
Setelah beristirahat selama setengah jam, akhirnya Vioni pun memutuskan untuk pulang. Meskipun Dokter Bryan tidak mengijinkannya, tapi Vioni menentang dan tetap memaksanya. Dia tidak bisa berlama-lama di sana karena pasti akan menimbulkan kecurigaan keluarganya. Bahkan, demi menutupi kedatangannya ke rumah sakit, Vioni membayar tagihan rumah sakit menggunakan uang tabungan dari sisa uang jajan yang diberikan om-nya selama ini. Itupun dibayar cash karena Vioni tidak ingin di kartu ATM-nya nanti ada laporan transaksi di rumah sakit.
"Ingat pesanku baik-baik, Nona! Anda jangan terlalu stres dan jangan sampai telat mengkonsumsi obat yang sudah saya resepkan tadi!" peras Dokter Bryan sebelum membiarkan Vioni pergi dari lobby. Ya, Dokter Bryan bahkan mengantarkan Vioni ke lobby karena khawatir gadis itu akan kembali pingsan.
"Iya, Dok. Aku akan mengingat semua pesan yang Anda katakan," jawab Vioni sambil menganggukkan kepalanya.
"Baiklah. Kalau begitu, kau hati-hati di jalan. Jangan sampai kejadian tadi terjadi lagi!"
"Iya, Dok. Terima kasih atas semua yang Dokter lakukan untukku," ucap Vioni dengan tulus hingga membuat wajah dokter muda itu tersipu.
"Ehem." Dokter Bryan berdehem untuk menutupi kegugupannya.
"B–baik. Sama-sama. Aku melakukan itu karena memang sudah tugasku!" jawab pria itu.
Setelah berpamitan, Dokter Bryan pun membiarkan Vioni kembali menaiki kendaraan yang akan mengantarkannya pulang. Sementara dia hanya menatap punggung wanita rapuh itu hingga mobil yang dinaikinya semakin menjauh dari pandangan.
Ada apa denganku? Kenapa jantungku tiba-tiba berdegup kencang? batin pria satu anak itu.
__ADS_1
Ya, Dokter Bryan merupakan pria yang sudah pernah menikah, hanya saja pernikahan itu harus kandas di tengah jalan atau lebih tepatnya sekitar tiga tahun yang lalu. Istrinya memilih pergi meninggalkan dia dan anak mereka karena saat itu kondisi ekonomi keluarganya sedang kritis. Dokter Bryan sempat mengalami depresi atas hal itu, tapi setelah bertemu dengan pria yang bernama Maximilian Green, nasib pria itu berubah drastis. Bahkan kini Dokter Bryan dan putrinya sudah memiliki rumah yang nyaman untuk mereka berdua. Terkadang Dokter Bryan juga tidak mengerti dengan rumor yang menyebar tentang keburukan Max. Padahal, orang itu sangat berjasa dalam kehidupannya.
Saat masih sedang melamun, tiba-tiba Dokter Bryan dikejutkan oleh seseorang yang menepuk pundaknya dengan keras.
"Hei!" teriaknya dengan kesal sambil hendak melakukan pukulan pada orang 6ang sudah membuatnya terkejut. Namun, gerakannya langsung berhenti saat mengetahui kalau orang yang sudah mengejutkannya itu adalah Max.
"Apa?" tanya Max saat melihat kawannya hendak memukul dia.
"Apa yang kau lakukan di sini, Max? Bukankah seharusnya kau sudah pulang?" Dokter Bryan menatap bingung kawannya karena masih berada di gedung rumah sakit. Padahal mereka sudah selesai rapat dari satu jam yang lalu.
"Aku sedang ada keperluan denganmu. Maka dari itu aku menunggumu! Tapi ... kurasa kau sedang sibuk, ya?" tanya Max sambil menatap jalanan yang ramai lancar. "Apa gadis itu calon Ibu sambung Zein?" sambungnya lagi saat melihat siluet seorang wanita yang sedang menaiki taksi.
"Sungguh? Kupikir dia adalah wanita yang akan menjadi Ibu sambung putramu!"
"Bukan. Dia hanya pasienku yang keras kepala," jawab Dokter Bryan yang mendadak kesal dengan sikap Vioni yang keras kepala karena menolak untuk menjalani rawat inap. Bahkan, dia juga tidak mengerti kenapa gadis itu menyembunyikan penyakit yang dideritanya dari keluarga sendiri.
"Hei, kau melamun lagi?" tanya Max karena melihat Dokter Bryan kembali sibuk dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
"Hah? T–tidak. Sudahlah jangan pikirkan hal yang tidak-tidak tentangku maupun pasienku," ucap Dokter Bryan. "Sekarang katakan padaku, ada keperluan apa kau padaku?" tanyanya lagi dengan mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau Max terus bertanya-tanya tentang pasiennya.
Setelah melihat kawannya yang seperti itu, Max pun akhirnya tidak membicarakan tentang wanita tadi. Dia pun mengajak Dokter Bryan ke kedai kopi yang ada di seberang rumah sakit.
***
Sementara itu, Vioni baru saja tiba di rumah sang paman. Dia segera turun dari mobil saat melihat Resa sudah berdiri di depan pintu depan melipat kedua tangannya di depan dada, sudah dipastikan kalau wanita yang merupakan adik ibunya itu sedang marah padanya. Dengan langkah perlahan dan berusaha tenang, Vioni berjalan menghampiri tantenya itu.
"Kau sudah keluar dari rumah ini selama enam jam lamanya, tapi kenapa kau tak menemui Vanila?" tanya wanita itu seraya melirik jam yang melingkar di tangannya. Dia juga memperhatikan penampilannya yang masih tampak seperti tadi pagi.
Sepertinya dia benar-benar menjaga penampilannya dengan baik. Sejak kapan anak ini pandai berdandan? batin Resa karena merasa aneh sekaligus bangga keponakannya.
"Mmmh. Tadi ... tadi aku bertemu dengan kawan dulu, Tante. Dan, lagi pula bukan salahku membatalkan pertemuan dengan Vanila, tapi dialah yang tidak datang sehingga membuatku menunggunya selama satu jam," jawab Vioni berharap tantenya mengerti.
"Ck. Kau tahu 'kan kalau Vanila itu bukan orang yang benar-benar sehat? Hanya telat sebentar saja, seharusnya tidak membuat kau membatalkan janji kalian!"
Harapan Vioni musnah sudah. Seperti apapun dia berusaha untuk menjelaskan kesalahan Vanila, tapi tetap saja hanya dirinya yang disalahkan. Vioni menghela napas panjang dengan perlahan. Kepalanya kembali mulai terasa sakit, tapi dia berusaha untuk tetap tenang.
__ADS_1
"Tante, sebelumnya aku sudah meminta dia untuk tidak memaksakan diri bertemu denganku. Apa aku tetap salah karena tidak ingin menunggunya? Dia juga sengaja memintaku datang ke restoran yang di mana aku tidak bisa menikmati makanannya," jelas Vioni yang lagi-lagi tidak ditanggapi oleh Resa.
"Cih, itu hanya alasanmu saja, Vio. Bukankah selama ini kau selalu bisa memakan apapun yang kami hidangkan?" tanya Resa yang memang tidak mengetahui kebiasaan keponakannya itu. Padahal mereka tinggal di satu atap yang sama.