
Suasana rumah Clifford dan Rosa tampak riuh ramai. Banyak para tamu yang berdatangan ke sana untuk turut menghadiri acara pernikahan putri kedua keluarga itu dengan seorang pengusaha muda yang terkenal yang mempunyai reputasi buruk. Banyak dari para tamu itu yang mempertanyakan tentang alasan keluarga Clifford memilih Maximilian untuk menjadi menantunya. Padahal selain Max, mereka masih bisa mendapatkan pria yang mempunyai reputasi baik, meskipun tidak sekaya Maximilian.
"Sayang sekali keluarga ini memilih Max untuk menjadikannya menantu. Padahal, mereka bisa mendapatkan pria yang lebih baik untuk putrinya," ucap salah satu tamu undangan Rosa dari kalangan ibu-ibu sosialita.
"Menurutku itu tidak seperti yang kita pikirkan. Bukankah cocok, jika anak pembangkang yang selalu menindas adiknya mendapatkan pria dengan reputasi buruk?" sahut ibu-ibu yang lainnya.
"Akh, iya ... aku baru ingat kalau putri keduanya itu yang selalu bersikap angkuh dan dingin 'kan?"
"Iya. Kau benar. Maka dari itu Jeng Rosa sengaja menjauhkan dia dari kembarannya, Vanila."
"Hmmm. Pantas saja kalau memang seperti itu."
Bisik-bisik para ibu-ibu itu semakin terdengar jelas di telinga Vioni yang kini sudah duduk di depan meja penghulu menantikan pria yang akan mengucap janji sakral dengannya. Jangan tanyakan perasaan Vioni saat ini, gadis itu sama sekali tidak mempedulikan omongan orang yang tengah menggunjingnya. Dia lebih fokus pada kenyataan yang sebentar lagi akan merubah statusnya. Hal itu bisa Vioni lakukan setelah dia mengetahui penilaian orang lain terhadapnya dan penilaian buruklah yang mereka ketahui tentang Vioni. Mungkin jika kemarin Erich tidak membicarakannya, dia tidak akan tahu serta merasa bingung karena orang-orang mencintainya, tapi karena dia sudah mengetahui keadaannya sekarang, dia memilih untuk tidak menanggapinya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Erich dengan menghampiri adiknya karena melihat raut wajah Vioni yang murung.
Vioni menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja, Kak."
Vanila memperhatikan gerak-gerik Erich dan Vioni, dia merasa sedikit kesal karena melihat para kakaknya itu tampak akur. Gadis itu bangkit dari sisi sang ibu dan menghampiri keduanya.
__ADS_1
"Kak, bisakah kau menemaniku duduk di samping Ibu?" tanya Vanila pada kakak laki-lakinya.
Erich menoleh dan mendapati sang ibu yang sedang duduk bersama teman-temannya. "Kenapa harus aku temani? Bukankah sejak tadi kau mengikuti Ibu ke mana pun?" tanya pria itu yang tidak langsung mengikuti permintaan adik bungsunya.
"Ayolah, Kak. Aku merasa tidak nyaman karena duduk sendirian. Tidak ada yang mengajakku mengobrol," pinta Vanila dengan sedikit memaksa. Bahkan, Vanila juga dengan sengaja menarik-narik tangan Erich agar mengikutinya.
Melihat bagaimana perlakuan Vanila pada Erich, membuat Vioni merasa sedikit risih. Akhirnya dia pun angkat bicara pada kakak laki-laki mereka itu.
"Kak, sebaiknya kau duduklah bersama Vanila dan Ibu. Jangan sampai terjadi kekacauan di saat seperti ini," ucap gadis itu sambil melirik Vanila yang tampak menatap tajam padanya.
"Tapi–"
Erich menggeram kesal saat mendengar perkataan sang ayah. Namun, sekesal apapun dirinya saat ini, dia tidak bisa langsung menjawab kata-kata itu karena mungkin akan menimbulkan kesan buruk di pernikahan Vioni saat ini.
"Aku sungguh baik-baik saja, Kak," ucap Vioni kembali meyakinkan kakak laki-lakinya.
Erich menghela napas kasar setelah mendengar ucapan Vioni. Tanpa mengatakan apapun lagi, pria itu melangkah lebar setelah mengempaskan tangan Vanila dari lengannya.
Uh, kenapa sikap Kakak selalu beda padaku? Tidak bisakah dia bersikap lembut padaku seperti saat Kakak memperlakukan Vio? tanya Vanila dalam hatinya. Setelah berhasil menjauhkan Erich dari Vioni, gadis itu kembali duduk di tempatnya semula.
__ADS_1
Tak lama setelah perdebatan kecil di antara kakak adik itu usai, rombongan dari pihak keluarga mempelai pria pun datang. Vioni tidak ikut berdiri maupun berbalik melihat pria yang akan menjadi suaminya, justru gadis itu hanya duduk sambil menundukkan kepala.
Ya Tuhan ... rupanya waktu berlalu begitu cepat. Tinggal beberapa menit lagi, maka statusku akan menjadi istri orang. Semoga saja setelah acara pernikahan ini berakhir, aku bisa hidup dengan tenang, batin Vioni.
...****************...
Seorang pria dengan postur tubuh yang tinggi dengan bahu lebar serta dibalut pakaian pengantin yang serasi dengan calon mempelai wanita, turun dari mobil dan berjalan menuju meja penghulu.Ya, dia adalah Maximilian Green, pria yang merupakan calon menantu keluarga Clifford. Di sana dia melihat calon istri serta calon mertuanya sudah duduk menunggu kedatangannya. Namun, pria itu sedikit heran karena melihat calon istrinya dan harus menundukkan kepala seakan lantai itu lebih menarik daripada dirinya.
Huh, apakah menurutnya lantai itu lebih bagus daripada aku? Sampai-sampai dia tidak ikut berdiri dan menyambutku? tanya Max dalam hatinya.
Seandainya Max bisa tega pada sang kakek, dia memilih untuk kabur dari pernikahan yang tidak diinginkan yaitu daripada dipaksa mengucap janji dengan seorang wanita yang bahkan tidak dikenalnya.
Sabarlah, Max. Setelah acara pernikahan ini selesai, mari kita buat kesepakatan dengan wanita yang menjadi istrimu itu, gumamnya lagi.
Max segera duduk di bangku yang sudah dipersiapkan untuknya sesampai dia di meja penghulu. Sementara itu, Vioni hanya mampu menatap sepatu pria yang merupakan calon suaminya. Dia sungguh tidak mempunyai keberanian untuk menatapnya secara langsung.
Setelah berbagai macam acara pembukaan selesai, acara utama pun tiba. Vioni menarik napasnya dalam-dalam saat melihat calon suaminya mulai menjabat tangan sang ayah. Berbagai macam perasaan berat tiba-tiba menghimpit dadanya hingga ia hampir kesulitan bernapas, sebelum pendengarannya menangkap suara orang-orang yang mengatakan 'Sah', beban di dadanya tiba-tiba menghilang. Vioni refleks mengangkat kepalanya dan menatap ayahnya, Clifford.
"Sekarang kau sudah resmi menjadi seorang istri, Vio!" seru pria itu.
__ADS_1