
Di kediaman keluarga Pradipta, Rosan turun dari kamarnya. Joanna yang sedang mengupas apel sembari menonton televisi teralihkan dengan suara koper yang di dorong oleh Rosan.
"Rosan, mau kemana kamu?" tanya Joanna bingung.
Rosan menghela nafas panjang dan menarik tali tas yang hendak jatuh dari pundaknya.
"Tante, Kai sudah berkencan dengan Flova. Jadi, tidak terlalu baik jika aku terus menerus berada di sini. Aku akan pulang Tante." ucap Rosan pasrah.
"Kau menyerah secepat ini?"
"Maaf Tante, mereka berdua adalah pasangan yang sangat cocok satu sama lain. Dan, sekarang aku tidak bisa mencampuri urusan mereka berdua lagi. Aku harus pergi."
"Pergilah.."
Rosan menganggukkan kepalanya dan meninggalkan ruangan tersebut. Ia langsung naik ke taksi pesanannya meninggalkan kediaman besar keluarga Pradipta.
"Aku tidak bisa membiarkan Kai jatuh ke tangan Flova. Aku akan terus mencari tahu tentang Flova untuk hal ini. Dan, aku tidak akan pernah menyerah." tekad di batin Joanna.
Rosan akhirnya memutuskan untuk ke rumah Kevin. Ia bermaksud untuk mencurahkan isi hatinya. Kevin menerimanya dengan baik begitu Rosan sampai di sana. Disuguhkannya teh panas untuk Rosan dan duduk di sampingnya.
"Kenapa kamu membawa kopermu dan datang ke sini?"
"Aku datang untuk membagi ceritaku padamu. Aku sudah di usir dari rumah." ucap Rosan.
Kevin terkejut mendengarnya. Tetapi, Rosan tetap tenang sembari meminum teh buatan Kevin.
"Bagaimana bisa?"
Rosan pun menceritakan semua tentang yang ia alami selama di telepon dengan sang ibunya. Dan juga alasan ia pergi dari rumah kediaman Pradipta.
"Lalu, kemana kau akan pergi sekarang?" tanya Kevin.
Rosan hanya bisa menggelengkan kepalanya karena memang ia belum memiliki tujuan untuk tempat ia menginap selanjutnya.
"Tinggallah di rumah ini untuk sementara waktu. Aku akan tinggal di klinik selama kau mencari tempat untuk menginap."
__ADS_1
"Tapi ini sudah malam."
"Tidak apa, lagipula jaraknya hanya sebentar. Daripada membiarkan mu pergi malam-malam begini, akan lebih berbahaya. Aku akan buatkan makan malam sebelum pergi."
Rosan mengangguk dan memilih menunggu di ruang tamu. Ia melihat-lihat koleksi pajangan yang ada di sekitarnya. Banyak pula foto-foto tentang peliharaan yang pernah Kevin adopsi di kliniknya.
Rosan kagum dengan ruangan tersebut. Interior-interior yang sederhana namun mengandung makna terpampang di setiap tembok rumah ber-cat putih menambah kesan anggun dan nyaman di ruangan tersebut.
...*****...
Flova begitu lelah dengan pesta dansa hari ini. Begitu ia sampai di rumah, ia harus membopong tubuh Alena yang sudah tertidur pulas selama di perjalanan. Kai tidak tega melihatnya kesulitan, ia pun mengambil alih untuk menggendong Alena.
"Kamu, gantilah sepatu hak tinggi mu menggunakan sandal sebelum turun. Aku yang akan membawa Alena ke dalam. Oiya, sandal kamu ada di dalam paper bag yang ada di samping kamu. Gunakanlah saja."
Tak sempat menjawab, Flova pun melihat ke arah paper bag coklat yang ada di sampingnya. Ia pun keluar dari mobil menggunakan sandal slop berwarna putih. Akhirnya dia pun bisa berjalan lebih cepat dan lebih leluasa daripada menggunakan sepatu hak tinggi yang membuat kakinya cepat pegal.
Akhirnya, Flova juga bisa menyegarkan dirinya di bawah shower. Kai yang menyadari Flova sedang mandi memutuskan untuk kembali ke luar dan membuat camilan.
Begitu Flova selesai, ia pun menuju ke kamarnya. Ia juga menggunakan masker wajah yang selalu ia gunakan setelah mandi. Kai terlebih dahulu memastikan kamarnya kosong dan melihatnya ke kamar mandi yang sudah kosong.
Kai mengetuk pintu kamar Flova. Flova pun keluar menggunakan pakaian tidur yang lengkap dan cantik berwarna merah maroon. Kai tersenyum dan menunjukkan camilan yang di bawanya.
"Mari duduk di kamar ku. Kita nonton televisi bersama sebelum tidur."
Flova mengangguk dan berjalan di sampingnya. Lantas saja Flova dengan penuh semangat, ia duduk bersandar pada kepala ranjang dan menyalakan televisi besar yang ada di depan.
Kai hanya bisa tersenyum kecil dan duduk di sampingnya. Kai meletakkan camilan buah tersebut di atas nakasnya dan memasukkan kakinya ke dalam selimut. Sedangkan Flova sudah duduk anteng sembari menonton Drakor kesukaannya.
Kai mengambil camilan yang di bawanya. Ia sesekali juga membagikannya kepada Flova yang tengah fokus dengan apa yang ia tonton. Kai diam-diam memperhatikannya dari samping. Merasa ada yang menatapnya, lekas saja Flova melihat ke arahnya dengan tatapan bingung.
"Jangan menatapku seperti itu. Tonton lah televisi di depan sana." Flova menunjuk televisi besar yang ada di depannya.
"Menonton wajahmu saja sudah cukup bagiku." gombalnya.
Flova menepuk pundak Kai dan membuat Kai bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya nya tanpa ada rasa bersalah.
"Sejak kapan kamu pandai menggombal begini? Dasar pria." Flova melihatnya dengan tatapan sedikit curiga di tambah dengan ekspresi gemasnya.
"Sejak ada kamu."
Flova langsung saja menutup mulut Kai menggunakan buah-buahan yang Kai kupas sehingga membuatnya tidak bisa berkata lagi. Flova yang tersipu memilih untuk melihat televisi.
"Skripsi mu jangan lupa untuk di selesaikan. Akan lebih baik jika kamu bisa lulus dengan cepat. Apa ada sesuatu yang kamu inginkan? Maksud ku seperti cita-cita mungkin?" tanya Kai.
"Aku hanya ingin bekerja denganmu." jawab singkat Flova.
"Baiklah, tidak masalah selagi kamu mau." jawab Kai.
Flova senang dan memilih untuk mengambil camilan dari tangan Kai yang akan ia lahap. Kai yang tidak terima dengan hal itu lantas saja meraih tengkuk Flova dan langsung di ambilnya dari mulut Flova.
Flova hanya bisa diam terkejut hingga tak terasa semuanya habis di lahap oleh Kai. Flova hanya bisa memutar bola matanya malas.
"Aku akan tidur terlebih dahulu."
Flova langsung saja meninggalkan kamar Kai. Begitu ia masuk dan menutup pintunya, ia langsung saja bersembunyi di balik selimut untuk menenggelamkan detak jantung yang sangat kencang di dalam dadanya serta menyembunyikan wajahnya yang jelas sudah mirip seperti kepiting goreng.
Kai di luar hanya tersenyum miring dan meletakkan sisa buah yang ia makan di atas nakasnya. Ia pun juga mematikan lampu kamarnya serta televisi yang masih menyala dan lekas tertidur.
Di dalam kamar Flova, ia hanya bisa diam di antara gelapnya lampu yang sudah ia matikan agar Kai tidak curiga. Namun, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka begitu saja. Flova waspada dan langsung menyalakan lampu.
Kai diam-diam mengendap masuk ke dalam kamar Flova. Flova pun langsung menutupi tubuhnya dengan selimutnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Flova waspada.
"Sepertinya AC di kamar ku rusak. Aku sangat kedinginan, bolehkah aku tidur di sini malam ini?"
Dengan ragu-ragu Flova mengangguk. Lagipula ini bukan kali pertama mereka tidur bersama. Kai pun mematikan lampu utama dan tidur di samping Flova dengan membelakanginya, begitu pun dengan Flova. Sehingga mereka larut dalam kesunyian dan langsung terlelap dengan mimpi indah mereka.
//**//
__ADS_1