Unlimited Love

Unlimited Love
Bab 24


__ADS_3

Max terdiam setelah mendengar jawaban istrinya yang sejak tadi belum membersihkan diri itu. Dia lupa kalau di Villa itu tak ada baju wanita selain hanya baju para pelayan saja. Namun, dia juga tidak bisa membiarkan Vioni mengenakan baju yang saat ini digunakannya untuk tidur, dia juga tidak mungkin membiarkan istrinya untuk menggunakan baju pelayan. Pria itu berjalan ke arah lemari. Di sana ada beberapa kaos over size dan kemeja miliknya yang sudah lama tidak digunakan.


“Aku minta maaf karena sudah membawamu tanpa persiapan apapun,” ucapnya. “Ini ada pakaian milikku yang mungkin bisa


kau gunakan. Pilih saja yang menurutmu pas. Aku tidak tahu seleramu seperti apa, jadi … silakan pilih sendiri.” Max membuka lemarinya dan menuntun Vioni untuk memilih bajunya yang akan dia kenakan.


“Besok pagi aku akan meminta Astron untuk membawakan pakaianmu kemari,” sambung pria itu.


Vioni menoleh, menatap suaminya dari samping. Dia cukup merasa tersanjung dengan perlakuan baik Max, tapi untuk saat ini yang lebih penting dirinya harus bisa menemukan pakaian Max yang menurutnya tidak membuat sang suami merasa gerah ketika berada di dekatnya.


"M—Max, sebelumnya aku ingin berterima kasih karena kau sudah memperbolehkanku mengenakan pakaianmu, tapi ….”


“Kau tidak perlu berterimakasih padaku. Sudah sewajarnya aku memperlakukanmu seperti ini. Justru aku yang minta maaf karena sudah membuatmu berada di situasi yang mungkin membuatmu tidak nyaman,” potong pria itu sambil mengusap pucuk kepala istrinya. Dia tahu kalau saat ini mungkin perasaan istrinya sedang gelisah dan berharap untuk tidak tidur sekamar dengannya, tapi tentu saja untuk hal itu Max tidak akan mengabulkannya. Dia hanya akan berusaha menjaga sikapnya hingga membuat Vioni tak lagi merasa was-was ketika sedang bersamanya.


“Tidak apa-apa,” sahut Vioni tersenyum tipis. Gadis itupun mengambil salah satu kemeja Max. “Kalau begitu, aku akan meminjam yang ini saja,” ucap Vioni memperlihatkan kemeja ditangannya sebelum dia bawa ke kamar mandi.


“Iya. Gunakanlah,” jawab Max.

__ADS_1


Setelah mendapat persetujuan dari suaminya, Vioni pun berjalan ke kamar mandi, sementara Max memilih membaringkan tubuhnya


di kasur king size yang tersedia di kamar itu. Max mulai memejamkan matanya, tetapi yang ada justru dipikirannya saat ini adalah bayangan Vioni yang keluar dari kamar mandi dengan penampilan memukau, mengenakan kemeja besar miliknya.


Astaga … ada apa denganku? Kenapa seketika aku berpikiran seperti itu, batinnya sambil mengusap wajah dengan kasar. Ya, walau sekuat apapun dia menahan, nyatanya dia hanya pria biasa yang sedang mencoba menahan ha*rat lelakinya karena tidak ingin membuat wanita yang baru beberapa jam lalu menjadi istrinya itu takut padanya.


Max memilih untuk turun dulu dari tempat tidur dan berjalan menuju balkon. Dia mengeluarkan sebatang rokok dan menghisapya di sana. Ya, dia memang perokok, hanya saja hal itu ia lakukan jika sedang dalam keadaan pusing seperti saat ini.


Saat Max masih setia dengan rokok yang terselip ditangannya, Vioni keluar dari kamar mandi setelah memastikan suaminya tak ada di sana. Apa yang dibayangkan oleh Max ternyata jadi kenyataan, Vioni keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kemeja Max malah terlihat lebih cantik serta seksi, siapa pun pasti akan terpukau ketika melihatnya.


“Akh, syukurkah … rupanya dia sedang berada di luar,” gumam gadis itu saat melihat siluet suaminya yang sedang menikmati angin malam. Dari sana Vioni bisa melihat kalau suaminya itu sedang menghisap sebatang rokok yang terselip diantara jari telunjuk, serta jari tengahnya. Sesekali terlihat kepulan asap yang keluar dari hidung dan sela bibir pria itu.


memperlihatkan kekasarannya padaku,” gumam Vioni sebelum memutuskan untuk naik ke atas tempat tidur. Meskipun malam ini adalah malam pertama kalinya dia akan berbagi kamar dengan orag lain, tapi Vioni tetap berusaha untuk tetap tenang. Bahkan, dalam hatinya pun dia sibuk menenangkan dirinya agar tidak terlihat kaku di depan Max.


Setelah beberapa menit Vioni berusaha memejamkan matanya, perlahan dia merasakan seseorang naik ke atas tempat tidur itu. Vioni belum benar-benar tidur karena merasa was-was dengan keberadaan Max yang satu kamar dengannya.


“Tidurlah dengan nyaman, aku tidak akan memaksakanmu melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan,” ucap Max tepat

__ADS_1


di samping kepala Vioni yang langsung membuat gadis itu refleks membuka matanya.


“Maaf jika keberadaanku membuatmu tidak nyaman, tapi tolong jangan minta aku untuk tidur terpisah denganmu,” sambung pria itu sambil menarik tubuh kaku Vioni ke dalam pelukannya.


“Mulai sekarang, kau harus terbiasa dengan posisi tidur seperti ini. Mungkin ini akan membuatmu sedikit rishi dan beranggapan aku keterlaluan, tapi kau perlu ingat, kita sudah menjadi sepasang


suami istri,” ucap Max lagi.


Vioni hanya bisa diam membeku tanpa berani begerak sedikitpun saat tubuhnya dipeluk Max. Saat ini perasaannya benar-benar tidak bisa dia gambarkan, antara takut, senang, terharu dan sedih


karena yang memperlakukannya lembut seperti ini adalah orang asing yang baru beberapa jam lalu menjadi bagian dari hidupnya.


“Aku mendengar detak jantungmu yang berdegup kencang. Apa kau sedang gugup?” tanya Max seraya menundukkan kepalanya untuk mellihat wajah Vioni.


Mendengar pertanyaan seperti itu dari suaminya, Vioni langsung merasa malu, wajahnya yang sudah sejak tadi terasa panas, justru semakin bertambah panas. Siapapun pasti akan menrasakan hal serupa dengannya, lalu kenapa Max malah menanyakan hal demikian? Tanpa menggubris pertanyaan Max, Vioni memlih untuk merapatkan kedua kelopak matanya supaya cepat terlelap. Dia mengabaikan pertanyaan Max karena sibuk menenangkan jantungnya yang terasa seakan meledak-ledak itu.


Melihat reaksi istrinya yang hanya diam, Max tersenyum simpul dan mendaratkan sebuah kecupan ringan di kening istrinya

__ADS_1


itu.


“Good night, my wife,” ucapnya.


__ADS_2