Unlimited Love

Unlimited Love
72. "Baiklah, kita akhiri hubungan kita sekarang!"


__ADS_3

Kai tidak pulang semalam dan memilih untuk menyibukkan diri di kantornya. Nehra juga di buat bingung olehnya, karena ia mendadak di perintahkan untuk menjadi sekretarisnya selama satu hari.


Tiba-tiba saja, seseorang yang tidak asing masuk ke dalam ruangan Kai. Dia adalah Joanna, sang ibu Kai. Nehra menatap Kai dan Joanna secara bergantian. Sang ibu Kai mengisyaratkan agar Nehra keluar dari sana, dan dengan segera, ia pun keluar dari ruangan tersebut.


"Bagaimana keadaan Flova?" tanya sang ibu.


"Sepertinya dia baik." jawab Kai tanpa melihat ke arahnya.


"Aku tau kau sedang tidak baik, tapi sebaiknya..."


Kai tidak melihat ke arahnya, namun telinganya terus mendengarkan omongan Joanna. Joanna yang paham akan Kai yang tidak tertarik dengan perkataannya, langsung saja ia mengeluarkan satu buah amplop coklat di atas meja kerja Kai.


"Apa ini?" tanya Kai bingung sembari melihatnya.


"Kau tidak mengetahui tentang Flova. Setiap masa lalu yang ia lewati, hidupnya, perjalanannya, semua ada di berkas ini. Mama sedang terburu-buru, mama akan langsung pergi."


"Tunggu sebentar." larang Kai.


Joanna pun diam. Kai hanya menatap bingung amplop yang tengah di pegangnya saat ini. Karena penasaran, Kai pun langsung membuka amplop tersebut.


Betapa terkejutnya saat ia melihat foto-foto tentang masa lalu Flova. Terdapat fotonya saat ia masih kecil. Dan, yang menarik perhatian di sana adalah Foto dimana saat dirinya bersama Danur beserta dengan rekan-rekan ayahnya tampak berdiri di depan sebuah pabrik. Ada anak kecil yang tidak asing baginya, karena ia adalah Flova. Yang menarik perhatian selanjutnya di sini adalah Nuan yang terlihat sangat akrab dengan ayah Flova.


Ia melihat satu buah foto di mana ada Danur dan seorang wanita yang menggendong bayi mungil yang cantik. Matanya terbelalak tak percaya melihat foto tersebut, terutama bayi yang ada di gendongannya tersebut. Dia adalah Alena.


"Kai ingat sekarang? Kejadian 5 tahun lalu?" tanya Joanna sembari melipat kedua tangannya.


"Ba-bagaimana mungkin?" ucapnya tak percaya.


"Iya Kai, mereka adalah korban kecelakaan 5 tahun yang lalu. Tercatat di medis, bahwa Flova mengalami amnesia. Orang tua Flova sengaja menutupi identitas keluarganya agar tidak ada yang melacak keberadaannya. Dia adalah putri dari seorang pengusaha terkenal pada masa itu dan kau mungkin ingat hal itu karena usiamu remaja."


Kai hanya mendengarkan sembari membaca semua kertas yang ada di dalam amplop tersebut.


"Kai, keberadaan mu akan membuat Flova terpuruk lagi dengan masa lalunya. Kau pasti tidak ingin ia merasa sedih akibat kecelakaannya 5 tahun yang lalu bukan? Untuk itulah mengapa mama tidak terlalu setuju kau bersamanya, karena pasti nantinya mama akan kasihan kepadanya apabila ia mengingat masa lalunya."


Kai hanya diam berusaha untuk tetap memandang foto yang sedang di pegangnya.


"Kau pasti tidak ingin melihat Flova terpuruk lagi bukan? Mungkin, dahulu kau tidak bisa menyelamatkan kakaknya. Tapi, kau masih bisa melindunginya dari keterpurukannya dengan jarak jauh. Coba pikirkan betapa sakitnya ia saat mengingat kejadian 5 tahun yang lalu, apa kau tidak kasihan kepadanya?"


Kai mulai berfikir dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia membenarkan perkataan sang ibunya. Tetapi, hatinya tidak bisa berbohong kalau ia tidak bisa jauh darinya karena ia sangat-sangat mencintainya. Tetapi, di sisi lain kesehatan mentalnya lebih harus di perhatikan.

__ADS_1


"Jadi, maksud mama aku harus menjauhinya bukan?"


Joanna mengangguk. Kai langsung lemas mendengarnya. Ia hanya bisa memijat pangkal hidungnya. Joanna pun memegang kedua tangannya.


"Cinta tidak harus memiliki. Sesekali, cinta itu harus di relakan agar dia tetap bahagia. Cinta tidak bisa di paksakan, tetapi sebuah kenangan menyakitkan akan terus berbekas di dalam hatinya. Jadi, pikirkanlah baik-baik."


Joanna langsung pergi dari ruangan Kai. Ia sendiri hanya terus menatap satu buah foto anak kecil yang tak lain adalah Flova.


"Benar, aku hanya akan mengundang dia membuka gerbang kelam masa lalunya. Aku hanya akan membuatnya terpuruk suatu saat nanti, terutama ia sering memimpikan hal tentang kecelakaan itu. Dan, haruskah aku menjauhkan diri darinya?" pikirnya.


Pikiran Kai seketika kacau balau. Ia bingung dengan posisinya sekarang. Dimana ia sangat mencintai Flova, namun dirinya hanya akan membawa Flova ke dalam dunia masa lalunya yang kelam.


...*****...


Flova memutuskan untuk datang ke kantor Kai sesuai dengan permintaan Alena. Flova mengetuk pintu dengan sopan dan langsung masuk ke dalam. Kai hanya meliriknya sebentar dan kembali fokus dengan berkas yang ada di depannya.


"Ayah.." sapa Alena.


Nehra yang tau Flova datang pun berdiri dari tempatnya. Alena dengan senang menghampiri Kai sembari berlari.


"Jangan lari-lari. Bermainlah di ruang bermain." ucap Kai dingin.


"Ayah, aku buatkan makan siang untuk ayah. Alena rindu ayah jadi Alena membawa bunda ke sini." ucap Alena.


"Baiklah. Alena bisa bermain di ruang bermain. Nehra, bawa Alena. Aku akan berbicara dengan Flova."


Nehra mengangguk dan menggandeng tangan Alena. Alena tersenyum dan mengikuti perintahnya segera.


"Ayah, jangan marah sama bunda ya." teriak sesaat sebelum ia keluar dari ruangan Kai.


"Ada apa Kai?" tanya Flova.


Kai pun menutup berkasnya dan menunjukkan ke ada tempat duduk yang ada di depannya. Flova pun langsung duduk di sana dengan bingung.


"Aku tidak akan berbasa-basi di sini. Mulai besok, kau tidak perlu bekerja di sini lagi. Kau tidak perlu datang lagi ke sini. Dan, kontrak kita akan berakhir 49 hari lagi sesuai dengan permintaanmu."


Bagaikan tersambar petir di siang bolong, Flova kaget dan percaya dengan apa yang ia bicarakan.


"Maksud kamu? Kau ingin mengakhiri hubungan kita sekarang? Ini baru dua hari, apa kau waras."

__ADS_1


Kai mengangguk seperti sedang bercanda. Tentu saja hal itu membuat Flova kesal di buatnya.


"Baiklah, kita akhiri hubungan kita sekarang! Aku akan melanjutkan kontraknya hingga berakhir!"


Flova langsung saja keluar dari ruangan Kai. Kai hanya bisa menghela nafas panjang. Ia juga memegang dadanya yang terasa sesak dan sakit.


"Apa begini rasanya patah hati? Aku tau dia sangat terluka, tetapi rasa sakit ku ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang kamu hadapi 5 tahun yang lalu. Maafkan aku Flova." ucapnya lirih.


Flova terus berlari keluar dari ruangan Kai. Ia terlupa akan segalanya, karena yang ia rasakan saat ini hanyalah sebuah rasa sakit yang luar biasa di dalam hatinya.


Ia terus berlari hingga sampai pada sebuah jembatan yang tidak jauh dari kantor Kai. Ia menangis tersedu-sedu sembari memegang dadanya.


"KAU JAHAT KAI! TIDAK SEHARUSNYA KAU MEMPERMAINKAN AKU SEPERTI INI!" teriaknya di sana.


"Seharusnya aku tidak jatuh cinta secepat ini kepadamu.. Seharusnya aku tidak percaya dengan semua omongan manismu.. Aku sangat-sangat kecewa sekarang."


Ia membalikkan badannya dan menghentikan sebuah taksi. Langsung saja ia pergi ke sebuah Bar.


...*****...


Kevin sangat bimbang. Bukan karena tidak bisa pulang ataupun tentang hewan peliharaannya di tempat penampungan, yang ia pikirkan adalah Flova. Tujuannya sendiri pun ke bar untuk menenangkan pikirannya.


Ia begitu terkejut, saat melihat Flova tengah minum hampir 3 botol. Sekarang ia mabuk dan sendirian di sana. Langsung saja, Kevin menghampirinya dan menopang tubuhnya yang sudah sempoyongan.


"Flova? Flova ?" ucap Kevin panik.


"Hahah.. kau.." ucapnya dalam keadaan mabuk.


"Semua laki-laki jahat.. Mereka tidak punya hati.. pergi dari sini kau Kai Balang Pradipta!" lanjutnya.


"Kau mabuk, sebaiknya kita pulang."


Flova memberontak dalam ke adaan mabuk saat akan di gendong oleh Kevin.


"Aku tidak mau pulang.. bawa aku ke rumah Steffa."


"Ya setidaknya kau berdiri.. dulu.."


Kevin pun menggendong Flova. Membawanya keluar dari Bar yang ramai tersebut walaupun saat siang hari.

__ADS_1


//**//


__ADS_2