membuat mereka bisa menjelek-jelekkanku seperti ini?


__ADS_2