Unlimited Love

Unlimited Love
Bab 22


__ADS_3

Vioni merasa semakin terharu atas sambutan yang dilakukan oleh penghuni rumah suaminya, termasuk kakek mertuanya yang sengaja datang ke mension-nya Max hanya untuk menyambutnya.


"Terima kasih karena Kakek sudah menyambutku seperti ini," ucap Vioni.


"Tidak perlu berterima kasih karena ini juga termasuk tugasku yang merupakan keluarga suamimu. Tidak mungkin aku membiarkan cucu menantuku datang kemari tanpa sambutan dariku," jawab Tuan Goufar.


"Sudahlah, Kek. Sekarang aku dan Vioni ingin beristirahat, jadi Kakek bisa pulang sekarang," usir Max secara halus karena dia tidak ingin istrinya merasa tertekan ataupun terganggu atas kehadiran kakeknya itu.


"Kau mengusirku?" tanya Tuan Goufar sambil menatap tajam cucunya.


"Oh, ayolah Kek ...," bujuk Max agar kakeknya mengerti dengan apa yang diinginkannya.


Tuan Goufar menoleh ke arah Vioni yang masih diam memperhatikan mereka. "Cucuku, apa kamu mengizinkan Kakek mertuamu ini untuk menginap? Rumah suamimu ini cukup besar dan masih banyak kamar yang tersisa. Apa kau masih akan tetap mendiamkan ku diusir oleh suamimu?” tanya Tuan Goufar sambil menatap sedih Vioni, dia bisa menebak kalau istri cucunya itu tidak akan tega mengusirnya.


Gadis itu melirik suaminya yang ada di samping. Namun, Max seakan tidak peduli dengan sang kakek, dia tetap menggelengkan kepalanya samar. Melihat gelengan kepala sang suami, Vioni


kembali menoleh pada Tuan Goufar.


“Tentu saja Kakek boleh menginap di sini sampai kapan pun Kakek mau,” jawab Vioni tanpa mengetahui suaminya yang


tiba-tiba menatap tajam padanya.


Kenapa dia memperbolehkan Kakek tinggal di sini? Bisa kacau urusannya, batin pria itu seraya mengusap wajahnya


dengan kasar.


Sementara itu, Tuan Goufar langsung tersenyum senang saat mendengar jawaban cucu menantunya. “Terima kasih, Nak.


Kau memang sangat berbeda dengan cucuku,” ucap pria paruh baya itu.


Mendengar ucapan Tuan Goufar, Vioni hanya tersenyum canggung karena dia masih asing dengan suasana damai di sana. Dia yang bisanya hanya mengobrol seperlunya, kini ada seseorang yang


mengajaknya bergurau, jadi sedikit kaku.

__ADS_1


“Cucu menantuku sudah memperbolehkan aku untuk tinggal di sini sampai kapan pun aku mau. Jadi, aku tidak butuh persetujuanmu lagi,” ucap Tuan Goufar dengan bangga pada cucunya, Max.


“Tapi aku tidak mengijinkannya, Kek!” sahut Max dengan tegas.


“Sudah kukatakan, aku tidak butuh lagi persetujuan darimu!” jawab Tuan Goufar sambil melangkah mendahului cucu serta


cucu menantunya yang masih terdiam di tempat itu.


“Kenapa kau membiarkan Kakek tinggal di sini?” tanya Max dengan gemas pada istrinya, Vioni.


“Lalu, apa aku harus mengusirnya?” tanya Vioni sambil menatap suaminya.


“Apa kau bisa melakukan hal itu?”


Vioni menggelengkan kepalanya. “Tentu saja tidak. Lebih baik aku yang pergi,” jawab gadis itu hendak membalikkan tubuhnya, tapi langsung ditahan oleh Max.


“Mau kemana kau?” tanyanya.


“Aku mau pergi, menggantikan Kakek,” jawab Vioni sambil menunjuk mobil.


“Baiklah. Ayo!” Max tiba-tiba menarik tangan Vioni dan membawanya masuk ke mobil.


Sementara itu, Vioni tampak terkejut dengan apa yang dilakukan suaminya itu.


“K—kenapa kau ikut naik mobil denganku?” tanyanya setelah tangannya ditarik Max masuk mobil.


“Seperti perkataanmu.”


“Perkataanku? Apa?”


“Karena ada Kakekku di rumah, jadi kita saja yang pergi,” sahut Max tanpa menghiraukan keterkejutan Vioni.


“Ta—tapi ….” Vioni menoleh ke arah pintu mansion suaminya. Di sana Tuan Goufar sedang menatap mereka berdua.

__ADS_1


“Sudahlah, kau tidak perlu menghiraukan Kakek. Di sini dia akan baik-baik saja karena banyak penjaga yang bertugas disekelilingnya!” potong Max saat melihat istrinya yang khawatir sang kakek sendirian saat berada di mansionnya.


Setelah mendengar jawaban sang suami, Vioni pun terdiam sebentar dan membenarkan perkataan Max kalau dirinya tidak


perlu khawatir pada pria yang sudah berusia di atas 70 tahun, tapi masih terlihat bugar itu. Akan tetapi, Vioni tetap saja merasa tidak enak hati karena dia baru saja tiba di sana tapi sudah diajak pergi lagi oleh suaminya tanpa menyapa para pekerja. Padahal, para pekerja itu sudah menyambut kedatangannya.


“Kenapa wajahmu murung seperti itu?” tanya Max saat menyadari perubahan raut wajah istrinya. “Apa kau tidak suka pergi denganku?” tanyanya lagi.


“Tidak. Aku tidak berpikir seperti itu. Aku hanya merasa tidak enak hati pada orang-orang yang bekerja padamu. Mereka sudah bersiap menyambut kita, tapi kita justru malah pergi begitu saja.


Bahkan tanpa menyapanya,” jelas Vioni yang langsung membuat Max mengangguk-anggukan kepalanya.


“Kau tidak perlu mengkhawatirkan mereka. Aku mempekerjakan mereka dan memberikan mereka gaji. Jad, terserah padaku mau berbuat apapun pada mereka. Yang terpenting perbuatanku itu tidak sampai menyakitinya,” sahut pria itu.


Kini giliran Vioni yang menggelengkan kepalanya samar saat mendengar jawaban dari suaminya.


Apakah seperti ini sikap orang-orang yang benar-benar kaya? Aku tidak tahu karena Om Marvel dan Bibi Resa tidak pernah


membiarkanku bersikap semena-mena pada para pekerja di rumah. Ya … meskipun pada akhirnya aku harus dibenci mereka tanpa alasan yang jelas, batin gadis itu.


Karena tak ingin memperpanjang perdebatan, akhirnya Vioni memilih diam dan membiarkan Max membawanya, ke mana pun


pria itu inginkan. Lagi pula Vioni percaya kalau Max tidak akan mencelakainya, atau menjualnya pada pria hidung belang. Ya, tidak akan ada suami yang tega melakukan hal itu pada istrinya, bukan?


Entah berapa lama perjalan yang ditempuh Max membawa Vioni ke tempat lain setelah pergi begitu saja dari mansion. Kini sepasang pengantin baru itu baru sampai di depan sebuah Villa


yang ada di pinggir pantai. Suasana malam yang dingin, ditambah semilir angin pantai yang cukup kencang, membuat tidur Vioni sedikit terusik. Ya, sepanjang perjalan gadis itu tanpa sadar, sudah tertidur lelap dan membiarkan Max mengendara sendirian.


“Engh,” lenguh Vioni saat merasakan udara dingin menusuk kulitnya.


“Hei, apa kita akan tidur di mobil malam ini?” tanya Max sambil menatap Vioni yang masih setengah sadar.


“Ha?”

__ADS_1


Max membenarkan duduknya. Dia Kembali menatap istrinya yang baru saja membuka mata. “Apa kita perlu tidur di mobil malam ini?”


__ADS_2