
Seorang remaja berusia 18 tahun menggendong bocah kecil berusia 8 tahun yang terkulai lemas, keluar dari sebuah ruangan dingin di salah satu pabrik ternama di kota K.
Dengan samar-samar dan kabur dari pandangannya terlihat wajah tampan seorang remaja tersebut sembari berlari keluar dari pabrik besar tersebut. Selalu melihatnya dengan panik sembari berlari.
"Tolong.. tetaplah bertahan.. hosshh..hossh.."
Suara tersebut terdengar samar di telinganya dan matanya juga perlahan mulai sayup-sayup ingin tertidur dengan lelap di gendongan remaja tersebut.
Hingga beberapa saat, bocah kecil tersebut bangun dan sudah berada di ruangan yang hangat dan bernuansa putih di setiap tembok. Ia juga melihat seorang anak remaja tersebut duduk di sampingnya sembari memegang tangannya.
Anak kecil tersebut tersenyum manis dan menggerakkan tangannya. Sang remaja tampan tersebut pun lantas melihat wajahnya dan langsung memeluknya senang begitu anak kecil itu terbangun.
"Kakak.." ucapnya lirih.
"Tidak perlu berbicara, kakak ada di sini. Kakak akan panggil orang tua kamu dulu." ucap sang remaja yang tidak di ketahui namanya tersebut.
Namun, begitu anak remaja tersebut bangun, bocah kecil tersebut terus menggenggam tangannya dan mengingat kejadian ia sendirian di dalam ruangan yang dingin sebelumnya. Seketika dia mereka ketakutan.
Mengetahui bocah kecil tersebut trauma, remaja tersebut lantas saja memeluknya dan mengelus-elus punggung kecilnya.
"Jangan takut. Kakak akan tetap di sini. Kakak hanya perlu menelepon sebentar."
Remaja tersebut pun lantas saja menelepon di sampingnya tanpa perlu meninggalkannya. Anak kecil tersebut terus menggenggam erat tangannya sembari menatapnya.
Selesai menelepon orang yang di panggil kakak tersebut tersenyum manis ke arahnya dan mengelus puncak kepalanya. Bocah kecil tersebut pun turut membalas senyumannya.
"Kak, besar nanti kita menikah ya." ucap bocah kecil itu secara tiba-tiba.
"Hmm... kamu masih kecil, kenapa kamu berfikir seperti itu? Memang apa alasannya?" tanya remaja tersebut terkekeh.
"Karena kakak tampan dan baik hati." jawab bocah kecil tersebut.
"Kamu hanya anak kecil yang belum tau apa-apa?"
Remaja tersebut membuat bocah kecil yang terbaring itu tertawa lepas di saat remaja tersebut mencubit pelan hidung bocah remaja itu sembari hingga kepalanya ikut bergerak.
...*****...
"Heh.. Flova.. bangun..."
Suara pria yang tidak asing masuk di telinga Flova yang sedang bermimpi indah. Kai berusaha menepuk pipi Flova yang sedari tadi hanya tersenyum-senyum di bawah alam sadarnya.
__ADS_1
"Kenapa dia aneh?" ucapnya sembari terus melihatnya.
Kai kembali mengguncang badan dan pipinya. Belum juga bangun, akhirnya ia memilih untuk mencubit hidungnya hingga Flova tidak bisa bernafas.
"Ah.. kakak. Aku tidak bisa bernafas."
Flova langsung saja terduduk dan melepaskan tangan kekar Kai yang memencet hidungnya. Flova pun juga mengerjapkan-ngerjapkan matanya yang samar melihat remaja tersebut di depannya. Namun, untuk memastikan ia mendekatkan wajahnya dan memastikan itu adalah remaja yang ada di mimpinya.
"Sudah sadar sekarang?"
Flova langsung kaget saat orang yang ada di depannya sudah terlihat jelas nampak terlihat di matanya yang sudah sepenuhnya terbuka. Ia juga melihat sekelilingnya, berharap remaja sebelumnya ada di sekitarnya.
"Mencari siapa?" tanya Kai bingung di saat melihat gelagatnya yang sedang mencari seseorang.
"Entahlah, aku tidak tau." jawab Flova.
"Kamu mengharapkan Kevin untuk datang kan?" tebak Kai asal.
"Sok tau anda."
Kai hanya menggelengkan kepalanya dan mengambilkan sarapan pagi yang sudah di siapkan suster sebelum Flova bangun dari mimpi indahnya.
"Sarapan." ucap Kai.
"Perlu di bantu kah?"
"Tidak perlu, aku saja tidak tau kapan infus di copot dari tanganku. Aku bisa sendiri sekarang." jawab Flova sembari memakai sandal rumah sakitnya.
"Kamu yakin?" tanya Kai memastikan.
Flova dengan malas memutar kepalanya melihat Kai yang berdiri di sampingnya.
"Iyaa.. Tuan Kai Balang Pradipta."
Flova berlalu begitu saja dari hadapan Kai dan menuju ke kamar mandi yang ada di dalam ruangannya. Dan, usai membasuh mukanya ia kembali dan duduk di ranjangnya.
Kai dengan sigap menata meja di atas kasur Flova dan meletakkan makanan yang di siapkan dari rumah sakit di atas meja tersebut.
"Eummm... apakah tidak ada makanan lain selain makanan hambar ini?" tanya Flova yang merasa jijik dengan bubur yang ada di depannya saat ini.
"Tidak perlu banyak komentar, dan setelah ini kita bisa pulang. Lalu, makanlah makanan yang kamu suka setelah keluar dari rumah sakit ini." jawab Kai.
__ADS_1
"Aku tidak ingin." Flova membuang mukanya karena tidak ingin melihat makanan yang ada di depannya saat ini.
"Makanlah beberapa sendok jika ingin pulang. Jika tidak, baiklah. Biarkan saja dan kamu tidak akan di ijinkan pulang."
Flova pun mendengus kasar dan pasrah. Sehingga ia pun terpaksa memakan bubur yang ada di hadapannya tersebut.
"Sebelumnya, kau memanggil seseorang saat kau bangun? Kau bermimpi tentang siapa?" tanya Kai penasaran.
Flova yang akan menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri pun terhenti sejenak. Ia melihat Kai dengan bingung, namun kembali menyuapkan makanan tersebut ke mulutnya.
"Aku juga tidak tau. Dan aku juga tidak yakin." jawab Flova ragu.
"Laki-laki atau seorang perempuan?" tanya Kai makin penasaran.
"Tentu saja laki-laki." jawab Flova semangat sembari tersenyum lebar membayangkan remaja tersebut.
"Hem.. apakah sangat tampan hingga membuatmu menjadi tidak waras seperti ini?"
Kai melipat kedua tangannya di depan dadanya. Flova hanya memicingkan matanya ke arahnya.
"Bukan urusanmu dan itu masa laluku, jadi jangan kamu ikut campur di dalam kehidupanku."
Hingga akhirnya Flova pun tanpa sadar menghabiskan buburnya. Dan tanpa perlu pengecekan dari dokter lagi, Flova pun sudah di ijinkan pulang setelah ia membereskan semua barangnya.
"Huaahh.. akhirnya aku bisa mencium udara bebas lagi." jawab Flova sembari menghirup bau khas dari dalam mobil Kai.
Kai hanya meliriknya dan membelokkan mobilnya ke sebuah jalan yang berbeda dengan jalan pulang ke rumah Flova.
"Eh.. kau mau membawa aku kemana? Aku sudah tidak ingin lagi pulang ke rumahmu." ucap Flova begitu saja, sesuai dengan pikiran Flova di dalam otaknya.
Kai hanya diam hingga tak lama ia berhenti di sebuah restoran ternama. Flova menganga tidak percaya melihat bangunan yang ada di depannya saat ini.
"Aku hanya menepati janji yang aku buat sebelumnya agar kamu bisa makan makanan enak setelah keluar dari rumah sakit."
Flova melihatnya dengan bingung karena ia tidak pernah menganggap ia serius dengan perkataannya.
"Aku sudah kenyang." jawab Flova.
"Makanlah beberapa camilan ringan. Itu tidak akan masalah. Ayo turun."
Flova mengangguk dan mengikutinya keluar. Flova hanya duduk diam menunggu makanan yang Kai pilihkan dan tak lain adalah steak daging berkualitas tinggi. Flova pun makan dengan anggun dan memakan dengan lahap menikmati rasa daging empuk tersebut yang masuk ke dalam mulutnya.
__ADS_1
//**//