
Steffa pergi ke perusahaan M untuk memberikan berkas yang sudah ia tandatangani semalam. Perasaan campur aduk terasa seperti menggerogoti dirinya. Yakin tak yakin, bimbang, ragu, gelisah bertumpuk menjadi satu di dalam raganya.
Tak terasa, perjalanan yang ia tempuh dengan sebuah taksi, terhenti di sebuah gedung yang tinggi. Ia menghela nafas dan keluar dari taksi yang ia tumpangi usai membayarnya. Ia terus melirik bangunan yang kokoh di depannya dari akar hingga ke puncaknya.
"Huh.. semoga ini adalah pilihan yang terbaik."
Usai meminta ijin dengan sang resepsionis kantor tersebut, Steffa langsung di arahkan dimana ruangan Tuan Berlin berada. Tepat di lantai paling atas, dimana ia menginjak lantai 27 dan berjalan lurus hingga ke ujung dari depan lift. Hanya beberapa langkah kaki saja, sebuah papan bertuliskan CEO terpampang jelas tertulis di atas pintu yang lurus dengan badannya melangkah saat ini.
Steffa terlebih dahulu menghela nafas sembari menunggu seseorang yang mengantarnya tersebut memberitahukan kepada Tuan Berlin. Dia berkali kali mengatur nafasnya dan juga detak jantungnya yang berdetak tidak karuan.
"Nona Steffa, silahkan masuk."
Steffa mengangguk dan masuk ke ruangan tersebut. Steffa tersenyum ala kadarnya dan begitu pula dengan Tuan Berlin.
"Selamat datang nona Steffa, silahkan duduk." Steffa mengangguk dan tetap tersenyum lebar sembari berjalan ke arah kursi yang di tunjuk oleh Berlin.
"Dan kamu, boleh pergi." Perintah Tuan Berlin kepada salah staf yang mengantar Steffa dan langsung di lakukan olehnya.
"Bagaimana, apa kamu sudah menandatanganinya?" tanya Tuan Berlin dengan lugasnya.
"Sudah Tuan, seperti yang Tuan minta sebelumnya."
Steffa meletakkan amplop tersebut dan mendorongnya di atas meja dan menghentikannya di depan Tuan Berlin.
"Baiklah, hari ini kamu sudah bisa bekerja. Posisi kamu adalah sekretaris dari calon CEO perusahaan ini. Mari kita ke ruangannya."
Steffa mengangguk dan mengikuti langkah Tuan Berlin di depannya hingga mereka sama-sama berdiri di depan ruangan yang terdapat papan bertuliskan COO. Tuan Berlin mengetuk pintu tersebut dan langsung memasukinya.
Steffa terpana dengan isinya dan memilih untuk berdiam diri di depannya sembari melihat sekeliling ruangan tersebut.
"Papa ada sekertaris baru untuk kamu."
__ADS_1
Orang yang duduk membelakanginya, langsung membalikkan kursi putarnya untuk melihat suara papa. Bersamaan dengan itu, Tuan Berlin juga menggeser posisinya dan memperlihatkan Steffa.
"Kau??"
Steffa dan Nehra mengucap kata yang sama secara bersamaan sembari menunjuk satu sama lain dengan bingung dan kaget. Tuan Berlin hanya melihat Steffa dan Nehra secara bergantian dan menganggukkan kepalanya.
"Oo, jadi kalian saling kenal? Sejak kapan?" tanya Tuan Berlin pura-pura tidak tau.
"Apa!? Nehra ada di sini? Dan aku sekretarisnya? Oiya, aku tidak ingat pemilik Cafe adalah Nehra, jadi Tuan Berlin adalah ayah Nehra. Duh.. mati aku, niat menghindari malah masuk ke kandang harimau sendiri." batin Steffa memberontak.
"Papa tidak perlu berpura-pura. Pasti papa yang sudah merencanakan ini semua." ucap Nehra sembari berdiri.
"Mulai hari ini, Steffa adalah sekretaris kamu, Steffa sudah menyetujui itu. Kamu tidak perlu mengelak lagi. Papa ada meeting di luar, jadi papa harus pergi. Dan ingat, kamu harus patuhi setiap jadwal yang Steffa buat."
"Kalau dia sekretarisnya. Tidak masalah bagiku. Aku akan senang hati menurutinya." jawab Nehra sembari melihat Steffa dengan tatapan meledek.
"Pasti dia akan memanfaatkan aku." ucap batinnya sembari melihatnya dengan tatapan penuh kecurigaan.
"Duduklah." Perintahnya dengan wajah sombongnya.
Steffa memutar bola matanya malas dan duduk di depan Nehra dan mengikuti gayanya duduk.
"Kenapa kau duduk seperti itu?"
"Memang masalah untuk anda tuan Nehra. Saya hanya mengikuti bagaimana atasan saya bersikap dengan saya dan saya akan mengikutinya sesuai dengan apa yang anda ajarkan dan lakukan kepada saya." jawabnya juga sembari tersenyum miring dengan bibir tipisnya.
Nehra bangkit dari tempat duduknya dan berdiri tepat di samping Steffa. Steffa tidak peduli dengannya dan hanya fokus dengan kukunya.
"Hm.. membosankan. Aku akan pergi, kau mulailah terlebih dahulu mengatur waktuku untuk bertemu dengan seluruh nama manusia yang bertumpuk di kertas itu. Oiya, itu adalah tempat khusus untuk sekertaris ku, jadi kau mulai bekerjalah di sana."
Steffa melihat ke arah tumpukan kertas yang di tunjuk Nehra yang berada di meja kerja Nehra dan melihat tempatnya yang ada di samping jendela sekejap. Steffa pun mengangguk dan melihatnya dengan yakin. Lantas saya ia bangun dan langsung mengambil tumpukan yang kiranya setinggi 10 cm di meja tersebut.
__ADS_1
"Akan aku lakukan. Sesegera mungkin." jawabnya dengan enteng sembari membawa kertas tersebut ke meja kerjanya.
Steffa langsung saja menyalakan komputernya dan mulai bekerja. Nehra pun memilih untuk pergi dari ruangannya entah kemana. Steffa yang melihatnya pun hanya menggelengkan kepalanya sembari menekuk bibirnya.
"Yah.. bagaimana dia menjadi CEO, dia saja bersikap terlalu sombong seperti itu. Andai saja aku tau aku bekerja untuknya, lebih baik aku tolak."
Setelah bermonolog di dalam hatinya, ia pun segera melanjutkan pekerjaan pertamanya tersebut walaupun dalam keadaan keterpaksaan.
...*****...
Tak terasa, hari pertama ia bekerja, ia tidak menyelesaikan pekerjaannya sehingga ia memilih untuk membawa pulang sisa berkas yang belum ia selesaikan. Steffa terus melihat meja kerja Nehra yang masih kosong.
"Dia benar-benar tidak pantas menjadi seorang CEO. Ke sini hanya beberapa jam saja. Kira-kira dia kemana?"
Dia terus melihat meja kerja di seberangnya. Dan tak berfikir panjang lagi, ia pun memutuskan untuk pulang. Tidak ada seorangpun yang bisa di ajak untuk pulang, akhirnya ia pun memilih untuk menaiki taksi. Baru saja ia duduk, seseorang meneleponnya.
"Hallo Flova?" ucap Steffa membuat percakapan teleponnya.
"Kata Maudi, kau bekerja di perusahaan M. Bagaimana di sana?" tanya Flova di seberang telepon dengan penasaran.
"Hai kakak, ayo traktir kami makan hotpot sebagai perayaan kakak bekerja di perusahaan M." timpal seseorang yang tidak lain adalah Maudi.
"Sungguh, ini bukan pekerjaan yang menyenangkan, aku tidak akan merayakan apapun itu." jawab Steffa dengan kesal.
"Kamu bisa menceritakan hal itu kepada kami nanti Steffa. Mari kita makan hot pot, sudah lama kita tidak makan hot pot bersama." ajak Flova kemudian.
"Baiklah, baiklah. Kita makan hot pot dimana kita sering berkumpul Flova. Pastikan Maudi untuk ikut."
"Tentu saja kak. Aku pasti akan datang. Baiklah, sampai jumpa nanti malam kak." ucap Maudi yang juga langsung mematikan teleponnya.
Steffa hanya bisa mendengus nafasnya dengan kasar dan memilih bersandar di kursi mobil dalam taksi yang ia tumpangi.
__ADS_1
//**//