
Esok harinya, sesuai dengan janji Kai, di antar lah Flova ke tempat latihan dansa setelah mengantar Alena ke sekolahnya. Seharian, Flova terus berlatih dan hanya istirahat beberapa menit di setiap latihan.
Setelah beberapa jam menunggu waktu makan siang, di saat itulah Flova bisa beristirahat dengan tenang, karena di waktu itu di berikan istirahat sekitar satu jam lamanya.
Tetapi, pandangannya kembali suram ketika melihat isi kotak makanan yang dipenuhi dengan salad sayuran dan di sampingnya terdapat salad buah-buahan.
Flova mengorek salad sayuran yang ada di dalam kotak bekalnya dan berharap ada daging ataupun makanan lain yang dapat menambah moodnya. Flova pun menghela nafas kesal sembari mengingat kejadian tadi pagi.
FLASHBACK ON
Flova mencium bau harum makanan di kamarnya. Lekas saja ia bersiap dan turun dari kamarnya. Dia langsung saja menuju ke ruang makan. Dan, sudah ada Alena pula yang sudah memakai seragam lengkap.
"Hm.. baunya harum sekali."
"Tentu saja, kan ayah yang masak." jawab Alena.
Flova langsung duduk di kursi sembari menunggu makanan yang di masak Kai. Begitu makanan siap, Kai pun menyajikan dengan rapi di atas meja makan.
"Kelihatannya sangat enak." ucap Flova yang tak sabar ingin menyantap makanan yang tersaji di depannya.
Baru saja Flova akan mengambil nasi beserta lauk pauknya, Kai langsung mengambil piringnya dan menukarnya dengan bubur.
"Kamu makanlah bubur gandum ini saja, ingat urus badan kamu."
Flova melihat semangkuk bubur yang ada di depannya. Seketika ia menekuk wajahnya.
"Beri aku sedikit daging." pintanya dengan wajah memelas.
"Kau boleh memakan daging setelah lulus berdansa. Dan, barulah kau di perbolehkan untuk memakan daging dan camilan lain."
Kai langsung mengambil sendok dan lekas memakan makanan yang di ambil oleh Flova. Flova ingin menahan tangan Kai, namun ia tersadar bahwa ia harus menjaga badannya. Dengan sengaja, Kai malah menggoda Flova dengan menyuapkan daging ke mulut Alena. Flova menatapnya tajam dan memilih untuk fokus dengan buburnya.
Begitu sarapan selesai, Kai juga menyiapkan bekal makan siang untuknya. Dengan senang hati Flova pun menerimanya, namun dengan ekspresi kecewa.
"Pasti berisi bubur lagi kan?" ucap Flova.
"Ini berisi daging. Makanlah di saat makan siang nanti. Sekarang, aku akan antar kalian." ucap Kai dengan wajah yang meyakinkan.
Flova tak curiga sekalipun dan langsung tersenyum. Ia langsung saja menaruh kotak makan siangnya ke dalam tasnya.
FLASHBACK OFF
__ADS_1
Flova hanya bisa bernafas kasar dan terpaksa harus memakan bekal tersebut. Karena bagaimana pun hanya itulah makanan yang ia bawa siang itu.
...*****...
Rosan pergi ke tempat penampungan hewan dimana Kevin bekerja. Terlebih dahulu, ia melihat papan nama yang terpajang di pagar atas yang kemudian langsung masuk ke dalam.
"Selamat datang." ucap salah satu resepsionis.
Kebetulan, Kevin ada di bagian depan dan tidak sengaja mendengar seseorang yang datang. Begitu ia tau itu adalah Rosan, Kevin pun tersenyum dan menghampirinya.
"Rosan, bagaimana kamu tau aku bekerja di sini?" tanya Kevin.
"Aku melihat papan ini di salah satu foto yang ada di kamarmu, jadi aku mencoba mencarinya ke sini."
"Baiklah, ayo ikut aku saja ke atas, agar kita bisa mengobrol lebih ringan."
Rosan mengangguk dan mengikuti langkah Kevin hingga sampai di ruangannya. Rosan langsung duduk di kursi yang ada sembari melihat sekelilingnya.
Lagi-lagi pandangannya terfokuskan dengan sebuah foto yang ada di salah satu tempat pajangan. Ia pun terus memandang foto itu dengan intens.
"Kamu lihat apa Rosan?" tanya Kevin.
Rosan pun melihat ke arah Kevin sebentar dan menunjuk foto yang terpajang. Kevin pun tersenyum dan mengambil pajangan tersebut.
"Ini adalah Flova sewaktu ia kecil. Dan, aku menyukainya sejak saat itu juga." jawab Kevin sembari mengelus-elus foto yang di pegangnya.
"Apa kau sudah mengungkapkannya?" tanya Rosan.
Kevin menggelengkan kepalanya. Dan hanya tersenyum kecil sembari meletakkan bingkai gambar yang di pegangnya.
"Dan Kamu, apakah kau menyukai Kai ?"
Rosan mengangguk. "Aku menyukainya, tetapi ku rasa ia tidak pernah menyukaiku. Ku rasa hanya ada Flova di matanya sekarang."
"Apa ini juga alasanmu minum kemarin?" tanya Kevin penasaran dan di jawab anggukan oleh Rosan.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku masih banyak urusan yang harus ku kerjakan. Sampai jumpa lain kali." ucap Rosan.
"Kamu langsung pergi tanpa memberikan nomor ponselmu?"
Rosan tersenyum dan mengeluarkan handphonenya untuk menunjukkan nomor ponselnya. Usai Kevin menyalin Rosan pun langsung berpamitan untuk pergi.
__ADS_1
Rosan tersenyum puas setelah mengetahui bahwa ada yang menyukai Flova. Ia pun memutuskan untuk segera pulang ke kediaman keluarga Pradipta. Ibu Kai tak terlihat di manapun jadi, ia pun memutuskan untuk ke kamarnya.
"Rosan?"
Rosan yang hendak naik ke lantai atas langsung saja menghentikan langkahnya dan menghadap kepada orang yang memanggilnya.
"Mama."
"Semalam kamu tidak pulang, kemana saja kamu?" tanya Joanna sembari menyilangkan tangannya di dadanya.
"Semalam aku menginap di rumah temanku, dan kebetulan aku mendapatkan informasi tentang Flova." ucap Rosan.
"Maksudnya?" tanya Joanna.
Rosan pun mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto masa kecil Flova. Joanna hanya menyergitkan dahinya tidak paham dengan foto yang di tunjukkan oleh Rosan.
"Ini adalah foto masa kecil Flova dan Kevin. Semalam, aku tidak sengaja bertemu dengan Kevin sehingga aku pun bertanya mengenai anak kecil ini kepadanya. Dan, berita bagusnya, ada yang menyukai Flova selain Kai." ucap Rosan.
"Kamu punya rencana?" tanya Joanna.
Rosan dengan sangat yakin pun mengangguk. "Tenang saja, akan aku bereskan semuanya."
"Bisakah mama minta gambar itu?" tanya Joanna.
Dengan senang hati, Rosan pun setuju. Dengan segera ia mengirim foto yang dia ambil kepadanya.
Rosan menatap lekat-lekat anak perempuan yang ada di foto tersebut.
"Sepertinya anak ini tidak asing" gumamnya.
Rosan yang melihat Joanna bingung karena tatapannya begitu serius melihat foto yang baru saja ia kirimkan.
"Ada apa mah?" tanya Rosan.
"Eum.. tidak ada. Kamu, kembalilah ke kamar, mama juga akan pergi."
Rosan mengangguk dan langsung bergegas ke kamarnya. Sedangkan Joanna, langsung ke kamarnya dan duduk di ranjangnya sembari melihat foto tersebut dan fokus dengan Flova. Tak perlu banyak berfikir, ia pun memutuskan untuk menelepon seseorang.
"Kamu cepat selidiki tentang Flova, cari informasi darimana dia berasal dan cari semua informasi tentang sekolahan serta tempat-tempat yang ia kunjungi sewaktu kecil. Mengerti?"
Tanpa perlu berbicara lagi, Joanna pun mematikan teleponnya bersama dengan anak buah yang ia suruh. Dia hanya menghela nafas panjang, sembari menatap foto tersebut.
__ADS_1
//**//